
"Lisa ...! Kali ini apa yang kamu lakukan, hah!?" tanya Kenzo dengan nada yang meninggi.
"Itu --- kata Bu BK, sih ... gara-gara aku sering berantem sama si Arpin," jelas Lisa sembari menundukkan kepalanya.
Demi apapun, Lisa sangat takut melihat Kenan yang seperti hendak menelannya bulat-bulat. Lisa masih ingat kejadian 2 bulan lalu, di mana ia dimarahi habis-habisan oleh Kenan karena dikeluarkan dari sekolah.
"Oh, tuhan ... kenapa aku harus memiliki adik bodoh sepertinya? Lisa, kali ini Kakak akan mencoret kamu dari kartu keluarga!" ujar Kenan tegas.
Sesuatu yang paling Lisa takuti akhirnya terjadi juga, ayolah ... Lisa tahu bahwa sang Kakak tidak pernah bermain-main dengan perkataannya.
"Kakak, jangan pecat aku dari kartu keluarga!" Lisa merengek seraya memeluk kaki Kenan.
"Huwa ... Kak Elora!" Lisa beralih memeluk kaki Elora.
Elora yang memiliki sifat keibuan itu mengusap-usap lembut kepala Lisa.
"Apa ada alasan lain, kenapa kamu sampai dikeluarkan dari sekolah?" tanya Elora lemah nan lembut.
"Itu pasti gara-gara anaknya si kepsek botak yang iri sama kecerdikan dan kecantikan Lisa Kalila Anderson," jawab Lisa masih dalam posisi memeluk kaki Elora.
"Jangan menuduh orang lain, Lisa!" hardik Kenan.
"Lisa gak nuduh, Kak! Emang itu kenyataannya, si bangs*t itu emang iri sama Lisa!"
Buk!
Kenan menepuk kencang bahu Lisa menggunakan sepatu miliknya.
"Kenan!"
Plak!
Elora membalas perlakuan kasar Kenan terhadap Lisa dengan sebuah tamparan keras di pipi kirinya.
"El ---"
"Adik kamu itu seorang perempuan, Kenan!" bentak Elora.
Wajah Kenan menjadi muram, sementara itu tanpa sepengetahuan Elora, Lisa meledek Kenan dengan menjulurkan lidahnya.
"Kamu ...!" Kenan mengangkat sepatunya.
"Huhu, Kak Elora! Lisa takut ...," rengek Lisa yang tengah berpura-pura.
Aslinya, Lisa dan Kenan itu selalu saling menyakiti apabila terjadi perseteruan hebat antaranya. Hanya saja, mereka melakukan aksi saling menyakitinya itu di ring tinju.
"El, tadi dia mengejekku dengan menjulurkan lidahnya," adu Kenan.
"Bohong!" sangkal Lisa.
"Dasar bocah bau kencur!" ledek Kenan.
"Kak Kenan tua bangka! Udah tua tapi belum pernah pacaran! Uuu ...." Lisa balik menghina Kenan.
"Kamu---"
__ADS_1
"Apa?" tantang Lisa.
"Sudahlah! Lebih baik, sekarang kita cari sekolah baru untuk kamu." Elora sukses menjadi penengah di antara saudara yang sedang bertengkar tersebut.
"Aku gak mau, El! Anak itu sudah bukan bagian dari keluarga Anderson," tolak Kenan.
Lisa tersentak, sepertinya ia sungguhan didepak dari keluarga Anderson.
"Kak, jangan begitulah! Kalau aku dipecat, aku punya uang dari mana?" protes Lisa.
"Jual saja tubuhmu pada kepada sugar Daddy yang sering kamu ceritakan itu!" kata Kenan sinis.
"Kakak setega itu sama aku?" Lisa mulai mendramatisir kata-katanya.
Kenan mengangkat kedua alisnya.
"Bukannya kamu sendiri yang ingin menjadi simpanan seorang sugar Daddy?"
Skak!
Lisa tidak bisa lagi menyanggah, semua yang diucapkan Kenan itu adalah fakta.
"Kalau aku bisa ngebuktiin kalau alasan aku dikeluarin dari sekolah itu gara-gara anaknya si kepsek botak, apa Kakak gak jadi pecat aku dari kartu keluarga?"
"Ya, kebenaran bisa mengubah keputusan Kakak!" sahut Kenan mantap.
"Ok, kalau gitu kita otw sekarang!" ajak Lisa bersemangat.
***
Elora mengusap wajahnya dengan kasar, ia sungguh tidak mengerti mengapa gadis yang dimatanya terlihat lugu itu sangat suka melontarkan kata-kata kasar. Jujur, Elora tidak terlalu suka orang yang selalu berkata kasar.
Tring!
Sebuah pesan singkat masuk ke aplikasi chatting Lisa.
'Kak Kenan,' batin Lisa.
Kenan : Lisa, jaga bahasa kamu ketika sedang berdekatan dengan Elora!
Lisa : Memangnya kenapa?
Kenan : Kamu lihat wajah Elora dengan baik!
Lisa mengikuti arahan Kenan, dengan cermat ia memperhatikan raut wajah Elora. Ia merasa tidak ada yang aneh dari ekspresi wajah si calon Kakak ipar.
Tring!
Satu pesan dari kembali masuk.
Kenan : Tadi, Elora terlihat sebal saat kamu berkata kasar.
Ya, Kenan yang duduk di kursi belakang kemudi itu bisa melihat dengan jelas perubahan raut wajah Elora melalu kaca spion.
Lisa : Ok, Kak! Btw, kenapa Kakak perhatian sama aku?
__ADS_1
Lisa : Jangan-jangan Kakak udah berubah pikiran?
Kenan : Tidak! Kamu tetap akan Kakak depak bila kamu tidak bisa membuktikan perkataanmu.
Lisa berdecak sebal, memang susah membujuk kakaknya yang teguh pendirian itu.
'Si Tami sama antek-anteknya udah nongol,' batin Lisa tatkala melihat 4 orang siswi SMA yang hendak keluar dari gerbang.
Lisa segera menghubungkan telepon antara handphonenya dan handphone Kenan, itu ia lakukan supaya Kenan dan Elora bisa mendengar percakapan antara ia dan keempat cabe yang menjadi musuhnya.
"Ok, Lisa turun sekarang!" Lisa mematikan layar handphonenya supaya tidak ada orang yang curiga.
"Lissa!" sapa mereka bersamaan.
"Apa, nyet?" Lisa mulai memprovokasi.
"Bangs*t! Udah di keluarin dari sekolah aja lo masih belagu!" rutuk Tami.
"Eh, set4n! Lo yang udah ngeluarin gue dari sekolah 'kan?" tebak Lisa.
Keempat orang itu saling bertukar pandangan, da tak lama setelah bertukar pandangan mereka tertawa dengan lepasnya.
"Tebakan lo tepat, gue yang ngebujuk bokap gue supaya lo dikeluarin dari sekolah." Tami membenarkan tebakan Lisa.
Mati-matian Lisa menahan tangannya yang terasa gatal ingin menghajar wajah Tami dan kawan-kawannya.
'Karena udah begini, mendingan gue bongkar aja semua kebusukan si Tami.'
"Tami, seberapa banyak lo ngejebak gue?"
"Tenang Lisa, gue bakalan paparan semuanya. Anggap aja ini sebagai kado perpisahan dari gue," ujar Tami dengan senyum centil yang membuat bulu kudu Lisa berdiri.
"Gue yang naruh handphone Pak Handoko di tas lo, dan waktu lo kejebak semalaman di toilet, itu juga ulah gue. Gue juga yang udah bikin alergi seafood lo kambuh, dan yang paling parah sih ... gue ngirimin pembunuh bayaran." Tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, Tami membeberkan kejahatannya.
"Sayangnya ... pembunuh bayaran yang gue kirim itu cuman bisa lukain bahu lo doang!"
Emosi Kenan sudah mulai naik, tangannya pun terkepal dengan kuatnya. Elora yang tak mau Kenan kehilangan kendali pun berusaha menenangkannya.
"Kamu tenang sedikit, Kenan!"
"Aku tidak bisa tenang, El! Adikku ternyata mengalami berbagai penderitaan, tetapi aku sebagai kakaknya tidak tahu sedikitpun tentang penderitaan yang dihadapinya."
"Aku adalah seorang Kakak yang buruk!" Kenan menjambak rambutnya kasar.
Elora menangkup wajah Kenan, ia faham akan perasaan Kenan. Tetapi, tidak seharusnya Kenan menyalahkan dirinya atas kejadian yang tidak bisa dicegahnya.
Elora mengecup sekilas kening Kenan, hanya cara itu saja yang terpikir di benaknya. Cara yang ia gunakan untuk meredam amarah Kenan pun berhasil. Kenan yang semula terlihat emosional, kini bisa kembali tenang.
"Ayo! Kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin," ajak Elora dengan senyumannya yang manis.
Begitu ke luar dari mobil, Kenan berlari menghampiri Lisa dan memeluknya erat.
"Maafkan Kakak, Lisa ...," lirih Kenan.
Lisa membalas pelukan sang Kakak, sudah lama sekali ia tidak merasakan pelukan sehangat ini.
__ADS_1