
"Pah, ini calon istrinya si Kenan," ujar Ciko kesal.
"Apa? Jadi kamu hamilin calonnya si Kenan? Gak takut mati kamu?" cecar Papahnya.
"Ya ampun, Papah!" jerit Ciko.
Uhuk!
Elora kembali batuk darah.
"Haduh! Pah ... cepet tolongin! Ntar keburu mokad di anak," kata Ciko panik.
Papahnya mencoba untuk memahami situasi yang terjadi saat itu.
"Dia ... keracunan?" tanya Papahnya sambil fokus memperhatikan kondisi Elora.
"Iya, Pah."
"Dasar lemot! Kenapa gak bilang dari tadi, hah? Cepat bawa masuk ke ruang ICU!" perintah Papahnya galak.
Ciko menggerutu dalam hatinya, kali ini ia dihina, dipukul, dimarahi oleh Papahnya dalam satu waktu. Jika boleh, ingin sekali rasanya Ciko balik memarahi Papahnya yang bawel dan terlalu negatif thinking.
"Cepat Ciko!" geram Papahnya karena Ciko tak kunjung bergerak dari posisinya.
"Ho'oh!" sahut Ciko berlari cepat menuju ruang ICU.
"Ruangannya terlewat Ciko ...!" geram Papahnya.
Ciko berbalik kemudian berlari menuju ruangan ICU yang telah ia lewati tadi.
"Kamu buta, ya?" maki Papahnya.
Kali ini Ciko mengabaikan makian Papahnya, ya ... meskipun ia sangat ingin menyahuti makian Papahnya, tapi Ciko sadar bahwa saat ini nyawa seseorang tengah dipertaruhkan.
***
Setelah melewati perawatan intensif, akhirnya Elora dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
"Huft ... syukurlah nyawanya tertolong," ucap Papah Ciko seraya menghela nafas lega.
Ciko yang kelelahan baik dari segi fisik maupun mental pun terbaring lemas di lantai. Ketika menangani Elora, ia disuruh mengambil alat maupun obat-obatan oleh Papahnya. Bukan itu saja, selama proses penanganan berlangsung Papahnya tak berhenti-henti memaki dirinya.
"Dasar lemah!" ledek Papahnya.
"Ciko gak lemah, Ciko cuman capek," sahut Ciko tak terima.
"Sama saja," sanggah Papahnya.
"Serah Papah," pasrah Ciko yang sudah terlalu lelah untuk beradu argumen dengan Papahnya.
Tiba-tiba saja Papahnya teringat akan ucapan Ciko.
"Ciko, kamu bilang dia calon istrinya Kenan. Kamu serius?"
Perlahan Ciko bangun dari rebahannya, ia berdiri dan memilih untuk duduk di sofa, di samping Papahnya. Untuk memberitahukan berita seputar Kenan, Ciko tidak bisa mengatakannya dalam posisi yang tidak tepat.
__ADS_1
"Iya, dia calon istrinya Kenan," jawab Ciko mulai serius.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Papahnya penasaran.
"Kenan sendiri yang ngasih tau Ciko."
Papahnya terdiam sejenak, otaknya belum bisa menerima fakta bahwa Kenan mempunyai calon istri. Karena sepengetahuannya, Kenan itu mempunyai perasaan tak suka yang begitu besar terhadap wanita dikarenakan trauma atas kejadian mengerikan di masa lalu yang terus membayangi dirinya.
Namun, di sisi lain ia merasa bersyukur karena Kenan bisa mengalahkan traumanya dengan mendapatkan seorang gadis.
"Tapi ...." Ciko menggantungkan perkataannya.
"Dia ...." Ciko menunjuk Elora.
Papahnya yang kesal karena Ciko bertele-tele dalam berbicara pun dengan tanpa perasaan memukul pundak Ciko.
"Dia udah punya suami," ucap Ciko cepat.
"Apa!?" pekik papanya kaget.
"Biasa aja, dong, Pah. Gak usah sampe mangap begitu," tegur Ciko.
Papahnya melirik Ciko sinis.
"Bagaimana mau biasa saja, hah? Ini Kenan suka sama istri orang, loh. Dasar! Kalian berdua sama saja, sukanya sama janda," ujar Papahnya tajam.
"Si Kenan doang, Pah! Masa iya Ciko suka sama janda," balas Ciko tak terima.
"Terus si Lastri itu gimana, tuh?" kata papahnya menaikkan kedua alisnya.
"Tetep aja kamu juga pernah suka sama janda," celetuknya.
"Iya, Pah, iya."
Ciko tak lagi menyangkal kenyataan bahwa dirinya pernah menyukai janda, itu ia lakukan demi membuat papahnya tutup mulut.
Papahnya tersenyum lebar, mengerjai putranya adalah hobi yang paling ia sukai. Istrinya dan Ciko adalah penawar rasa lelah yang ampuh untuk dirinya.
"Ciko, Papah mau pulang duluan. Kamu jagain calonnya si Kenan baik-baik," pamitnya.
"Calonnya si Kenan? Jadi Papah setuju kalau si Kenan ngerebut istri orang?" tanya Ciko heran.
Papahnya menghela nafas panjang.
"Mau bagaimana lagi, kamu juga tahu Kenan itu seperti apa," kata papahnya dengan tatapan yang menerawang.
Ciko menganggukkan kepalanya, semenjak Kenan mulai mengambil alih aset keluarga Anderson tidak ada lagi yang bisa menentang keinginan Kenan.
Kalau ada yang menentang keinginannya ... Kenan tak segan untuk memberikan penderitaan kepada orang itu, dan sampai saat ini korban Kenan sudah mencapai puluhan atau mungkin ... ratusan.
Akh!
Ringis Papah Ciko saat wajahnya terbentur pintu yang dibuka dari luar.
"Ahahahaha ...." Tawa Ciko meledak seketika itu pula.
__ADS_1
"Papah!" panggil seorang wanita paruh baya yang di mana tangan kanannya itu memegang gagang pintu.
"Ya ampun! Maafin Mamah, Pah!" seru sang Mamah menghampiri suaminya yang meringis menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangan.
"Iya, gak papa, Mah," sahutnya pelan.
"Ciko! Kenapa kamu malah tertawa?" bentak sang Mamah.
"Cepat tolong Papah kamu!" lanjutnya masih dengan nada membentak.
Ciko menghentikan tawanya, ia menghampiri papahnya untuk melihat luka yang di wajah sang Papah.
"Pft ... hahahaha ...." Tawa Ciko kembali meledak begitu melihat darah keluar dari hidung papahnya.
Plak!
Kepala Ciko di geplak oleh sang Mamah menggunakan handphone.
"Ssh ... sakit, Mah!" keluh Ciko mengusap bekas geplakan mamahnya.
"Makanya, cepat tolong Papah kamu!" perintah mamahnya tegas.
Ciko mencebikkan bibirnya kesal.
"Nih, Pah!" Ciko menyodorkan tisu yang memang tersedia di ruangan rawat tersebut.
Papahnya yang disodorkan tisu oleh sang anak pun mengambilnya tanpa ragu.
"Bukan dikasih tisu Ciko! Kamu periksa Papah, takutnya ada bagian wajah Papah yang retak atau patah," cerocos sang Mamah.
Ciko dan papahnya saling pandang.
"Mah, Papah cuman terluka sedikit. Jadi gak perlu pemeriksaan intensif," ucap si Papah pelan.
"Iya, tuh, Mah. Lagian, benturannya juga nggak kenceng-kenceng amat," timpal Ciko.
"Yasudah kalau begitu," acuh sang Mamah.
Pandangan Mamah Ciko itu tertuju pada Elora yang terbaring tak sadarkan diri. Sorot mata penuh kesedihan terpancar dari wajahnya yang mulai berkeriput.
"Liora ...," lirihnya sendu.
"Liora!" Ia memekik keras lalu mendekati Elora.
Dia, Mamah dari Ciko berdiri di samping ranjang Elora. Sembari menangis ia menggenggam tangan Elora.
"Akhirnya Mamah bisa ketemu kamu lagi," ucapnya terisak.
Ciko diam mematung, air matanya luruh begitu saja, tidak bisa dipungkiri kalau dirinya teringat akan sang adik yang telah lama meninggalkannya. Lalu sekarang, mamahnya mengira bahwa Elora adalah putrinya Liora.
Tepukan di pundak Ciko menyadarkannya dari lamunan. Sontak saja Ciko bergegas menyeka air matanya. Ciko tercenung kala melihat papahnya juga menitikkan air mata sama seperti dirinya.
"Papah takut Ciko," kata sang Papah pelan.
Benak Ciko dipenuhi oleh bayangan kejadian dulu di mana gangguan kejiwaan mamahnya menjadi parah. Karena kejadian itu ia harus berpisah bersama sang Mamah selama beberapa tahun, dan ia tak sudi jika itu harus terjadi lagi.
__ADS_1
"Papah tenang aja, Ciko gak akan biarin Mamah jadi seperti dulu," hibur Ciko.