Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Kebahagiaan & Kesedihan


__ADS_3

Warning 21+


...****************...


"Dan satu lagi, ini adalah istri saya, bukan wanita panggilan. Saya bisa menghancurkan bapak beserta keluarga bapak jika saya mau. Ingat itu!" ujar Vernon, lalu melajukan mobilnya meninggalkan toko tersebut.


Keheningan terjadi di dalam mobil. Sofia melirik sekilas ke arah Vernon yang duduk di sampingnya, dilihat suaminya sedang mengendarai mobil dengan mata menatap lurus ke depan.


"Mas" panggil Sofia.


"Ada apa?" tanya Vernon tanpa menatap wajah Sofia.


"Kamu jangan marah lagi dong, kan yang salah bapak tadi bukan aku".


"Iya mas tahu sayang. Mas nggak marah sama kamu kok, mas cuma masih kesal aja sama orang tadi. Bisa-bisanya dia bilangin kamu wanita panggilan".


"Udah lah mas, kita juga kan tadi emang salah karena berciuman di depan umum" ujar Sofia.


"Iya, tapi tetap aja mas nggak suka".


Sofia mengambil tangan kiri Vernon kemudian mencium telapak tangan suaminya dengan lembut.


"Jangan marah-marah lagi ya, aku juga minta maaf tadi udah marah-marah sama kamu mas".


"Iya sayang" kata Vernon mengecup singkat puncak kepala istrinya.


Malam harinya, Sofia dan Vernon berencana akan melakukan penyatuan diantara mereka setelah beberapa hari tidak melakukannya.


Tentu saja malam itu Vernon sangat bersemangat, karena semenjak Sofia hamil, mereka menjadi jarang melakukan hubungan suami istri.


Vernon mulai membuka satu per satu kancing baju Sofia dan melemparkannya ke sembarang arah.


Diciumnya leher jenjang istrinya kemudian turun ke bawah menuju kedua gunung kembar yang terpampang indah. Dihisapnya kedua gunung milik Sofia, membuat sang pemiliknya mendesah tidak karuan.


"Ahhhh mas ssshhh" ucap Sofia mulai keenakan.


Saat tengah asyik berkutat di dada milik Sofia, tiba-tiba hp Sofia berdering.


"Mas hp ku bunyi..ahhh" kata Sofia sambil terus mendesah.


"Biarin aja sayang, aku mohon untuk kali ini tidak ada yang ganggu saat kita sedang melakukannya" ucap Vernon dengan nada berat.


Sofia akhirnya menuruti perkataan suaminya, ia selalu merasa kasihan karena setiap mereka sedang berhubungan, selalu saja ada gangguan yang membuat Vernon harus berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya terlebih dahulu.


Setelah cukup lama berkutat di dada Sofia, Vernon akhirnya turun ke bawah. Ia membuka celana istrinya dan tanpa berlama-lama langsung menghujamkan miliknya kepada milik Sofia.


"Aww mas" pekik Sofia.


Vernon tidak mempedulikan pekikan Sofia, ia mulai menarik turunkan miliknya dengan cepat.


"Mas jangan cepat-cepat ahh...aku lagi hamil".


Saat mendengar kata hamil, Vernon dengan cepat segera menurunkan tempo gerakannya menjadi lebih lambat.


"Maafin aku sayang, maafin papa juga ya nak" ucap Vernon mencium perut Sofia yang sudah membesar.


Di tengah pertempuran mereka, hp Sofia kembali berbunyi. Kali ini bukan hanya 2 kali tapi bahkan sampai 5 kali hpnya berbunyi, membuat Sofia dan Vernon mulai terganggu.


"Mas coba lihat dulu siapa tahu itu penting. Udah 5 kali loh nelponnya" ujar Sofia.


Vernon yang juga sudah terganggu dengan suara dering hp itu, akhirnya memutuskan untuk melihat siapa orang yang menghubungi istrinya malam-malam dan mengganggu aktivitas mereka.


"Ini dari mama. Paling mama mau kesini besok jadi mau kasih tahu kamu".


"Tapi mama nggak pernah nelpon berkali-kali kalau nggak terlalu penting, pasti ini penting mas. Aku angkat dulu ya".

__ADS_1


"Nanggung yang, udah mau keluar sebentar lagi" rengek Vernon.


"Mas, tapi aku khawatir mama kenapa-kenapa. Apalagi mama cuma sendiri di Bandung".


"Ya sudah, angkat aja" ucap Vernon, lesuh.


"Aku janji bakal puasin kamu sebentar mas" kata Sofia mengecup singkat bibir Vernon.


Sofia mulai mengangkat panggilan dari mamanya.


"Assalamualaikum ma".


"Waalaikumsalam Sofia, akhirnya kamu angkat juga telpon mama. Mama minta maaf ya harus ganggu kamu malam-malam begini, tapi ada hal penting yang harus mama bicarakan dengan kamu".


"Hal penting apa ma?" tanya Sofia sambil melirik ke arah Vernon yang ingin hpnya di loudspeaker.


"Begini, om Rudi tadi datang ke rumah, terus dia ngelamar mama sayang".


"Apa? mama serius?" tanya Sofia sangat bahagia, Vernon yang disampingnya pun ikut bahagia mendengar hal itu.


"Iya benar. Terus tadi om Rudi bilang mau nikahin mama bulan depan. Menurut kamu gimana? mama mau minta persetujuan kamu dulu"


"Tentu saja aku setuju banget ma. Terus Rey gimana? dia juga setuju nggak?".


"Kata om Rudi tadi Rey juga setuju, dia malah senang karena sekarang bisa jadi saudaraan dengan kamu" ungkap mama Sonya.


"Baguslah kalah begitu, aku ikutan senang dengarnya. Jadi mama nanti mau bikin akad dan resepsinya dimana?".


"Mama rencananya mau akad yang sederhana, yang hanya dihadiri keluarga aja dan dibikinnya di masjid di Jakarta. Terus untuk resepsi, mama sih nggak mau bikin acara resepsi buat apa juga bikin kayak begitu, udah tua begini" ujar mama Sonya sambil tertawa.


"Masa nggak mau buat acara resepsi? kan udah lama mama nggak ngerasain kayak gini lagi setelah ditinggal papa".


"Mama cuma mau sederhana aja dan nggak ribet. Om Rudi juga udah setuju kok".


"Aku juga doain ma" sahut Vernon.


"Terima kasih anak-anakku. Mama akan kasih tahu om Rudi kalau begitu, maaf ya udah ganggu malam-malam. Assalamualaikum".


"Nggak apa-apa kok ma. Waalaikumsalam" ucap Sofia, lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


"Jadi lanjut yang tadi kan?" tanya Vernon.


"Yang tadi apa?" tanya balik Sofia.


"Jangan pura-pura lupa ingatan sayang. Kamu yang pimpin sekarang" ucap Vernon sambil mengedipkan matanya.


"Dasar mesum" kata Sofia sambil tertawa.


Malam itu mereka melakukan kembali aktivitas mereka yang tertunda, dengan dipimpin oleh Sofia.


.


.


.


1 bulan kemudian


Tiba saatnya hari pernikahan mama Sonya dan om Rudi.


Mereka melangsungkan akad nikah yang sederhana di masjid, dengan penuh khidmat.


Sofia yang melihat ibunya sangat cantik dengan balutan kebaya putih, mulai meneteskan air matanya. Satu-satunya keluarga yang ia punya akhirnya menikah. Kini Sofia tidak takut lagi memikirkan ibunya yang tinggal seorang diri, karena sekarang sudah ada om Rudi yang menemaninya.


"Mama selamat ya" ucap Sofia sambil memeluk erat mama Sonya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang".


Sofia melepaskan pelukannya kepada ibunya, kemudian beralih ke arah om Rudi.


"Om apa sekarang aku bisa panggil om dengan sebutan papa?.


"Tentu saja iya".


"Terima kasih papa" kata Sofia, kemudian memeluk papa Rudi.


"Akhirnya aku punya saudara juga" sahut Rey dari arah belakang.


"Hai rey" ucap Sofia.


"Hai Sofia. Oh iya, karena aku 3 bulan lebih tua dari kamu, jadi kamu harus memanggilku kakak".


"Bilang aja kamu pengen dipanggil gitu. Iya aja deh biar cepat" kata Sofia.


"Hahaha kamu tahu aja. Oke dik. Selamat ya kita jadi saudaraan" ujar Rey sambil merangkul bahu Sofia.


"Eh jangan pegang-pegang istri aku" kata Vernon kemudian menarik pinggang Sofia mendekat padanya.


"Loh dia kan udah jadi saudara aku. Aku kakaknya, jadi kamu adik ipar yang sopan ya" kata Rey, bercanda.


"Tetap aja nggak boleh ada yang sentuh dia selain aku".


"Maklumi dia kak, suamiku memang sensitif" ucap Sofia.


"Iya, dari dulu" celetuk Rey, membuat mereka tertawa bersama-sama.


Setelah pernikahan mama Sonya dan papa Rudi, kedua pengantin baru itu memutuskan langsung tinggal di luar negeri. Ya, papa Rudi memang seorang pebisnis yang tidak pernah menetap di satu negara, jadi sebagai istri yang baik tentu saja mama Sonya mengikut kemana pun suaminya itu pergi. Ia bahkan melepas pekerjaannya demi ikut tinggal bersama papa Rudi.


2 minggu kemudian


Hari ini merupakan hari ulang tahun Vernon yang ke 27 tahun. Sofia ingin memberikan kejutan ulang tahun kepada suaminya, dengan menyiapkan kejutan kecil-kecilan di rumah.


Saat Vernon sedang di kantor, ia mulai menyiapkan balon-balon serta makanan kesukaan Vernon dan tidak lupa juga kue ulang tahun yang dibuatnya sendiri dengan mengikuti tutorial dari youtube.


Setelah semuanya siap, kini Sofia tinggal menunggu kedatangan Vernon.


"Mas Vernon dimana sih, udah malam gini lama banget pulangnya".


"Aduh kok jadi kebelet sekarang sih, nanti kalau mas Vernon pulang gimana nih, nggak suprise lagi dong" lanjut Sofia menggerutu.


Sofia memutuskan ke kamar mandi terlebih dahulu karena sudah tidak tahan lagi. Saat memasuki kamar mandi, Sofia tidak melihat air yang menggenang di lantai kamar mandi sehingga ia terpeleset dengan sangat kuat, membuatnya terjatuh dan dengan cepat memegang perutnya.


"Awwww perutku".


"Aakhhh sakit sekali, apa ini kenapa keluar darah, mass tolong" teriak Sofia histeris melihat darah mengalir deras di kakinya, saat ini tidak ada siapapun di rumah itu selain dirinya, membuatnya semakin ketakutan.


"Tolong...to..long" Sofia pingsan setelah kehabisan banyak darah.


Vernon yang baru saja pulang, melihat balon-balon menghiasi seluruh dinding ruangan serta kue ulang tahun yang sudah tersedia di meja itu.


Apa ini suprise untuk aku? romantis juga. Tapi dimana Sofia. Gumam Vernon.


"Sayang, sayang. Aku pulang" teriak Vernon.


Tidak ada jawaban sama sekali.


"Sayang kamu dimana?".


Vernon berjalan ke arah dapur dan saat sampai di dekat kamar mandi, ia melihat istrinya yang sudah tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan darah yang menggenang sangat banyak.


"Sofia" teriaknya.

__ADS_1


__ADS_2