Elora

Elora
Bab_44 (Sepupu Tersayang?)


__ADS_3

Cantika kelabakan membereskan pakaiannya yang sudah hampir terlepas, Gavin juga tergesa-gesa memakai kemejanya yang tadi sudah tergeletak di lantai.


"Ayah sedang sakit, tetapi kalian masih bisa bercumbu mesra di sini. Hah ... benar-benar tidak punya hati nurani," sungut Elora memandang remeh ke arah pasangan biadab tersebut.


Cantika dan Gavin menatap Elora dengan tatapan penuh kebencian, Diky yang sadar akan kebencian mendalam dari pasangan itu menarik Elora untuk berdiri di belakangnya.


"Jaga mata kalian!" peringat Diky.


"Kalian harus ingat kalau Nona Elora berada di bawah perlindungan Tuan Kenan Anderson, maka dari itu perhatikan perangai kalian baik-baik," papar Diky penuh penekanan.


Setelah mendapat peringatan dari Diky, pasangan suami istri itu mengalihkan pandangannya dari Elora.


Elora menepuk punggung Diky.


"Kamu sudah boleh pulang," ujarnya seraya mengambil alih tas miliknya yang dipegang oleh Diky.


"Baik Nona, kalau Nona memerlukan sesuatu hubungi saya atau hubungi langsung Presdir Kenan," kata Diky menegaskan status Elora pada Cantika dan Gavin.


Diky pamit undur diri, Elora pun bergegas pergi menuju kamar menuju kamar mertuanya. Akan tetapi, Gavin menghalangi langkah kakinya. Sepertinya Gavin memiliki banyak pertanyaan untuk istri pertamanya, Elora.


"Ke mana saja kamu selama ini?" tanya Gavin sinis.


"Bersenang-senang dengan selingkuhanku," jawab Elora asal.


"Jangan membual Elora!" tekan Gavin.


Elora tertawa hambar, lalu ia melepaskan syal yang melilit lehernya, menunjukkan bekas ciuman Kenan yang terdapat di lehernya.


"Dasar murahan!" desis Cantika.


"Terserah kamu saja, aku terlalu lelah untuk berdebat dengan manusia-manusia lucknut seperti kalian," tutur Elora sinis.


Baru saja ia melangkahkan kakinya, tangan kirinya dicekal oleh Gavin.


"Sekarang kamu sudah mulai berani menunjukkan kegilaanmu, El. Maka dari itu, jangan salahkan aku kalau aku memamerkan kemesraanku dengan Cantika," ucap Gavin berniat memanas-manasi Elora.


Bukannya marah, Elora malah tersenyum lebar. Laki-laki yang dulu ia puja-puji ternyata tidak lebih baik dari mantannya yang terdahulu. Benar apa yang dikatakan oleh temannya, kalau laki-laki itu mudah berubah oleh bujuk rayu seorang wanita.


Lalu, melihat dari panasnya cum6uan yang tadi terjadi diantara keduanya. Elora yakin, bahwa Gavin sudah mulai menaruh rasa pada Cantika.


Elora menghentakkan tangannya dengan kencang sehingga cekalan Gavin bisa terlepas. Elora mundur beberapa langkah, matanya silih berganti melemparkan tatapan kebencian pada suami dan madunya.


"Silahkan tunjukkan kemesraan kalian kepadaku, aku sama sekali tidak keberatan ataupun cemburu. Karena aku juga bisa bermesraan dengan selingkuhanku, dan ya ... aku sangat puas dengan pelayanan yang diberikan olehnya," papar Elora yang membuat seseorang di belakangnya tersenyum lebar.


"Selingkuhanmu itu sangat luar biasa, El," puji seseorang.

__ADS_1


"Ten---"


'Tunggu, suara itu....'


Elora dengan sigap membalikkan tubuhnya.


"Kenan!" pekiknya terkejut.


Seingatnya, tadi Kenan masih berada di kantor. Lalu bagaimana bisa Kenan sudah berada di rumah mertuanya? Dan dari mana Kenan tahu alamat rumah mertuanya?


"Iya sepupu," sahut Kenan.


Sepupu? Elora mendelik mendengar Kenan memanggilnya dengan sebutan 'sepupu'. Sejak kapan orang tuanya memiliki hubungan dengan keluarga Anderson? Peduli apa ia dengan semua itu, yang penting ia bisa memanfaatkan hubungan 'sepupu palsu' antara ia dan Kenan.


"Aku hanya ingin memberikan ini untukmu, sepupu." Kenan memberikan Elora beberapa kantong belanjaan yang berisikan pakaian, sepatu, dan tas yang sengaja ia beli untuk Elora.


"Untuk apa?" tanya Elora keheranan.


"Hadiah karena kamu telah membuatku bahagia," jawab Kenan dengan senyuman yang terus mengembang.


Wajah Elora kembali bersemu merah, terbayang kejadian manis yang tadi terjadi bersama Kenan.


Elora mengambil hadiah dari Kenan, akan sangat mencurigakan kalau ia tidak mau menerima hadiah dari sepupu palsunya.


Cantika tercengang melihat barang-barang yang ditunjukkan Elora.


'Tas ... sepatu ... dress ....'


'I--tu semua yang aku incar dari dulu,' batin Cantika berteriak.


"Maaf kalau kamu tidak suka, soalnya aku memilih hadiahnya secara asal," ucap Kenan yang membuat Cantika semakin tercengang.


"Tidak, Ken. Hadiahnya sangat bagus, aku suka," balas Elora ceria.


"Syukurlah kalau kamu suka, kalau begitu aku harus kembali ke kantor," pamit Kenan.


Kenan merenggangkan kedua tangannya, Elora kebingungan dengan maksud Kenan tersebut.


"Kamu tidak ingin memeluk sepupumu yang tampan ini?" ucap Kenan memberitahukan Elora alasan ia merenggangkan kedua tangannya.


Elora tersenyum simpul, ia harus profesional dalam menjalankan perannya sebagai sepupu Kenan, dengan perasaan tak karuan ia memeluk Kenan.


"Kamu tidak boleh membuat anak dengan baj!ngan itu!" Kenan berbisik, memberikan peringatan kepada Elora yang berada di pelukannya.


"Memangnya kamu pikir aku mau membuat anak dengannya?" balas Elora pelan tapi tidak menghilangkan kesan sinis.

__ADS_1


"Bagus, bila kamu sangat ingin membuat anak ... segera beritahu aku," kata Kenan melepaskan pelukannya dari Elora.


Elora diam mematung, lagi dan lagi Kenan mengajaknya membuat anak. Jika bisa, ingin sekali ia mengorek isi otak Kenan untuk mengetahui apa-apa saja yang selalu dipikirkan oleh si pria yang gila kerja itu.


Tak mau ambil pusing, kali ini Elora benar-benar pergi menuju ke kamar mertuanya, tanpa ada gangguan dari Gavin yang tak bergeming lantaran kedatangan Kenan secara tiba-tiba.


***


"Arpin ******! Lo ada dendam apa sama gue...?" geram si gadis.


"Nama gue Arvin, bukan Arpin!" ralat si pria tak kalah geram.


"Bodo amat!" ketus si gadis.


"Gue udah bilang sama lo kalau gue itu gak sengaja," jelas pria bernama Arvin itu apa adanya.


"Kemarin lo nendang bola futsal ke punggung gue, kemarin-kemarinnya lagi lo lemparin bola voli ke kepala gue, sekarang lo ngelempar bola kasti ke jidat gue. Dan lo masih bilang gak sengaja?" papar si gadis tak sabaran.


Arvin menutup telinganya yang sakit karena si gadis berbicara dengan sangat kencang.


"Oy, Lisa blackpink! Namanya juga gak sengaja," sewot Arvin.


Gadis itu mengepalkan kedua tangannya, ia sangat-sangat marah. Demi apapun, ia tidak suka dipanggil lisa blackpink oleh pria menyebalkan yang saat ini berada di hadapannya.


"Nama gue Lisa Kalila!" tekan si gadis.


"Aaa .... arpin s!alan!


Setelah berteriak keras, gadis bernama Lisa itu menjambak rambut Arvin yang berwarna hitam legam.


"Sakit, Liss--aa ...."


Tak terima rambutnya dijambak, Arvin menarik rambut Lisa yang dikepang rapih hingga membuat Lisa mendongak seketika lantaran tarikan Arvin yang kencang dan tiba-tiba.


"****** lo, Pin! Cepetan lepasin rambut gue!" perintah Lisa yang terlihat tengah menahan rasa sakit di bagian kepala dan juga lehernya.


"Gak sudi!" Arvin menolak mentah-mentah perintah dari Lisa.


Tidak ada siswa atau pun siswi yang melerai pertengkaran hebat itu, jangan melerai, melihat saja sepertinya enggan. Hal itu dikarenakan mereka sudah jenuh melihat pertengkaran antara kedua orang itu hampir setiap hari.


"Arvin ....! Lisa ...!"


Mendengar suara teriakan yang menggelegar itu Arvin dan Lisa langsung melepaskan jambakannya.


"Abis gue!" ucap mereka secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2