Elora

Elora
Bab_52 (Hobi Baru Kenan)


__ADS_3

"Kenan, apa yang mau kamu lakukan, hah?" teriak Elora panik.


Kenan tak mengindahkan teriakan Elora, ia terus menekan Elora di dinding, menahan semua pergerakan Elora. Lengannya pun meraih tangan Elora yang menahan dadanya, lalu mengangkatnya ke atas kepala Elora dan menahannya menggunakan tangan kanannya.


Jantung Elora berpacu dengan kencang, ia selalu tidak berdaya di bawah kukungan Kenan. S!alnya, walaupun Kenan sering berbuat yang tidak-tidak terhadapnya, Elora tetap tidak mampu untuk membenci apalagi sampai memusuhi Kenan.


"Berhenti, Kenan!" jerit Elora tatkala Kenan menyusuri bagian lehernya dan memberikan beberapa kecupan kecil.


Elora menggeliatkan tubuhnya, gerakan-gerakan Elora itu membuat nafsu Kenan semakin membara.


"Jangan seperti ini, Kenan ...." lirih Elora.


"Sudah ku bilang jangan banyak bergerak!" Kenan meninggikan suaranya.


"Aku tidak bisa diam saja ketika dilecehkan olehmu!" balas Elora sengit.


"Menikahlah denganku," ungkap Kenan dengan wajah yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Elora.


Sejenak, Elora berhenti bernapas. Ia tidak percaya atas ungkapan Kenan yang mengajaknya menikah di saat ia masih berstatus sebagai istri seorang Gavin Aryasatya.


"Kamu gila, Kenan!" maki Elora dengan sorot matanya yang tajam.


"Kamu benar, El. Aku itu seorang pria gila yang kekurangan kasih sayang," ucap Kenan dengan tatapan sendunya.


Kenan mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Elora, takut akan perlakuan Kenan, Elora memalingkan wajahnya sehingga ciuman Kenan mendarat di pipi kirinya, bukan di bibirnya.


"El, jangan menguji kesabaranku!" geram Kenan.


"Kamu juga jangan bertindak semaunya terhadapku, tolong hormati statusku yang masih menjadi istri pria lain!" tutur Elora berapi-api.


"Tolong ingat semua yang telah aku lakukan untukmu, El ...." Kenan melepaskan cekalannya pada kedua tangan Elora.


"Aku hanya meminta cium4n atas semua yang aku lakukan untukmu, apakah begitu sulitnya untukmu mengabulkan keinginan orang yang selalu baik kepadamu, El," papar Kenan panjang lebar.


Elora termenung setelah mendengar paparan Kenan yang membuatnya tidak berpikir secara rasional.


"Baiklah, lakukan! Tapi, hanya sebatas cium4n saja, tidak lebih," putus Elora yang memunculkan senyuman Kenan.


Kenan meraup bibir Elora yang ia inginkan sedari tadi, tangan kanannya menekan tengkuk Elora untuk memperdalam cium4an sepihkanya tersebut. Sementara itu, tangan kirinya berada di pinggang Elora.


Mata Kenan terpejam rapat, ia nampak menikmati ciuma4nnya yang tak dibalas oleh Elora.


Pupil mata Elora membesar saat tangan kiri Kenan yang berada di pinggangnya menyusup masuk ke baju yang dikenakannya dan mengusap-usap punggungnya. Dan ....

__ADS_1


Klek!


Kaitan bra Elora berhasil dilepaskan oleh Kenan.


Kepanikan Elora semakin menjadi begitu tangan Kenan mulai bergerak ke bagian depan tubuhnya, bahkan sebentar lagi tangan nakal itu akan menyentuh titik yang tidak boleh disentuhnya.


Elora menggigit bibir Kenan yang berhasil memutus cium4an panasnya.


"Breng$ek!" Elora mendorong kencang tubuh Kenan.


"Pergi sana!" usir Elora.


Kenan terkekeh ketika Elora mengusirnya, pasca mencuri sebuah kecupan pada bibir Elora, ia bergegas meninggalkan dapur.


Elora menyentuh bibirnya yang terasa membengkak akibat cium4n Kenan yang sangat agresif, ia merutuki dirinya yang bisa-bisanya menyetujui permintaan Kenan, ia terduduk lemas di lantai dengan tatapan yang kosong.


"Kenapa aku selalu tidak berdaya ketika berhadapan dengan Kenan? Dan kenapa aku tidak bisa membenci Kenan walaupun ia selalu berbuat semaunya terhadapku?" Elora bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


"Tidak mungkin kalau aku mempunyai perasaan lebih kepadanya, walaupun iya ... tetap saja aku tidak bisa bersamanya karena ikatan pernikahan yang menyakitkan ini," lanjut Elora mengalihkan pandangannya pada cincin yang terpasang di jari manisnya.


Cincin bertatahkan berlian itu adalah tanda bahwa ia telah dimiliki oleh seorang pria, ia ingin melepasnya, tapi ia tidak sanggup karena janji yang pernah ia buat bersama Gavin.


***


"Wah ... masakan Kak Elora enak banget ...," puji Lisa dengan wajah yang berbinar-binar.


"Om?" seru Elora mengernyitkan keningnya.


"Iya, soalnya Om Kenan udah tua," jawab Lisa menyuapkan sesendok nasi.


Tuk!


Satu buah apel mendarat tepat di bekas luka yang berada di kening Lisa.


"Aduh!" Lisa meringis, merasakan sakit yang teramat di keningnya.


Elora yang belum mulai menyantap makan siangnya itu menghampiri Kenan dengan centong nasi yang berada di genggaman.


Tuk!


Elora memukul keras kening Kenan menggunakan centong nasi yang menjadi senjata andalannya untuk menghadapi keberingasan Kenan.


Tawa Lisa meledak-ledak saat melihat ekspresi Kenan yang mengkhawatirkan, pria berpangkat tinggi itu tampak amat terpukul atas serangan Elora yang mencabik-cabik karismanya sebagai pewaris sah keluarga Anderson.

__ADS_1


"Aku pulang ...!" seru Gavin memasuki ruang makan.


Elora mengetuk-ngetuk keningnya, seingatnya Gavin akan berkerja ke luar kota, tapi mengapa ia sudah pulang kembali ke rumah.


"Wah ... baju Om Kenan sama kayak baju Om itu!" ucap Lisa menunjuk Gavin yang baru saja tiba.


Mata Kenan membola, rupanya Elora membelikan Gavin baju yang sama persis dikenakannya hari ini.


"Om itu lebih cocok pake bajunya daripada Om Kenan!" Lisa mulai memanas-manasi Kenan.


"Kak Elora, itu suami Kakak, yah?" tanya Lisa memastikan.


Elora menganggukkan kepalanya ragu-ragu.


"Hebat, suami Kakak jauh lebih ganteng kalau dibandingin sama Om Kenan!"


Perkataan-perkataan Kenan membuat suasana ruangan itu memanas, Kenan yang tak kuasa menahan amarahnya pun meraih sebuah sendok garpu. Elora yang memang memperhatikan gerak-gerik Kenan buru-buru merebut sendok garpu yang sepertinya akan dilemparkan ke arah Gavin.


"Duduk, Ken!" Elora menyentuh bahu Kenan, memaksa pria berbadan kekar itu untuk duduk dan menyantap hidangan makan siang dengan tenang.


"Mas, bukannya kamu mau ke luar kota? Kok, sekarang kamu udah ada di sini?" tanya Elora kikuk.


"Tidak jadi, mungkin minggu depan aku berangkat," jawab Gavin seadanya.


"Kalau gitu, kamu duduk! Kita makan siang bareng-bareng," ucap Elora mempersilahkan Gavin menduduki kursi kosong yang berada di samping kursinya.


Suasana di meja makan berhasil di kondusifkan oleh Elora dengan cara ia duduk di antara Kenan dan Gavin. Sesekali ia menendang kaki Kenan sebagai peringatan supaya Kenan tidak membuat keributan saat tengah menyantap hidangan.


***


"Akh ... sakit Kakak!" Lisa meraung-raung saat Elora mengobati luka di keningnya.


"Lebay kamu!" Kenan melempar bantal ke wajah Lisa.


Elora menghembuskan nafasnya kasar, ia baru tahu bahwa salah satu hobi Kenan adalah melempar-lemparkan barang.


"Ke luar kamu! Aku mau mengobati punggung Lisa!" Elora kembali mengusir Kenan.


"Ya obatin aja, kenapa harus ngusir aku?" sergah Kenan dengan tampang watados nya.


"Ke luar Kenan ...!" teriak Elora penuh penekanan.


Dengan perasaan tak rela Kenan beranjak pergi dari kamar Elora. Ketika ia keluar dari kamar, ia berpapasan dengan Gavin yang baru berganti pakaian.

__ADS_1


"Saya tidak mengerti kenapa bisa perempuan sebaik Elora menjadi istri seorang ba7ingan seperti anda!?" sinis Kenan yang tak ditanggapi serius oleh Gavin.


Suami Elora itu pergi, mengabaikan Kenan yang tampaknya ingin sekali menghajarnya.


__ADS_2