
"Tidak! Aku tidak mungkin menghancurkan hari bahagia Cantika." Elora menepis jauh-jauh pikiran buruknya.
"Ini semua adalah takdir dari tuhan, dan aku harus kuat menjalaninya. Karena aku yakin kalau tuhan itu maha adil, hari ini aku menderita, mungkin di hari mendatang aku akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira," gumam Elora di tengah-tengah keadaan yang riuh.
Elora cepat-cepat menyeka air matanya, ia harus kuat. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang-orang, terutama di hadapan Ibu tiri serta sepasang pengantin baru yang tengah berbahagia itu.
Elora melangkahkan kakinya yang terasa begitu berat untuk digerakkan. Elora berjalan dengan pandangan yang terfokus pada pelaminan yang teramat indah, jauh lebih indah dari pelaminannya beberapa hari yang lalu.
'Elora, kamu adalah wanita yang kuat. Jika aku yang berada di posisimu, mungkin aku akan lebih memilih untuk membunuh mereka,' batin Kenan.
Cantika tersenyum miring melihat Elora yang akan segera berhadapan dengan dirinya. Teman perempuan Cantika yang kebetulan berada di sekitar pelaminan juga melihat kedatangan Elora, dan setelah
mendapat sebuah isyarat dari Cantika ia bergegas untuk mengambil segelas minuman dingin.
"Ah, Elora! Syukurlah kamu datang," seru si Ibu tiri menyadarkan Gavin akan kedatangan Elora.
Mata Gavin terbelalak, setelah beberapa hari menghilang Elora tiba-tiba saja datang di hari pernikahannya.
Elora mengabaikan seruan Ibu tirinya, ia bergerak mendekati Gavin hingga posisi mereka tepat saling berhadapan.
"Selamat atas pernikahanmu, Mas. Semoga kamu tidak menyesal atas keputusan yang telah kamu buat, dan jangan sampai kamu membuat Cantika sama sepertiku, menderita setelah berlangsungnya pernikahan ," tutur Elora berusaha untuk tetap tegar.
Gavin tertegun, penuturan Elora itu benar-benar menusuk hatinya. Perkataan Elora membuat Gavin merasa menjadi orang yang paling bertanggungjawab atas penderitaan yang dialami oleh Elora.
"Dan untuk kamu Cantika---"
Perkataan Elora disela oleh suara orang-orang yang riuh, bahkan ada beberapa suara jeritan yang memekakkan telinga.
"Mereka sangat keterlaluan!"
"Pria pengecut!"
Sekiranya kalimat itu yang terdengar oleh Elora.
Elora, Gavin, Cantika, dan ibu tirinya belum menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sampai ... teman Cantika menunjuk layar besar yang menampilkan video kejadian di rumah sakit ketika Elora ditampar oleh Gavin, setelah itu juga muncul video singkat persetubuh*n Gavin dan Cantika.
Layar yang tadinya menunjukkan foto-foto prewedding yang membuat orang-orang iri, kini berganti dengan video yang memicu kebencian pada mereka berdua.
"Matikan itu, cepat matikan!" teriak Gavin panik.
__ADS_1
Layar besar itu cepat-cepat dimatikan oleh pihak yang bertanggung jawab.
'Itu adalah balasan atas perlakuan kalian terhadap Elora.' Kenan membatin.
Seusai layar itu dimatikan, suasana pun menjadi hening. Tamu undangan yang jumlahnya terbilang banyak itu tidak ada yang bersuara, mereka menunggu tanggapan dari orang yang bersangkutan.
"Siapa yang berani-beraninya memutar video itu?" Gavin berteriak dengan suara yang teramat nyaring.
"Siapa lagi kalau bukan dia!" seru Cantika lantang dengan telunjuk yang mengarah pada wajah Elora.
"Bukan aku!" bantah Elora tak kalah lantang.
Gavin menatap Elora dengan tatapan yang tajam, ia tak percaya dengan bantahan Elora. Sebab, Elora adalah satu-satunya orang yang hapal betul dengan kejadian-kejadian tersebut.
'Aku harus bisa membalikkan fakta,' batin Cantika.
"Tidak usah membantah, Elora!" bentak Gavin.
"Tapi aku tidak melakukannya, Mas!"
"Cukup Elora!" Gavin mencengkeram kuat lengan Elora.
"Berhenti, Mas. Itu hanya akan membuat kamu semakin buruk di hadapan orang-orang," bisik Cantika.
"Aku sudah mempunyai rencana," lanjut Cantika tersenyum tipis.
Firasat buruk mulai menyerbu Elora kala Cantika mengambil mikrofon.
"Saya meminta maaf atas kejadian yang terjadi, sebenarnya video itu video palsu alias video hasil editan. Karena ada orang yang tak suka dengan pernikahan kami, dan orang itu adalah istri pertama Mas Gavin, Kak Elora," tutur Cantika yang jelas saja membuat orang-orang terperanga.
"Saya akan menceritakan semuanya dari awal agar kalian semua bisa mengerti. Jadi, alasan saya menikahi mas Gavin adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perselingkuhan Kak Elora. Awalnya saya tidak mau menikahi Mas Gavin, tetapi demi membuat keluarga Mas Gavin memaafkan Kak Elora saya rela menjadi istri kedua dari Mas Gavin," lanjut Cantika mendramatisir setiap kata yang dia ucapkan.
Perkataan Cantika yang dramatis itu sepertinya sukses mendapatkan kepercayaan dari para tamu.
"Saya juga punya bukti perselingkuhan Kak Elora," ucap Cantika.
Elora diam mematung, rupanya Cantika telah merencanakan semuanya. Cantika ingin membuat Elora tidak berani untuk menegakkan kepalanya.
Tak lama kemudian, foto-foto Elora ketika memapah pria di sebuah hotel, ada juga foto Elora yang dipeluk oleh Ciko.
__ADS_1
"Bisa kalian lihat, itu adalah bukti perselingkuhan Kak Elora," kata Cantika penuh percaya diri.
"Dan untuk video tadi, Kak Elora sengaja mengedit video itu untuk menghancurkan pernikahan saya dan Mas Gavin karena tidak terima diduakan. Padahal kejadian ini adalah buah dari perbuatannya, harusnya Kak Elora bersyukur karena Mas Gavin tidak menceraikan Kakak." Cantika mengatakannya dengan air mata yang mengalir.
"Kak El---"
Plak!
Elora menampar Cantika lantaran sudah tak tahan akan tuduhan Cantika yang tidak berdasarkan fakta.
Cantika, adik tiri yang selalu ia perlakukan dengan baik dengan lantangnya menjelek-jelekkan dirinya. Selama ini ia mengira kalau Cantika itu berbeda dengan ibunya, tetapi perkiraannya itu salah, Cantika sama jahatnya dengan ibunya.
"Kak El ...," lirih Cantika.
"Elora, beraninya kamu menampar Cantika! Jika tujuanmu ke sini hanya untuk menghancurkan pernikahan kami, lebih baik kamu pergi dari sini!" usir Gavin tanpa perasaan.
Tubuh Elora bergetar hebat, air mata yang ia tahan-tahan akhirnya keluar juga. Di fitnah dengan keji oleh adik tirinya, kehilangan kepercayaan sepenuhnya dari Gavin, ditatap dengan sorot kebencian oleh ratusan orang.
Kali ini dirinya benar-benar hancur, harapan-harapan yang ia simpan tak lagi ada, yang ada dipikirannya adalah ingin cepat-cepat mengakhiri siksaan yang menimpanya.
Byur!
Tina, teman Cantika menumpahkan segelas minuman dingin pada kepala Elora.
Semua orang meneriaki Elora, kata-kata kasar, hinaan bersatu menyerang indera pendengaran Elora. Para tamu semuanya telah termakan bualan Cantika.
Beberapa orang yang berada di dekat pelaminan, melempari Elora menggunakan tisu, bahkan sendok dan garpu.
Elora tak melakukan apa-apa, ingin berlari keluar pun ia tak sanggup melewati kerumunan orang-orang yang mencacinya.
Buk!
Prang!
Sebuah gelas yang dilemparkan seseorang menghantam kening Elora, darah segar pun keluar dari kening Elora.
Elora menyentuh darah di keningnya, kemudian tersenyum getir.
Prang!
__ADS_1
Kenan memecahkan gelas yang digenggamnya sampai mengakibatkan telapak tangannya berdarah.
"Diky, lakukan sesuatu!" perintah Kenan berapi-api.