
Tokoh :
Sofia Angelista
Vernon Bramaputra
Rey Ardiansyah
Joshua Bramaputra
Angelia Putri
Mama Sonya
Bunda Anya
__ADS_1
Ayah Bram
Diambilnya foto mereka berdua yang disimpan di sebuah box. Vernon membersihkan bingkai foto yang sudah berdebu itu. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Bagaimana jika nanti kamu mengetahui aku yang sudah berubah. Apakah kamu tetap memanfaatkan ku Sofia. Gumam Vernon. Air matanya pun tidak dapat dibendung lagi. Orang yang dikenal dingin dan cuek tiba-tiba berubah menjadi rapuh saat mengingat orang yang dicintainya.
Di sisi lain Sofia juga menangis mengingat kenangan mereka dulu sambil menatap foto mereka berdua yang selalu terpajang di dompetnya.
Keesokan harinya, seperti biasa Sofia melakukan rutinitasnya untuk pergi ke kampus. Tapi hari ini matanya terlihat bengkak sehabis menangis tadi malam. Dia berusaha menurunkan bengkak nya menggunakan es batu tapi tidak berhasil. Akhirnya ia memutuskan ke kampus dengan keadaan mata bengkak.
Sesampainya di kampus, Angel sahabatnya kaget melihat mata Sofia yang bengkak seperti habis ditonjok. "Mata lo kenapa bengkak gitu? abis nangis ya?" selidik Angel.
"Nggak kok, tadi kelilipan jadi gini deh". Jawab Sofia tergagap. "Nggak mungkin, jangan bohong deh. Lo abis nonton drama korea ya? pasti ceritanya sedih kan jadi lo nangis? jangan baper makanya kalo nonton". Jawab Angel dengan polosnya. Entah sahabatnya ini polos atau apa tapi Sofia senang Angel tidak mengetahui penyebab sebenarnya dia menangis.
"Hai Sofia, Angel. Iya nih mulai hari ini gue ngampus disini. Ternyata kita sekelas juga, senang ketemu kalian terutama kamu Sofia". Mendengar itu Sofia hanya bisa tersenyum kikuk. Dia tidak menyangka Rey yang dianggapnya makhluk jadi-jadian ini akan sekelas dengannya.
Mereka bertiga pun segera ke kelas bersama. Selama pembelajaran berlangsung Sofia tidak fokus, karena Rey selalu mencuri pandang kepadanya sehingga dia risih. Tiba-tiba hp Sofia berbunyi, muncul sms tanpa nama. Sofia pun membuka hp nya diam-diam agar tidak ketahuan dosen. Dilihatnya pesan itu Selesai perkuliahan segera ke ruangan saya, jangan lupa hukuman kamu untuk menulis 50 ribu kalimat. Begitulah pesan yang tertulis, Sofia kemudian kembali mengingat bahwa kemarin dia di hukum Vernon untuk menulis 50 ribu kalimat di ruangannya.
Matilah aku. Sofia bergumam pelan membayangkan hidupnya yang akan bertemu dosen killer itu tiap harinya.
Tidak terasa perkuliahan pun selesai, tiba saatnya Sofia harus ke ruangan yang menurutnya sangat horor itu. "Fia kamu pulang naik apa? aku anterin ya?" Rey tiba-tiba bertanya dan memecah lamunan Sofia. "Ohh kamu anterin Angel pulang aja, aku masih harus ke ruangan Pak Vernon soalnya lagi dihukum" jawab Sofia tersenyum masam.
"Yaampun kenapa bisa? mau aku tungguin?" tanya Rey lagi.
"Oh nggak usah, kayaknya lama deh. Kamu pulang duluan aja. Bye guys" Sofia berkata sambil meninggalkan ruangan kelasnya.
__ADS_1
Sesampainya di depan ruangan Vernon, dia kembali terdiam membayangkan nasib nya yang harus menulis di depan orang yang sangat dibencinya itu.
Setelah beberapa saat, Sofia pun masuk ke dalam ruangan Vernon. Vernon pun mempersilahkan Sofia duduk dan mulai untuk mengerjakan hukumannya.
Hening diantara mereka berdua. Sofia sibuk menulis sedangkan Vernon sibuk dengan berkasnya yang ada di meja. Tiba-tiba suara perut dari Sofia memecah keheningan diantara mereka Kruuuk... Kruuuk. Sofia kaget mendengar suara dari perutnya yang tidak bisa diajak kompromi. Ya selepas perkuliahan tadi dia tidak istirahat sehingga dia belum makan sama sekali.
Mendengar perut Sofia yang memberontak kelaparan membuat Vernon menoleh dan sedikit tersenyum. "Makanya kalau tau mau di hukum harusnya makan dulu". Jawab Vernon sambil mengambil hp nya. Dia memesan makanan online karena tidak tega melihat Sofia yang sudah kelaparan. Sofia hanya bisa tertunduk malu dan tetap meneruskan hukumannya.
Tidak lama kemudian makanan yang dipesan Vernon tiba. Setelah membayar makanannya, Vernon mengajak Sofia untuk berhenti menulis dan makan bersama dengannya. Mendengar hal itu Sofia kaget, namun dia merasa senang karena akhirnya bisa makan juga.
Mereka akhirnya makan dalam diam, sesekali Vernon menatap Sofia. Sampai akhirnya mereka berdua saling menatap satu sama lain, Sofia merasa jantungnya berdegup tidak karuan saat tiba-tiba Vernon membersihkan sisa makanan yang menempel di bibirnya. Dosen yang menurutnya killer dan menjengkelkan tiba-tiba membuat hatinya seperti akan melompat keluar. Tanpa disadari, Vernon memajukan tubuhnya dan mencium bibir Sofia. Sontak saja Sofia mendorong Vernon saat dia merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya. Sofia pun keluar dari ruangan itu tanpa berkata apa-apa. Vernon yang sadar akan perbuatannya merasa menyesal telah melakukan hal itu kepada Sofia.
POV Sofia
Pluto ini terus menatap ku saat aku makan. Ya begitulah julukan ku padanya, valak, pluto, killer. Kenapa aku memberikan julukan valak? karena saat di dekatnya auranya berubah menjadi horor. Kalau julukan pluto, aku berharap dia bisa dikirim jauh ke pluto saking menyebalkannya. Dan killer? jangan ditanya lagi, semua orang mengakui bahwa tatapan dan sikapnya sungguh mengancam seperti ingin membunuh.
Aku tidak bisa fokus makan karena dia yang terus menatapku, dan tiba-tiba jantungku serasa ingin melompat karena tangannya menyentuh bibirku. Ya dia memang hanya membersihkan bibirku tapi entah kenapa jantung ini tidak bisa dikondisikan, ingin rasanya berteriak.
Aku melihatnya mencodongkan badannya ke arahku dan tiba-tiba terasa benda kenyal menyentuh bibirku. Sungguh itu sangat membuat syok tetapi seperti terdengar petasan meletus di belakang ku. Apa aku bahagia? entahlah. Aku langsung mendorongnya secara spontan dan berlari keluar ruangan. Ingin rasanya memaki karena dia telah mengambil first kiss ku.
POV Vernon
Sosok yang sangat aku rindukan tepat berada di depanku. Dia terlihat manis saat makan. Kebiasaannya dari dulu tidak pernah berubah, selalu berantakan saat makan. Aku membayangkan hal itu dan tersenyum mengingatnya. Aku langsung membersihkan sisa makanan yang berada di bibirnya, entah kenapa setelahnya aku spontan mencodongkan badanku dan menciumnya. Seperti bibirnya menarik ku untuk mendekatinya. Tiba-tiba dia mendorong ku dan berlari ke luar ruangan. Sungguh sangat bodoh pikir ku. Pasti dia tidak akan mendekati ku lagi karena perbuatanku.
POV Author
Setelah Sofia keluar dari ruangan Vernon karena kaget, Vernon menemukan dompet Sofia yang ketinggalan di ruangannya. Dia berniat ingin mengembalikan dompet Sofia, namun dompet itu tidak sengaja terbuka dan dilihatnya foto mereka berdua yang masih terpajang manis di dompet Sofia.
__ADS_1
Seketika hati Vernon sakit melihatnya, ia tidak mengerti kenapa foto itu masih ada disitu. Karena yang dia tau Sofia hanya memanfaatkannya selama ini.