
Di kamar, Sofia berjalan kesana kemari. Dia bingung harus datang atau tidak. Dia sadar tidak bisa menghindar terus menerus dari Vernon. Dia harus tau apa alasan Vernon meninggalkannya selama ini.
Akhirnya Sofia memutuskan untuk datang ke kediaman Bramaputra. Sofia sudah siap dengan gaun selututnya dan rambut yang digerai dengan sedikit polesan make up.
Di kediaman Bramaputra telah sibuk para asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan malam spesial. Vernon yang baru pulang tidak mengetahui rencana bundanya yang mengajak Sofia makan malam.
"Bun, kenapa makan malam nya banyak banget? memang nya ada tamu?" pikir Vernon. Sebab tidak biasanya makanan terhidang sebanyak ini.
"Oh iya ada tamu bunda mau datang. Nanti kita makan sama-sama ya semuanya" sahut bunda sambil tersenyum.
Vernon tidak menaruh curiga kepada bundanya dan langsung mengiyakan.
Beberapa saat kemudian seluruh keluarga Bramaputra telah berkumpul di meja makan, tetapi tamu nya belum muncul juga.
"Bun, tamunya jadi datang?" tanya ayah Bram. Seluruh keluarga tidak mengetahui siapa tamu bunda Anya. Bunda Anya sengaja merahasiakannya dari mereka untuk memberi kejutan.
"Katanya udah di jalan yah. Kita tunggu sebentar lagi ya" jawab bunda Anya sedikit khawatir. Ia khawatir apabila Sofia tidak datang.
Tidak lama, Bi Siti datang memberitahukan bahwa tamu nya telah datang.
Dengan wajah sumringah, bunda Anya segera menyambut tamu nya tersebut yang tidak lain adalah Sofia.
"Halo sayang, akhirnya kamu datang juga. Bunda khawatir tadi kamu nggak jadi datang". Kata bunda Anya sambil memeluk Sofia.
"Maaf bunda saya terlambat, tadi sedikit macet di jalan" jawab Sofia yang merasa bersalah karena membuat keluarga mereka menunggu.
"Ya udah ayo kita ke ruang makan. Semua sudah menunggu di sana" bunda Anya berkata sambil menggandeng Sofia. Mereka pun pergi ke meja makan.
Sesampainya di meja makan, Sofia begitu terkejut melihat Vernon dosen killer yang sangat di bencinya duduk di meja makan itu. Ia tidak percaya bahwa Vernon sahabat kecilnya yang culun dan gemuk berubah menjadi sosok pria gagah, tinggi, atletis dan tentunya tampan. Setelah dipikir-pikir dia memang tidak mengetahui nama panjang dosennya itu, sehingga dia tidak mengetahui bahwa dosennya selama ini merupakan sahabat kecilnya dulu.
"Pak Vernon kenapa bisa ada disini?" tanya Sofia masih tidak percaya.
__ADS_1
Vernon pun tidak kalah terkejutnya. Ia tidak menyangka tamu yang dimaksud bundanya adalah Sofia.
"Ini rumah saya. Kamu yang kenapa bisa ada disini?" jawab Vernon terlihat dingin. Padahal di dalam hatinya dia sudah sangat gugup.
"A..aaku di undang makan malam oleh bunda" ucap Sofia terlihat gugup.
"Oh kalian udah pernah ketemu ya? dimana? Sofia bilang dia belum pernah ketemu sama kamu selama di Jakarta sayang" tanya bunda Anya pada Vernon.
"Dia mahasiswi Vernon bunda. Dia saja yang sudah lupa Vernon" jawab Vernon dengan cuek.
Sofia begitu kaget, dia tidak menyangka ternyata benar dosen killer nya yang sangat menyebalkan itu adalah sahabat kecil nya.
POV Sofia
Setelah lama menimbang, akhirnya aku memutuskan untuk datang ke kediaman Bramaputra. Ya sebaiknya datang, aku tidak bisa menghindar seperti ini. Setelah memilih baju yang menurutku terlihat elegan dan tentunya sopan, akhirnya aku memesan taksi menuju ke rumah itu, dengan jalanan yang lumayan macet.
Akhirnya setelah lama menunggu kemacetan yang membosankan, aku sampai di rumah yang sangat mewah dengan halaman yang luas, membuatku gugup untuk masuk. Sesampainya di depan pintu aku disambut oleh bunda Anya dan mengajak ku ke ruang makan mereka.
Vernon sahabatku dengan Vernon dosen killer apakah benar mereka orang yang sama? sungguh tidak mungkin. Vernon yang dulu memang terlihat culun dan gemuk, tapi setidaknya hatinya sangatlah baik dan lembut. Beda dengan Vernon di depanku ini, meskipun dia memang ganteng dan tubuhnya atletis, tapi wajahnya seperti patung bahkan hatinya mungkin terbuat dari baja karena sangat kejam. Itu tidak mungkin orang yang sama. Sungguh aku masih tidak mempercayainya.
Setelah dia bilang bahwa aku lupa padanya, tentu saja aku lupa. Bagaimana mungkin aku mengingat bila wajahnya sangat berbeda dengan yang dulu. Jangan-jangan dia operasi plastik? tapi tidak mungkin. Senyum nya masih terlihat sama. Memang bodoh karena aku tidak menyadarinya di awal.
"Sebaiknya kita makan saja dulu. Nanti sebentar baru melepas rindunya" ucap ayah Bram sambil tersenyum dan memecah ketegangan diantara keduanya.
Sangat hening saat makan, hanya suara sendok dan garpu yang dapat didengar. Tentu saja karena selama makan keluarga Bramaputra memiliki tradisi untuk tidak mengobrol. Selesai makan, bunda Anya dan Sofia duduk di ruang keluarga sambil mengobrol.
Saat sedang mengobrol, Sofia melihat Vernon yang membaca buku tanpa melihat ke arahnya. Bahkan menyapa pun tidak. Sejujurnya itu menyakitkan bagi Sofia.
Melihat Sofia yang terlihat sedih, bunda Anya berinisiatif untuk memanggil Vernon agar mereka berdua bisa mengobrol.
"Vernon kesini sebentar" panggil bunda Anya.
__ADS_1
"Ada apa bun?" tanya Vernon menatap bunda nya tanpa menatap gadis di sebelahnya.
"Bunda mau ke atas dulu, kamu temani Sofia ya. Kan nggak baik tamu ditinggal sendiri" ucap bunda Sonya.
"Kan ada kak Joshua, suruh dia saja" jawab Vernon begitu dingin. Sofia hanya bisa tertunduk mendengar perkataan Vernon.
"Pokoknya kamu yang temani Sofia disini. Bunda ke atas dulu" bunda Anya berkata sambil berlalu dan pergi dari pandangan mereka.
Sofia yang gugup saat hanya berdua dengan Vernon pun memutuskan tetap menundukkan kepalanya.
"Ngapain nunduk aja? Nggak sakit tuh kepala?" tanya Vernon yang melihat Sofia hanya menunduk dari tadi.
Sofia pun perlahan mengangkat kepalanya. Dia menatap Vernon yang begitu berbeda dengan dulu.
"Kenapa dulu kamu nggak bilang kalau mau pindah?" ucap Sofia tiba-tiba. Sejujurnya dia sangat ingin menanyakan pertanyaan ini dari dulu.
"Ngapain bilang ke kamu? biar kamu tetap manfaatin aku gitu?" jawab Vernon tersenyum sinis.
"Maksudnya?" Sofia tidak mengerti maksud Vernon.
"Sudahlah Sofia. Aku sudah tau kalau selama ini kamu menjadi sahabatku hanya untuk memanfaatkan aku saja kan?" kali ini kesabaran Vernon sudah tidak bisa ditahan lagi, dia kesal orang yang dicintainya hanya memanfaatkannya saja.
"Maksud kamu apa? aku nggak pernah manfaatin kamu. Aku tulus bersahabat dengan kamu, bahkan aku..." kalimat Sofia terputus, ia tidak tahu apakah harus mengatakan perasaannya atau tidak.
"Bahkan kamu apa? Aku dengar sendiri waktu itu kamu bercerita dengan teman kamu Dini, kalau kamu kasihan dan hanya manfaatin aku doang" kali ini Vernon berkata dengan suara tinggi.
Sofia hanya bisa menangis mendengar ucapan Vernon. Menurutnya Vernon hanya salah paham selama ini, dia bahkan tidak mendengar seluruh cerita Sofia kepada Dini waktu itu.
"Nggak usah nangis. Kamu mau drama kan di depan orang tua aku supaya seakan-akan aku yang salah disini? ucap Vernon sinis.
"Kalau kamu nggak tau cerita yang sebenarnya seharusnya kamu tanya ke aku, bukan memutuskan semuanya sendiri" ucap Sofia masih menangis. Sungguh sangat sakit mendengar perkataan Vernon. Sofia pun memutuskan untuk pamit pulang, dia tidak sanggup harus berhadapan dengan Vernon yang sangat kejam.
__ADS_1