
"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Mama akan lakukan".
"Terima kasih mama".
Semoga kamu bahagia dengan wanita itu mas.
.
.
.
Sudah beberapa hari ini Vernon terlihat uring-uringan. Ia tidak masuk kantor demi mencari keberadaan Sofia.
Seluruh orang suruhannya, disuruhnya untuk mencari keberadaan istrinya itu. Namun, hasilnya nihil. Bahkan jadwal keberangakatan pun tidak ada, seperti telah disembunyikan seseorang.
Vernon tahu semua ini pasti ulah ayah Rudi yang menyembunyikan keberadaan Sofia bahkan keberadaan keluarganya, karena hanya dia lah yang bisa menutupi identitas seseorang dengan kenalannya yang ada dimana-mana.
Vernon duduk di sudut kamar, dengan keadaan yang sangat berantakan. Ia meringkuk dalam keadaan ruang kamar yang gelap, seolah-olah tidak ingin ada yang tahu tentang dirinya yang terus menangis.
"Sofia kamu dimana sayang? kamu hanya salah paham. Aku mohon kembali lah. Aku tersiksa tanpa kehadiranmu" lirihnya.
Sudah beberapa hari ini Vernon terlihat tidak pernah tidur. Saat ia tidur, selalu ia bermimpi buruk tentang Sofia. Mata pandanya mulai muncul serta mata sembabnya karena menangis, menambah kesan kesedihan yang amat dalam telah terjadi di hidupnya.
Bunda Anya dan ayah Bram yang mengkhawatirkan anak bungsunya itu, memutuskan untuk mengunjunginya.
Baru saja mereka ingin memasuki rumah, tercium bau alkohol yang sangat menyengat serta beberapa botol minuman keras berserakan di lantai.
"Ya Allah yah. Apa yang terjadi dengan anak kita?".
"Ayo kita ke kamarnya. Jangan sampai dia berbuat yang aneh-aneh" ajak ayah Bram.
Keduanya segera naik ke lantai atas dan menemukan kamar dalam keadaan gelap gulita, bahkan tidak ada cahaya sedikit pun di kamar itu.
Saat tombol lampu dinyalakan, betapa terkejutnya mereka karena telah menemukan Vernon yang tidak sadarkan diri.
"Ya Allah Vernon kamu kenapa nak? bangun Vernon jangan tinggalin bunda" teriak bunda Anya histeris.
"Dia hanya pingsan bun. Ayo kita bawa dia ke rumah sakit sekarang" kata ayah Bram.
Ia memanggil satpam yang berjaga di luar rumah untuk membantunya mengangkat anaknya tersebut.
Sesampainya di rumah sakit, Vernon langsung diperiksa oleh dokter.
Bunda Anya dan ayah Bram yang menunggu di luar, terlihat sangat panik dan cemas dengan keadaan anaknya itu.
"Cari tahu keberadaan Sofia sekarang ayah. Jangan sampai hanya karena salah paham, membuat mereka berpisah dan anak kita jadi tambah stres".
"Iya bunda. Ayah akan menyuruh semua orang suruhan ayah untuk mencari tahu keberadaan Sofia".
Di Swiss
Sofia sedang duduk di bangku taman halaman belakang rumahnya, sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Nak maafin mama ya, karena mama udah jauhin kalian sama papa kalian. Mama nggak sanggup kalau harus dimadu, sayang. Semoga kalian tetap kuat di dalam ya, temani mama. Kita bertiga berjuang sama-sama".
Sofia mencoba menahan tangisnya, kali ini ia harus berjuang seorang diri untuk melahirkan kedua bayi kembarnya tanpa sosok suami yang menemainya.
__ADS_1
Mama Sonya tidak sengaja melihat anaknya yang sedang duduk di halaman belakang. Ada kesedihan di hatinya melihat Sofia harus berjuang sendiri saat tengah mengandung, namun ia memilih untuk mengikuti kemauan anaknya itu.
"Ma, kamu yakin nggak mau kasih tahu Sofia tentang Vernon yang masuk rumah sakit?" tanya papa Bram yang muncul dari belakang.
"Iya pa. Mama nggak mau kalau Sofia tahu, nanti akan berpengaruh ke janinnya. Apalagi kata dokter saat ini dia tidak boleh banyak pikiran" ujar mama Sonya.
"Baiklah kalau begitu. Semoga ini pilihan yang tepat untuknya. Papa juga sudah menyembunyikan keberadaan kita semua, sesuai yang diinginkan Sofia".
"Terima kasih pa".
"Iya, sama-sama ma".
"Mama panggil Sofia masuk dulu ya, nggak baik dia di luar lama-lama apalagi sedang mengandung".
"Iya mama panggil aja. Papa mau ke ruang kerja dulu".
Papa Rudi mencium dahi mama Sonya, sebelum pergi.
Setelahnya, mama Sonya mencoba menghampiri putri semata wayangnya itu.
"Hai anak mama. Kenapa sendirian aja?".
"Eh mama. Nggak kok, Sofia lagi pengen duduk disini aja, udaranya segar".
"Ohh gitu. Oh iya kamu belum ngerasain ngidam?".
"Belum ma. Kalau dulu sih, nanti memasuki usia kandungan 3 bulan baru Sofia rasain ngidamnya".
"Nanti kalau kamu udah kepengen yang aneh-aneh suruh aja Andre yang beliin kalau mama nggak ada ya".
Andre adalah keponakan ayah Bram yang juga adalah sepupu dari Rey dan juga Sofia. Umurnya sama dengan umur Sofia, sehingga sekarang mereka telah menjadi teman.
"Dia memang sukanya sama anak kecil, jadi gitu".
"Kenapa dia belum nikah juga ma? padahal ganteng, terus mapan lagi".
"Dia mah jangan ditanya. Kata papa, dia tuh playboy suka gonta ganti cewek jadi cepat bosan".
"Pantesan aja dia jago banget kalau ngegombal ternyata playboy, emang dasar ya".
Mama Sonya dan Sofia menertawainya.
"Eh udah yuk masuk, nggak baik ibu hamil di luar lama-lama".
"Kuno banget sih ma, ini kan masih sore".
"Udah nggak boleh pokoknya ayo masuk".
"Iya iya mamaku sayang".
Baru saja mereka masuk ke dalam rumah, muncul Andre yang baru saja mereka ceritakan.
"Eh ini orang yang diomongin, udah muncul aja" ucap mama Sonya.
"Tante sama Sofia ceritain apa nih? kok jadi penasaran ya. Apa karena kegantengan aku?" tanyanya dengan bangga.
"Ih kepedean. Kita tuh lagi bahas kamu karena playboy" kata Sofia.
__ADS_1
"Yah, tante yang cerita ke Sofia? dengar darimana? pasti om Rudi ya?".
"Iya" jawab mama Sonya tertawa geli.
"Emang ya tuh om-om suka buka aib aja" sungut Andre.
"Siapa yang buka aib?" tanya papa Rudi, muncul dari belakang.
"Eh om Rudi. Apa kabar om?" sapa Andre.
"Dia tadi bilang papa buka aibnya tuh" sahut Sofia.
"Duh Sofia, ketahuan kan".
Mereka tertawa bersama melihat kekocakan Andre.
Di Rumah Sakit
Vernon sudah sadar dari pingsannya. Saat sadar, kata yang pertama kali ia ucapkan adalah nama Sofia.
Saat ini ia tengah duduk di atas ranjang sambil menatap kosong ke arah depan, setelah sebelumnya ia mencoba memberontak ingin mencari keberadaan Sofia.
"Kamu makan dulu ya nak, sudah beberapa hari ini kamu nggak makan. Makanya lihat sekarang kamu sampai pingsan" ucap bunda Anya.
"Nggak mau bun, Vernon mau cari Sofia".
"Iya bunda tahu, tapi makan dulu ya. Bagaimana caranya kamu mau cari dia, kalau kamu saja tidak ada energi karena nggak makan. Ayolah, makan sedikit ya" bujuk bunda Anya.
Perkataan bunda Anya ada benarnya. Vernon mulai membuka mulutnya dan makan perlahan, disuapi oleh sang bunda.
"Bun" panggil Vernon.
"Iya ada apa sayang? kamu butuh sesuatu?".
"Kalau Sofia tidak kembali lagi bagaimana bun? apa ini karma untukku karena dulu sudah tidak mempedulikan Sofia? apa sesakit ini yang dirasakan Sofia dulu? aku menyesal bun, aku menyesal" ucapnya, mulai meneteskan air mata.
"Aku nggak sanggup bunda. Aku nggak sanggup tanpa dia, aku salah, aku memang bodoh bun. Kenapa aku bisa seperti ini?" teriaknya lagi.
"Tidak sayang, tolong jangan menyalahkan diri kamu apalagi menyakiti diri kamu sendiri".
"Dulu dia hampir bunuh diri bun, hampir bunuh diri karena aku" tekan Vernon.
"Dan saat ini aku yang hampir bunuh diri karenanya bun. Aku memang bodoh, memang bodoh" teriak Vernon sambil memukul-mukul kepalanya.
"Ya Allah Vernon berhenti nak, berhenti" panik bunda Anya.
Karena tidak bisa mengendalikan Vernon, terpaksa bunda Anya memanggil dokter untuk memberi obat penenang.
Saat efek obat mulai terasa ditubuhnya, ia sempat bergumam dengan air mata yang jatuh di sudut matanya.
Maafkan aku Sofia. Aku suami terbodoh yang pernah ada. Ini karma untukku.
...****************...
Hai semua βΊ
Hari ini hari terakhir author up 2x ya, berikutnya akan di up 1x saja, karena author sedang menyiapkan cerita baru lainnya hehe π
__ADS_1
Yang penasaran ditunggu ya π
See you π€