
"El," panggil Ciko pelan.
"Hm," sahut Elora.
Cup!
Ciko mengecup pelan pipi Elora.
"Ciko!" Diky berteriak.
"Lo cantik banget, El ... kalau lo bukan adik gue, udah gue gebet lo," ungkap Ciko yang membuat Elora terkekeh.
Ciko berjalan ke samping kiri Elora, meraih tangan kiri Elora dan menautkan jemari tangannya dengan jemari Elora yang jauh lebih lembut darinya.
Elora mendongak ke arah Ciko yang mempunyai tubuh yang lebih tinggi darinya. Menurut perkiraan Elora tinggi Ciko ini sekitar 176 cm, selisih beberapa cm dengan Kenan yang lebih tinggi dari Ciko.
Untuk dirinya, di usia 23 tahun ia mempunyai tinggi 165 cm. Karena bantuan dari high heels tinggi badannya hampir sama dengan Ciko.
"Kakak gugup?" tanya Elora.
"Nggak 'kan ada kamu yang nemenin Kakak," jawab Ciko yang memancing senyuman Elora.
"Diky, lo jalannya di belakang kita," perintah Ciko.
Diky menghela nafas panjang, kalau Elora tidak ada di sana, ia tidak akan sudi diberi perintah oleh seorang Ciko.
"Eh, iya. Jagain tas Elora baik-baik, jangan lo comot isi tasnya," peringat Ciko yang terkesan menghina.
"Ayo, El!"
Ciko dan Elora mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam gedung tempat berlangsungnya resepsi pernikahan, dengan tangan yang saling menggenggam.
Begitu kaki mereka menapak di ruangan acara, semua perhatian orang-orang tertuju kepada mereka. Semuanya tampak terkejut dengan kedatangan Elora dan Ciko yang dikawal oleh Diky, orang kepercayaan Presdir Kenan.
Suasana mendadak riuh ketika mereka sadar bahwa wanita yang dikawal oleh Diky itu adalah Elora, seorang wanita yang dipermalukan habis-habisan di acara pernikahan keluarga Aryasatya.
"Tuan Diky!"
Panggil para wanita yang ingin menarik perhatian Diky, akan tetapi Diky mengabaikan panggilan itu karena tugasnya hari ini hanyalah untuk memastikan keamanan Elora.
"Kita duduk di sana, El!" Ciko menunjuk 2 kursi kosong yang berada tepat di depan pelaminan.
"Ok, Kak!" sahut Elora.
"Tunggu sebentar, El!" ucap Ciko menghentikan langkah Elora.
__ADS_1
Ciko membalikkan badannya hingga dirinya berhadapan dengan Diky yang masih setia membawa tas Elora.
"Heh, jangkung! Ambil makanan buat Elora, minumannya juga sekalian!" perintah Ciko.
Diky menggertakan giginya, kali ini sikap Ciko sangat menyebalkan.
"Ambil!" Diky melemparkan tas Elora yang langsung ditangkap oleh Ciko.
Sembari berjalan mulut Diky komat-kamit seperti seorang dukun yang tengah mengucap mantra. Elora yang melihat itu terkekeh geli, ke-cuekan Diky bisa di dobrak dengan mudahnya oleh Ciko.
"Lo kenapa ketawa, El?" heran Ciko.
Elora menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah kata apa pun.
"Aneh," gumam Ciko pelan.
"Ayo, Kak! Aku pegel berdiri terus," ajak Elora menarik paksa Ciko.
"Perasaan kit---"
"Gavin," ucap Elora menyela ucapan Ciko.
Ciko yang mendengar nama Gavin disebut oleh Elora, dengan cepat mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan bajing*n yang sangat sering menyakiti adik angkatnya.
Setelah beberapa saat, mata Ciko menangkap sosok Gavin dan Cantika yang berjalan mendekati kursi yang akan ia dan Elora duduki.
Bruk!
"Akh!"
Cantika yang akan menduduki kursi itu terjungkal ke belakang lantaran kursi yang hendak didudukinya ditarik oleh Ciko.
Elora menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, ia tidak menduga Ciko akan melakukan hal seperti itu.
"Mampus lo, lont3!" teriak Ciko dengan lantangnya.
Teriakan Ciko berhasil menarik perhatian para tamu undangan, Gavin yang sadar istri keduanya menjadi pusat perhatian pun segera membantunya berdiri.
"Mas ...," lirih Cantika menahan rasa sakit di bagian belakangnya.
"Ih, takut ... lont3-nya ngadu sama suami orang," ujar Ciko dengan nada yang di lebay-lebay 'kan.
Cantika meremas dasi yang dikenakan Gavin, berharap Gavin segera membalaskan perbuatan Ciko terhadapnya. Gavin memposisikan Cantika untuk berdiri di belakangnya, bagaimanapun juga ia tidak bisa lepas tangan setelah istri keduanya diperlakukan dengan amat buruk.
"Anda punya masalah apa dengan istri saya?" tanya Gavin menunjuk tepat di wajah Ciko.
__ADS_1
"Mungkin maksudnya istri kedua," seru Ciko menekan kata 'kedua'.
Orang-orang semakin fokus pada keributan yang dipertontonkan Gavin dan Ciko. Bahkan diantara banyaknya tamu, ada beberapa yang mereka kejadian yang menurut mereka akan sangat viral bila di unggah di media sosial.
"Anda---" Gavin mengepalkan tangannya, bersiap untuk meninju Ciko.
Baru saja tangannya terangkat, Diky dengan gesitnya menggagalkan tinjuan itu dengan mendorong tubuh Gavin. Akibat dorongan yang kuat, tubuh Gavin kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang, menimpa tubuh Cantika.
Para tamu menjerit, mereka tidak bisa membayangkan rasa malu dan sakit yang menimpa sepasang suami-istri yang kontroversial itu.
Ya, sebelumnya Cantika dan Gavin sempat trending di jagat maya dikarenakan resepsi pernikahan mereka yang kacau. Lalu, hari ini wajah mereka akan kembali muncul di jagat maya dengan kasus yang berbeda.
Elora bertepuk tangan di tengah suasana hening, ia tak merasa gentar atau semacamnya. Karena di tempat ini ia hadir dengan membawa nama Anderson.
Kerumunan orang yang berada di depan Elora menyingkir untuk memberikan jalan kepada Elora yang berjalan anggun meskipun lengan kanannya terbalut arm sling (Gendongan penyangga lengan patah).
Para pelaku keributan itu memandang Elora, khusunya Cantika serta Gavin yang terperangah akan perubahan Elora yang sangat drastis.
"Duduk bersama-sama di lantai, kalian sangat serasi," ucap Elora memandang rendah kedua orang yang sempat membuatnya mengalami tekanan batin.
"Suami pengkhianat dan adik tiri yang jauh lebih busuk daripada jal*ng!" lanjut Elora tajam.
"Siapa kamu berani menghina kami?" seru Cantika tak terima.
Elora kembali menyunggingkan senyumannya.
"Saya adalah Elora Fazia Anderson---"
"Pfth ... hahahaha ...." Ciko tertawa terbahak-bahak.
Elora Fazia Anderson? Ayolah, nama itu sangat tidak nyambung. Bahkan jauh tidak nyambung dibanding namanya, pikir Ciko.
Plak!
Bibir Ciko ditepuk kencang oleh Diky.
"Jangan mengacaukan suasana," tegur Diky dengan suara yang pelan.
"Omong kosong! Kita sudah lama saling mengenal, tetapi aku tidak pernah mengetahui kalau kamu itu kerabat dari keluarga Anderson," sangkal Gavin seraya berdiri.
"Omong kosong? Ha ... Tuan Diky, tolong jelaskan kepada orang bodoh ini!" ujar Elora pedas.
Diky tersenyum kikuk, sikap dan perkataan Elora sudah hampir sama dengan Kenan. Diky semakin yakin kalau Elora dan Kenan itu berjodoh.
"Sebelumnya, perkenalkan ... nama saya Diky Aldiano, orang kepercayaan dari Presdir Kenan Anderson. Hari ini saya ditugaskan langsung oleh Presdir Kenan untuk mengawal sepupunya, Nona Elora Fazia Anderson. Serta sahabat karib Presdir Kenan, Dokter Arvian Ciko Pratama," tutur Diky sejelas-jelasnya.
__ADS_1
"Dokter Arvi!?" seru para tamu kaget.
Ini adalah kemunculan perdana Ciko, semenjak kemunculannya beberapa tahun lalu yang membuat gempar dunia kedokteran. Pasalnya, Ciko adalah Dokter paling muda yang ikut andil dalam pembuatan obat untuk suatu penyakit langka.