Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Takut Kehilangan


__ADS_3

Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Sofia. Kau adalah cinta pertamaku dan sampai kapanpun, kau akan menjadi cinta terakhirku. Meskipun tidak memiliki anak, aku tetap akan bersamamu selamanya. Gumam Vernon, mengusap-usap foto pernikahan mereka.


.


.


.


Vernon telah menyelesaikan pekerjaannya. Kini ia bersiap untuk pulang ke rumah. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan istri tercintanya.


Saat di lift, ia bertemu Bianca yang sedang terburu-buru masuk ke dalam lift sambil menangis tersedu-sedu.


"Kamu kenapa Bianca?" tanya Vernon bingung.


"Tolong aku Vernon. Kakak tiri ku ingin memukul ku, sekarang dia mengikutiku sampai ke sini" kata Bianca sesegukan.


"Kenapa dia mau memukulmu? dan juga kenapa kau harus berlari ke kantorku dan menyusahkan aku hah?" kesal Vernon karena pulangnya akan semakin lama.


"Dia menyalahkan aku karena kebangkrutan perusahaan, aku mohon kali ini saja tolong aku, aku bisa mati jika dia menemukan aku Vernon".


"Ikut aku naik mobil sekarang" ucap Vernon.


Vernon akhirnya mengendarai mobilnya bersama Bianca yang berada di sampingnya.


"Kamu mau aku antar ke mana?".


"Aku ingin ikut bersamamu, dia akan menemukan aku kalau aku menginap di hotel atau keluargaku yang lain".


"Tidak bisa. Kau mau membuat Sofia marah? cepat beritahu dimana atau aku akan turunkan kamu disini" kata Vernon mulai emosi.


"Aku yang akan jelaskan kepada Sofia. Aku mohon sekali Vernon. Hanya malam ini aku menginap, aku janji aku akan pergi besok. Tapi tolong malam ini saja ya, aku mohon" ujar Bianca sambil berlinang air mata.


Vernon menarik napasnya panjang, terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Baiklah. Tapi jika rumah tanggaku berantakan karena dirimu, akan aku pastikan saudara tiri mu itu akan menemukanmu dan membunuhmu" kata Vernon setelah beberapa saat berpikir.


"Iya aku janji".


Vernon akhirnya memutuskan membawa Bianca untuk pulang bersamanya.


Di tempat lain, Sofia senantiasa menunggu Vernon pulang dari kantor. Ia terlihat mondar mandir di ruang tamu, karena sudah tengah malam tetapi Vernon belum menunjukkan tanda kepulangannya.


Kamu dimana sih mas, aku khawatir jam begini kamu belum pulang juga. Gumam Sofia, masih mondar mandir.


Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil mulai memasuki perkarangan rumah mereka.


Sofia tersenyum melihat suaminya yang sudah pulang. Ia buru-buru keluar untuk menyambut suaminya.


"Mas kamu sudah pu..." ucapan dan langkahnya terhenti melihat suaminya pulang bersama wanita, yang tidak lain adalah Bianca, orang yang telah melukainya dulu.

__ADS_1


Senyum yang sedari tadi mengembang, menjadi sirna seketika.


"Oh iya sayang. Maaf mas pulang telat ya, Bianca meminta bantuan mas tadi" ujar Vernon begitu pelan. Ia tahu saat ini pasti istrinya sedang marah.


"Kenapa mas bawa perempuan ini kesini? ke rumah kita" kata Sofia sinis.


"Dia minta menginap disini hanya untuk malam ini, karena dia sedang dikejar kakak tiri nya. Tadi juga mas ketemu dia di kantor kok. Mas nggak mau bawa dia ke rumah mas yang lain, karena mas nggak mau kamu salah paham" ujar Vernon panjang lebar.


"Iya Sofia itu benar. Aku mohon tolong bantu aku. Aku tahu, aku sudah salah sama kamu selama ini. Aku nggak ada maksud apa-apa kok, aku cuma minta bantuan Vernon sebagai teman, tidak lebih".


"Baiklah. Kau urus saja tamu kamu mas, aku naik ke atas dulu".


"Dia pasti marah banget kan sama aku? maafkan aku Vernon" ucap Bianca sambil menunduk.


"Aku akan bicara padanya. Kau bisa ke kamar tamu sendiri kan?".


Bianca mengangguk.


Vernon akhirnya menuju ke lantai atas untuk menemui Sofia. Dibukanya pintu kamar, dan menemukan istri yang sangat dicintainya tengah berbaring di tempat tidur.


"Sayang" panggil Vernon. Ia menyentuh bahu istrinya yang bergetar karena menangis.


"Aku mohon jangan menangis sayang. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, sungguh" ucap Vernon lembut.


"Aku takut mas, aku takut kamu meninggalkan aku karena dia".


"Siapa yang tahu mas? kamu bisa saja jadi suka padanya. Apalagi aku belum bisa memberikan anak untukmu" kata Sofia sambil duduk di tempat tidur.


"Berhenti berkata seperti itu Sofia. Berapa kali aku bilang padamu kalau aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu? kau pikir aku suami macam apa yang meninggalkan istrinya hanya karena belum diberikan anak?" teriak Vernon, tidak bisa lagi menahan emosinya.


Vernon keluar dari kamar tidur mereka dan membanting pintu begitu kuat.


Sofia yang baru pertama kali melihat kemarahan Vernon seperti itu, langsung menangis. Ia tidak tahu kenapa dirinya jadi seperti ini.


Bianca yang saat itu keluar dari kamarnya, tidak sengaja mendengar pertengkaran Vernon dan Sofia. Kemudian Vernon terlihat keluar dari ruangan dengan wajah emosi dan meninggalkan rumah itu.


Bianca menuju ke kamar Sofia, dan mendapatinya menangis.


"Sofia, apakah aku boleh masuk?" tanya Bianca.


Sofia dengan cepat menghapus air matanya lalu mengangguk.


"Kamu ada masalah dengan Vernon? apa karena aku?".


"Tidak juga" ucap Sofia singkat.


"Aku tahu kamu masih marah padaku Sofia. Tapi tolong, kali ini percaya padaku, aku tidak ada niatan untuk merusak rumah tangga kalian. Kamu tahu kan kalau aku merusaknya Vernon akan berbuat apa".


"Iya aku tahu. Tapi ada masalah lainnya".

__ADS_1


"Kamu keberatan untuk menceritakannya? aku siap jadi pendengarmu" ucap Bianca.


"Aku belum bisa memberikan anak kepada Vernon. Aku takut dia meninggalkan aku".


"Apa kamu yakin Vernon orang yang seperti itu?".


Sofia terdiam. Ia tahu suaminya bukanlah orang yang seperti itu, tetapi entah kenapa perasaannya penuh dengan ketakutan.


"Vernon tidak mungkin meninggalkan kamu Sofia. Dia benar-benar mencintaimu. Buang semua ketakutan kamu, itu hanya akan membuat hubunganmu dengan Vernon menjadi renggang" lanjut Bianca.


"Kenapa kau tiba-tiba baik padaku?".


"Karena aku tahu, merebut Vernon darimu hanya sia-sia saja. Bahkan ketika dia berpacaran denganku dulu, dia masih saja memikirkan kamu Sofia" jelas Bianca.


"Iya aku salah dan aku sangat bodoh. Aku harus bagaimana sekarang? pasti Vernon sangat marah sekarang".


"Tenanglah. Biarkan dia menenangkan dirinya, lalu kalian bicarakan baik-baik".


Sofia mengangguk sambil terus terisak. Malam itu Bianca mencoba menenangkan Sofia.


Saat ini Vernon tengah berada di kediaman kakaknya Joshua. Ia mencoba menenangkan dirinya disana.


"Kamu ada masalah apalagi sekarang?" tanya Joshua kepada adiknya yang sudah terlihat frustasi.


"Sofia masih terus mengira aku akan meninggalkannya karena belum memiliki anak. Padahal aku sudah jelaskan itu tidak mungkin".


"Kamu harusnya mengerti perasaan Sofia, jangan langsung marah seperti ini. Pasti dia sangat ketakutan sekarang. Pergi temui istrimu dan minta maaf lah"


"Tapi kak.."


"Jangan membantah. Kamu laki-laki harusnya bisa menahan emosi. Apalgi ini soal anak, semua istri pasti akan ketakutan kalau suaminya meninggalkannya" potong Joshua.


"Baiklah aku pergi dulu kak" ucap Vernon.


Vernon kembali ke rumah dan menemukan Sofia sedang bersama Bianca.


"Aku pergi dulu ya, cepat baikan untuk kalian berdua" ujar Bianca meninggalkan Vernon dan Sofia berdua di kamar.


"Mas, aku.."


belum selesai Sofia berbicara, Vernon langsung memeluknya sangat erat.


"Mas minta maaf sayang. Harusnya mas tahu, kamu pasti sangat ketakutan".


"Mas mau kita periksakan ke dokter untuk memastikan apa penyebab kita belum memiliki anak sampai saat ini. Kamu mau kan?" lanjut Vernon.


"Iya mas aku mau" ucap Sofia.


"Terima kasih sayang" kata Vernon mencium lembut bibir istrinya.

__ADS_1


__ADS_2