
Hai guys
Hari ini author up 2x π
Semoga kalian suka dengan ceritanya ya.
Jangan lupa vote, like, fav, dan rate5 untuk mendukung author agar lebih semangat lagi π
...****************...
"Ayo kita lanjutkan yang tertunda tadi, seperti kata mama" ujar Vernon.
"Mas nggak sabaran banget deh. Ya sudah kemarilah" panggil Sofia dengan nada menggoda.
Tanpa basa basi, Vernon segera menerkam istrinya itu di tempat tidur dan terjadilah penyatuan dalam diri mereka.
.
.
.
Di pagi hari, seperti biasanya Vernon dan Sofia sedang sarapan pagi bersama.
Setelah sarapan, Sofia mulai bertanya kepada Vernon "Mas, kapan kita ke dokter?".
"Oh iya aku lupa sayang. Kita sore ini dipanggil bunda dan ayah pergi ke rumahnya. Bisa kan kita tunda ke dokternya dulu?".
"Oh iya mas. Jadi sore nanti mas jemput aku di rumah kan?".
"Iya sayang".
"Mas berangkat dulu ya. Kamu hati-hati" ucap Vernon, mencium Sofia seperti biasanya.
"Iya mas. Kamu juga hati-hati" kata Sofia.
Setelah Vernon menghilang dari pandangannya, Sofia menuju ke kamarnya. Ia berbaring telentang di kasurnya, menatap langit-langit kamar. Cukup lama Sofia menatap langit kamarnya, sampai akhirnya cairan bening keluar dari sudut matanya. Entah kenapa dia sering menangis akhir-akhir ini. Hatinya seperti rapuh, tidak seperti dulu lagi. Ia terlelap tanpa menyeka air matanya.
Saat bangun, diliriknya jam dinding. Ia bergegas mandi untuk bersiap ke rumah mertuanya. Sofia memilih baju tanpa lengan yang berwarna merah dengan rambut yang dikuncir.
Setelah semuanya siap, Sofia turun ke bawah untuk menunggu suaminya menjemputnya.
Sudah 30 menit Sofia menunggu, Vernon belum juga tiba bahkan tidak memberi kabar apapun.
Setelah 1 jam lamanya Sofia menunggu, Vernon akhirnya menghubunginya.
Halo, Assalamualaikum.
__ADS_1
Waalaikumsalam mas.
Sayang maaf ya mas terlambat menjemput kamu, karena mas kedatangan klien mendadak. Kamu bisa kan duluan ke rumah mas aja? nanti mas nyusul ke sana.
Oh iya mas. Aku duluan ya. Assalamualaikum.
Terima kasih sayang. Waalaikumsalam.
Akhirnya Sofia pergi ke rumah bunda Anya dan ayah Bram lebih dulu. Sesampainya di kediaman mertuanya, Sofia disambut oleh bunda Anya yang sedang merangkai bunga di ruang tengah.
"Anak bunda sudah datang. Vernon nya mana?" tanya bunda Anya yang hanya melihat Sofia datang seorang diri.
"Mas Vernon bilang aku duluan aja kesini. Soalnya dia masih ada klien" ujar Sofia.
"Ohh gitu. Ya sudah sini duduk, bantu bunda merangkai bunga" ucap bunda Anya menepuk sofa di sampingnya.
Sofia segera duduk dan membantu bunda Anya.
"Bunda suka bunga lavender ini?" tunjuk Sofia pada bunga yang sedang dirangkainya.
"Iya bunda suka, bunganya sangat harum dan menenangkan".
"Kalau kamu suka apa sayang?" lanjut bunda Anya bertanya kepada Sofia.
"Aku suka bunga tulip bun".
"Wah benarkah? bunda harus punya bunga kesukaan menantu bunda. Nanti bunda beli deh. Kita rangkai sama-sama ya".
Tidak lama kemudian, ayah Bram datang bersama Vernon.
"Loh kok anak sama bapak datang bersamaan gini? udah selesai kerjaannya?" tanya bunda Sonya.
"Sudah bun. Tadi ayah lihat Vernon mau kesini juga, jadi barengan deh" ujar ayah Bram.
"Baguslah kalian jadi kompak" kata bunda Anya.
"Eh sini duduk, bunda sama Sofia lagi rangkai bunga nih" lanjut bunda Anya lagi.
"Wah istriku pintar banget deh rangkai bunganya" puji Vernon kepada Sofia, lalu yang dipuji hanya membalas dengan senyuman.
"Istri ayah lebih jago lagi. Iya kan bun?" kata ayah Bram tidak mau kalah.
"Pasti dong" ucap bunda Anya, membuat mereka semuanya tertawa.
"Sofia sayang, bunda bisa minta tolong nggak?".
"Bisa bunda. Minta tolong apa?".
__ADS_1
"Tolong bersihkan vas ini kemudian masukkan air ke dalamnya, karena bunda mau menaruh bunga-bunga yang lain".
"Baik bunda" ucap Sofia berlalu ke dapur.
Sofia mulai membersihkan vas itu dengan hati-hati kemudian memasukkan air ke dalam vas nya sesuai yang diperintahkan bunda Anya.
Saat akan kembali ke ruang tengah, langkahnya terhenti karena mendengar percakapan mertua dan suaminya.
"Jadi bagaimana hubunganmu dengan Sofia? apakah punya perkembangan tentang anak?" tanya ayah Bram.
"Belum yah. Kami belum sempat memeriksakannya ke dokter. Tapi nanti kami akan mencoba ke sana".
"Iya sayang kamu usaha terus ya sama Sofia, kamu tahu kan bunda dan ayah sangat mengharapkan cucu darimu. Kakakmu sebentar lagi akan memberikan kami cucu, jadi bunda harap kalian juga bisa".
"Iya bunda kami juga sedang usaha. Tapi aku tidak mau memaksakan Sofia untuk memiliki anak, aku tidak mau dia tertekan karena hal ini".
"Iya ayah tahu itu. Tapi usahakan kamu harus berusaha, karena kami sangat mengharapkan hal itu" ucap ayah Bram.
Sofia yang mendengar dari balik tembok, merasa dadanya terasa sesak, air matanya serasa ingin menerobos keluar saat itu juga namun ia mencoba menahannya, tangannya yang gemetar saat memegang vas bunga, coba ditahannya agar tidak bergetar.
Ia perlahan berjalan ke ruang tengah dengan senyum yang mengembang seakan tidak terjadi apa-apa, menyembunyikan sakit di hatinya.
Setelah selesai mengobrol, Sofia dan Vernon memutuskan untuk sholat magrib bersama. Disetiap doa dalam sholatnya, Sofia selalu berharap dapat diberikan momongan untuk mereka, namun setelah mendengar perkataan mertuanya, membuatnya kembali semakin tertekan.
Ya Allah, jika hambamu ini belum bisa dititipkan seorang anak, insya allah hamba ikhlas bila suami hamba menikah lagi demi bisa memberikan keturunan untuknya. Semoga dengan kelapangan hati hamba ini, bisa membuat hamba menjadi seorang istri yang solehah. Amin.
Sofia menangis di dalam doanya, Vernon yang melihat hal itu merasa bingung.
"Kamu kenapa menangis sayang?" tanya Vernon sambil mengusap air mata yang membasahi wajah Sofia.
"Tidak mas. Aku cuma bahagia karena masih diberikan hidup oleh Allah dan selalu bersamamu".
"Benar bukan karena hal lain?" tanya Vernon curiga.
"Benar mas".
"Baiklah kalau begitu. Kamu jangan menangis lagi ya, sekali pun kamu sedang bahagia. Karena mas tidak mau melihat air matamu jatuh".
"Iya mas" ucap Sofia kemudian memeluk erat suaminya.
Setelah menunaikan ibadah sholat magrib, mereka kembali mengobrol dengan ayah Bram dan bunda Sofia hingga tidak terasa sudah malam. Sofia dan Vernon memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, mereka segera membersihkan diri dengan mandi, kemudian bersiap untuk tidur.
Malam ini mereka melewatkan kegiatan malam mereka, karena Vernon terlihat sangat kelelahan dan memilih tidur lebih dulu.
__ADS_1
Sofia menatap wajah suaminya yang sudah tertidur pulas itu. Disentuhnya wajah Vernon, lagi-lagi air matanya tidak dapat ditahannya.
Maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk berhenti menangis mas. Meskipun sakit, tapi aku akan berusaha mencari calon istri yang cocok untuk kamu, agar bisa memiliki keturunan. Aku sayang kamu mas, semoga dengan ini kita bisa bahagia. Batin Sofia, mencium kening suaminya.