
Pengen punya anak gini amat ya. Semangat Sofia kamu pasti bisa.
Sofia bergumam, ia menyemangati dirinya sendiri agar tetap optimis dan berusaha demi mendapatkan seorang anak yang didambakannya selama ini.
.
.
.
2 bulan kemudian
Sofia tengah sibuk mengurus restorannya yang semakin hari semakin bertambah ramai. Tema ruangan kekinian yang cozy dan menarik membuat cafenya menjadi ramai oleh pengunjung.
Saat sedang mengolah keuangan restoran, tiba-tiba Sofia merasa mual saat melihat sajian makanan udang asam manis lewat dihadapannya.
Hoeeek
"Ibu kenapa? ibu nggak apa-apa?" tanya salah seorang pegawai restorannya yang panik melihatnya mual.
"Jauhin udang itu. Aku ngerasa mau banget" ucap Sofia sambil menutup hidungnya agar tidak mencium aroma dari makanannya.
"Tumben bu, biasanya ibu nggak ada masalah tentang makanannya. Apa jangan-jangan nggak enak ya masakannya".
"Aku juga nggak tahu, pokoknya jangan deketin udang itu di dekat sini, rasanya mau banget".
"Apa jangan-jangan ibu hamil?" sahut salah satu pegawai lainnya.
"Hamil?".
"Iya bu. Biasanya kalau orang yang mual cium bau-bau gitu, bisa jadi artinya hamil. Ibu coba aja dulu, kan nggak ada salahnya mencoba".
"Iya juga sih. Ya sudah, aku minta tolong beliin test pack ya".
"Baik bu".
Salah satu pegawai restorannya pergi untuk membelikan test pack. Setelah test packnya sudah dibeli, Sofia segera ke kamar mandi dan mencoba mengetesnya.
Ia menunggu kurang lebih 15 menit dengan terus berdoa sambil memejamkan matanya.
Setelah dirasanya sudah 15 menit, Sofia segera membuka matanya perlahan dan melihat ke arah test pack.
Dilihatnya 2 garis merah tercantum di test pack itu, seketika Sofia menutup mulutnya tak percaya. Ia menangis bahagia, karena penantiannya selama ini akhirnya dapat terkabul.
Para karyawan menghampirinya untuk mengetahui hasil yang didapat, setelah mengetahui bahwa bosnya itu sedang mengandung, mereka semua memberi ucapan selamat karena mereka tahu bagaimana perjuangan bosnya selama ini.
Sofia tidak sabar untuk cepat-cepat pulang ke rumah dan memberitahu Vernon saat dia pulang kerja nanti.
Sore harinya, Sofia sudah sampai di rumah dengan wajah sumringah. Ia menunggu kepulangan suaminya dengan menyiapkan test pack yang sudah dimasukkannya ke dalam box kecil, untuk memberi sedikit kejutan pada suaminya.
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, akhirnya terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Sofia segera berdiri di depan pintu dengan memegang kotak kecil itu. Saat Vernon membuka pintu, ia terkejut melihat istrinya sudah berdiri di depan pintu dengan tersenyum manis.
"Ada apa ini? tumben senyum-senyum yang".
__ADS_1
"Aku ada hadiah buat mas, ini" Sofia menyodorkan kotak kecil berisi test pack kepada suaminya.
"Apa ini? aku kan nggak lagi ulang tahun" ucap Vernon bingung.
"Buka aja dulu" pintah Sofia lagi.
Vernon menuruti apa yang dikatakan istrinya dan segera membuka kotak kecilnya. Ia tersenyum bahagia saat melihat test pack di dalamnya menunjukkan dua garis berwarna merah.
"Kamu hamil sayang?".
"Iya mas".
"Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya aku akan menjadi seorang ayah" teriak Vernon dengan sujud syukur karena penantiannya selama ini akhirnya dapat terkabul.
"Makasih yang, aku bahagia sekali. Kita jaga baik-baik anak kita bersama-sama ya" lanjut Vernon sambil memegang bahu Sofia.
"Iya mas, kita akan jaga sama-sama" ucap Sofia dengan mata mulai berkaca-kaca.
Vernon tersenyum kemudian menghujani seluruh wajah Sofia dengan ciumannya, ia lalu mengangkat Sofia ala bridal style dan membawanya ke kamar.
"Loh mas kenapa di gendong sih, aku bisa jalan sendiri".
"Nggak boleh. Pokonya mulai hari ini, kamu nggak boleh kecapean dan nggak boleh jauh dari pengawasan mas" kata Vernon mulai overprotektif.
"Iya deh suamiku".
"Nah gitu dong. Ayo kita tidur sekarang, besok pagi mas akan temani kamu untuk periksa ke dokter kandungan".
"Mas nggak kerja?".
"Iya mas, aku juga nggak sabar beritahu berita bahagia ini sama keluarga kita".
"Iya mas juga, pasti ayah dan bunda sangat bahagia" kata Vernon.
"Mas juga udah nggak sabar untuk mengabulkan permintaan dede bayi di dalam perut" lanjut Vernon lagi sambil mengusap perut Sofia yang masih rata.
"Jadi udah siap nih kalau aku ngidamnya nanti aneh-aneh?".
"Siap dong, mas akan selalu siap kapan pun dan dimana pun".
"Senang banget deh punya suami yang pengertian kayak gini" ucap Sofia, memeluk Vernon.
"Terima kasih sayang, kamu sudah bisa memberikan aku anak. Aku sangat bahagia".
"Ini semua berkat usaha kita dan juga karena Allah".
"Iya sayang" jawab Vernon tersenyum bahagia.
Keesokan paginya seperti yang telah direncanakan, Sofia dan Vernon pergi ke dokter kandungan untuk mengecek kondisi bayi mereka.
Sesampainya di rumah sakit, Sofia segera diperiksa oleh dokter.
"Kandungan ibu Sofia baik-baik saja dan baru berusia 2 minggu. Saya harap bapak dan ibu bisa bersama-sama untuk menjaga bayinya, karena masih sangat rentan" ucap sang dokter.
"Jadi istri saya beneran hamil dok?".
__ADS_1
"Iya benar pak. Sungguh hal yang luar biasa untuk ibu Sofia bisa hamil, kalian pasti sangat berusaha keras selama ini. Selamat ya pak, bu".
"Alhamdulillah kamu benar-benar hamil sayang" ucap Vernon menatap lekat sang istri.
"Iya mas".
"Terima kasih dokter, kami pamit dulu" kata Vernon.
"Baik pak".
Di sepanjang koridor rumah sakit, Vernon tidak melepaskan sama sekali genggaman tangannya pada Sofia. Lagi-lagi senyuman mengembang di wajah Sofia.
"Sayang kita ke rumah ayah dan bunda ya, mereka pasti sangat senang mendengar berita tentang kehamilan kamu" ucap Vernon.
"Iya mas, nanti aku juga mau beritahu mama dan Angel".
"Baiklah, ayo kita pergi".
Sofia dan Vernon akhrinya menuju ke kediaman ayah Bram dan bunda Anya. 20 menit kemudian, mereka akhirnya sampai.
"Bunda, ayah" panggil Vernon saat memasuki rumah.
"Ya ampun Vernon, Sofia, bunda kirain siapa yang datang pagi-pagi begini. Kalian nggak kerja?" tanya bunda Anya.
"Hari ini kita berdua memutuskan untuk nggak kerja karena mau kasih tau beritahu bahagia untuk kalian" jawab Vernon.
"Berita bahagia? tentang apa?".
Sofia mengeluarkan kotak kecil dan memberikannya ke bunda Anya.
"Tunggu apa ini? jangan-jangan.." bunda Sonya menggantung perkataannya.
"Ayah, yah sini kemari sebentar".
"Ada apa sih pagi-pagi udah teriak-teriak?" ayah Bram baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Ini loh Vernon dan Sofia datang pagi-pagi gini katanya mau kasih tau berita bahagia, terus bunda dikasih kotak ini".
"Apa isinya?".
"Ayo kita buka. Bunda sudah punya firasat sih, tapi kita lihat dulu apakah dugaan bunda benar atau tidak".
bunda Anya dan ayah Bram bersama-sama membuka kotak kecil dan menemukan test pack milik Sofia.
"Kan benar dugaan bunda".
"Kamu beneran hamil Sofia? kami akan mendapat cucu? ayah Bram sangat bahagia dan bersemangat mengetahui kehamilan menantunya itu.
"Iya benar ayah, bunda" ucap Sofia.
"Terima kasih Vernon, Sofia. Akhirnya kalian bisa mengabulkan permintaan ayah dan bunda. Kami tidak sabar ingin menggendong cucu" ujar bunda Anya.
"Lihat, bunda dan ayah bahagia sekali. Terima kasih ya sayang" bisik Vernon pada Sofia.
"Sama-sama mas" balas Sofia.
__ADS_1
Sofia mencium singkat bibir Vernon, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, sambil menatap kedua mertuanya yang tersenyum bahagia.