
Vernon berjalan ke arah dapur dan saat sampai di dekat kamar mandi, ia melihat istrinya yang sudah tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan darah yang menggenang sangat banyak.
"Sofia" teriaknya.
"Sayang bangun, kamu kenapa bisa seperti ini" ucap Vernon menepuk-nepuk pipi Sofia.
Vernon segera mengangkat tubuh istrinya yang sudah dipenuhi darah, masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Aku mohon bertahanlah sebentar lagi sayang, anakku".
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Vernon mengangkat tubuh istrinya yang sudah dilumuri darah menuju ke ruang Unit Gawat Darurat.
"Tolong selamatkan istri dan anak saya dokter, tolong" mohon Vernon, mulai menangis.
"Baik pak, saya akan memeriksa istri anda. Silahkan anda tunggu di luar terlebih dahulu".
Vernon terlihat gusar, perasaannya saat ini campur aduk. Hari ulang tahun yang seharusnya menjadi hari bahagianya, seketika berubah menjadi kesedihan karena musibah yang menimpa istrinya.
Di ruang tunggu Vernon terus berdoa akan keselamatan istri dan anak yang selama ini sudah di nantinya.
Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan.
"Dok, bagaimana kondisi anak dan istri saya?" tanya Vernon, bangkit dari kursi.
"Kita bicarakan di ruangan saya saja ya pak" ucap sang dokter.
Perasaan aneh mulai menyelimuti pikiran Vernon. Tetapi ia tetap berusaha berpikir positif dan mengikuti dokter tersebut ke ruangannya.
"Jadi begini pak, kondisi ibu Sofia untungnya baik-baik saja akan tetapi saya mohon maaf sekali, akibat benturan keras saat ibu Sofia terjatuh membuat anak bapak tidak dapat diselamatkan. Kemungkinan bayinya sudah meninggal di dalam kandungan, jadi kami ingin meminta persetujuan bapak untuk kami melakukan tindakan operasi pada ibu Sofia sehingga dapat mengeluarkan bayinya" papar dokter.
"Jadi..anak saya meninggal dok?" tanya Vernon tidak percaya.
"Sekali lagi saya mohon maaf pak, tapi seperti itu yang terjadi".
"Baik, silahkan lakukan prosedurnya" kata Vernon yang masih syok.
"Baik pak, kami akan segera melakukan operasi terhadap ibu Sofia".
Vernon keluar dari ruangan dokter dengan keadaan linglung. Ia tidak tahu harus berbuat dan berekspresi seperti apa, menangis pun rasanya ia sudah tidak mampu lagi. Pikiran dan perasaannya sangat kacau, anak yang sangat dinantinya, yang 4 bulan lagi akan segera lahir ke dunia, tiba-tiba dinyatakan meninggal.
Ia mengambil hp nya dengan tatapan kosong, dan menelepon bunda Anya.
"Assalamualaikum nak, ada apa?" tanya bunda Sonya dari seberang telepon.
"Oh iya selamat ulang tahun ya sayang, bunda dan ayah pengen ke rumah kamu tadi tapi ayah kamu sibuk terus" lanjut bunda Anya.
"......."
"Halo Vernon kamu dengar bunda?".
"Bunda...Sofia keguguran dan anak kami..." bibirnya bergetar, ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Apa? anak kalian kenapa Vernon? jawab bunda!".
"Anak kami meninggal bun" tangisan Vernon kembali pecah. Ia tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
"Innalillahi wa innaillahi rojiun. Kalian dimana? bunda dan ayah kesana sekarang".
"Kami di rumah sakit" kata Vernon masih dengan suara bergetar.
"Baik kamu tunggu disitu, kami kesana sekarang".
Bunda Sonya mematikan sambungan telepon kemudian segera bergegas memberitahu ayah Bram.
"Ayah..ayah" teriak bunda Anya.
"Ada apa bun? kok malam-malam teriak sih?".
"Kita ke rumah sakit sekarang".
"Ngapain? siapa yang sakit?" tanya ayah Bram bingung.
"Sofia keguguran dan dia sedang di rumah sakit sekarang. Vernon tadi telepon".
"Innalillahi wa innaillahi rojiun. Oke, ayo bun" kata ayah Bram.
Saat ini Sofia tengah bersiap untuk di operasi. Sedangkan Vernon masih terduduk di kursi dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia masih terus menangis, tidak rela kehilangan anaknya.
Tidak lama kemudian, bunda Anya dan ayah Bram sudah sampai di rumah sakit dan mencari keberadaan Vernon.
"Vernon" panggil bunda Anya.
"Bunda" Vernon bangkit dari kursinya dan segera memeluk ibunya.
"Bagaimana keadaan Sofia nak?".
"Ya Allah, yang sabar nak, kamu harus kuat" ucap bunda Anya menguatkan sang anak.
"Kenapa bisa sampai Sofia keguguran? memangnya kamu dimana?" tanya ayah Bram.
"Aku tadi masih di kantor yah. Pas aku pulang aku lihat rumah sudah di dekorasi dengan balon dan juga kue ulang tahun, tapi aku nggak lihat Sofia disitu. Pas aku cari, ternyata dia sudah pingsan di kamar mandi dan mengeluarkan banyak darah di kakinya" ujar Vernon.
"Pasti dia mau kasih suprise kamu karena ulang tahun sayang" kata bunda Anya.
"Tapi seharusnya dia tidak seceroboh itu. Lebih baik ulang tahun aku nggak usah dirayain, daripada aku harus kehilangan anakku seperti ini".
"Jaga bicaramu Vernon! Sofia mempunyai niat baik untuk kamu, dia juga pasti tidak pernah mengharapkan kejadian seperti ini. Jadi kamu harus menyemangatinya bukan malah menyalahkannya" ucap ayah Bram.
"Tapi yah.."
"Sudah lah. Kenapa kalian berdua yang jadi bertengkar? sekarang kita doakan saja semoga Sofia baik-baik saja" lerai sang Bunda.
Akhirnya Vernon dan ayah Bram menghentikan pertengkaran mereka.
Beberapa jam kemudian, operasi telah selesai dilakukan. Dokter keluar dari ruangan dan menemui keluarga pasien.
"Bagaimana keadaan menantu saya dok?" tanya bunda Anya.
"Ibu Sofia baik-baik saja, kita tinggal menunggu beliau siuman".
"Dan untuk bayinya sudah kami keluarkan. Tolong suster bawakan bayinya kesini" lanjut dokter.
__ADS_1
"Baik dok".
Suster membawa janin yang sudah berbentuk hampir sempurna itu dan memberikannya kepada dokter.
"Ini dokter".
"Jadi ini pak, janinnya sudah terbentuk dan bisa dibilang sudah hampir sempurna. Tapi sayang sekali, tidak bisa diselamatkan" kata sang dokter.
"Bayiku" ucap Vernon.
Bibirnya bergetar menahan tangis. Diambilnya janin mungil tersebut dari tangan sang dokter, kemudian memeluknya kedalam dekapannya.
Tangis Vernon mulai pecah kembali, hatinya merasa sangat hancur harus kehilangan anak yang sudah sangat dinantinya.
"Vernon, kamu harus bisa merelakannya nak" ucap bunda Anya yang tidak tega melihat anaknya bersedih.
"Kita harus segera menguburkannya, kamu harus kuat" tambah ayah Bram.
"Kenapa aku harus kehilangan anakku bunda, ayah? aku sangat mengharapkannya selama ini, kenapa Allah tega mengambilnya?" teriak Vernon histeris.
"Istighfar Vernon. Jangan pernah menyalahkan Allah atas semua ini" bentak bundanya.
"Lalu siapa yang harus aku salahkan? Sofia? memang karena dia yang ceroboh membuat putriku meninggal".
Plak
Tamparan keras melayang di pipi Vernon.
"Kamu sudah keterlaluan Vernon. Bisa-bisanya di kondisi seperti ini kamu menyalahkan Sofia. Dia istri kamu! jangan pernah menyalahkan dia sepenuhnya!Harusnya kamu lihat diri kamu sendiri. Kamu sendiri tidak becus mengurus istri dan anak kamu, makanya terjadi seperti ini" ujar bunda Anya, emosi.
"Sabar bun, jangan ikut emosi" ucap ayah Bram.
"Laki-laki pengecut seperti dia memang pantas di marahi. Ayah jangan pernah membelanya kalau memang salah".
"Iya bun, ayah tahu. Ayah tidak membelanya, tapi jangan seperti ini, ini kan di rumah sakit".
"Terserah, bunda tidak peduli. Sekarang juga lakukan proses pemakamannya. Bunda akan memberitahu orang tua Sofia".
Ayah Bram mengangguk, kemudian ia beralih menatap wajah anak bungsunya dengan begitu lekat dan memegang bahu anaknya.
"Nak, ayah tahu pikiran kamu saat ini sedang kacau. Tapi kita harus melakukan proses pemakaman sekarang juga. Kamu harus kuat, ayah tahu kamu bisa".
Vernon menundukkan kepalanya, kemudian mengangguk pelan.
Maafkan papa sayang, papa tidak bisa menjagamu dengan baik. Kamu pergi lebih dulu meninggalkan kami, sebelum kami bisa melihatmu lahir ke dunia ini. Papa sayang kamu, KEISHA BRAMAPUTRA.
...****************...
Halo guys
Author kembali π€π€
Untuk cerita kali ini mengandung bawang ya π sejujurnya author ikut menangis menulis cerita ini.
Mungkin di cerita ini, banyak yang tidak setuju karena Sofia kehilangan anaknya. Tetapi percayalah, author akan membuat ceritanya jauh lebih menarik π
__ADS_1
Jadi tetap ikuti terus ceritanya ya π