Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Perbedaan Sifat


__ADS_3

"Tapi jangan lupa, saat besar nanti, anak-anak kamu perlu tahu siapa ayahnya yang sebenarnya" pesan mama Sonya.


"Iya ma, aku pasti akan beritahu" ucap Sofia.


.


.


.


Vernon kembali ke Jakarta. Rahangnya mengeras, emosinya masih meluap-luap. Dilemparkannya semua barang yang ada di ruangan kantornya.


"Kenapa kamu harus bersama orang lain Sofia? kenapa? apa begini caramu membalaskan dendam? membuat aku tersiksa dan bahkan selalu bermimpi tentang kamu, tentang kita yang mungkin bisa kembali bersama. Arrggghh aku benci kamu Sofia" teriaknya.


Ia mengambil foto mereka yang terukir indah di bingkai foto kecil, yang selalu disimpan Vernon di atas mejanya saat ia rindu, kemudian dilemparkannya ke lantai.


Saat ini perasaan Vernon campur aduk. Antara kecewa, sedih, marah, menyesal, rindu, semuanya menjadi satu.


Ia terus meracau menyebut nama Sofia yang berkhianat, membuat seluruh karyawannya menjadi panik melihat bosnya seperti orang yang tidak waras.


Bukan hanya kakaknya Joshua yang turun tangan, tetapi pada akhirnya ayahnya sendiri harus turun tangan untuk menenangkannya anaknya itu.


"Vernon sadarlah ini di kantor, tidak baik kamu berperilaku seperti ini di depan karyawan kamu. Pulang lah ke rumah sekarang juga!" bentak ayah Bram.


"Ayah aku seperti ingin mati ayah, aku ingin mati saja! aku tidak bisa melihat Sofia bersama pria lain, aku tidak bisa" teriak Vernon semakin kencang.


Karena sudah tidak dapat menahan emosi, ayahnya langsung meninju wajah Vernon sampai ia tersungkur ke lantai dan mengenai serpihan kaca yang membuat tangannya juga ikut terluka.


"Joshua bawa dia pulang ke rumah, jangan sampai dia berkeliaran kemana-mana. Kalau tidak mau, seret saja" ucap ayah Bram, lalu keluar dari ruangan itu.


Joshua hanya bisa mendengus melihat kelakuan adiknya yang semakin hari semakin tambah parah.


"Ayo pulang selagi kakak bicara baik-baik sama kamu".


Vernon akhirnya pulang ke rumah dalam keadaan wajah yang lebam sehabis dipukul dan tangannya yan berdarah akibat terkena serpihan kaca.


Sesampainya di rumah, bunda Anya begitu syok melihat wajah dan tangan Vernon yang penuh luka dan lebam.


"Ya ampun Vernon kamu kenapa nak? siapa yang berbuat seperti ini padamu? katakan".


"Ayah" ucap Joshua yang berada di samping Vernon.


"Ayah? jadi ayah kalian yang berbuat seperti ini? tapi kenapa bisa?".


"Vernon kembali menggila bun" kata Joshua lagi.


"Aku hanya antar Vernon saja, aku lanjut ke kantor ya" lanjutnya.


"Ya sudah kamu hati-hati ya nak" kata bunda Anya kepada Joshua.


"Sini kamu duduk disebelah bunda. Bunda akan obati tangan dan juga wajah kamu".

__ADS_1


Vernon mengikuti perintah ibunya, dan duduk disampingnya.


Tidak ada pertanyaan yang diutarakan bundanya. Bunda Anya hanya fokus mengobati luka-luka Vernon.


"Aku benci sama dia bun, aku benci" ucap Vernon tiba-tiba bersuara.


"Jangan pernah membencinya nak, mungkin dulu ini yang dirasakannya saat berjuang sendiri pasca keguguran. Tapi buktinya, dia masih bisa memaafkanmu kan?".


"Meskipun begitu, aku tidak pernah meninggalkannya seperti dia meninggalkan aku saat ini, bunda".


"Iya sayang bunda mengerti kamu yang sabar ya".


Aku benar-benar sangat membencimu Sofia. Batin Vernon.


.


.


.


4 tahun kemudian


Nisya dan Nasya tumbuh menjadi anak yang sangat cantik dan imut. Sejak bayi, Sofia memang sangat suka membuat kedua anaknya memakai baju yang sama dengan gaya rambut yang sama.


Setiap momen lucu mereka, selalu diabadikan Sofia dengan mengambil gambar keduanya.



Sofia tertawa melihat foto yang diambilnya. Terlihat Nisya yang sedang bingung dan Nasya yang berpose memanyunkan bibirnya.


"Kenapa nggak mau sayang? kan kalian kembar".


"Nasya nggak mau disamain bial kembal ma".


"Nggak ada baju yang lain adek, kan baju kalian mama beli sepasang terus".


"Iya Nasya, bialin aja sama. Nisya nggak masalah kok" ucap Nisya.


"Tuh kan dengar, kakak aja nggak masalah, masa adek nggak mau sih" kata Sofia dengan lembut.


"Iya telselah" ucap Nasya dengan malas.


Sofia memang mengajarkan kedua anaknya untuk berbahasa Indonesia saat di rumah, sehingga Nisya dan Nasya lancar berbahasa Indonesia.


"Hai ponakan uncle. Uncle dan aunty udah datang nih".


Andre datang bersama Bianca, pacarnya yang sudah 4 tahun belum juga ia nikahi.


"Uncle, aunty" teriak Nisya dan Nasya bersamaan.


"Kompak banget deh kalian ini. Oh iya, aunty sama uncle bawa hadiah loh buat kalian" kata Bianca.

__ADS_1


"Hadiah? holeee" teriak keduanya lagi.


"Hitung ya 1,2,3 tadaa ini hadiahnya".


Bianca dan Andre menyodorkan boneka barbie kepada si kembar.


"Makasih uncle, aunty" kata Nisya, kemudian pergi ke kamarnya. Sedangkan Nasya, masih memperhatikan bonekanya.


Nisya sang kakak terlihat bahagia menerima hadiah itu sedangkan berbeda dengan sang adik Nasya, dia cemberut saat melihat hadiahnya.


"Loh kok Nasya cemberut sih? Nasya nggak suka ya sama hadiahnya?" tanya Andre.


"Suka".


"Terus kenapa cemberut? nanti cantiknya hilang loh".


"Nasya nggak mau punya boneka balbie yang sama bajunya kayak punya Nisya".


"Kenapa nggak mau? Nasya nggak baju barbienya warna pink?" tanya Andre lagi.


"Bukan. Nisya kan suka walna pink, tapi kalena Nasya nggak mau sama walnanya, jadi sekalang Nasya suka walna melah".


"Ya ampun maafin uncle ya, karena uncle nggak tahu warna kesukaan Nasya".


"Iya sayang, nanti uncle dan aunty beliin yang baru ya" kata Bianca.


"Eh nggak usah, nanti ngerepotin lagi. Nasya, kalau ada orang yang kasih hadiah harusnya ucapin terima kasih, bukan kayak begitu sayang".


"Mama selalu salahin Nasya, Nisya selalu aja dibelain. Padahal kan Nasya selama ini selalu mengalah. Nasya sebel sama mama" teriak Nasya, melemparkan boneka barbienya, kemudian berlari ke kamar.


"Astaga anak itu nggak bisa dibilangin, maaf ya Bianca, Andre".


"Udah santai aja. Pasti sulit ya ngurus anak kembar yang sifatnya beda?" tanya Andre.


"Sulit banget. Nisya tuh lebih feminim dan nggak banyak maunya, sedangkan Nasya kebalikannya. Terus dia juga nggak mau disamain bajunya sama kakaknya" ujar Sofia.


"Namanya juga anak-anak Fi, maklumi aja" ucap Bianca.


"Iya juga sih. Ngomong-ngomong kalian kapan nikah? jangan betah pacaran terus dong" ledek Sofia.


"Minta doanya aja deh" kata Andre.


"Iya amin".


.


.


.


Setelah melahirkan, Sofia memang mulai membuka usaha restorannya sendiri di Swiss. Saat ini, ada salah satu brand dari Indonesia yang mengajak kerja sama kepada restorannya dan ingin membuka cabang di Jakarta.

__ADS_1


Awalnya Sofia ragu untuk kembali ke Jakarta karena masa lalunya yang menyakitkan berada disana, namun setelah dibujuk oleh keluarganya, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke Jakarta dan menetap disana selama 1 bulan.


Sofia juga mengajak si kembar untuk ke Jakarta agar bisa melihat tanah kelahiran ibunya.


__ADS_2