Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Seperti Dulu Lagi


__ADS_3

"Terima kasih".


Hanya itu yang diucapkan Vernon, namun sudah membuat Sofia tersenyum senang.


.


.


.


Hari demi hari dilewati Sofia dan Vernon dengan keadaan yang masih sama, yaitu berbicara seperlunya saja. Bedanya, mereka tidak lagi bertengkar dan juga Vernon tidak lagi pergi ke klub untuk minum alkohol.


Kini sudah 4 bulan mereka berdua seperti itu. Entah sudah nyaman atau malah merasa risih, tidak ada yang tahu.


Sofia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar bercocok tanam serta tetap mencari tahu tentang kehamilan.


Sedangkan Vernon, seperti biasa hanya sibuk dengan pekerjaannya.


Suatu hari, saat akan tidur, tiba-tiba Vernon bertanya sesuatu hal yang membuat Sofia sedikit terkejut.


"Kamu mau kerja lagi?".


"Memangnya diizinkan?".


"Kalau mau, buka kembali restoran yang aku tutup itu".


"Tidak perlu".


"Kenapa?".


"Aku tidak ingin bekerja dengan uang suamiku, nanti dia bisa seenaknya menutupnya sesuka hati" ucap Sofia, menyinggung Vernon.


"Jadi kamu maunya bagaimana?".


"Aku mau kerja ditempat orang, meskipun hanya sebagai pelayan restoran juga aku mau. Asalkan aku bisa menghasilkan uang sendiri".


"Tidak boleh".


"Sudah kuduga. Aku tidur duluan" kata Sofia, berbaring membalikkan badannya, memunggungi Vernon.


"Aku ingin kita punya anak lagi" ucap Vernon tiba-tiba.


Sofia hanya diam, ia tidak membalas perkataan Vernon.


"Sofia, apa kamu sudah tidur?".


"Belum".


"Bagaimana dengan permintaan aku tadi? apa kamu mau?".


Hening sesaat.


"Entahlah. Aku takut".


"Takut kalau aku menyalahkanmu lagi?".


"Iya dan juga takut karena tiba-tiba kau bertanya seperti ini".


"Kenapa kamu takut saat aku bertanya?".


"Bisa saja kamu merencanakan sesuatu yang tidak aku tahu".


"Aku tidak merencanakan apapun, sungguh".


Sofia mendengar perkataan Vernon begitu tulus. Ia pun membalikkan badannya menghadap ke arah Vernon, menatap manik matanya mencari kebohongan. Namun ia tidak menemukannya.


"Kamu serius?".

__ADS_1


"Iya, aku ingin mencoba memperbaiki semuanya seperti dulu lagi".


"Maafkan aku karena menidurimu saat masa nifasmu masih berlangsung dulu" lanjut Vernon merasa bersalah.


"Sudah lewat, tidak perlu disesali lagi".


"Jadi kamu ingin memaafkan aku?".


Sofia masih terlihat sedikit ragu, namun ia memang ingin memperbaiki hubungannya dengan Vernon. Sehingga ia mengangguk, memaafkan Vernon.


"Terima kasih sayang. Maafkan aku yang sudah kasar, membuatmu menangis, minum alkohol yang tidak kamu sukai, dan juga menyalahkanmu selama ini. Aku mohon maafkan aku, aku memang suami yang tidak baik" ujar Vernon.


"Iya mas. Aku juga minta maaf karena tidak bisa menjaga bayi kita dengan baik dan juga sudah menamparmu".


"Tidak sayang, kamu memang pantas menampar suami tidak becus seperti aku ini. Aku yang terlalu mementingkan ego, sehingga tidak ingin disalahkan dan malah menyalahkan kamu".


Sofia tersenyum, dipeganginya kedua pipi Vernon menghadap padanya.


"Yang berlalu biarlah berlalu mas, aku sudah memaafkan semuanya yang terjadi. Sejujurnya saat kita bertengkar hebat pun aku hampir ingin mengakhiri hidupku mas, tapi untungnya mama Sonya menelpon sehingga aku membatalkan niatku itu. Intinya sekarang, aku hanya mau kamu jangan menyalahkan seperti itu lagi, kita harus lewati semuanya sama-sama mas. Dulu kamu kan yang bilang begitu ke aku".


"Iya sayang. Maafkan mas, mas memang orang terbodoh di dunia. Maafin mas sayang, mas tidak ingin kehilangan kamu".


Vernon terlihat bersujud di kaki Sofia, ia sangat menyesali perbuatannya selama ini.


"Bangun mas, jangan kayak gitu. Aku nggak apa-apa kok. Pokoknya kita berusaha sama-sama ya".


"Iya sayang".


Sofia menyeka air mata Vernon, yang menetes sejak tadi.


"Aku sudah siap mas".


"Kamu yakin? nggak sakit lagi?".


"Nggak mas".


Hasrat Vernon yang selama ini ditahannya akhirnya bisa tersalurkan kembali. Mereka melakukan sejak malam hingga menjelang pagi.


Tidak ada kata lelah bagi Vernon, karena memang ia sudah lama tidak berhubungan.


Berbeda dengan Sofia yang sudah sangat kelelahan, terkulai lemas di atas ranjang.


.


.


.


Sofia terbangun dari tidurnya karena hp Vernon yang sedari tadi terus berbunyi.


Diliriknya ke arah jam dinding. Masih menunjukkan pukul 9 pagi, artinya baru saja ia tertidur selama 3 jam. Ya, mereka baru selesai berhubungan pukul 5 pagi. Kemudian, setelah menunaikan ibadah sholat subuh, mereka kembali tertidur.


"Mas bangun, hp kamu bunyi tuh".


"Siapa yang menelpon?" tanya Vernon dengan suara serak, khas orang bangun tidur.


Sofia mengambil hp milik Vernon yang berada di atas meja, kemudian melihat nama si penelpon.


"Ini dari asisten kamu mas".


Dengan malas Vernon bangun dari tidurnya dan duduk di sandaran ranjang.


Vernon menerima panggilan telepon dari asistennya, kemudian terlihat mulai berbicara. Sofia yang disampingnya, tentu saja mendengar semua percakapan mereka.


"Kamu nggak mau ke kantor mas?" tanya Sofia bingung, setelah mendengar pembicaraan Vernon dengan asistennya.


"Nggak, aku mau menghabiskan waktu sama kamu aja. Selama ini aku terlalu sibuk kerja tanpa mempedulikan kamu" ucap Vernon kembali tidur sambil memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


"Serius?".


"Iya serius".


"Kalau begitu bangun sekarang".


"Kenapa bangun? kita baru tidur beberapa jam yang lalu sayang".


"Katanya mau menghabiskan waktu bareng aku. Kalau bareng aku, aku nggak mau di rumah terus. Kan selama ini kamu tahu sendiri mas, aku selalu di rumah nggak kemana-kemana. Aku jadi bosan" ujar Sofia dengan ekspresi sedih.


"Baiklah kalau begitu. Kamu mau kemana?".


"Ke taman bunga".


"Kamu sekarang jadi pecinta bunga ya?".


"Iya dong".


"Ternyata tetap produktif kamu ya sayang, biarpun di rumah".


"Itu harus. Oke sekarang siap-siap mas. Aku mandi duluan ya".


"Nggak mau. Aku mau mandi bareng".


"Nanti kelamaan kalau mandi bareng mas".


"Lama kenapa?".


"Ya lama karena tangan mas usil" sungut Sofia.


"Hahaha kamu tahu aja deh. Sekali doang yang".


"Bohong. Dulu juga bilangnya sekali doang, padahal berkali-kali".


"Ya paling kalau khilaf dua kali lah. Masa nggak mau sih sayang? udah 4 bulan loh dia dianggurin" tunjuk Vernon ke bagian bawah tubuhnya.


"Itu salah kamu mas, siapa suruh diemin aku".


"Iya tahu aku yang salah. Maaf ya. Jadi mau kan? boleh ya?" bujuk Vernon.


"Ya udah. Tapi awas kalau lebih dari yang udah dijanjiin ya".


Vernon dengan sigap langsung menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


Tentu saja mereka mandi sekaligus menanam benih disana.


Sofia terlihat keluar dari kamar mandi dengan ekspresi kesal.


"Katanya kalau khilaf 2 kali, tapi tadi 3 kali. Mana lama banget lagi keluarnya. Lihat tuh mas udah siang kan sekarang, entar tutup taman bunganya".


"Habisnya kamu bikin nagih terus sih sayang, mas kan jadi susah berhenti".


"Tenang aja kalau masalah taman bunga itu. Kalau tamannya tutup, langsung aku beli tamannya khusus untuk istri tercinta" lanjutnya.


"Lebay. Udah aku mau makan aja udah laper".


"Loh, taman bunga nggak jadi nih?".


"Jadi, tapi habis makan. Pokoknya kalau tutup, kamu beli ya mas taman bunga itu".


"Waduh berapa ribu hektar tuh, yang ada mas mu ini bangkrut".


"Biarin. Biar kamu tidur di taman bunga aja".


"Ide bagus tuh, sekalian buat anak kita disana. Biar menantang".


"Mas mesum banget" teriak Sofia.

__ADS_1


Vernon tertawa karena berhasil menggoda istrinya.


__ADS_2