Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Pengejaran


__ADS_3

Anak kita sudah lahir mas. Mereka cantik dan juga menggemaskan. Apa nanti kau akan bahagia saat mengetahui hal ini?.


.


.


.


Sofia tengah sibuk mengurusi bayi Nisya dan baby Nasya yang terus menangis.


"Ya ampun nak, kenapa kalian nangis barengan gini, mama bingung mau diemin yang mana dulu" ucap Sofia yang kelelahan, karena sudah beberapa jam kedua bayi kembarnya terus menangis.


"Mereka kenapa Sofia?" tanya Andre yang baru saja datang.


"Untung kamu datang. Tolong gendong Nisya ya, aku gendong Nasya. Mereka berdua dari tadi nggak mau diam, nangis terus".


"Udah ganti popoknya? atau mungkin lapar kali" kata Andre yang sedang menggendong bayi Nisya.


"Nggak kok, tadi aku udah kasih asi, dan juga aku udah cek popok mereka tapi nggak ngompol sama sekali".


"Rindu papanya mungkin" goda Andre.


"Nggak usah bahas papanya Ndre" ketus Sofia.


"Kamu kenapa sih benci banget sama Vernon? kamu yakin nggak mau kasih tahu tentang Nisya dan Nasya sama Vernon? dia kan masih suami sah kamu, belum ada kata cerai".


"Aku nggak mau ganggu dia. Pasti dia sudah sama wanita lain".


"Kalau tidak benar bagaimana? salah kamu loh udah ngejauhin mereka, kalau terbukti dia nggak sama cewek lain" ucap Andre.


"Aku tuh minta tolong kamu untuk diemin Nisya, bukan untuk bahas dia yang nggak penting itu".


"Iya, ini juga lagi berusaha didiemin kok".


"Mama kamu cerewet dan galak ya, om takut" kata Andre berbicara dengan bayi Nisya.


"Ihh kamu tuh..".


Sofia hendak memukul lengan Andre, namun dengan cepat Andre menahannya.


"Eh lihat tuh, Nisya ketawa. Berarti benar dong hahaha".


Bayi Nasya juga ikut tertawa saat melihat kembarannya tertawa, seakan mereka satu rasa.


"Tuh lihat tuh Nasya juga ketawa. Emang ya, anak kecil tuh nggak bisa bohong, apalagi yang masih bayi kayak gini" ledek Andre lagi.


"Diam kamu. Nyebelin banget".


"Kalian kenapa ketawa sih sayang, padahal om Andre ngeledek mama loh".


"Udah lah Sofia, terima nasib aja".


Andre senang meledek sepupunya itu.


Berbeda dengan Sofia yang sedang giatnya mengurus bayi Nisya dan Nasya, Vernon saat ini masih terus mencari keberadaan Sofia.


Tidak ada kata lelah untuknya, demi menemukan istrinya itu.


"Permisi pak".

__ADS_1


"Silahkan masuk" ucap Vernon, mempersilahkan asistennya untuk masuk.


"Saya sudah mencari tahu keberadaan istri anda, dan kami telah menemukannya".


"Dimana dia?".


"Dari informasi yang kami dapatkan, istri ands sedang berada di Swiss sekarang".


"Kamu yakin kan dia disana?".


"Yakin pak".


"Dimana rumahnya?".


"Mohon maaf pak, kami tidak tahu dimana tepatnya ibu Sofia tinggal".


"Terus kamu mau aku cari ke seluruh kota di Swiss sendirian begitu? cari tahu dimana rumahnya, sekarang juga!" suruh Vernon.


"Baik pak".


Ternyata saat ini kamu berada di Swiss. Kenapa kamu begitu jauh meninggalkan aku disini? aku sangat merindukanmu sayang. Gumamnya.


Setelah beberapa hari mencari tahu tempat tinggal Sofia, akhirnya asisten serta tim yang disuruh Vernon untuk mencari keberadaan Sofia, menemukannya.


"Siang pak".


"Kamu nggak lihat saya lagi makan siang apa?" kesal Vernon, karena makan siangnya terganggu.


"Mohon maaf pak, tapi ini tentang ibu Sofia".


"Sofia? masuk lah kalau begitu".


Setelah mendengar asistennya menyebut nama Sofia, rasa kesalnya menjadi hilang.


"Baiklah kalau begitu. Pesankan saya tiket pesawat ke kota itu, sekarang juga".


"Baik pak".


Di Swiss


Sofia sedang asyik bermain dengan bayi Nisya dan Nasya, sampai akhirnya ia berhenti karena mendengar ibunya berlarian menuju ke arahnya.


"Ada apa ma? kok buru-buru gitu?".


"Vernon udah tahu tempat tinggal kita, kata papa dia akan kesini".


"Apa? tapi aku nggak mau ketemu dia, ma. Aku benar-benar tidak mau, apalagi kalau sampai dia bertemu dengan anak-anakku".


"Iya mama mengerti. Papa sudah mengusulkan sama mama, kalau hari ini juga kita pindah ke Jerman untuk sementara waktu".


"Sekarang juga?".


"Iya. Kamu sendiri kan yang bilang tidak ingin bertemu Vernon".


"Iya baik ma. Tapi pakaiannya bagaimana?".


"Tenang saja, semuanya di urus sama mbak disini".


"Baiklah kalau begitu".

__ADS_1


Maaf mas, untuk saat ini aku belum bisa bertemu dengan kamu. Aku janji suatu saat nanti, aku akan memperkenalkan anak kita padamu.


Vernon langsung terbang ke Swiss setelah mendapat kabar tentang keberadaan Sofia. Hampir 17 jam perjalanan ditempuhnya menggunakan pesawat.


Ia berangkat bersama dua asistennya. Sesampainya di kota Zurich, ia langsung mencari alamat tempat tinggal Sofia.


"Disini rumahnya?".


"Sesuai alamat yang didapat, sepertinya memang disini pak" ucap salah satu asistennya.


"Tapi kenapa kosong begini? coba tanya ke penjaga rumahnya".


Asistennya segera menanyakan kepada penjaga rumah tersebut, terlihat guratan kekecewaan setelah berbicara dengan penjaga rumah itu.


"Apa katanya?" tanya Vernon.


"Mohon maaf pak, katanya ibu Sofia beserta keluarga telah pindah, dan dia tidak tahu mereka pindah dimana".


"Kurang ajar, pasti mereka sudah tahu kalau aku akan berangkat kesini" Vernon mulai emosi karena tidak mendapat hasil apapun.


"Cari tahu dimana perginya dia sekarang juga, aku tidak mau tahu. Kalian berdua harus bertanggung jawab" teriaknya.


"Baik pak, tapi sebelum itu saya mendapat foto ibu Sofia bersama pria lain di sebuah mall, pak".


"Apa? mana fotonya?".


Asistennya menyodorkan tablet kepada Vernon, dan benar saja itu adalah foto Sofia bersama Andre.


Vernon yang tidak mengenal Andre adalah sepupu Sofia, akhirnya mulai berpikir kalau Sofia sudah mempunyai pacar baru.


"Tega kamu Sofia! Aku bahkan belum bercerai darimu, dan kamu sudah berani jalan dengan laki-laki lain. Percuma aku mencarinya sampai ke sini kalau ternyata dia sudah berkhianat" emosi Vernon meledak-ledak.


Kedua asistennya hanya bisa diam, tanpa bisa menenangkan bosnya itu.


"Pesan tiket ke Jakarta sekarang juga. Aku tidak ingin mencari tahu keberadaan wanita itu lagi".


Vernon akhirnya kembali ke Jakarta, dengan dendam yang membara. Ia berpikir bahwa selama ini Sofia telah bahagia bersama pria lain, sedangkan dirinya sangat menderita karena telah bersusah payah mencari keberadaan istrinya.


Di Jerman


Sofia sedang duduk bersama kedua buah hatinya, dan mama Sonya menghampirinya.


"Cucu mama udah habis mandi ya, lucu banget".


Sofia tersenyum, melihat ibunya yang sangat sayang kepada Nisya dan Nasya.


"Mama udah dengar kabar dari mas Vernon?".


"Sudah. Katanya dia sudah kembali lagi ke Jakarta".


"Bagus lah kalau begitu".


"Tapi kata penjaga rumah kita, dia kelihatannya sangat marah dan berteriak-teriak saat tahu kalau kamu tidak ada di rumah itu".


"Biarkan saja ma. Aku tidak peduli lagi padanya. Aku hanya akan fokus pada anak-anakku. Dan rencananya nanti saat kita kembali ke Swiss, aku ingin membuka usaha restoran seperti dulu".


"Ya sudah kalau itu yang kamu mau, mama cuma nggak mau lihat kamu sedih nak".


"Iya ma, terima kasih".

__ADS_1


"Tapi jangan lupa, saat besar nanti, anak-anak kamu perlu tahu siapa ayahnya yang sebenarnya" pesan mama Sonya.


"Iya ma, aku pasti akan beritahu" ucap Sofia.


__ADS_2