
Andre terus memohon, namun tidak digubris oleh Sofia hingga mereka sampai di parkiran.
"Sofia, ajak aku ya kalau mau ketemu sama dia. Tolong dong, beneran aku tuh kayak cinta pada pandangan yang pertama".
"Beneran nih?".
"Beneran sumpah".
"Iya nanti aku ajak deh".
"Makasih banget, baik banget deh sepupu aku ini".
"Tapi dia empat tahun lebih tua loh dari kita".
"Hah? serius? kok kayak seumuran ya".
"Emang udah buta karena cinta jadi gitu".
"Mungkin hehe. Nggak apa-apa dia umur berapa pun yang penting aku suka sama dia".
"Bukan untuk jadi koleksi mantan kan?" selidik Sofia.
"Bukan Sofia, ya ampun nggak percaya banget".
"Oke kalau begitu. Ayo jalanin mobilnya".
Sesampainya di rumah, Sofia mulai menata kamar kedua putrinya dengan nuanasa serba pink putih.
"Ini kamar atau es krim?" sahut mama Sonya.
"Eh mama. Iya nih, nggak tahu kenapa dari dulu hamil Keisha, Sofia suka banget warna pink. Biar girly gitu ma".
"Tapi biasanya kalau anak kembar, sifatnya beda loh sayang".
"Beneran?".
"Iya, biasanya yang satunya lebih tomboy".
"Jangan sampai deh, aku maunya mereka sama-sama girly terus pakai baju kembar terus. Lucu kan ma?"
"Iya lucu kok".
"Ma, aku pengen deh kerja lagi. Buat restoran gitu kayak di Jakarta dulu".
"Mama sih terserah kamu aja kalau emang kepengen, tapi nanti pas udah lahiran aja ya. Biar saat ini kamu fokus dulu ngurus anak kamu" ujar mama Sonya.
"Iya ma. Sofia juga belum mau saat ini, takutnya kandungan Sofia kenapa-kenapa" .
"Iya mama setuju".
Di Jakarta
Vernon masih terus melawan rasa mualnya. Hari ini ia mual sebanyak 5 kali. Padahal karyawannya sudah menyembunyikan buah itu dengan sangat tersembunyi, tapi indera penciuman Vernon gang sangat tajam, masih bisa menciumnya walaupun dalam jarak yang jauh. Alhasil, ia berkali-kali bolak balik ke kamar mandi.
"Kenapa jadi gini ya, heran banget deh. Padahal aku suka makan buah, tapi sekarang cium bau buah yang jaraknya jauh aja udah sampe mual".
Vernon keluar dari kamar mandi untuk kesekian kalinya dengan wajah sangat pucat. Karena tidak tega, Joshua menyuruh adiknya itu untuk pulang dan beristirahat.
Ia diantar pulang oleh supirnya, karena tidak sanggup lagi membawa mobil.
Di tengah perjalanan, Vernon menyuruh sang supir untuk berhenti dan menyuruhnya membelikan rujak dipinggir jalan.
Persis seperti orang yang sedang ngidam, saat melihat rujak, Vernon menjadi tersenyum bahagia. Selama di perjalanan, ia memakan rujak itu dengan sangat lahap.
Akhirnya, sampai lah Vernon di rumah. Bukan di rumahnya bersama Sofis melainkan di rumah ayah Bram dan bunda Anya.
__ADS_1
Ya, semenjak pulang dari rumah sakit, bunda Anya memutuskan agar Vernon kembali ke rumah mereka agar ia tidak berbuat macam-macam.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam. Tumben kamu cepat pulang".
"Aku mual dari tadi di kantor bun".
"Kok kamu akhir-akhir ini sering banget mual ya, apa jangan-jangan".
"Jangan-jangan apa?".
"Nggak kok, cuma perasaan bunda aja kali. Udah kamu mandi sana, tenangin pikiran kamu. Bunda tuh udah singkirin semua buah di rumah ini demi kamu loh".
"Makasih bunda. Aku ke kamar dulu ya".
Vernon mencium pipi bundanya itu sebelum naik ke kamar. Ia memutuskan untuk mandi agar otaknya bisa segar kembali, setelah mengalami mu yang tidak mengenakan selama di kantor.
Kembali ke Swiss, saat ini Sofia sedang menunggu kedatangan Bianca, tentu saja ia ditemani oleh Andre yang sejak kemarin terus memohon kepadanya.
"Sabar Ndre, nggak usah celingak celinguk gitu, dia bakalan datang kok".
Sofia kesal karena Andre terus berdiri dari kursinya, menunggu kedatangan Bianca.
"Tapi beneran datang kan? kamu nggak bohong kan?".
"Ngapain bohong sih. Ya beneran lah".
Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, akhirnya datang lah orang yang ditunggu dari tadi, yaitu Bianca.
"Sorry guys aku telat, tadi mobil aku kempes ban jadi aku kesini naik taksi deh".
"Ya ampun, terus gimana mobil kamu?" tanya Sofia.
"Aku udah telfon supir aku kok untuk bawa ke bengkel".
"Nggak ngerepotin kok Fi, aku malah senang ketemu kamu disini".
"Eh iya ada Andre juga, nih Andre uang yang kemarin aku pinjam".
Bianca menyodorkan sejumlah uang namun ditolak oleh Andre.
"Nggak usah diganti, nggak apa-apa kok. Kamu kan teman Sofia, aku ikhlas bantuin".
"Kamu serius?" tanya Bianca.
"Iya serius" jawab Andre.
"Sepupu kamu baik ya Fi".
"Hahaha, kelihatannya begitu ya?" ucap Sofia, bercanda.
"Loh emangnya nggak ya?".
"Oh bukan begitu. Dia baik kok, tadi aku cuma main-main doang. Lucu soalnya kalau dia kesal" kata Sofia sambil menatap Andre seakan-akan sedang meledek.
"Ohh gitu. Eh iya, jadi dimana Vernon? kenapa kalian nggak sama-sama lagi?".
Sofia mulai menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya selama ini, serta rasa sakitnya hingga sampai ia mengandung.
"Jadi begitu ceritanya. Aku turut prihatin ya Fi, tapi kamu yakin Vernon selingkuh?".
"Entahlah, tapi kalau memang tidak benar kenapa juga dia nggak cerita ke aku?".
"Iya juga sih".
__ADS_1
"Pokoknya kalau kamu ketemu dia, jangan kasih tau tentang keberadaan aku dan tentang kehamilan aku ya, aku mau coba lupakan dia".
"Tapi kan kamu belum sah cerai secara hukum, dan juga kalian tidak bisa bercerai apalagi kalau kamu lagi dalam keadaan hamil" ujar Bianca.
"Iya memang benar. Aku tidak tahu lagi, yang terpenting sekarang aku ingin fokus dengan anak di dalam kandungan aku. Aku nggak mau jadi stres cuma karena mikirin dia".
Mereka bertiga terus mengobrol sampai akhirnya hari hampir gelap.
"Eh pulang yuk, udah mau malam ini" ajak Sofia.
"Bianca pulang naik apa?" tanya Andre.
"Oh, aku nanti tunggu supir aja yang jemput" jawab Bianca.
"Nanti lama lagi nunggunya, pulang bareng kita aja. Iya kan Sofia?" tanya Andre meminta persetujuan.
Sofia yang tahu kalau Andre sedang mencari-cari kesempatan, akhirnya mengiyakan.
"Iya, ikut kami aja. Andre jago loh bawa mobil".
"Oke kalau begitu, aku ikut kalian" ucap Bianca.
Andre tersenyum senang.
Bianca berniat untuk naik di belakang, namun dicegat oleh Andre.
"Jangan di belakang, di depan aja. Sofia lagi hamil jadi harus duduk di belakang. Iya kan Sofia?".
"Iya" jawab Sofia dengan malas.
Bianca akhirnya duduk di depan bersama Andre, sedangkan Sofia di belakang.
Andre terlihat mulai mengajak ngobrol Bianca, untungnya Bianca merespon obrolan Andre dengan baik. Mereka pun nyambung saat berbicara, hingga melupakan Sofia yang sedang duduk di belakang.
Akhirnya mereka sampai di depan apartemen Bianca.
"Jadi kamu tinggal disini?" tanya Sofia.
"Iya, lain kali nanti mampir ya".
"Pasti dong" ucap Andre.
"Bukan kamu yang ditanya tapi aku" sungut Sofia.
"Hahaha kamu juga boleh mampir kok" ucap Bianca pada Andre, membuat Andre seperti melayang.
"Kesenangan tuh dia" celetuk Sofia.
"Makasih ya semuanya, nanti ketemu lagi".
"Eh tunggu" tahan Andre.
"Minta nomor hp kamu boleh?".
"Boleh kok. Udah aku tulis di kertas itu" tunjuk Bianca.
"Aku tunggu teleponnya ya" lanjutnya lagi lalu keluar dari mobil.
Andre terkejut bercampur senang karena sudah mendapatkan nomor Bianca.
"Astaga mimpi apa gue semalam, senang banget deh".
"Bilang apa ke aku? aku udah bela-belain loh duduk di belakang".
"Hehe makasih Sofia".
__ADS_1
"Bagus" kata Sofia mengangkat jempolnya.