Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Vernon Ngidam


__ADS_3

Maafkan aku Sofia. Aku suami terbodoh yang pernah ada. Ini karma untukku.


.


.


.


4 bulan kemudian


Sampai hari ini, Vernon belum menemukan keberadaan Sofia. Ia pun mulai mencoba mengikhlaskannya, walaupun masih terus bermimpi tentang Sofia setiap malamnya.


Ia merasa bahwa ini karma untuknya, karena telah menyakiti hati Sofia setelah pasca keguguran istrinya dulu.


Sudah beberapa minggu ini Vernon merasakan mual. Ia selalu mual saat mencium bau parfum yang menyengat, serta bau buah-buahan yang selalu membuatnya mual.


Bahkan karena hal itu, semua karyawannya tidak boleh memakai parfum yang beraroma buah dan tidak boleh ada buah di makanannya atau pun di caferia kantornya.


Banyak karyawan yang mengeluh karena hal itu dan mengadukannya kepada Joshua, sang kakak.


"Vernon".


"Kalau masuk ketuk dulu dong" ucap Vernon dengan malas.


"Kayak kamu aja ketuk pintu kalau masuk ke ruangan kakak".


"Kakak mau ngomong penting sama kamu" lanjutnya.


"Ngomong apa lagi?".


"Kenapa kamu melarang seluruh karyawan memakai parfum aroma buah? dan juga di caferia nggak ada lagi buah-buahan".


"Oh itu, aku nggak suka aja baunya. Bikin muntah" ucap Vernon.


"Ya nggak bisa gitu dong, jangan hanya karena kamu nggak suka terus kamu bisa seenaknya melarang semua karyawan" kesal Joshua.


"Kakak mau tanggung jawab kalau aku muntah lagi? aku udah tanya dokter, tapi dokter nggak tahu apa penyebabnya aku kayak gini. Jadi gimana dong?".


"Dulu kamu larang mereka makan kacang karena kamu benci ngeliatnya, sekarang jadi tambah aneh karena buah. Kamu tuh kayak orang lagi hamil tahu nggak".


"Udah lah kak kenapa bahas ngaco gitu sih. Udah pergi sana, kalau mereka nggak suka, pecat aja. Kalau kakak tetap izinin mereka pakai parfum dan makan yang ada aroma buahnya, aku yang bakal keluar dari perusahaan" ancam Vernon.


"Udah gila apa cuma karena buah jadi berhenti kerja. Ya sudah, terserah kamu aja".


Joshua menyerah berdebat dengan adiknya itu dan memilih pergi.


Vernon juga sebenarnya bingung kenapa dia menjadi seperti ini, ia masih belum mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi.


Di Swiss


Kandungan Sofia sudah mulai besar karena telah memasuki usia kandungan hampir 5 bulan, apalagi saat ini ia mengandung tidak hanya satu bayi melainkan dua bayi di dalamnya.


Untung saja ada papa Rudi, mama Sonya dan Andre yang selalu sigap sehingga ia tidak terlalu repot mengurus semuanya sendiri.


Di ruang keluarga, Sofia, Andre dan juga mama Sonya tengah mengobrol bersama.


"Ma, kok aku udah hamil 5 bulan gini belum juga ngidam ya".


"Hmm..mama juga nggak tahu sayang. Mama panggilkan dokter keluarga aja ya, biar kamu bisa diperiksa sekalian juga biar tahu jenis kelamin bayinya".


"Ide bagus tuh tante. Biar aku nggak nganterin Sofia lagi ke dokter kandungan di rumah sakit, udah beberapa kali aku disangka suaminya" celetuk Andre.


"Kamu nggak ikhlas ya nemenin aku?".


"Ikhlas kok. Tapi di rumah sakit itu banyak banget dokter dan perawat yang aku kenal, dikiranya aku hamilin anak orang".

__ADS_1


"Itu sih karena kamu banyak banget ceweknya, jadi orang lain mikir yang enggak-enggak" kata Sofia.


"Resiko orang ganteng".


"Iya ganteng kayak banteng" sahut mama Sonya, memecah tawa seisi ruangan.


Malam harinya, dokter keluarga mereka akhirnya datang.


Ia mulai memeriksakan kandungan Sofia serta jenis kelaminnya.


"Bayi nona baik-baik saja. Lihat lah mereka sangat aktif di dalam sana. Soal ngidam, biasanya jika sang ibu tidak merasakan apapun, ada kemungkinan ayahnya lah yang mengalami".


"Memangnya bisa begitu dok?" tanya Sofia, terkejut.


"Bisa nona. Ada ikatan batin diantara mereka, yang membuat sang ayah merasakan ngidam yang seharusnya nona rasakan".


Kira-kira mas Vernon disana kesusahan nggak ya. Ah kenapa aku harus memikirkan dia, pasti saat ini dia juga sudah bahagia bersama selingkuhannya itu. Batinnya.


"Kalau jenis kelamin bayi saya, apa dokter?".


"Dari hasil usg, bayi nona berjenis kelamin perempuan" kata dokter.


"Benarkah? dua-duanya perempuan?".


"Iya betul sekali".


"Ma, Pa, anak aku dua-duanya perempuan lagi" kata Sofia sangat senang.


"Alhamdulillah nak. Selamat ya" ucap papa Rudi.


"Selamat sayang" ucap mama Sonya, memeluk Sofia.


Setelah mengetahui jenis kelamin anaknya, Sofia mulai berbelanja keperluan bayi ditemani oleh Andre.


Sofia memang sangat bersemangat jika harus berbelanja keperluan bayi, terlebih bayinya perempuan sesuai yang diidam-idamkan selama ini olehnya.


"Nanti kalau aku masuk dikiranya suami kamu lagi".


"Udah biarin aja, daripada dikiranya nggak ada suami. Miris banget" ucap Sofia tertunduk.


"Iya deh aku temenin. Ayo masuk".


Sofia mulai memilih-milih pakaian bayi untuk si kembar. Tentu saja ia membelinya sepasang dan berwarna pink.


"Sofia pilih warna lain kek mata aku sakit tau liatin pink semua" ucap Andre.


"Kamu kok mirip banget mas Vernon sih. Pink kan melambangkan perempuan".


"Tapi nggak semua juga warnanya pink, kasihan mereka nanti tersiksa karena ibunya kasih warna pink semua".


Kesal mendengar perkataan Andre, Sofia memukul lengan Andre cukup kuat.


"Aww sakit" ucap Andre sambil meringis.


"Itu hukuman untuk orang yang terlalu banyak omong. Udah kamu ikut aja, jangan protes lagi".


"Siapa yang protes aku tuh cuma..".


"Shutt diam" potong Sofia.


"Ya sudah aku tungguin di kursi sana ya, kamu milih aja dulu. Capek aku berdiri nungguin".


"Iya, sudah sana" usir Sofia.


Andre duduk di kursi tunggu. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang wanita ingin membayar di kasir, namun seperti sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.

__ADS_1


"Maaf mbak, saya cari dulu dompetnya ya" ucap sang wanita memakai bahasa Romansh, bahasa resmi di Swiss.


Dimana ya kok nggak ada. Gumam wanita itu memakai bahasa Indonesia.


Loh dia juga orang Indonesia? coba tanya deh. Batin Andre.


"Maaf mbak, mbak lagi nggak bawa dompet ya?".


"Eh kamu bisa bahasa Indonesia? iya nih aku lupa kayaknya, mana aku buru-buru ke lahiran temanku lagi".


"Ya sudah aku bayarin aja".


"Mbak, tolong hitung semua yang dibeli wanita ini ya. Saya yang bayar" kata Andre, menggunakan bahasa Romansh.


"Terima kasih ya. Nama kamu siapa? aku minta nomor rekening kamu ya biar nanti aku transfer".


Baru saja Andre akan menjawab, Sofia tiba-tiba muncul setelah selesai berbelanja.


"Loh, Bianca. Kamu disini?".


"Ya ampun Sofia, kamu disini juga? apa kabar? senang banget ketemu kamu lagi" ujar Bianca, memeluk Sofia.


"Kamu lagi hamil ya? udah berapa bulan? Vernon mana?" tanyanya bertubi-tubi.


"Iya lagi hamil udah mau jalan 5 bulan. Vernon nggak ada. Nanti aku ceritain deh ceritanya panjang, mita harus ketemu untuk ngobrol".


"Iya pastinya. Nomor kamu berapa? nanti aku hubungi ya".


Andre yang merasa terasingkan mulai berpura-pura batuk.


"Eh Andre, sorry kelupaan" ucap Sofia tersenyum.


"Kamu kenal dia Fi?" tanya Bianca.


"Iya kenal. Dia yang nemenin aku kesini. Namanya Andre, sepupu aku, ponakannya papa Rudi".


"Ohh gitu" ucap Bianca.


"Kenalin Ndre, ini Bianca, teman aku".


"Oh iya hai Bianca".


"Hai juga".


"Tadi tuh aku pinjam uangnya karena aku lupa bawa dompet, eh ternyata kamu sepupunya Fi" lanjut Bianca lagi.


"Ya sudah nanti kita ketemu lah bareng-bareng sekalian kalau mau ganti uangnya Andre, Andre juga kelihatannya pengen diajak tuh, dari tadi matanya nggak berkedip liatin kamu" goda Sofia.


"Iya, soalnya kaget liat cewek secantik ini".


"Jangan percaya dia, gombal doang" bisik Sofia.


"Aku masih dengar loh Sofia".


"Haha bercanda kok".


"Aku pergi dulu ya, nanti kita ketemu lagi. Sampai jumpa, makasih ya Andre".


"Iya sama-sama" kata Andre tidak melepas pandangannya.


"Ayo pulang" ajak Sofia.


"Kenalin dong Sofia sama teman kamu itu, cantik banget".


"Nggak mau, kamu kan playboy".

__ADS_1


"Udah nggak lagi suer deh, cantik banget dia ya, plis".


Andre terus memohon, namun tidak digubris oleh Sofia hingga mereka sampai di parkiran.


__ADS_2