
Vernon menatap punggung istrinya sesaat, kemudian berbalik membelakangi Sofia. Malam itu mereka tidur tidak saling berhadapan lagi.
Alarm di kamar Sofia dan Vernon berbunyi, membangunkan kedua orang yang berada di dalamnya.
Kalau biasanya setiap bangun mereka selalu melakukan ciuman selamat pagi, kali ini berbeda. Mereka bangun tanpa melihat satu sama lain seperti orang asing.
Saat sarapan sampai selesai pun tidak ada pembicaraan diantara mereka.
Sofia mengambil koper di kamarnya dan membawanya menuruni tangga.
"Kamu yakin mau pergi ke rumah ibumu?" tanya Vernon yang sedari tadi hanya diam melihat apa yang dilakukan Sofia.
"Iya" jawab Sofia tanpa memandangi suaminya.
"Baiklah. Akan aku antar".
"Tidak usah, aku pergi sama supir saja. Kamu pergi lah bekerja" kali ini Sofia tidak memanggilnya lagi dengan sebutan mas.
"Aku yang membawamu kemari jadi aku juga yang harus membawamu ke ibumu. Ayo masuk, aku akan mengantarmu" ucap Vernon, masuk ke dalam mobilnya.
Di sepanjang perjalanan, hening menyertai. Tidak ada sama sekali obrolan diantara mereka. Mereka seperti sibuk pada dunianya masing-masing. Vernon sibuk berkendara, sedangkan Sofia memilih untuk memandang ke arah luar jendela mobil.
Setelah menempuh 3 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kota kembang Bandung.
Sofia turun dari mobil tanpa mengucapkan apa-apa dan mengetuk pintu rumah ibunya.
"Ya ampun Sofia, Vernon. Ada apa kalian kemari? perasaan kemarin mama baru saja pulang, kalian udah kangen ya?" tanya mama Sonya.
"Aku mau tinggal sementara disini ma. Boleh kan?" tanya Sofia.
"Tentu boleh sayang. Memangnya ada apa? Vernon nggak kerja?".
"Dia kerja ma. Aku cuma dianter kesini, habis ini dia mau balik lagi ke Jakarta" ucap Sofia tanpa memandangi Vernon.
"Kalian ada masalah ya?" mama Sonya mulai curiga ada yang tidak beres antara anak dan menantunya itu.
"Aku masuk dulu ya ma".
"Makasih udah nganterin aku, hati-hati pulangnya" kata Sofia kepada Vernon dan segera masuk ke dalam rumah.
"Aku pamit dulu ya ma" kata Vernon.
"Iya hati-hati dijalan ya, nanti mama bicara sama Sofia. Mungkin dia perlu waktu".
Vernon mengangguk dan melanjutkan perjalanannya kembali ke Jakarta.
Sofia duduk termenung di kamarnya, pikirannya seperti acak-acakan saat ini. Tiba-tiba mama Sonya mengetuk pintu kamarnya dan masuk.
__ADS_1
"Ada apa lagi kamu sama Vernon? ada masalah apa sampai kamu pulang kesini sayang?" tanya mama Sonya.
"Aku berencana ingin menikahkan dia dengan Bianca, mantan pacarnya dulu".
"Kenapa begitu? memangnya kamu siap untuk dimadu?".
"Aku tidak punya pilihan lain ma. Aku belum bisa memberikan Vernon anak, lalu aku dengar sendiri ayah Bram ingin menjodohkan Vernon dengan anak dari relasi bisnisnya. Aku tidak mau suamiku menikah dengan orang yang tidak aku kenali ma" ucap Sofia dengan suara bergetar.
"Benarkah Bram seperti itu? aku harus menghubunginya".
"Jangan ma" tahan Sofia.
"Memangnya kenapa? mama nggak mau anak mama dimadu. Mending kamu cerai daripada harus dimadu Sofia".
"Kenapa mama bahas cerai? aku tidak mau bercerai dengan Vernon".
"Lalu kamu mau dia menikah lagi untuk mendapatkan seorang anak? mungkin Vernon memang tidak mau, tapi kalau ayahnya sendiri sudah merencanakan ini jujur mama sangat marah".
"Aku tahu ma. Tapi mama sabar dulu, aku hanya butuh waktu sendiri saat ini. Vernon juga tidak percaya kalau ayahnya bisa berkata seperti itu. Biarkan dia bicara lebih dulu dengan keluarganya" ujar Sofia.
"Baiklah kalau begitu. Kamu istirahat aja ya sekarang" ucap mama Sonya.
"Iya ma, terima kasih".
Di sisi lain, Vernon tengah uring-uringan. Ia bingung harus percaya pada Sofia atau tidak. Pasalnya ia merasa ayahnya tidak mungkin setega itu. Karena mulai frustasi dengan dugaan yang tidak berdasar, ia memutuskan untuk bertanya langsung kepada ayahnya untuk lebih jelasnya.
Sesampainya di rumah, ia mulai mencari-cari keberadaan ayahnya.
"Ayah dimana bun?".
"Ayah? sepertinya sedang di ruang baca. Ada apa kamu mencari ayah?" tanya bunda Anya.
Vernon tidak menjawab pertanyaan ibunya dan segera menuju ke ruang baca tempat ayahnya berada.
"Ayah" panggil Vernon.
"Oh Vernon kamu disini, masuklah. Ada apa nak?" tanya ayah Bram, melepaskan kacamata yang dipakainya.
"Apa benar ayah berencana untuk mencarikan aku istri kedua dari anak relasi bisnis ayah?" tanya Vernon langsung ke intinya.
"Kamu tahu darimana?" ayah Bram kaget Vernon mengetahui rencananya.
"Jadi benar ayah merencanakan itu? aku tidak percaya ayah akan berbuat seperti ini. Asal ayah tahu gara-gara ayah merencanakan ide bodoh itu, aku dan Sofia hampir mau pisah" teriak Vernon penuh dengan kekesalan.
"Apa? maksud kamu, Sofia mendengarnya?".
"Iya dan bodohnya lagi aku tidak percaya kata-katanya dan sekarang dia minta dipulangkan ke rumah ibunya".
__ADS_1
"Astaga. Ayah minta maaf Vernon, ayah memang salah merencanakan hal itu. Tapi jujur saja itu baru rencana, belum benar-benar terjadi. Ayah hanya kasian saja sama kamu kalau misalnya tidak bisa memiliki anak".
"Siapa bilang aku tidak bisa memiliki anak? aku akan terus berusaha mendapatkan seorang anak dari Sofia walaupun sangat kecil kemungkinan yang terjadi dan kalau memang aku benar-benar tidak bisa diberikan anak, aku bisa adopsi tanpa harus menikah dengan orang lain. Ayah kan tahu aku hanya cinta sama Sofia, jadi tolong jangan pernah merencanakan hal bodoh yang lain lagi".
"Iya ayah minta maaf Vernon, ayah memang salah".
"Jadi ayah merencanakan untuk menjodohkan Vernon dengan wanita lain?" tanya bunda Anya yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
"Ayah memang benar-benar keterlaluan. Kalau sampai mereka berdua bercerai, bunda tidak akan pernah memaafkan ayah" ancam bunda Anya.
"Maafkan ayah bun. Ayah khilaf, ayah janji tidak akan berbuat seperti itu. Tolong bilang ke Sofia kalau ayah minta maaf Vernon".
"Iya ayah, nanti Vernon akan beritahu Sofia. Asal ayah janji tidak akan berbuat seperti itu lagi".
"Iya ayah janji".
"Temui Sofia sekarang Vernon, lalu bawa istrimu pulang ke rumah. Jangan lupa minta maaf padanya" ucap bunda Anya.
"Baik bunda, Vernon akan menemui Sofia".
Vernon kembali menemui Sofia di Bandung. Sesampainya disana, Vernon mulai mengetuk pintu dan tidak lama kemudian pintu dibuka oleh Sofia.
"Kenapa balik lagi? ada yang ketinggalan?" tanya Sofia.
Tanpa menjawab, Vernon segera memeluk eray tubuh istrinya itu.
"Lepasin, aku nggak bisa bernapas ini" ucap Sofia memukul-mukul lengan Vernon.
"Panggil aku mas dan aku akan melepas pelukannya".
"Iya iya mas lepasin, susah napas ini".
Vernon mulai melepaskan pelukannya dan menatap Sofia begitu lekat.
"Maaf aku tidak percaya padamu. Aku sudah bertanya pada ayah dan ayah juga sudah mengaku semuanya. Kamu mau kan maafin mas dengan ayah?".
"Iya mas. Aku juga minta maaf sudah merencanakan pertemuan kamu dengan Bianca".
"Iya sayang. Tapi aku mohon jangan lagi merencanakan hal seperti itu. Aku mau kita berusaha sama-sama sayang, aku mau memiliki anak darimu. Jika kita memang tidak bisa diberikan anak, aku mau kita adopsi tanpa harus menikah dengan orang lain".
"Iya mas. Mulai saat ini, kita akan berusaha sama-sama dan tidak akan putus asa lagi".
Vernon tersenyum bahagia mendengar perkataan istrinya dan mulai mencium bibirnya.
"Ayo kita buat anak, kita pakai semua gaya siapa tahu berhasil" bisik Vernon dengan nada menggoda.
"Kamu mesum mas" Sofia memukul pelan dada suaminya.
__ADS_1
Vernon mengangkat Sofia ala bridal style dan mulai melakukan pertempuran di siang hari.