Dosenku Sahabatku

Dosenku Sahabatku
S2. Berusaha


__ADS_3

"Ayo kita buat anak, kita pakai semua gaya siapa tahu berhasil" bisik Vernon dengan nada menggoda.


"Kamu mesum mas" Sofia memukul pelan dada suaminya.


Vernon mengangkat Sofia ala bridal style dan mulai melakukan pertempuran di siang hari.


Sofia dan Vernon kembali ke Jakarta keesokan harinya. Sebelum pulang, tidak lupa mama Sonya memberikan obat herbal untuk Sofia.


Sofia rutin mengkonsumsi obat herbal itu, berharap keajaiban akan datang kepadanya.


"Mas" panggil Sofia.


"Iya sayang" kata Vernon, meletakkan koran yang sedang dibacanya.


"Eh iya kamu udah minum obat herbalnya kan?" Vernon selalu mengingatkan Sofia, takut kalau istrinya lupa.


"Sudah mas".


"Gini aku mau bilang, kan restoran yang aku bilang ke mas itu udah selesai. Jadi, aku mau atur semua barang dan mulai bekerja 2 atau 3 hari lagi. Boleh kan mas?" tanya Sofia takut-takut.


"Kamu yakin mau kerja? padahal mas bisa kasih kamu uang lebih tanpa kamu harus bekerja" ujar Vernon.


"Aku yakin mas. Soalnya aku bosan banget di rumah, mending aku kerja biar ada aktivitasnya. Kan nggak baik juga kalau di rumah terus mas, bisa stres nanti".


"Ya sudah kalau begitu. Kamu boleh kerja, tapi ingat jangan terlalu kecapean ya".


"Iya makasih mas" ucap Sofia kemudian mencium pipi kiri Vernon.


"Kok cuma pipi kiri yang dicium, yang sebelahnya juga dong".


"Iya deh" saat Sofia hendak mencium pipi kanan Vernon, tiba-tiba wajah Vernon menghadap ke arah wajah Sofia sehingga bibir mereka berbenturan.


"Aww mas kok malah ngeliatin aku sih, kan bibir aku jadi terbentur sama bibir mas" kata Sofia, memegang bibirnya.


Vernon tersenyum kemudian menarik tangan Sofia yang sedang memegang bibirnya, lalu wajanya mendekat ke arah Sofia dan mencium bibirnya dengan lembut.


Cup


"Udah nggak sakit kan? mas udah kasih obatnya tuh".


"Mas gombal deh. Aku mau tidur dulu" ucap Sofia, berlari meninggalkan Vernon di ruang keluarga sendirian.


"Loh kok mas ditinggalin. Tunggu dong sayang" susul Vernon.


.


.

__ADS_1


.


Beberapa hari kemudian, restoran milik Sofia yang diberikan oleh Vernon telah jadi. Sofia mengadakan launching untuk restoran barunya, dengan mengundang keluarga serta teman-temannya.


"Wahh Sofia udah jadi bos aja nih, jangan galak-galak ya sama karyawannya" ucap Angel, bercanda.


"Semoga aja nggak sih" kata Sofia membalas candaan Angel.


"Amin deh amin".


"Gimana kandungan lo? udah berapa bulan?" tanya Sofia sambil mengusap perut Angel.


"Udah mau jalan 6 bulan".


"Nggak kerasa udah besar juga ya, bentar lagi udah mau lahirin aja nih" kata Sofia tersenyum sambil terus mengusap perut Angel.


"Iya, insya allah 4 bulan lagi lahiran. Aku juga doain kamu supaya cepat isi ya. Biar nanti kita bisa jodohin anak kita".


"Iya semoga aja ya".


"Aku pergi dulu nyambut tamu yang lain ya, lo nikmatin aja apa yang ada disini, duduk aja jangan banyak gerak, kan lagi hamil" ujar Sofia.


"Iya cerewet. Mirip banget kayak Joshua deh" kata Angel sambil tertawa.


"Harus dong. Bumil kayak lo tuh bandel, jadi harus diingetin".


"Iya deh iya, udah sana sambut tamu yang lain. Gue duduk disini kok nggak kemana-mana".


Sofia berlalu pergi. Ia melihat ibunya sedang bercengkerama dengan om Rudi sambil sesekali tertawa.


"Kayaknya ada yang seru nih" sahut Sofia mengehentikan obrolan mama Sonya dan om Rudi.


"Eh kamu disini sayang. Iya mama lagi mengenang masa-masa SMA dulu" ucap mama Sonya.


"Iya nih, mama kamu dulu suka cari perhatian ke kakak kelas" celetuk om Rudi.


"Kapan? nggak mungkin aku kayak gitu. Jangan percaya sama om Rudi, Fi".


"Tapi mama emang keliatan banget caper sih. Buktinya ini sama om Rudi juga gitu" goda Sofia.


"Kamu kok malah belain om Rudi daripada mama?".


"Hahaha bercanda ma".


"Oh iya ngomong-ngomong kapan rencananya om Rudi mau nikahin mama? aku nggak sabar loh punya papa baru" kata Sofia, berhasil membuat mama Sonya bersemu merah.


"Kamu kok bicara gitu sih Sofia, mama kan jadi malu".

__ADS_1


"Tidak apa-apa Sonya. Memang sudah sewajarnya kalau Sofia bertanya seperti itu" kata om Rudi.


"Kalau om sih terserah mama kamu aja, hari ini juga om siap kok nikahin mama kamu" lanjut om Rudi dengan berani.


"Nah itu liat ma. Om Rudi aja udah siap, tinggal mama doang nih yang ditunggu. Percepat aja lah, biar aku bisa merasakan punya saudara dan punya papa gitu".


"Iya nanti mama pikirin lagi. Udah jangan bahas itu, kan mama jadi malu nih".


"Oke ma. Jangan lama-lama ya mikirnya, nanti om Rudi capek nunggu. Iya kan om?" kata Sofia meminta persetujuan om Rudi.


"Yap betul sekali".


Mama Sonya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua orang di hadapannya itu.


Sofia meninggalkan mama Sonya dan om Rudi. Ia memghampiri Vernon yang baru saja datang ke restoran itu.


"Selamat atas restoran barunya sayang" ucap Vernon mencium kening istrinya.


"Terima kasih mas" Sofia melingkarkan tangannya ke pinggang Vernon.


Launching restoran hari itu berjalan dengan lancar. Hari-hari dilewati Sofia dengan bekerja sebagai bos di restoran. Ia juga tidak lupa dengan kewajibannya untuk mengurus suaminya dan juga rutin melakukan segala cara agar bisa segera hamil, contohnya seperti makanan yang harus dijaga.


"Mas aku pengen deh makan sushi".


"Nggak boleh sayang. Makanan mentah itu nggak baik untuk menyuburkan kandungan".


"Tapi kan ada sushi goreng".


"Kita harus menghindari segala kemungkinan yang terjadi walaupun itu di goreng sayang. Jadi, pilih makan yang lain ya".


"Misalnya ikan, daging, atau sayuran intinya yang matang jangan mentah kayak gitu" lanjut Vernon lagi.


Sofia memanyunkan bibirnya. Ya, semenjak ia memutuskan untuk program kehamilan banyak sekali larangan dan pantangan yang tidak boleh ia perbuat ataupun makan. Bahkan Sofia yang sangat malas untuk olahraga, diharuskan mulai rajin berolahraga tiap pagi.


"Mas olahraga hari ini ditunda dulu ya, nanti besok aja".


"Nggak boleh sayang. Kita kan.."


"Iya deh iya aku olahraga nih sekarang" potong Sofia. Ia sangat malas mendengarkan perkataan Vernon yang selalu sama setiap harinya kalau ia mulai ingin bolos olahraga.


"Nah gitu dong. Itu baru namanya istri aku, nggak pantang menyerah" kata Vernon mengusap kepala Sofia.


"Sekarang kita joging, sore nanti kita bersepada terus lanjut berenang. Oke?".


"Ya ampun mas banyak banget aku nggak sanggup ini kaki udah mau patah rasanya. Cicil dulu ya, lanjut besok" ucap Sofia dengan memelas.


"Aku gendong kalau kamu udah nggak sanggup. Jangan menyerah, ayo mulai sayang" teriak Vernon mulai berlari lebih dulu meninggalkan Sofia di belakang.

__ADS_1


Pengen punya anak gini amat ya. Semangat Sofia kamu pasti bisa.


Sofia bergumam, ia menyemangati dirinya sendiri agar tetap optimis dan berusaha demi mendapatkan seorang anak yang didambakannya selama ini.


__ADS_2