
Mobil Gavin berhenti di parkiran sebuah klub malam, entah apa yang merasukinya hingga sampai berani datang ke tempat seperti itu. Gavin berjalan memasuki klub malam itu dengan pakaian dan rambut yang berantakan dan juga ekspresi wajah yang muram.
Kacau! Itulah satu kata yang cocok untuk mendeskripsikan kondisi Gavin saat ini.
Tak dipungkiri bahwa rupa Gavin yang tampan itu menarik perhatian para wanita.
Sejak awal memasuki klub malam itu Gavin sama sekali tak menunjukkan ekspresinya. Dan ia sama sekali tak menghiraukan suara riuh orang-orang dan juga suara musik yang keras. Bahkan, Gavin terlihat ok ok saja dengan bau alkohol yang menyengat hidung, mungkin saat ini ia sudah mati rasa.
Gavin duduk di sebuah kursi di depan bar, ia memesan minuman beralkohol tinggi, ia melakukan ini hanya untuk melampiaskan amarahnya.
Tanpa Gavin sadari, semenjak ia masuk ada seorang wanita yang tak lepas memandangnya. Wanita itu bahkan sampai memotret Gavin yang tengah meneguk minuman keras, setelahnya wanita itu tersenyum miring sembari mengetuk-ngetuk layar handphonenya.
***
Kenan, pria yang biasanya selalu sibuk berkutat dengan pekerjaannya kini hanya diam menunggu Elora sadar. Tak nampak sedikit pun raut wajah lelah pada wajah Kenan, meskipun ia telah menunggu Elora dari siang sampai tengah malam.
Kenan mendekatkan wajahnya ke dekat wajah Elora, tanpa permisi Kenan mengecup pipi Elora kemudian dilanjutkan pada kening Elora. Ini sudah yang kesekian kalinya Kenan mencuri kecupan dari Elora, walaupun itu hanya sebatas kecupan di pipi dan di kening, tapi tetap saja itu tidaklah baik untuk dilakukan kepada seorang wanita yang sudah bersuami.
Selesai dengan aksinya, Kenan malah meraih tangan Elora, menggenggamnya erat.
"Kapan kamu sadar, hm ...," ucap Kenan pelan.
Selang beberapa waktu, Kenan merasakan gerakan pada jemari tangan Elora yang ia genggam. Perasaan bahagia pun langsung menghinggapi diri Kenan.
"Ayah ...," lirihan itu mengalun lembut.
'Sebegitu sayangnya- kah kamu kepada ayahmu itu?' batin Kenan.
Perlahan-lahan mata Elora terbuka, sorot mata sayu itu bergerak mengamati sekitarnya yang terasa asing baginya.
"Akhirnya kamu sadar," ujar Kenan mengecup punggung tangan Elora.
Sontak saja kedua mata Elora membelalak, dengan kondisinya yang lemah ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kenan. Namun, Kenan malah enggan untuk melepaskan tangan Elora, ia malah asyik mengecup punggung tangan Elora itu.
"Maaf, bisa tolong lepaskan tangan saya!?" Elora akhirnya angkat suara meskipun dengan nada yang bergetar.
Kenan terdiam sejenak.
"Ah, tentu saja," sahut Kenan melepaskan tangan Elora.
__ADS_1
Suasana seketika berubah menjadi canggung, Elora yang terlihat lemas itu kembali memejamkan matanya. Tatkala matanya terpejam, ingatan-ingatan memilukan yang pernah menimpanya kembali muncul di benaknya, hingga tak terasa air matanya keluar begitu saja dari matanya.
Kenan yang melihat pun berniat untuk mengusap air mata Elora. Akan tetapi niatnya untuk mengusap air mata Elora itu harus sirna lantaran nafsu yang menggelora dalam dirinya.
Dalam hitungan detik, bibir Kenan sudah mendarat sempurna di bibir Elora. Sebuah cium*n yang begitu dalam itu kembali membuat mata Elora membelalak. Refleks, Elora memalingkan wajahnya dan memutus cium*n tersebut.
Plak!
Satu tamparan Kenan terima atas sikap sembrononya terhadap Elora.
"Dasar baj*ngan!" maki Elora.
Kenan menyentuh pipi kanannya yang di tampar oleh Elora, tamparan itu tidak melukai pipinya tetapi melukai hatinya, apalagi di tambah dengan makian Elora, semakin sakit-lah hatinya.
Elora merasakan was-was kala Kenan memperhatikan sekujur tubuhnya dengan intens. Ingin rasanya ia kabur dan lari dari pria baj*ngan yang telah mencuri cium*n pertamanya.
"Kamu kenapa, Elora sayang?" tanya Kenan diakhiri dengan senyuman miring.
Belum sempat ia menjawab, Elora dikejutkan oleh Kenan yang memaksa menaiki ranjang yang tengah digunakan Elora berbaring. Kedua lutut Kenan digunakan untuk mengapit kaki Elora hingga membuat Elora tidak dapat bergerak.
"A--anda mau apa?" Tak dipungkiri kalau Elora merasa ketakutan.
Wajah Elora dan Kenan berada dalam posisi sejajar, dan tatapan keduanya bertemu. Kenan mengelus pipi Elora yang menurutnya terasa begitu lembut, Elora yang takut pun memalingkan wajahnya dengan kedua tangan yang ia taruh di dada Kenan guna menjaga jarak tubuh Kenan dari tubuhnya.
"Menyingkir!" Elora berusaha mendorong tubuh Kenan.
Kenan semakin membungkukkan badannya, mengikis jarak antara tubuhnya dengan tubuh Elora. Kenan menyingkirkan kedua tangan Elora yang berada di dadanya, ia menahan masing-masing tangan Elora di samping tubuh Elora.
Deru nafas Kenan memburu ketika melihat wajah Elora yang baginya begitu cantik nan menggairahkan. Dalam waktu singkat bibir Kenan dan Elora sudah menempel, Elora yang tak bersedia dicium oleh Kenan pun berusaha menghentikan aksi Kenan yang sudah berada di luar batas. Sayangnya hal itu tak dihiraukan oleh Kenan, pria itu terus saja menci*m Elora dengan intensnya.
Kenan menghentikan cium*nnya tatkala bibirnya merasakan sakit lantaran digigit oleh Elora. Gigitan itu juga mengakibatkan bibir Kenan mengeluarkan darah yang mana bibir Elora juga terkena darah dari bibir Kenan itu.
Sementara Kenan menyeka darah di bibirnya, Elora menghirup udara sebanyak-banyaknya. Senyuman miring terbit di wajah Kenan.
"Kucing nakal."
Tangan kanan Kenan merogoh saku celananya dan mengeluarkan seutas dasi yang tadi siang ia gunakan.
"A--anda ---"
__ADS_1
"Kamu tenang saja sayang, aku tidak akan menyakitimu," ucap Kenan lembut.
Kedua tangan Elora diraih oleh Kenan, tujuan Kenan tak lain adalah mengikat kedua tangan Elora agar ia bisa melakukan aksinya dengan leluasa.
"Lepaskan tangan saya!" teriak Elora.
"Argh! Mas Gavin ...!" Saking takutnya, secara tidak sadar Elora meneriakkan nama Gavin.
Mendengar Elora meneriakkan nama seorang laki-laki, tiba-tiba saja Kenan melepaskan kedua tangan Elora, bahkan dasi yang akan digunakan untuk mengikat tangan Elora ia lempar ke lantai.
Elora yang berada dalam kondisi mata terpejam langsung membuka matanya karena merasa tidak ada pergerakan dari Kenan.
"Siapa Gavin?" tanya Kenan dengan tatapan mengintimidasi.
Elora menelan salivanya susah.
"Suami saya," jawab Elora singkat.
Mata Kenan melotot.
"Asal anda tahu, wanita yang saat ini anda lecehkan adalah seorang wanita yang telah bersuami," lanjut Elora sembari menitikkan air mata.
Sungguh, Elora sedih bukan kepalang atas perbuatan yang dilakukan Kenan. Pasalnya Kenan sudah menghancurkan apa yang ia jaga. Selama berpacaran dengan Gavin ia belum pernah sampai berciuman bibir, hal paling jauh yang pernah ia dan Gavin lakukan selama dua tahun berpacaran adalah ciuman di pipi dan di kening, itu pun dapat dihitung menggunakan jari.
"Kamu pasti bohong 'kan?" Kenan berusaha untuk tersenyum.
"Saya tidak bohong, anda lihat cincin di jari saya. Itu adalah salah satu bukti!" tutur Elora penuh penekanan.
"Jika anda masih tidak percaya, anda bisa lihat handphone saya," lanjutnya lagi.
Dengan perasaan tak karuan Kenan menuruni ranjang, lalu ia mengambil hp Elora.
Prang!
Handphone milik Elora jatuh ke lantai ketika Kenan melihat foto Elora yang mengenakan gaun pengantin bersama seorang pria yang menjadi mempelai pria.
Hancur sudah perasaan Kenan, saking hancurnya ia sampai-sampai berlari meninggalkan ruangan itu tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Elora? Dia hanya bisa menangis meratapi nasib buruk yang terus-menerus menimpanya.
__ADS_1