
"Bukan urusan kamu!" teriak Vernon.
Sofia terkejut mendengar perkataan Vernon, lagi-lagi air matanya terjatuh akibat sikap Vernon yang kini berubah kepadanya.
"Vernon! kenapa seperti itu bicaramu kepada Sofia?" kata Joshua dengan nada tinggi.
"Ada apa? kalian semua mau membelanya lagi? sebenarnya keluarga kalian itu aku atau dia?" teriak Vernon.
Plak
"Kamu benar-benar keterlaluan, bunda kecewa sama kamu! Istri kamu baru saja siuman dan kamu malah mabuk dan meninggi kan suara seperti itu? usir dia dari sini" bentak bunda Anya.
"Sebaiknya kamu keluar Vernon" ucap ayah Bram.
"Tidak, jangan usir dia bunda, ayah. Mas, kamu jangan kemana-mana aku mohon mas" tahan Sofia sambil terus meneteskan air mata.
"Sudahlah Sofia, semuanya memang berpihak padamu, tidak ada lagi yang berpihak padaku. Aku pergi" kata Vernon menghempaskan tangannya yang digenggam Sofia dengan kasar.
"Mas tunggu mas jangan pergi mas aku mohon" teriak Sofia semakin menjadi-jadi.
"Sudahlah Sofia, kamu jangan pikirkan dia lagi. Dia memang seperti itu kalau lagi stres. Nanti dia akan membaik kok kamu tenang saja. Sekarang fokus untuk memulihkan diri kamu sendiri dulu" jelas Joshua.
"Iya nak, itu benar. Kamu yang sabar ya, kami semua akan menjaga kamu disini" ucap bunda Anya, menenangkan.
"Mas kamu kenapa seperti ini, maafin aku" lirih Sofia.
Angel tidak tahu harus berbuat apa pada sahabatnya itu, ia tidak tega melihat kesedihan Sofia. Ia memeluk tubuh sahabatnya yang bergetar akibat menangis.
"Lo kuat Fi, gue yakin lo bisa bangkit dan nyelesain masalah rumah tangga lo. Jadi, jangan nangis lagi ya".
Sofia mengangguk dan memeluk erat Angel.
.
.
.
5 hari kemudian, Sofia sudah diizinkan pulang dari rumah sakit oleh dokter. Ia pulang ditemani ayah Bram dan bunda Anya.
Selama 5 hari dirawat, Vernon sama sekali tidak pernah mengunjunginya bahkan menghubunginya pun tidak pernah.
"Kamu yakin mau pulang ke rumah kamu? nggak mau pulang ke rumah ayah dan bunda saja?" tanya bunda Anya.
"Iya bun, aku yakin kok. Sudah 5 hari juga aku nggak ketemu mas Vernon, aku harus bicarakan baik-baik tentang rumah tangga aku dengannya".
"Baiklah kalau begitu. Kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi kami".
"Iya siap, makasih ayah, bunda" kata Sofia sambil tersenyum.
Sesampainya di depan rumah, Sofia menarik napasnya perlahan kemudian membuka pintu rumah.
__ADS_1
Dilihatnya rumah yang sudah berantakan dengan beberapa barang pecah yang berserakan di lantai.
"Ya Allah apa yang terjadi selama 5 hari ini" kaget Sofia.
"Pak, pak satpam".
"Iya nyonya".
"Kenapa rumah berantakan seperti ini? dimana asisten rumah tangga? aku tidak melihatnya dari tadi".
"Maaf nyonya, 3 hari yang lalu tuan memecat seluruh karyawan dan hanya tersisa saya disini dan juga saya tidak diizinkan untuk masuk ke dalam rumah" ungkapnya.
"Lalu dimana tuan sekarang?".
"Saya tidak tahu nyonya, dari semalam tuan tidak pulang. Tapi, setiap pulang tuan selalu mabuk".
"Ya ampun mas kamu kenapa begini" ucap Sofia penuh kekhawatiran.
"Tolong bapak hubungi kembali asisten rumah tangga itu dan suruh kesini, mereka tidak jadi dipecat. Kalau Vernon tanya, bilang saya yang suruh. Saya masuk dulu ya" lanjutnya.
"Baik nyonya".
Sofia bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Saat memasuki kamar, kamar itu sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Kali ini terlihat sangat berantakan serta foto pernikahan mereka yang sudah jatuh di lantai.
"Mas kamu kenapa setega ini, semarah itukah kamu mas" kata Sofia terduduk di lantai kamarnya.
Tidak lama kemudian, datang para asisten rumah tangga mulai membersihkan seisi rumah yang berantakan akibat ulah Vernon.
Hingga malam hari, Vernon tak kunjung pulang. Sofia dengan cemas menunggunya di ruang tamu, sambil mondar mandir.
"Kenapa hp kamu nggak aktif sih".
Sofia menunggu hingga ia tertidur di ruang tamu. Pukul 2 dini hari, pintu rumah terbuka dengan keras membuat Sofia yang tengah tertidur menjadi terbangun.
"Mas kamu udah pulang?".
"Ngapain kamu disini? kamu udah pulang dari rumah sakit?" tanya Vernon sempoyongan.
"Iya mas aku udah pulang. Aku antar kamu ke kamar ya" tawar Sofia.
"Nggak usah, aku bisa jalan sendiri".
Vernon berjalan dengan sempoyongan karena mabuk, saat menaiki tangga ia tidak dapat menahan berat tubuhnya sehingga membuatnya hampir terjatuh.
"Mas aku kan udah bilang tadi, aku anterin ke kamar ya".
"Kalau dibilang nggak usah ya nggak usah" teriak Vernon, ia tidak sengaja mendorong tubuh mungil Sofia hingga terjatuh ke lantai.
"Awww sakit mas".
__ADS_1
"Maaf".
Vernon berkata tanpa membantu Sofia sedikit pun. Ia tetap berjalan ke kamarnya dan tidak mempedulikan Sofia yang sedang kesakitan.
Kamu berubah mas. Aku takut. Batin Sofia.
Sofia menyusul Vernon ke dalam kamar. Meskipun hatinya sakit melihat sikap Vernon yang telah berubah, tetapi ia tetap membantu suaminya menyiapkan pakaian serta air hangat untuk mandi.
"Mas air hangat dan baju gantinya sudah siap".
Vernon menatap tajam ke arah Sofia tanpa menjawabnya. Sofia terlihat ketakutan dengan tatapan Vernon, ia menunduk tidak berani menatap suaminya.
"Kemarilah" panggil Vernon tiba-tiba.
"Ada apa mas?".
"Kamu tahu kesalahan kamu kan?".
"Iya tapi aku benar-benar nggak sengaja mas".
"Aku tanya kamu tahu atau tidak? aku tidak perlu alasan!" teriak Vernon, membuat Sofia menunduk ketakutan.
"Iya".
"Kamu mau memperbaiki kesalahan yang kamu buat?".
"Iya mas".
"Kalau begitu kita lakukan hal yang dulu dilakukan agar bisa mendapatkan anak lagi. Dan ingat, jangan membantah atau aku tidak segan-segan akan menghukummu" ancam Vernon.
"Ba..baik mas. Tapi mas mandi dulu, mas kan lagi mabuk".
"Sudah aku bilang jangan membantah, kau mau dipukul hah?" bentak Vernon.
"Tidak mas" lirih Sofia.
Saat ini ia merasa sedang tidak berhadapan dengan Vernon yang dikenalnya. Perasaan takut terus mengantui Sofia, setiap berdekatan dengan Vernon.
"Kita mulai sekarang".
Vernon mulai melakukan aksinya pada Sofia. Kali ini Sofia merasa tidak ada kelembutan dan kenikmatan yang dilakukan Vernon seperti biasanya, yang ada hanya kekasaran serta kebrutalan yang tiada henti, membuat Sofia meringis kesakitan.
"Mas..pelan pelan, sakit..mas".
"Diam kamu jangan bicara!".
Sofia hanya bisa menangis dengan perlakuan Vernon terhadapnya.
Setelah puas menyetubuhi Sofia, Vernon langsung menuju ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa.
Sofia meringkuk di dalam selimutnya dan terus menangis.
__ADS_1
Kamu kenapa berubah begini mas, aku takut kamu yang seperti ini. Kasar dan dingin, kamu bukan Vernon yang aku kenal lagi. Tolong kembalikan Vernon yang dulu lagi, aku butuh kamu yang dulu.