
"Lo jangan masuk sekarang, biarin Elora istirahat," larang Ciko di saat melihat Kenan yang tidak sabar ingin memasuki ruangan Elora.
Kenan memejamkan matanya sejenak, lalu dengan berat hati ia menutup rapat-rapat pintu ruangan rawat Elora.
"Ok," sahut Kenan.
"Ken, mending lo cepetan balik sana! Badan lo bau asem anj*r," usir Ciko seraya menutup hidungnya.
"Lo belum mandi dari pagi, yah?" tanya Ciko.
"Gak usah banyak omong, lo!" bentak Kenan kemudian melenggang pergi begitu saja.
Ciko bergidik ngeri, bisa-bisanya ada orang yang mandi paginya tahan sampai tengah malam.
"Cinta bisa membuat orang mati rasa," gumam Ciko seraya terkekeh.
Ciko, alias Dokter Arvi itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan melanjutkan tidur nyenyaknya. Sedangkan untuk ruangannya yang berantakan, ia akan membereskannya besok.
***
Elora terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak, mungkin karena ia sedang berada di rumah sakit. Selain faktor tempat, faktor pikiran juga mendorong Elora susah untuk tertidur nyenyak.
Saat ini Elora belum tahu bagaimana kondisi ayahnya, juga entah kenapa perasaannya tidak enak dari semalam.
Apakah akan ada nasib buruk yang kembali menimpa dirinya? Pertanyaan itulah yang terus berputar di kepala Elora.
Elora mengaktifkan handphonenya.
"Sudah jam tujuh, tapi masih belum ada satu orang pun yang datang ngejenguk aku ...," ucap Elora tersenyum kecut.
Elora melirik sarapan serta obat yang sudah tersedia di meja, tadi sekitar jam setengah tujuh seorang perawat datang membawakan sarapan untuknya.
Sebelum memakan sarapannya, Elora memilih untuk pergi ke toilet terlebih dahulu untuk sekadar buang air serta membasuh wajahnya. Pelan-pelan Elora menurunkan kedua kakinya, tangan kanannya meraih sebuah tongkat yang memang telah disiapkan untuknya.
Bisa saja Elora meminta tolong kepada perawat, akan tetapi memanggil perawat akan membutuhkan waktu beberapa saat, sedangkan ia sudah tidak tahan ingin buang air kecil.
Selang beberapa saat, Elora keluar dari toilet dalam keadaan yang tidak cukup baik. Wajahnya menjadi lebih pucat, dengan buliran keringat dingin membasahi kulitnya.
"Kenapa tubuh aku kerasa capek banget, padahal aku cuman jalan ke toilet," gumam Elora berusaha kuat menahan tubuhnya yang serasa akan segera ambruk.
"Akh!" Tubuh Elora ambruk ke lantai, ia meringis memegangi kakinya yang kembali memunculkan rasa sakit akibat berbenturan dengan lantai.
Elora beringsut mendekati tombol yang biasa digunakan untuk memanggil perawat.
__ADS_1
"Elora ...!" panggil seorang pria dari ambang pintu.
Perhatian Elora teralihkan kepada orang yang memanggilnya, dan ... orang yang memanggilnya adalah Kenan. Padahal, orang yang sangat ia harapkan datang di saat ini adalah Gavin, bukan Kenan.
Kenan berlari menghampiri Elora, ia berjongkok di samping Elora.
"Elora, saya minta izin untuk membantu kamu," pinta Kenan penuh harap.
Elora tertegun, benar adanya yang dikatakan Ciko semalam. Kenan adalah pria baik, buktinya ia sampai meminta izin hanya untuk membantunya.
"Elora!" panggil Kenan pelan.
"Iya," sahut Elora.
"Bagaimana?" tanya Kenan menaikkan sebelah alisnya.
"Ah, baiklah," jawab Elora agak malu-malu.
Sekilas senyuman terbit di wajah tampan Kenan. Elora yang kemarin malam memakinya, kini malah menjadi malu-malu kepadanya.
Tanpa basa-basi lagi, Kenan mengangkat tubuh Elora lalu menaruhnya di ranjang. Kemudian, ia berjalan ke bagian samping kanan ranjang dan menduduki kursi yang disediakan untuk orang yang menunggu pasien.
"El, apa perlu saya panggil perawat? Atau Ciko yang harus saya panggil ke sini?" Pertanyaan Kenan terasa berlebihan di telinga Elora.
"Ti--tidak usah!" tolak Elora.
"Biar saya suapi," usul Kenan tatkala tangan Elora bergerak untuk mengambil alih piring yang ada di tangan Kenan.
"Jangan! Saya bisa sendiri," tolak Elora halus.
"Kamu yakin?" tanya Kenan ragu.
"Ya, hanya sekadar makan saja saya bisa," jawab Elora mantap.
Kenan hanya menanggapi jawaban Elora dengan senyumannya yang termanis. Untuk sekarang, lebih baik baginya untuk tidak terlalu memaksa Elora, takutnya Elora keburu menjauh sebelum ia dekati.
Piring sarapan sudah berada di pangkuan Elora, ia sudah bersiap untuk menyantap sarapannya yang sama sekali tidak menggugah seleranya.
"Kamu harus habiskan walaupun makanan itu tidak enak. Nanti, setelah kamu keluar dari rumah sakit saya janji akan membawa kamu mencari makanan yang enak," kata Kenan dengan maksud membujuk sekaligus melakukan pendekatan.
"Haha ... baiklah, saya menunggu janji itu," balas Elora ceria.
Sihir apa yang ada pada diri Kenan sampai-sampai bisa membuat Elora menyetujui perkataannya.
__ADS_1
"El, saya minta maaf mengenai masalah semalam," ucap Kenan serius.
"Uhuk!" Elora yang sedang menyantap sarapannya tiba-tiba saja tersedak.
Secara sigap Kenan mengambil air minum dan diberikannya air minum itu kepada Elora.
"Saya mengerti, jadi sebaiknya kita melupakan saja kejadian semalam," saran Elora yang mendapat respon baik dari Kenan.
Kegiatan sarapan Elora kembali tertunda oleh handphonenya yang berbunyi. Beberapa kiriman foto masuk di aplikasi WhatsApp Elora, dan anehnya lagi foto-foto itu dikirimkan oleh nomor orang yang tak dikenalnya. Karena terlanjur penasaran, Elora pun membuka foto-foto yang dikirimkan orang asing itu.
"Ada apa, El?" tanya Kenan yang heran dengan perubahan ekspresi Elora yang sangat cepat.
Elora tak mengindahkan pertanyaan Kenan, wanita itu malah menekan-nekan layar handphonenya dengan perasaan tak karuan.
"Elora ...!" Seruan Kenan masih tak diindahkan Elora.
Elora menghubungi nomor Gavin melalui panggilan video, tetapi Gavin tak kunjung menerimanya. Elora tak mau menyerah begitu saja, ia terus menghubungi nomor Gavin. Setelah 5 kali panggilan videonya di hiraukan, akhirnya Gavin menerima panggilan videonya itu.
Mata Elora membola ketika wajah Cantika yang muncul di panggilan video itu.
Apa yang terjadi? Bagaimana bisa handphone Gavin berada di tangan Cantika? Lalu, mengapa Cantika berbaring di ranjang dengan ekspresi lelah serta tubuh yang hanya ditutupi oleh selimut? Lantas, di mana Gavin? Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti muncul di benak Elora.
"Kak El!?" panggil Cantika di panggilan video tersebut.
Elora terkesiap.
"Ma--mas Gavin?" ucap Elora tergagap.
Cantika menggerakkan handphonenya, hingga kamera handphonenya itu menangkap sosok Gavin yang tertidur lelap dengan selimut yang hanya menutupi bagian perutnya.
Air mata Elora keluar tanpa di komando, hatinya bagai di sayat sembilu, perih ... sangat perih.
"Argh ...!"
Prang ...!
Elora membanting handphonenya ke lantai, piring yang ada di pangkuannya pun ikut di lemparkan olehnya.
"Kenapa tuhan? Kenapa engkau tak berhenti memberikan nasib buruk kepadaku?" jerit Elora diiringi isak tangis.
"Apa salahku!?" Elora menjambak rambutnya, lalu memeluk kedua lututnya dam menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Sontak, Kenan berdiri kemudian memeluk tubuh ringkih Elora. Ia mengelus rambut Elora, memberikan ketenangan kepada wanita yang tengah rapuh ini.
__ADS_1
"Apa salahku?" kata itu terus mengalun pelan dari mulut Elora.
"Kamu tidak salah apa-apa, El," hibur Kenan sambil memberi kecupan-kecupan kecil pada puncak kepala Elora.