
Bruk!
Tubuh Cantika didorong pelan oleh Gavin hingga jatuh ke kasur dalam posisi terlentang. Tak berapa lama Gavin ikut menaiki kasur, menindih tubuh Cantika.
Senyuman Cantika mengambang, kali ini bukan dirinya yang berinisiatif, melainkan Gavin. Meskipun inisiatif Gavin itu muncul karena amarahnya terhadap Elora, tapi itu tak masalah baginya.
Gavin mengusap bibir Cantika menggunakan ibu jarinya. Tanpa membuang waktu lagi Gavin mendaratkan bibirnya di bibir Cantika.
Cantika mengalungkan tangannya ke leher Gavin, sementara itu tangan Gavin menjelajahi tubuh Cantika.
Gavin melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Cantika, ia mengangkat kepalanya. Sontak, matanya menajam kala melihat wajah Cantika tiba-tiba berubah menjadi wajah Elora.
"Mas Gavin ...." Cantika membelai wajah Gavin.
Gavin menggertakan giginya, di matanya orang yang membelai wajahnya itu adalah Elora.
Plak!
Gavin menampar keras pipi Cantika yang dianggapnya sebagai Elora.
Cantika meringis merasakan sensasi panas dan perih di pipinya.
"Kenapa kamu nampar aku, Mas!?" teriak Cantika lantang.
"Hah ...."
Gavin tersadar, kali ini ia melihat Cantika-lah wanita yang ada di bawah tubuhnya.
Rasa marah yang telah sirna kembali menjalari Gavin, dengan cepat ia menyingkir dari atas tubuh Cantika.
"Pergi dari sini!" usir Gavin dalam posisi membelakangi Cantika.
Cantika yang kesal karena ditampar oleh Gavin itu langsung pergi dari kamar hotel yang belum lama mereka pesan tersebut.
"Argh! Kenapa aku terus teringat Elora?" ucap Gavin seraya menjambak kasar rambutnya.
***
"Presdir Kenan!" panggil Diky.
Panggilan Diky tak digubris Kenan, sepertinya Kenan sudah terlarut dalam lamunannya sehingga tidak bisa mendengar Diky yang memanggilnya dengan suara yang cukup kencang.
Orang-orang yang berada di ruangan meeting menatap aneh Kenan. Ini adalah kali pertama mereka melihat Kenan melamun saat tengah melaksanakan meeting.
"Presdir!"
Kenan menyentuh bibirnya yang masih terasa sedikit sakit akibat dari gigitan Elora. Senyumannya mengembang kala cium4nnya dan Elora terbayang dibenaknya.
"Bibirnya sangat manis," gumam Kenan yang sukses membuat orang-orang melongo.
Diky menepuk pundak Kenan.
"Presdir!"
"Hah ...!" sahut Kenan tersadar dari lamunannya.
"Kita sedang meeting," tegur Diky.
__ADS_1
Kenan mengedarkan pandangannya. Benar, saat ini ia sedang meeting, dan ia juga yang menjadi pemimpin berlangsungnya meeting tersebut.
'Hah, Elora ... Gara-gara kamu aku tidak bisa fokus,' batin Kenan seraya memijat pangkal hidungnya.
Kenan berdiri kemudian berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan meeting.
"Tuan Diky, bagaimana ini?" tanya salah satu peserta meeting.
"Iya, benar!" sahut yang lainnya.
Diky kelabakan, ia tidak tahu harus menjawab apa dikarenakan Kenan tidak mengatakan apa-apa kepadanya sebelum pergi meninggalkan meeting.
"Saya sudah membatalkan beberapa pertemuan penting demi melaksanakan meeting ini."
Berbagai macam keluhan terus dilontarkan oleh para peserta meeting. Diky yang geram akan keluhan-keluhan itu meninju meja rapat.
"Kalian berisik sekali! Kalau kalian kesal karena Presdir Kenan pergi, lebih baik batalkan saja kerjasama yang kalian ajukan itu!" bentak Diky tanpa sedikitpun keraguan.
Orang-orang itu menunduk, nyali mereka langsung menciut seketika.
***
Krieeet!
Pintu ruangan rawat Elora dibuka dari luar oleh Kenan. Matanya melotot, ia baru saja tiba tetapi sudah disuguhkan dengan pemandangan yang membuat darahnya berdesir.
Ia cepat-cepat menutup pintu, selepas itu ia menduduki kursi yang berada di samping ranjang Elora.
"Itu terlihat berbeda dari sebelumnya," gumam Kenan.
"Aku sangat ingin menyentuhnya," lanjutnya.
Belum sampai tangannya menyentuh, tiba-tiba saja Elora membuka matanya. Kenan yang panik pun refleks mengarahkan tangannya itu ke kening Elora dan menepuk kening Elora yang terbalut perban.
"Ack!" Elora memekik kesakitan, Kenan menepuk tepat di bagian yang terluka.
"Kenan ...! Apa yang kamu lakukan?" dengus Elora.
"Maaf, El. Tadi saya melihat ada nyamuk di kening kamu," alibi Kenan.
"Lalu kenapa kamu menepuknya? Apa kamu tidak bisa melihat kening saya yang terluka? Atau kamu memang sengaja ingin membuat saya kesakitan," gerutu Elora.
"Saya tidak tega jika kamu digigit nyamuk," sanggah Kenan.
Elora mendelik.
"Tidak tega digigit nyamuk? Sanggahan yang masuk akal sekali a---"
"Itu bukan sangg---"
"Jangan memotong ucapan saya, Kenan!" larang Elora tegas.
"Kamu itu makin ke sini makin aneh, sebelas dua belas sama Kak Ciko," keluh Elora yang mengundang kekehan Kenan.
'Ternyata Elora bisa berbicara sebanyak ini? Ke depannya aku harus sering-sering membuatnya kesal, supaya aku bisa mendengar suara dan berbagai macam ekspresinya,' batin Kenan.
"Suka ya liat saya marah?" sinis Elora.
__ADS_1
Kenan langsung menghentikan kekehannya, ia takut jika Elora merajuk kepadanya.
"Ah, tadi kamu bilang kalau saya itu aneh seperti Ciko?" tanya Kenan menautkan kedua alisnya.
"Ya," jawab Elora singkat.
"Memangnya apa yang Ciko lakukan sampai-sampai kamu mengklaim dia sebagai orang aneh?" tanya Kenan lagi.
"Itu ...." Elora menggantungkan perkataannya.
"Itu apa, El?"
"Kak Ciko bilang aku tevos, padahal aku nggak tevos, loh?" celetuk Elora yang membuat Kenan syok.
Entah karena tak terima disebut tevos oleh Ciko, Elora dengan penuh keberanian mengatakan hal seperti itu kepada Kenan.
"Mungkin Ciko buta, El!" sahut Kenan tersenyum kikuk.
"Jadi, menurut kamu aku nggak tevos?" tanya Elora dengan mata yang berbinar-binar.
Kenan menggaruk-garuk pundaknya yang tak gatal, frontal sekali calon istrinya ini?
Namun ke-frontalan Elora tersebut menghadirkan rasa khawatir pada diri Kenan. Ya, pria itu takut Elora akan bicara frontal kepada pria selain dirinya.
'Elora belum lama menjadi adik angkat Ciko, tetapi kenapa sifat dan sikap Ciko sudah mulai turun kepadanya? Nantinya, aku harus menjauhkan si bangs*t itu dari calon istriku.' Kenan membatin.
"Kenan ...," panggil Elora ragu-ragu.
"Ah, iya. Kamu nggak tevos, kok," ucap Kenan yang memberikan kesenangan tersendiri bagi Elora.
"Terus Kak Ciko---"
"Mungkin Ciko bicara seperti itu karena pacarnya," sela Kenan.
Elora mengernyitkan keningnya.
"Pacarnya?"
"Iya, pacar Ciko itu memang memiliki ukuran lebih dari wanita lainnya," jawab Kenan mulai santai.
Kenan yang sadar akan Elora yang tak mengerti dengan yang ia maksud Elora segera mengeluarkan handphonenya. Ia mencari-cari foto pacar Ciko yang dulu pernah Ciko kirimkan kepadanya, dengan tujuan membuat Kenan iri sehingga Kenan mau mencari pacar.
Setelah berhasil menemukan fotonya, Kenan langsung menunjukkannya kepada Elora.
"I--ini ...."
"Betul, pacar Ciko mempunyai tubuh yang jauh lebih berisi dibandingkan kamu," jelas Kenan.
"Ini gak bohong 'kan?"
"Nggak, Ciko memang menyukai wanita yang memiliki tubuh besar. Karena menurutnya, wanita seperti itu sangat menggemaskan dan bisa meningkatkan moodnya," tutur Kenan.
"Aku nggak nyangka seleranya Kak Ciko seperti ini?"
"Begitulah, El. Setiap orang mempunyai perbedaan selera dalam mencari pasangan."
"Kalau selera kamu yang seperti apa?" tanya Elora penasaran.
__ADS_1
"Selera saya---"
'Kamu El,' lanjut Kenan dalam batinnya.