
Tatapan Kenan dan Elora tertuju pada Ciko yang tengkurap di lantai, entah nyaman atau tak kuasa bangun Ciko seperti enggan untuk bangun.
"Si*lan!" umpat Ciko.
Ciko segera berdiri, dan sesaat setelah berdiri ia buru-buru menarik Kenan keluar dari ruangan.
"Mau ke mana kalian?" tanya Papah Ciko yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
"Papah gak usah kepo, ini urusan anak muda," jawab Ciko yang membuat papahnya mendelik.
Ciko berjalan mengabaikan papahnya, urusannya dengan Kenan lebih penting dari apapun. Begitu tiba di ruangannya, Ciko menutup pintu ruangannya rapat-rapat.
"Lo mau ngomong apa, hah?" tanya Kenan sinis.
"Ken, ini masalah serius."
"Yaudah, cepetan ngomong!" desak Kenan.
"Ya, iya. Lo nya yang kalm, gue kan jadi agak takut ngomongnya," rutuk Ciko.
"Cepet Ciko!" ucap Kenan penuh penekanan.
Ciko mengeluarkan handphonenya, ia menakan-nekan layar handphone itu, lalu tak lama kemudian ia memperlihatkan sebuah video kepada Kenan.
Tangan Kenan terkepal kuat saat melihat video yang dulu sempat direkam oleh Ciko, video di mana Elora ditampar oleh Gavin.
Ciko yang melihat kepalan tangan Kenan memilih untuk menyingkir takut kalau kepalan tangan Kenan itu mendarat di bagian tubuhnya.
"Brengs*k!" umpat Kenan.
Rasa resah menghampiri Ciko saat melihat handphonenya digenggam kuat oleh Kenan.
'Plis jangan dibanting ...,' batin Ciko resah.
Prang!
Keresahan Ciko itu menjadi kenyataan, handphonenya dibanting sekencang-kencangnya oleh Kenan ke bagian dinding ruangan.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Kenan yang sudah dikuasai oleh amarah.
Ciko termenung.
'Gue harus gimana? Mau jelasin tapi mood gue ancur, tapi ... kalau gak dijelasin bisa-bisa gue dibanting si Kenan.'
"Ciko!" panggil Kenan dengan suara yang terdengar horor di telinga Ciko.
"Dia suaminya si Elora, terus cewek yang ada di sana adik tirinya Elora yang bakalan jadi istri kedua suaminya si Elora," jelas Ciko dalam satu tarikan nafas.
Kenan menyeringai.
__ADS_1
"Rupanya dia adalah Gavin, suami Elora. Laki-laki menyebalkan yang pernah menghinaku, menyakiti fisik dan jiwa Elora, serta membuat Elora mengeluarkan air matanya yang sangat berharga," monolog Kenan.
Ciko merinding mendengar monolog Kenan.
"Ciko, menurut lo gue harus apain laki-laki itu?" Pertanyaan Kenan menambah kecepatan detak jantung Ciko.
"Gue gak tau." Ciko menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Gimana kalau gue bunuh aja?" tanya Kenan tersenyum miring.
"Cowok itu jadi jahat ke Elora juga gara-gara lo," kata Ciko acuh.
"Maksud lo?" Perkataan Ciko sukses menarik rasa penasaran Kenan.
"Jadi, gini ...." Ciko tidak melanjutkan perkataannya.
"Jangan bercanda!" larang Kenan.
"Waktu si Elora nolongin lo ada orang yang foto-in, terus orang itu ngasih foto itu ke lakinya si Elora dibarengin bulshit. Dan itu kejadiannya pas malem pernikahannya si Elora, lakinya yang kehasut itu ngamok dan mau ngeduain Elora sama adik tiri si Elora itu, paham?" tutur Ciko sejelas-jelasnya.
"Jadi, lo jangan sampe bilang ke si Elora kalau orang yang dia selamatin itu lo. Kalau lo kekeh mau bilang, siap-siap aja lo dibenci si Elora seumur hidup lo," lanjut Ciko yang terkesan memberikan ancaman.
Kenan menganggukkan kepalanya, ia sudah faham semua akar permasalahan yang terus-menerus menggempur Elora.
Kenan merogoh saku celananya, kali ini ia mengeluarkan dompet. Ia mengambil sebuah kartu kredit, lalu menyerahkannya kepada Ciko.
"Beli semua kebutuhan lo, kalau udah puas balikin ke gue," ujar Ciko berlalu pergi.
***
"Maaf, Presdir. Saya harus melakukan apa?" tanya Diky yang merupakan orang kepercayaan Kenan.
Diky adalah orang yang menjemput Kenan dari Bandara, dan dari Bandara Diky menyetir mobil untuk mengantar Kenan menuju rumah sakit.
"Apa kamu tahu laki-laki yang bernama Gavin?" tanya Kenan serius.
"Gavin? Sebentar Presdir." Diky terlihat berusaha mengingat.
"Gavin Aryasatya, anak dari CEO ARS
Group," ucap Diky dengan pandangan menerawang.
"ARS Group? Kenapa saya tidak tahu ada perusahaan bernama ARS Group?" ucap Kenan bingung.
Diky menggaruk tengkuknya, Presdir-nya ini tidak mengetahui perusahaan sebesar ARS Group? Ha, itu sungguh membuat dirinya heran.
"Maaf Presdir, perusahaan itu cukup besar dan terkenal. Ya ... walaupun tidak sebesar dan se-terkenal perusahaan anda, Presdir?"
Kenan tak lagi menyahut, pertanda dirinya sudah faham dengan perkataan Diky.
__ADS_1
"Ah, ya. Kebetulan sekali Presdir membahas masalah ini, saya mendapatkan undangan pernikahan dari Gavin Aryasatya." Diky mengambil dua lembar undangan dari balik jasnya.
"Kenapa ada dua?" tanya Kenan mengernyitkan keningnya.
"Ah, yang satu undangan pernikahan pertamanya yang sudah terlewat, dulu Presdir sendiri yang menolak untuk menerimanya. Jadi, sekalian saja saya berikan dua-duanya," jawab Diky diselingi senyuman.
"Lalu yang satunya lagi?" Kenan kembali bertanya.
"Itu pernikahan keduanya, yang dilaksanakan sore, sekitar jam 4."
"Baik."
"Kalau begitu saya pamit pergi." Diky paham maksud kata 'baik' dari Kenan yang berarti selesai dan silahkan pergi.
"Hebat sekali laki-laki itu, bisa mempunyai dua istri," ucap Diky setelah berbalik membelakangi Kenan.
Sorot mata Kenan menajam mendengar ucapan Diky. Kenan mencengkeram pundak Diky yang otomatis membuat Diky kembali menghadap Kenan.
"Laki-laki yang hebat adalah laki-laki yang cukup dan setia hanya kepada seorang wanita, bukan laki-laki tak setia yang mempunyai banyak wanita, camkan itu!" tekan Kenan.
Selepas mengatakan itu, Kenan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun lagi.
"Presdir Ken yang tak mempunyai perasaan bisa bilang begitu? Apakah dunia akan segera berakhir?" kata Diky dengan kebingungan yang meliputi dirinya.
***
Kenan menyandarkan tubuhnya di dinding yang berada di depan ruangan Elora, pandangannya tertuju pada kedua undangan pernikahan. Undangan berwarna hitam yang di sana tertera nama Gavin Aryasatya dan Elora Fazia, lalu undangan yang berwarna pink itu tertera nama Gavin Aryasatya dan Cantika Amelia.
"Laki-laki bodoh, membuang sebongkah berlian hanya untuk seonggok kotoran." Kenan tersenyum kecut.
Srek!
Kedua undangan itu dirobek oleh Kenan.
"Sampah!" Kenan melemparkan undangan itu ke tong sampah.
Kenan memasuki ruangan, di sana ia mendapati keluarga Ciko yang hadir untuk menemani Elora. Perhatian orang-orang itu terarah pada Kenan, tetapi itu sama sekali tak mengganggu Kenan. Jangankan tatapan perhatian seperti itu, tatapan kebencian yang sering diperlihatkan orang-orang padanya pun tak pernah membuat dirinya gentar.
Infusan yang tadinya selalu melekat di tangan Elora sudah dilepas, pertanda bahwa Elora siap untuk pulang.
"El, ini pakaian yang Mamah siapkan. Kamu ganti baju, gih!" ucap Mamah Ciko menyodorkan kantong pakaian.
"Makas ---"
"Jangan dipakai!" potong Kenan.
"Maksud lo apa, Ken?" sahut Ciko.
Kenan tak menjawab, ia mengambil kantong belanjaan yang berisi pakaian yang sengaja ia beli ketika berada di luar negeri.
__ADS_1
"Lebih baik kamu memakai ini, El." Kenan menaruh kantong berisi pakaian itu ke pangkuan Elora.