
Hai semua π
Author kembali dengan season ke 3. Kali ini ceritanya lebih menceritakan tentang si kembar ya.
Happy Reading π
...****************...
15 tahun kemudian
Nisya dan Nasya saat ini telah berusia 19 tahun. Semakin kesini semakin terlihat perbedaan yang sangat jauh berbeda diantara mereka, seperti 180 derajat jauhnya perbedaan keduanya.
Nisya sangat suka memakai pakaian yang berwarna cerah dan suka memakai gaun panjang maupun pendek, beda halnya dengan Nasya yang kelihatan sedikit lebih tomboy karena ia sama sekali tidak suka memakai rok maupun dress. Dia lebih nyaman menggunakan celana jins dan dipadukan dengan kaus maupun jaket.
Jurusan perkuliahan mereka juga berbeda. Nisya mengambil jurusan kedokteran, sedangkan Nasya mengambil jurusan arsitektur.
Kehidupan bersosial mereka pun sangat berbeda jauh. Nisya lebih suka menyendiri dan hanya memiliki sedikit teman, ia lebih suka meghabiskan waktunya di perpustakaan untuk belajar. Sedangkan Nasya memiliki banyak teman dan suka pergi clubbing.
Perbedaan inilah yang membuat Sofia dan Vernon berkali-kali emosi kepada Nasya dan selalu memarahi Nasya saat pulang mabuk-mabukan.
Pada suatu malam, Nasya baru saja pulang dari clubbing bersama teman-temannya dalam keadaan sedikit mabuk.
Ia pulang sambil mengendap-endap karena jam sudah menunjukkan pukul 3 malam, ia berpikir seluruh keluarganya pasti sudah tidur jam segitu.
Namun, baru saja akan melangkahkan kaki naik ke atas tangga. Tiba-tiba lampu menyala, membuatnya menghentikan langkahnya.
Ia berbalik melihat ke belakang dan menemukan ayah dan ibunya yang menatap tajam ke arahnya.
"Darimana saja kamu? kenapa baru pulang jam segini? dan bau apa ini? kamu mabuk lagi Nasya?" bentak Sofia.
"Eung..cuma sedikit doang kok ma, pa".
"Cuma sedikit katamu? dengar ya, mama dan papa nggak pernah mengajari kamu untuk pulang selarut ini dan mabuk-mabukan. Mau jadi apa kamu nantinya kalau kerjaan kamu tiap hari hanya seperti itu? kalau kamu masih seperti itu lagi, akan mama sita kartu kredit dan mobil kamu".
"Nggak bisa gitu dong ma. Kalau Nisya aja kemauannya semua dituruti sedangkan aku apa? tidak pernah sama sekali" bantah Nasya.
"Karena Nisya nggak pernah nuntut yang macam-macam dan selalu mendengarkan apa kata mama dan papa. Sedangkan kamu nggak pernah mau dengerin kami. Kamu itu harusnya mencontoh kakak kamu" teriak Sofia yang sudah emosi.
"Jangan pernah membandingkan aku dengan dia ma. Aku beda dengan dia dan aku sangat benci harus dibanding-bandingkan kayak begini" teriak Nasya kemudian berlalu pergi ke kamarnya.
"Nasya, mama belum selesai bicara. Mau jadi apa kamu kalau suka melawan begitu, Nasya".
Nasya menghiraukan perkataan ibunya dan memilih masuk ke dalam kamar lalu membanting pintu kamarnya begitu keras.
Nisya yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Nasya, bisa mendengar pertengkaran serta suara pintu yang ditutup kuat.
Tapi, dia lebih memilih untuk diam daripada harus ikut campur dengan masalah kembarannya itu.
"Lihat itu mas, gara-gara dari dulu kamu selalu bela Nasya, sekarang besarnya dia jadi anak kurang ajar yang nggak mau dengerin kata orang tua".
Vernon hanya terdiam saat Sofia menyalahkannya. Ia sadar, telah salah karena selalu membela anaknya itu sehingga sekarang Nasya tidak pernah takut lagi membantah ucapan orang tuanya sendiri.
Keesokan harinya, Nasya bangun dengan sakit kepala yang menyerangnya karena mabuk semalam.
"Duh, padahal cuma minum sedikit doang kenapa sakit gini sih" kesalnya.
Pintu kamarnya diketuk, membuat Nasya terpaksa harus berdiri untuk membuka pintu.
"Ini sup pengar. Lain kali jangan keseringan mabuk, kasihan mama kamu marah-marah terus".
__ADS_1
Ternyata papanya Vernon yang mengetuk pintu kamarnya dan memberikan sup penghilang mabuk.
"Makasih pa".
"Ini buatan mama, jadi terima kasihnya ke mama nanti. Jangan dilupa ya" kata Vernon.
"Iya pa".
Nasya kembali menutup pintu kamarnya dan mulai menyantap sup itu.
"Akhirnya, udah nggak terlalu sakit lagi" ucapnya.
Di lantai bawah, Sofia sedang membuat sarapan pagi untuk suami dan anak-anaknya.
"Bagaimana mas? Nasya udah makan supnya?".
"Sepertinya sudah. Kenapa kamu yang nggak nganterin sendiri? harus ya lewat perantara mas dulu?".
"Iya. Karena cuma mas yang dia dengar, jadi daripada harus bertengkar lagi lebih baik mas aja yang kasih".
"Kamu ini sebenarnya baik loh sayang, tapi gengsian" ucap Vernon.
"Mas bilang apa?".
"Eh nggak, nggak. Ampun nyonya" kata Vernon lagi.
"Pagi-pagi udah bertengkar lagi nih ma, pa" kata Nisya yang baru saja muncul setelah berpakaian rapi.
"Biasa mama kamu berubah jadi macan lagi" celetuk Vernon.
"Kamu kok pagi-pagi udah rapi? mau kuliah?" tanya Sofia.
"Baiklah kalau begitu. Makan dulu".
Tidak lama kemudian, Nasya ikut bergabung dengan mereka di meja makan dan mulai memakan sarapannya.
"Ma, makasih supnya" kata Nasya.
"Iya sama-sama. Lain kali jangan pulang mabuk lagi, mama capek buatin supnya".
"Iya ma".
"Kamu nggak pergi kuliah Nasya?" tanya Vernon.
"Nggak. Aku nggak ada kuliah pagi".
"Oh oke".
Selesai sarapan, Nisya dan Vernon pamit pergi. Tersisa Sofia dan Nasya di rumah.
Beberapa menit kemudian, Nasya terlihat bersiap ingin keluar juga.
"Kamu mau kemana Nasya?".
"Pergi bareng teman-teman ma. Sekalian ada kuliah jam 1 nanti".
"Oke hati-hati ya. Jangan pulang mabuk lagi".
"Iya siap, bye ma".
__ADS_1
Nasya mencium pipi Sofia sebelum akhirnya pergi.
Nasya mengendarai mobilnya menuju ke rumah temannya Sasa. Disana juga sudah ada teman-temannya yang lainnya seperti Dion, Aska, dan Sena.
"Hai guys. Ratu udah datang nih" ucap Nasya.
"Eh ada yang ulang tahun, selamat ya" lanjutnya kepada Aska.
"Makasih Sya" ucap Aska.
"Eh sebentar malam Aska rayain ulang tahunnya di club nih. Kita semua harus datang ya" kata Sena.
"Iya pastinya itu kalian harus hadir di ulang tahun gue" tambah Aska.
"Gue datang tapi nggak minum ya, biasa nyokap dan bokap marah" kata Nasya.
"Dih anak cupu banget deh lo Sya. Minum dikit lah nggak masalah, masa party nggak minum sama sekali sih" sahut Dion.
"Iya minum dikit lah Sya" dukung Sasa.
Karena pengaruh dari semua teman-temannya, akhirnya ia memutuskan untuk minum hanya sedikit.
Mereka melakukan pesta saat tengah malam, membuat Nasya kembali pulang ke rumah saat hari mulai hampir pagi.
Hal ini membuat Sofia dan Vernon menjadi geram melihat kelakuan anaknya yang tidak berubah.
"Mas, nikahkan saja dia dengan anak teman mas. Aku udah setuju sekarang. Biar dia bisa berubah" ucap Sofia.
"Baik sayang. Kita bicarakan dengan Nasya besok".
"Jangan bela dia lagi mas, kamu harus tegas mulai sekarang".
"Iya mas akan tegas".
Keesokan paginya, Sofia dan Vernon mulai memanggil Nasya untuk duduk membicarakan pernikahan yang telah mereka rencanakan.
"Ada apa ma, pa? kok panggil sepagi ini".
"Ini udah siang, kamu aja yang bangunnya terlambat karena tiap pulang selalu saja mabuk" kata Sofia.
"Iya maaf deh. Jadi ada apa ini?".
"Papa akan menjodohkan kamu dengan anak teman papa, dan kalian akan menikah secepatnya".
"Apa? kenapa tiba-tiba dijodohkan begini? kenapa nggak Nisya aja yang duluan? dia kan kakak".
"Kamu harus nikah duluan, biar kebiasaan buruk kamu itu berubah" ucap Sofia.
"Nggak mau ma. Pokoknya aku nggak menerima perjodohan gila ini" tolak Nasya.
"KEINASYA" teriak Vernon.
Ini pertama kalinya Nasya mendengar papanya berteriak padanya, membuatnya tidak dapat membantah lagi.
"Kamu harus menikah apapun yang terjadi. Papa sudah kecewa sama kamu karena kelakuan kamu yang selalu membantah dan mabuk-mabukan. Kalau kamu tidak mau menuruti kemauan kami, semua fasilitas yang papa berikan sama kamu akan papa tarik" ancam Vernon.
"Jangan dong pa".
"Kalau begitu terima perjodohan itu. Besok, kita ketemu keluarga mereka. Harus sopan kamu".
__ADS_1
Nasya hanya bisa menunduk. Di dalam hatinya ia ingin berteriak sangat keras dan ingin memberontak untuk menolak permintaan orang tuanya itu. Tapi apa daya, uang lebih berharga untuknya.