Elora

Elora
Bab_9 (Kekecewaan Gavin)


__ADS_3

"Yang lebih buruk dari sampah busuk adalah anda," jawab Gavin tersenyum miring.


Kenan hanya terdiam, samar-samar telinganya mendengar suara Elora yang saat ini masih berada di dalam ruangan perawatan. Kenan pun dengan cepat masuk kembali ke ruangan, meninggalkan Gavin yang tersenyum senang karena merasa berhasil memenangkan perdebatannya dengan Kenan.


Baru saja membalikkan badannya, Gavin berhasil dikejutkan oleh Kenan yang menutup pintu dengan begitu kencang. Dengan perasaan bingung Gavin melihat Kenan yang berlari kencang sembari memanggil-manggil nama Ciko.


Tak mau terlarut dalam pemikirannya, Gavin memutuskan untuk melanjutkan mencari Elora. Kerena, sedari tadi Elora terus teringat di benaknya, dan mungkin setelah bertemu Elora ia tidak akan kembali mengingat Elora.


Sedangkan di lain tempat ....


"Iya, sayang," ucap Ciko yang sedang melakukan video call bersama kekasihnya.


"Kamu itu---"


"An*ing!" pekik Ciko ketika pintu ruangannya di banting oleh Kenan yang tengah dalam kondisi panik.


"Kamu bilang aku an*ing? Pokoknya, detik ini juga kita putus!" seru si wanita.


"A--apa? Sayang, jangan putusin aku. Say ---"


Tut! Tut! Tut!


Belum sempat Ciko menjelaskan, sambungan video call sudah dimatikan sepihak oleh kekasihnya.


Ciko terus mencoba menghubungi kekasihnya, akan tetapi kekasihnya itu tak kunjung mengangkat teleponnya. Jangankan mengangkat teleponnya, membaca chat yang ia kirimkan saja enggan.


"Kenan ...!" teriak Ciko murka.


"Gara-gara lo gue jadi putus sama pacar gue, gue gak mau tau pokoknya lo harus tanggung jawab," ujar Ciko dengan mata yang melotot.


"Gak usah banyak omong lo!" bentak Kenan yang mampu menciutkan nyali Ciko.


"Sekarang lo cepetan periksa Elora!" perintah Kenan.


"Elora, Elora, Elora. Bosen gue dengernya," sahut Ciko sinis.


"Otak lo udah dicuci ya sama tu cewek?" sambung Ciko.


"Bac*t lo!"


Sejenak, Ciko berhenti bernafas. Kenan adalah tipikal orang yang jarang berkata kadar, dan kini orang yang jarang berkata kasar itu telah mengeluarkan kata kasarnya, dan lebih parahnya lagi kata kasar itu ditujukan kepadanya.


"Ok, Ken. Gue langsung periksa sekarang," ucap Ciko berlari-lari kecil meninggalkan Kenan yang tak henti-hentinya melempar tatapan tajam kepadanya.


'Bisa-bisa gue mokad kalau si Elora kenapa-napa,' batin Ciko seraya bergidik ngeri.


Ciko mempercepat langkahnya, ia tak mau telat dalam menangani Elora. Ya, walaupun saat ini ia dalam kondisi kesal, tapi ia tetap akan mengutamakan keselamatan pasiennya, karena itu adalah janjinya sebagai seorang dokter.


Sementara itu Kenan mengikuti Ciko dari belakang dengan tatapan yang kosong. Perasaannya yang dulu telah mati kini kembali hidup semenjak kedatangan Elora.


"Elora ...," gumam Kenan pelan.

__ADS_1


Gavin yang berpapasan dengan Kenan pun mendadak menghentikan langkah kakinya tatkala mendengar gumaman Kenan.


"Tadi dia nyebut nama Elora?" ucap Gavin pelan.


'Ah, mungkin Elora yang lain. Nama Elora 'kan bukan cuman ada satu. Lagian, mana mungkin juga Elora kenal sama cowok kayak begitu,' batin Gavin.


"Gimana?"


"Kenan iblis!" pekik Ciko kelepasan.


Ciko menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya, ia kelepasan gara-gara Kenan mengejutkannya dengan pertanyaan dikala ia tengah fokus memeriksa kondisi Elora.


"Maksud lo apa?" tanya Kenan meminta penjelasan.


"So--sorry, Ken. G--gue kaget," jawab Ciko terbata-bata.


"Beneran kaget?" Kenan kembali bertanya.


"I--iya, lo tau 'kan kalau gue itu orangnya kagetan," alibi Ciko.


"Lo serius cuman kaget? Bukan ngatain gue?" Kenan bertanya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ng-ngg ----"


Bibir Ciko mendadak kelu saat ingin menyangkal asumsi Kenan.


"Ayah ...," lirih Elora.


'Huh ... thanks, El,' batin Ciko seraya melirik Elora yang terbaring lemah di ranjang.


Dengan penuh perhatian Kenan mengusap kening Elora yang basah, hal itu pun tak luput dari perhatian Ciko.


'Haha ... si Kenan udah punya pawang, berarti gue harus baik-baikin si Elora. Nantinya, gue bakalan manfaatin si Elora buat nambahin koleksi mobil gue,' Ciko tersenyum miring.


"Ken, lo tenang aja! Racun di tubuhnya udah bersih, tinggal nunggu sadar doang," ujar Ciko memberitahukan kondisi terkini Elora pada Kenan.


"Terus sadarnya kapan?" tanya Kenan yang lantas membuat Ciko mendelik.


"Gue gak tau," jawab Ciko acuh.


"Kalau gitu silahkan lo pergi karena keberadaan lo udah gak dibutuhin lagi," usir Kenan.


Ciko sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak mencekik Kenan yang tak henti-hentinya menambah masalah hidupnya. Dengan perasaan kesal Ciko meninggalkan Kenan dan Elora, tujuannya kali ini adalah rumah kekasihnya.


'Andai gue lebih kaya daripada si Kenan ... udah pasti gue gak bakalan bisa dikendaliin sama dia, yang ada gue yang ngendaliin dia,' ucap Ciko dalam hatinya.


'Tapi, walaupun gue lebih kaya daripada si Kenan pasti tetep aja gue gak bisa ngendaliin dia sesuka hati. Secara ... jasa si Kenan ke gue itu besar banget,' lanjut Ciko masih dalam hatinya.


***


Setelah gagal menemukan keberadaan Elora, Gavin memutuskan untuk kembali ke kantornya untuk bekerja. Dan, kini pria itu baru saja tiba di rumahnya dengan keadaan lesu karena kelelahan bekerja.

__ADS_1


Gavin sedikit terperangah tatkala melihat pintu utama rumahnya tidak tertutup sempurna, padahal biasanya pintu rumahnya itu sudah dikunci ketika malam tiba. Namun, sekarang di jam 2 dini hari pintu rumahnya itu bahkan tidak tertutup sempurna.


Apakah ada maling?


Dengan perasaan was-was Gavin membuka pintu itu sampai terbuka lebar. Suasana di dalam rumahnya tampak biasa saja, tidak ada yang berubah.


Mungkin orang rumah lupa mengunci pintu, pikir Gavin.


"Dari mana saja kamu?" Suara itu membuat Gavin terkejut setengah mati.


Sorot mata Gavin langsung tertuju kepada asal suara, rupanya suara itu berasal dari ayahnya yang tengah duduk di sofa dengan melempar tatapan tajam kepadanya.


Gavin menghela nafas berat.


"Gavin abis dari kantor," jawab Gavin sembari menutup pintu dan tak lupa menguncinya, lalu ia berjalan ke arah ayahnya dan duduk di sofa yang berada di depan ayahnya.


"Kamu tidak menemani Elora?" tanya ayahnya serius.


"Gavin, jawab Ayah!" bentaknya.


Gavin tercekat ketika mendapat bentakan dari ayahnya, setelah kejadian di hari pernikahan ayahnya yang hampir tidak pernah membentaknya kini membentaknya. Sungguh, hati Gavin terasa seperti tercabik-cabik karena bentakan ayahnya.


"Ayah ngebentak aku?" ucap Gavin getir.


"Iya, kamu memang layak dibentak. Saat ini istri kamu sedang terpuruk dan kamu malah bekerja sampai tengah malam. Apa kamu masih waras!?" tutur ayahnya dengan nada tinggi.


Gavin mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Udah cukup ngomongnya?" tanya Gavin menahan emosi.


"Apa maks ---"


"Asal ayah tau, tadi siang aku keliling-keliling rumah sakit nyari Elora. Tapi Elora gak ada di sana," potong Gavin berapi-api.


"Ha ... mungkin saja tadi dia sedang berkencan dengan selingkuhannya. Makanya dia nggak ada di rumah sakit," sambung Gavin tersenyum miring.


Setelah mengatakan itu Gavin menundukkan kepalanya, tak bisa dipungkiri jika hatinya terasa nyeri karena kata-katanya sendiri.


Plak!


Suara tamparan keras itu terdengar begitu nyaring.


Gavin, pria itu ditampar ayahnya di kala ia baru mengangkat kepalanya. Tangan kirinya refleks menyentuh pipinya yang berdenyut akibat tamparan.


Gavin berdiri, berhadapan dengan ayahnya.


"Sekarang Ayah nampar aku? Hanya karena Elora Ayah sampe nampar aku? Ternyata benar, Ayah lebih sayang sama Elora daripada aku, anak kandung Ayah." Gavin mengatakan itu lalu langsung pergi meninggalkan rumah.


Sedangkan ayahnya hanya diam tak bergeming di posisinya.


'Apa tindakanku salah?' batinnya sembari melihat telapak tangannya yang tadi digunakan untuk menampar Gavin.

__ADS_1


__ADS_2