
Mereka itu orang kaya ya, masa cuma karena mangga sampai dikasih uang 3 juta. Tapi syukur alhamdulillah uang ini untuk lunasin hutang.
.
.
.
2 bulan kemudian
Sofia mengecek kembali kandungannya yang saat ini sudah berusia 5 bulan, ke rumah sakit. Tentu saja ia ditemani oleh suami tercintanya yaitu Vernon.
Mereka sudah tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka.
"Dok, jadi jenis kelamin anak saya apa?" tanya Vernon.
"Waw pak Vernon harap tunggu sebentar, saya lagi memeriksanya saat ini, bapak sangat semangat sekali ya" ucap Dokter yang sedang memeriksa kandungan Sofia.
"Iya dokter, suami saya dari semalam nggak sabaran banget" celetuk Sofia.
"Ya namanya juga anak pertama dan ini sudah saya tunggu sejak lama, maaf ya dok saya terlalu bersemangat".
"Oh tidak apa-apa pak, itu hal yang wajar. Oke sekarang coba bapak lihat bayinya di layar ini" tunjuk sang dokter.
"Apa bapak dan ibu bisa melihat kelamin bayinya?" lanjut dokter.
"Iya bisa dok, tapi saya tidak bisa melihatnya dengan jelas" ujar Vernon.
"Apa anak saya perempuan dok?" tanya Sofia.
"Ibu Sofia tahu darimana?".
"Saya tidak melihat bentuk belalai di kelaminnya, jadi saya hanya mengira-ngira kalau itu perempuan" ucap Sofia.
"Benar sekali ibu, anak bapak dan ibu adalah perempuan. Selamat ya" ucap sang dokter menyelamati Sofia dan Vernon.
"Jadi anak saya benar perempuan dok?" jelas Vernon.
"Iya pak".
"Alhamdulillah, akhirnya kita tahu juga jenis kelaminnya sayang" kata Vernon, memegang kedua tangan Sofia.
"Iya mas, anak kita perempuan" ucap Sofia berlinang air mata.
Vernon menyeka air mata yang membasahi pipi Sofia kemudian memeluk tubuh perempuan yang dicintainya itu dengan penuh kasih sayang.
"Semoga sehat selalu ya nak, papa dan mama akan selalu menjaga kamu" ucap Vernon di tengah pelukannya kepada Sofia.
"Ehem".
Karena keasyikan berpelukan, mereka melupakan keberadaan dokter yang sedari tadi menjadi obat nyamuk.
"Eh maaf dok, kami terlalu bahagia jadi lupa sama dokternya" kata Sofia cengengesan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bu, saya mengerti. Memang bapak dan ibu sangat romantis ya, saya jadi iri".
"Dokter bisa aja, kami memang begini kok dari dulu" ucap Vernon sambil merangkul pinggang Sofia.
"Hus mas udah jangan kayak gitu, nggak enak dilihat dokter" bisik Sofia sangat pelan, agar tidak didengar oleh sang dokter.
"Iya sayangku, maafin mas" kata Vernon kembali berbisik.
Setelah selesai memeriksa kandungan, Sofia sudah tidak sabar untuk berbelanja keperluan bayi.
"Mas kita sekalian singgah ke toko bayi aja dulu, aku mau langsung beli keperluan bayinya".
"Nggak tunggu besok aja yang?".
"Nggak mau, sekarang aja. Aku udah nggak sabar mas".
"Ya sudah kita singgah sekarang" ucap Vernon.
Sesampainya di toko perlengkapan bayi, Sofia segera memilih mulai dari baju, stroler, alat makan, bahkan perlengkapan mandi semuanya serba berwarna pink.
"Sayang nggak ada warna lain selain warna pink? mata aku sakit kamu dari tadi beli pink semua" kata Vernon.
"Kan anak kita perempuan sayang, jadi wajar dong kalau aku belinya pink".
"Tapi nggak semuanya juga sayang, cari warna lain kek barang yang lainnya".
"Kamu kenapa sih nggak pernah setuju dengan apa yang aku pilih? sebenci itu kah kamu sama aku mas?" Sofia terlihat mulai kesal.
Melihat istrinya yang mulai emosi, membuat Vernon panik.
"Nggak usah, nggak mood belanja lagi" ucap Sofia, keluar dari toko itu.
"Astaga kenapa orang hamil sensitif banget sih" kata Vernon frustasi.
"Mbak semua peralatan dan juga baju bayi yang berwarna pink saya beli semuanya. Hitung aja ya dan kirim semua ke alamat ini. Nanti masalah biaya, akan saya transfer segera" ucap Vernon menyodorkan kartu namanya.
"Baik pak" ucap pelayan toko.
Dilihatnya kartu nama yang diberikan Vernon, pelayan itu nampak terkejut dan bergumam.
Wah pantas saja, orang terkaya yang belanja gimana nggak semuanya diborong.
Kembali ke Vernon dan Sofia. Saat ini, Vernon tengah mengejar Sofia yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil mereka.
"Sayang kamu jangan marah gitu dong, mas kan cuma berpendapat aja tadi, emangnya nggak boleh ya?".
"Berpendapat ya boleh sih, tapi wajah mas itu kayak nggak suka dengan pilihan aku, kan jadinya aku kesal mas".
"Iya mas minta maaf sayang, mas janji nggak bakal ngulangin itu lagi. Tadi mas udah borong semua barang di toko itu yang berwarna pink" ujar Vernon.
"Apa? mas borong semuanya setoko-tokonya?" tanya Sofia yang terkejut.
"Iya" jawab Vernon dengan polosnya.
__ADS_1
"Ya ampun mas, kamu buang-buang duit tahu nggak. Aku tahu kamu itu orang kaya, tapi nggak gitu juga kali" kata Sofia sewot.
Ya Allah cobaan apalagi sekarang ini. Batin Vernon.
"Kamu diamin aku sekarang? jahat banget kamu mas".
"Astaga Sofia kamu ini kenapa sih?" Vernon mulai hilang kesabaran menghadapi sikap Sofia.
"Kamu panggil aku dengan nama mas? kamu benar-benar jahat mas. Aku marahin aku..huaaaaa" Sofia mulai menangis di dalam mobil, membuat Vernon kelagapan.
"Nggak sayang nggak, maafin mas. Mas mohon maafin mas ya".
Vernon menarik Sofia kedalam dekapannya kemudian mulai membelai lembut rambut istrinya.
"Mas jangan lagi marahin aku. Aku nggak bisa lihat mas marah kayak gitu".
"Iya sayang mas janji nggak bakal marahin kamu lagi, maafin mas ya".
"Iya mas. Cium" kata Sofia memanyunkan bibirnya.
Vernon tersenyum geli melihat Sofia yang terlihat manja kepadanya.
"Imut banget deh istri aku ini".
Cup
Vernon mencium bibir Sofia. Awalnya dengan sangat lembut kemudian berubah menjadi agresif. Mereka berciuman panas di dalam mobil.
Tok tok tok
Kedua pasutri itu menghentikan ciuman mereka saat mendengar suara ketukan kaca dari mobilnya.
Vernon perlahan membuka kaca mobilnya dan mendapati seorang bapak-bapak sudah berdiri menatap tajam dirinya dan Sofia.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Vernon.
"Disini bukan tempat orang berpacaran pak, disini parkiran. Kalau mau wik wik dengan wanita panggilan di motel murahan sana jangan disini" ucap sang bapak terdengar kasar.
"Bapak pikir saya orang nggak mampu apa? dan apa tadi bapak bilang, wanita panggilan?" kata Vernon.
"Iya memangnya kenapa?".
Vernon terlihat mulai emosi seakan ingin segera menonjok wajah bapak itu, tetapi Sofia mencoba menenangkannya dengan memegang tangannya.
Bapak tukang parkir disini?".
"Iya" jawab sang bapak yang ternyata adalah tukang parkir di toko itu.
"Ini uang parkirnya" Venron mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu kemudian memberikannya kepada bapak itu.
"Kenapa uang parkirnya banyak sekali?".
"Iya sengaja saya kasih banyak. Uang itu untuk keperluan istri dan anak bapak, karena mulai besok saya pastikan bapak akan kehilangan pekerjaan bapak di tempat ini" tegas Vernon.
__ADS_1
"Dan satu lagi, ini adalah istri saya, bukan wanita panggilan. Saya bisa menghancurkan bapak beserta keluarga bapak jika saya mau. Ingat itu!" ujar Vernon, lalu melajukan mobilnya meninggalkan toko tersebut.