Elora

Elora
Bab_12 (Dokter Arvi?)


__ADS_3

"Ruangan gue ...!" pekik Ciko di saat membuka pintu dan melihat ruangannya yang telah hancur berantakan.


"Siapa yang berani hancurin ruangan gue!?" teriak Ciko penuh penekanan.


"Gue," sahut Kenan yang membuat Ciko terperanjat kaget.


Ciko berdecak sebal, tidak seharusnya ia mempertanyakan siapa yang berani menghancurkan ruangannya. Pasalnya, sudah pasti hanya Kenan-lah yang berani dan mampu menghancurkan ruangannya yang rapi nan indah tersebut.


Ciko menghela nafas panjang, berusaha menahan emosinya yang hampir habis karena Kenan yang terus-menerus memberinya tugas dan sudah pasti menguji kesabarannya. Kali ini juga Kenan kembali menguji kesabarannya dengan cara mengganggunya di tengah malam yang nyaman digunakan untuk tidur, dan lagi ... setibanya di ruangan miliknya ia kembali di uji dengan kondisi ruangan yang berantakan. Sabar ... hanya satu kata itu yang cocok diberikan kepada Ciko.


Mata Ciko menajam tatkala melihat darah kering di bibir bawah Kenan. Apa Kenan di gigit kucing? Pikir Ciko. Tak mau ambil pusing, Ciko mengambil sebuah kotak p3k dari laci mejanya yang terbaring lemah akibat tendangan dari Kenan.


"Obatin sendiri!" Ciko memberikan kotak p3k itu kepada Kenan.


Di saat Kenan mulai mengobati bibirnya, Ciko berinisiatif untuk mengambil kursi yang senantiasa memberikannya rasa nyaman ketika selesai melaksanakan tugasnya mengobati orang sakit. Ciko menyeret kursi miliknya itu dan menaruhnya di dekat Kenan, lalu mendudukinya untuk mendapatkan rasa nyaman.


"Gue perlu bantu apa?" tanya Ciko to the point.


Kenan melemparkan bekas kapas yang sudah ia gunakan untuk menyeka obat merah yang menetes dari luka di bibirnya.


"Bikin Elora yakin," jawab Kenan singkat.


Kening Ciko mengernyit tak mengerti dengan apa yang dimaksud Kenan. Apakah ia yang bodoh, atau Kenan yang tidak jelas? Entahlah, Ciko tak mengetahuinya.


"Maksudnya ...?" Ciko meminta penjelasan.


"Tadi ... gue lepas kendali," lirih Kenan.


Ciko terperangah, seorang Kenan lepas kendali? Sebuah momen yang jarang-jarang terjadi, sepertinya Ciko harus menuliskan kejadian hari ini di catatan pribadinya.


"Hm ... jadi gue harus bikin ribuan kebohongan gitu?" tanya Ciko memicingkan matanya.


"Iya."


"Imbalannya apa?" tanya Ciko.


"Imbalan bisa di bahas nanti, saat Elora percaya sama kebohongan lo itu," jawab Kenan sembari melotot.


"Ok, gas!" teriak Ciko penuh semangat.


'Mobil baru ... aku datang ...' batin Ciko girang.


Sedikit informasi, Ciko alias Dokter Ciko ini adalah seorang pecinta mobil. Dan mobil yang paling ia sukai adalah mobil yang berada di garasi Kenan, karena kebanyakan mobil yang ada di garasi Kenan adalah mobil edisi terbatas.


Tadi siang, Ciko berhasil membawa sebuah mobil dari garasi Kenan sebagai imbalan atas upayanya menyelamatkan Elora dan ayahnya, lalu kini ... ia akan segera kembali membawa mobil dari garasi Kenan apabila berhasil membohongi Elora.


***


"Lo tunggu di sini!" perintah Ciko kepada Kenan.


"Lo merintah gue?" tanya Kenan menunjuk dirinya.


Ciko berdecak sebal.

__ADS_1


"Gini ya, Ken. Sekarang, tuh, nasib lo bergantung sama kinerja gue. Jadi, lo nurut aja," ujar Ciko kesal.


Ciko membuka pintu ruangan Elora, ia memasuki ruangan itu dengan pintu yang sengaja tidak ia tutup rapat supaya Kenan dapat mendengar serta melihat pekerjaannya.


Mata Ciko menyipit ketika melihat Elora yang tengah memeluk lututnya, kondisi yang memperihatinkan di mata Ciko.


'Anj*r! Si Elora sampe keliatan trauma gitu, gila ... si Kenan ganas amat!' batin Ciko.


Sorot mata Ciko tertuju pada seutas dasi di lantai yang ia yakini bahwa Kenan-lah pemilik dasi itu.


'Kok, gue jadi ngeri, yah?' batinnya lagi.


"Ternyata ... cowok yang jomblo kelamaan itu lebih bahaya dari cowok playboy," ucap Ciko yang menarik perhatian Elora.


"Ups!" Ciko menutup mulutnya.


Harusnya ia datang dengan kata-kata manis, eh! Ia malah kelepasan dan mengatakan hal yang tidak tepat untuk dikatakan di kondisi seperti ini.


Ciko menjadi kikuk saat mendapat tatapan sengit dari Elora.


"Hay! Elora cantik ...," sapa Ciko genit.


Elora memalingkan wajahnya dari Ciko, malas rasanya ia menghadapi pria yang dianggapnya sebagai pria genit.


Bugh!


Aw!


Ciko menengok ke arah belakang, di sana ia melihat Kenan yang melotot ke arahnya.


"Setan ...!" pekik Ciko berlari menghampiri Elora.


Elora beringsut menjauhkan dirinya dari Ciko yang sudah berada di sampingnya.


"Anda mau apa?" tanya Elora dingin.


"Gue ... eh! Saya mau ngomong, maksudnya bicara sama lo, kamu bukan lo," ucap Ciko dengan kata-kata yang acak-acakan.


Kening Elora mengkerut, heran kepada pria genit sekaligus aneh yang saat ini tengah berusaha mengajaknya mengobrol.


"Silahkan," acuh Elora.


"Jadi gue, maksudnya saya ---"


"Anda tidak perlu berbicara formal, bicaralah senyamannya," potong Elora.


Ciko tersenyum kikuk, rupanya Elora tahu bahwa ia tidak nyaman berbicara formal.


"Thank you, Elora ...," ucap Ciko sambil nyengir kuda.


"Ok, keknya gue harus ngenalin dulu diri gue," lanjut Ciko.


"Terserah anda!"

__ADS_1


'Ni cewek aura juteknya gak ngotak, sebelas dua belas-lah ama si Kenan.'


"Nama gue Arvian Ciko Pratama, alias Dokter Arvi alias Ciko. Jangan heran kalau nama gue gak nyambung, orang yang ngasih namanya aja ada tiga orang," tutur Ciko panjang lebar.


"Dokter Arvi?" ulang Elora.


"Anda Dokter Arvi yang populer itu?" tanya Elora antusias.


"He'em, gue Dokter Arvi. Emangnya kenapa?" ucap Ciko percaya diri.


"Saya penggemar berat Dokter," jawab Elora yang menambah tingkat kepercayaan diri Ciko.


"Hah ... udah gue duga. Tapi, kok, dari tadi siang lo gak bisa ngenalin gue?" tanya Ciko penasaran.


Elora menggaruk tengkuknya.


"Soalnya muka Dokter beda banget sama yang di internet, makanya saya gak kenal," kata Elora pelan.


Ciko menganggukkan kepalanya.


"Gantengan yang asli 'kan?" Ciko menaikkan kedua alisnya.


"Ini maaf banget, ya, Dok. Tapi se-penglihatan saya, gantengan foto Dokter yang di internet, em ... gimana yah? Yang asli keliatan agak tua." Elora mengatakan itu ragu.


"Hahahaha ...." Suara tawa terdengar dari luar ruangan.


'As*! Si Kenan denger lagi,'


"Gini ya, Elora sayang. Foto di Internet itu diambil 5 tahun yang lalu, pas gue masih umur 23 tahun, jadi wajar aja kalau tingkat kegantengannya beda," jelas Ciko yang mendapat anggukan dari Elora.


Hati Ciko dan Kenan terasa lega karena bisa melihat Elora kembali ceria. Berarti sekarang sudah waktunya membuat Elora kembali mempercayai Kenan.


"Elora, tujuan gue ke sini yang sebenarnya itu buat ngelurusin masalah yang dibuat si Kenan," ujar Ciko mulai serius.


Ekspresi Elora berubah menjadi muram tatkala mendengar nama Kenan.


"Saya tidak mau membahas baj*ngan itu," tolak Elora tegas.


'Mulutnya tajem banget. Fiks, ini jodohnya si Kenan." Ciko membatin.


"Bodo amat, lo cukup denger aja. Nanti lo juga ngerti kenapa si Kenan bisa cem tadi," kata Ciko sembari mendudukkan dirinya di sebuah kursi.


"So, si Kenan itu pernah punya calon istri dan nama calon istrinya itu Elora, sama kek lo." Perkataan Ciko berhasil menarik perhatian Elora.


"Suatu malem si Kenan dateng ke rumah tunangannya itu buat ngasih hadiah, tapi si Kenan malah mergokin tunangannya berjuang di ranjang sama cowok lain. Maksudnya, tuh, berjuang mencapai sesuatu yang enak. Si Kenan sebagai cowok kesel banget, dia mutusin tunangannya dan setelah kejadian itu si Kenan jadi kayak punya trauma sama hubungan antara cewek cowok." Ciko mengatakannya dengan lancar seolah-olah semua perkataannya itu adalah kenyataan.


"Tadi si Kenan bilang ke gue kalau dia itu kena halusinasi, dia nyangka kalau lo itu Elora mantan tunangan yang udah khianatin dia. Makanya dia ampe lepas kendali, gue harap lo ngerti, sih, sama situasi dia," lanjut Ciko.


"Lo harus tau, si Kenan itu rela bawa kerjaan ke sini demi nunggu lo sadar. Ah, pokoknya si Kenan itu bukan cowok jahat, percaya sama gue. Udah, ah, gue ngantuk mau balik. Bye Elora!" Ciko melambaikan tangannya kemudian berjalan meninggalkan ruangan Elora.


'Ternyata kita senasib, sepertinya aku akan memaafkannya. Ditambah lagi, dia juga sangat baik kepadaku, dan Dokter Arvi tidak mungkin berbohong.' ucap Elora dalam hatinya.


***

__ADS_1


__ADS_2