Elora

Elora
Bab_29 (Kemarahan Elora)


__ADS_3

"Diky, lo ngapa? Perasaan dari tadi lo ngelamun mulu, deh?" dengus Ciko.


Diky melirik malas Ciko, sambil menguap ia merenggangkan otot-otot tubuhnya.


"Jorok beut anj*r!" ledek Ciko bergidik ngeri.


Diky terkekeh geli ketika melihat ekspresi wajah Ciko.


"Lo ngelamunin apa?" tanya Ciko.


"Itu ... mikirin kondisi Nona Elora," jawab Diky sengaja mengeraskan suaranya.


Cantika dan Gavin berhenti kala mendengar nama Elora disebut oleh Diky.


"Owh ... btw, si Elora di pindahin ke ruangan mana?" tanya Ciko dengan suara yang tak kalah keras dari Diky.


"Kalau gak salah Nona Elora ada dipindahkan ke lantai 2 di ruangan VIP yang di dekat lift."


Gavin yang menyimak obrolan kedua sahabat itu bergegas menuju ruangan yang disebutkan oleh Diky.


'Aku akan memperbaiki semuanya, El,' batin Gavin.


Dengan wajah masam Cantika mengikuti Gavin yang menjadi bersemangat setelah tahu bahwa Elora masih hidup.


Ciko mengangkat telapak tangannya, mengajak tos kepada Diky. Namun, Diky tak merespon ajakan Ciko, malahan Diky sengaja memalingkan wajahnya dari Ciko.


Plak!


Ciko menepuk kepala Diky menggunakan telapak tangannya.


"Gak asik lo!" ketus Ciko menggembungkan kedua pipinya yang lumayan tembam.


Diky mengusap kepalanya yang di tepuk Ciko.


"Dasar bocah!" ejeknya.


"Bac*t lo tua bangka!" balas Ciko.


"Terserah ...," kata Diky acuh.


Ciko yang terlanjur kesal, memilih untuk pergi mencari sesuatu yang sekiranya bisa memperbaiki moodnya.


Sepeninggal Ciko, Diky membuka aplikasi chatting miliknya. Ia mengabari Kenan mengenai kedatangan suami Elora agar Kenan segera bersiap untuk memulai rencananya.


"Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Presdir Kenan, saking inginnya mendapatkan Nona Elora ia sampai rela meninggalkan pekerjaannya. Dan kali ini ia akan menggunakan cara gila yang hanya akan menambah penderitaan Nona Elora," monolog Diky dengan pandangan lurus ke depan.


"Aku berharap Presdir Kenan dan Nona Elora segera bisa mendapatkan kebahagiaan," lanjutnya.

__ADS_1


Diky memejamkan matanya, ia merasakan sensasi nyaman yang tak terkira kala angin yang berhembus pelan menerpa kulitnya.


***


"El, kamu sarapan dulu, ya!?" kata Kenan tersenyum tipis.


"Sebentar lagi saja, saya masih ngantuk," tolak Elora dengan mata yang terpejam.


"Tidurnya lanjut nanti saja, sekarang kamu sarapan dulu, biar saya suapi," bujuk Kenan yang sudah terdesak waktu.


"Ayolah, El ... Saya mohon,' pinta Kenan memelas.


'Waktunya sudah sangat mepet, bisa-bisa si bajing*n itu tiba di sini sebelum rencanaku dimulai,' batin Kenan panik.


Elora membuka matanya yang terasa berat, yang pertama ia lihat saat matanya terbuka adalah Kenan. Tak membuang waktu, Kenan dengan cepat membantu Elora duduk.


'Sial*n! Mereka sudah berada di depan ruangan.'


'Tidak akan sempat ....'


"Akh, Kenan. Tolong lihat mata saya!" pinta Elora.


"Mata kamu kenapa, El?" tanya Kenan panik.


"Kelilipan," jawab Elora mengucek matanya.


Ceklek!


'Saatnya.'


Sebelumnya, Kenan berencana untuk membuat Elora belepotan oleh makanan dan ketika Gavin membuka pintu ia akan menyeka makanan itu dengan gelagat yang bisa membuat orang salah paham. Akan tetapi karena tak sempat ia akan menggunakan Elora yang kelilipan itu sebagai pengganti rencananya yang urung karena kehabisan waktu.


Kenan mendekatkan wajahnya pada wajah Elora, ia membuka mata Elora lalu meniupnya supaya debu yang ada di mata Elora terhempas.


Pintu terbuka, Gavin disuguhkan pemandangan yang menyayat hatinya. Karena dari sudut pandangnya Elora terlihat tengah bercium*n dengan Kenan.


"Elora!" teriak Gavin dengan emosi yang meledak-ledak.


Sontak, Kenan dan Elora menengok ka arah suara itu berasal. Kenan tersenyum miring, sementara Elora kebingungan karena Gavin yang datang disertai emosi.


Gavin berjalan mendekati kedua orang yang dianggapnya hina itu. Gavin mengangkat tangannya yang terkepal kuat, ia berniat untuk meninju Kenan.


Bugh!


Satu tinjuan keras mendarat di bagian pipi kiri Kenan, bisa saja Kenan menghindar ataupun menahan tinjuan itu. Namun, Kenan sudah punya rencana tersendiri, sehingga ia menerima tinjuan itu dengan lapang dada.


"Mas Gavin!" teriak Elora murka.

__ADS_1


"Diam kau jal4ng!" seru Gavin tajam.


Elora tersentak, dia dipanggil ****** oleh suaminya? Ia tidak bisa menerima itu.


"Aku jal4ng? Lantas, bagaimana dengan perempuan yang ada di sampingmu?"


"Sepertinya kata jal4ng pum masih terlalu bagus untuknya," lanjut Elora sengit.


"Tutup mulutmu! Cantika jauh lebih baik dibandingkan kamu yang mempunyai banyak selingkuhan." Gavin menjudge Elora sesuka hatinya.


"Dulu sebelum menikah denganku kamu sudah berselingkuh dengan seorang pria, beberapa hari yang lalu aku memergoki kamu berpelukan mesra dengan pria yang berbeda, kemarin pun sama, dan sekarang kamu bercium*n dengan selingkuhanmu yang keempat. Murahan sekali kamu, El," papar Gavin yang semakin memantik amarah Elora.


"Cukup Gavin!" ucap Elora penuh penekanan.


"Kamu---"


"Aku minta cerai," potong Elora yang membuat ketiga orang yang berada di sana membelalak.


"Hah, cerai? Apa alasannya? Apa karena bajing*n ini" Gavin menunjuk wajah Kenan.


Kenan menggertakan giginya, ia harus menahan amarahnya. Ya, karena seorang penonton itu hanya bertugas untuk menonton pertunjukan.


"Alasannya? Aku tak sudi hidup bersama seorang suami yang lebih mempercayai orang lain daripada istrinya sendiri, dan rasanya akan sangat menjijikkan bila setiap hari harus bertemu dengan kalian berdua," tutur Elora menggebu-gebu.


Gavin tercekat.


"Dan jangan bawa-bawa Kenan dalam masalah ini!" peringat Elora.


"Apa yang dia lakukan kepadamu sampai-sampai kamu membelanya seperti itu?" tanya Gavin tak habis pikir dengan tingkah Elora.


Elora tersenyum kecut, apa yang dilakukan Kenan padanya? Hah ... pertanyaan bodoh macam apa lagi itu? Jika dibandingkan, perlakuan Kenan selama seminggu jauh lebih berharga daripada perlakuan Gavin selama 2 tahun.


"Ketika ayahku celaka, kamu tidak menemaniku barang sedetikpun. Aku berjuang melawan racun pun kamu tidak ada di sampingku. Kemarin, aku tenggelam di sungai ... kamu juga bukan yang menyelamatkan aku."


Penuturan Elora mampu membungkam mulut Gavin.


"Tetapi Kenan, Kenan-lah yang menyelamatkan aku. Jika bukan karena pertolongannya aku pasti sudah mati tenggelam di sungai. Bukan itu saja, selama aku terpuruk Kenan adalah orang yang menemaniku. Dia memberikan aku semangat, dia juga menjaga dan merawatku dengan tulus," papar Elora emosional.


Elora menghentikan perkataannya, ia mengatur nafasnya yang terasa sesak. Suasana pun hening, Gavin tak bisa mengatakan apa-apa lagi karena kehabisan kata-kata.


"Ah, ya ... tadi kami bukan bercium4n, tetapi Kenan membantu saya yang kelilipan."


"Namun, jika kamu bersikeras atas tuduhanmu itu ... aku bisa mewujudkannya," kata Elora tersenyum manis.


"Kemarilah Kenan!"


Kenan yang mengerti maksud dari perkataan Elora itu tersenyum penuh kemenangan. Rencananya berjalan jauh lebih lancar dari ekspektasinya.

__ADS_1


Elora meraih tengkuk Kenan, hingga bibir mereka berdua menempel. Kenan yang terbawa suasana menangkup wajah Elora dan memperdalam cium4nnya. Elora terbuai, membalas cium4n Kenan yang membuat darahnya berdesir.


Tak kuat melihatnya, Gavin menarik Cantika pergi meninggalkan ruangan.


__ADS_2