Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Perlahan


__ADS_3

Hai semuanya 😊


Hari ini author up 2x, ikutin terus ceritanya ya 😍


Happy Reading πŸ’•


...****************...


Assalamualaikum, sayang kamu baik-baik saja?.


Mama, kamu penyelamatku. Ucapnya sambil terisak.


Ya Allah nak, kamu kenapa?.


Aku nggak kuat lagi ma.


Kamu kenapa? kamu diapakan Vernon?. Tanya mama Sonya khawatir.


Mas Vernon udah berubah ma. Dia sering pulang mabuk, dia juga selalu menyalahkan aku karena keguguran. Aku nggak tahu mau bagaimana lagi ma. Ujar Sofia masih terus menangis.


Ya Allah nak kamu kenapa dibuat seperti itu saat mama udah jauh kayak gini. Kamu ikut mama aja kesini ya.


Untuk saat ini aku ingin mencoba memperbaiki hubungan aku ma. Makasih mama udah nelpon aku, aku nggak tahu bagaimana nasib aku kalau mama nggak telpon tadi.


Kamu yakin sayang? mama nggak mau kamu disakiti lagi. Meskipun mama tahu, pasti Vernon punya alasan tertentu makanya dia bersikap seperti ini. Tapi mama nggak tega sayang.


Aku akan coba ma, kalau aku udah nggak kuat lagi, aku akan pergi menyusul mama.


Baiklah kalau begitu. Hubungi mama kapan saja kamu siap atau ingin curhat. Mengerti? jangan berbuat yang aneh-aneh. Hanya kamu yang mama punya.


Iya ma. Makasih banyak.


Sama-sama sayang.


Setelah mengobrol dengan ibunya, seketika hatinya tercerahkan. Niat bunuh dirinya telah pudar, ia berencana untuk mencoba memperbaiki hubungannya dengan Vernon sekali lagi.


.


.


.


Hingga tengah malam tiba, Sofia masih terjaga. Ia menunggu Vernon yang tak kunjung pulang.


Pasti dia mabuk lagi malam ini.


Sofia terus merasa cemas menunggu kepulangan suaminya, hingga tanpa sadar ia tertidur di sofa karena kelelahan menunggu.


Sedangkan di tempat Vernon saat ini, ia minum dengan ditemani Rendi temannya.


"Udah lah bro jangan emosi mulu tiap hari. Pilihan lo cuma 2 sekarang, lanjutin atau tinggalin".

__ADS_1


"Gue nggak mungkin ninggalin dia".


"Kenapa nggak mungkin?".


"Gue udah janji sama diri gue sendiri nggak akan ninggalin dia" ucap Vernon, menatap nanar ke gelas wine miliknya.


"Yaelah bro, janji tinggal janji kalau dianya aja nggak bisa kasih lo anak" kata Rendi mencoba menghasut Vernon.


"Gimana kalau gue kenalin sama wanita-wanita disini? gue jamin lo bakal puas dan juga bisa aja lo punya anak. Tunggu ya gue panggilin".


Rendi mulai memanggil satu per satu para wanita panggilan ke dalam ruangan VIP yang sedang dimasuki Vernon. Vernon hanya menatap datar ke arah wanita-wanita yang dipanggil Rendi.


"Gimana bro? mau nggak? kalau mau ambil aja. Malam ini gue kasih gratis buat lo" tawar Rendi.


"Nggak. Gue nggak suka wanita murahan kayak gini" kata Vernon bangkit dari sofa kemudian keluar dari klub itu.


Ia menelepon supirnya untuk menjemputnya karena sudah terlalu mabuk.


Sesampainya di rumah, Vernon dipapah oleh supirnya memasuki kediamannya.


Sofia yang mendengar pintu terbuka, langsung terbangun dari tidurnya. Sesuai dugaannya ia melihat suaminya pulang dalam keadaan mabuk.


"Biar saya yang antar dia ke kamar pak. Maaf sudah merepotkan malam-malam".


"Baik nyonya. Saya permisi dulu. Selamat malam".


Sofia mulai memapah Vernon menuju kamar mereka.


"Kenapa kamu jadi baik? bukannya tadi marah-marah?" tanya Vernon dalam keadaan mabuk.


"Kamu mandi saja mas, aku buatin sup penghilang mabuk dulu".


"Kenapa tiba-tiba baik? pasti kamu ingin meracuni aku kan karena aku terus menyalahkan kamu? jujurlah Sofia" teriak Vernon dalam mabuknya.


"Aku tidak ingin bertengkar saat ini, jadi diamlah dan mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat" ucap Sofia, kemudian keluar dari kamar.


Vernon menuruti perintah istrinya itu, lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang memang sudah lengket.


Di dapur, Sofia sedang sibuk memasak sup untuk Vernon. Dengan telaten ia mengikuti semua step by step tutorial dari internet.


Setelah jadi, ia membawa sup itu ke kamar dan menghidangkannya kepada Vernon.


"Makanlah, mumpung masih hangat".


Vernon memakan sup nya tanpa tersisa sedikitpun. Setelah makan, tiba-tiba Sofia mulai membuka suara kembali.


"Jadi kamu sudah menutup restoran itu?" tanya Sofia.


"Iya" jawab Vernon.


"Baik".

__ADS_1


Sofia menjawab tanpa protes sedikit pun seperti sore tadi.


Setelah mencuci piring bekas Vernon makan, ia memilih tidur sambil membelakangi Vernon.


Entah kenapa perasaan Vernon sakit saat Sofia cuek padanya.


.


.


.


Pagi pun tiba, Vernon terusik dari tidurnya saat mendapati cahaya memasuki kamarnya.


Dilihatnya ke sebelah kasurnya, tidak ada Sofia disana.


Ia membuka kamar mandi dan isinya kosong. Dengan cepat ia menuju lantai bawah dan menemukan Sofia yang sedang memasak ditemani para asisten rumah tangga.


Ada perasaan lega dihatinya saat melihat Sofia masih ada di rumah itu.


Ia pun kembali naik ke atas dan bersiap-siap untuk ke kantor.


Sama seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya saja Sofia masih melayani sarapan untuk suaminya itu dan menyiapkan segala keperluan Vernon untuk ke kantor.


Tidak ada ciuman selamat pagi, pelukan sebelum pergi, dan bahkan mengantar sampai di depan rumah. Semua tidak dilakukan Sofia.


Sehabis makan, Sofia langsung menuju kamar tanpa mengucapkan apapun. Kali ini Vernon lah yang merasa bingung. Ingin rasanya ia bertanya namun egonya berkata tidak.


Karena tidak lagi bekerja, Sofia menghabiskan waktunya di rumah untuk menyiram tanaman serta membaca beberapa artikel agar bisa hamil kembali.


Setelah mendapat beberapa referensi, ia pun mencoba menerapkan apa yang dipelajarinya itu.


Mulai dari makan hingga olahraga, semua dilakukan Sofia.


Hingga pukul 7 malam saat Sofia sedang asyik menonton TV tentang program kehamilan, suara mobil terdengar, tanda Vernon telah pulang.


Tumben dia pulang cepat, aku pikir dia akan pulang mabuk lagi saat tengah malam. Gumam Sofia.


Sofia cepat-cepat mematikan TV kemudian bergegas naik ke kamar untuk menyiapkan segala keperluan Vernon.


Saat pintu kamar terbuka, Sofia sudah menunggu di depan pintu. Diraihnya tas kerja milik Vernon serta jas kerjanya.


"Aku udah siapin air hangatnya. Aku akan menyiapkan makan malam".


Hanya itu kalimat yang diucapkan Sofia. Sedangkan Vernon masih saja diam tidak menjawab sama sekali.


Sehabis mandi, Vernon menuju dapur untuk makan malam. Makanan kesukaan Vernon telah terhidang di meja makan. Tentu saja semuanya dibuat oleh Sofia.


Vernon makan dengan lahap. Dari dulu ia selalu lahap saat makan masakan istrinya, menurutnya tidak ada makanan seenak buatan ibunya dan buatan Sofia.


Mereka berdua mengakhiri makan malam mereka dengan tetap hening. Saat sedang mencuci piring, tiba-tiba untuk pertama kalinya Vernon bersuara.

__ADS_1


"Terima kasih".


Hanya itu yang diucapkan Vernon, namun sudah membuat Sofia tersenyum senang.


__ADS_2