Elora

Elora
Bab_14 (Mulai Dekat)


__ADS_3

"Tenanglah, Elora ...," hibur Kenan mengusap-usap pelan punggung Elora.


Elora mengangkat kepalanya, matanya yang basah oleh air mata itu menatap wajah Kenan dalam-dalam. Melihat itu, Kenan mengalihkan tangannya dari punggung Elora dan menyeka air mata Elora menggunakan jemarinya.


"Kamu boleh menangis jika itu membuatmu merasa lebih baik ...," ucap Kenan tulus.


Grep!


Tiba-tiba saja Elora memeluk Kenan, Kenan pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, ia langsung memeluk balik Elora.


Pelukan yang amat disukai oleh Kenan itu berlangsung lama, Elora seperti enggan untuk melepaskan pelukannya kepada pria yang masih asing dengannya. Namun, tidak tahu kenapa Elora merasakan kenyamanan yang luar biasa saat berpelukan dengan Kenan.


Seiring berjalannya waktu, tangisan Elora mulai mereda, menandakan bahwa kondisinya sudah mulai membaik. Nafas Elora yang tadi tersengal-sengal pun sudah kembali teratur seperti sedia kala.


"El ...," panggil Kenan.


"Elora ...," panggil Kenan lagi karena Elora tak kunjung merespon panggilannya.


"Apa Elora ketiduran?" gumam Kenan.


Kenan merenggangkan pelukannya, melihat Elora yang tak ada pergerakan sedikit pun. Seulas senyuman tampak di wajah Kenan, rupanya Elora tertidur dengan bersandar pada dada bidangnya.


"Baguslah, sekarang Elora sudah tidak waspada lagi kepadaku. Dengan begini ... tidak lama lagi Elora pasti akan menjadi milikku, dan menyandang gelar nyonya Anderson," ujar Kenan tersenyum miring.


Dengan perlahan Kenan membaringkan Elora, ia tidak mau kalau Elora sampai terbangun oleh ulahnya. Selesai membaringkan Elora, ia menyelimuti tubuh Elora sampai sebatas perut. Jemari tangan Kenan dengan lihainya menyibakkan rambut Elora yang menutupi wajahnya yang cantik nan menggemaskan.


"Aku pernah bertemu dengan banyak wanita yang kecantikannya melebihimu, tapi aku benar-benar tidak tertarik pada mereka. Yang ada aku malah merasa jijik melihat mereka, karena kebanyakan dari mereka adalah wanita yang berlagak sok suci padahal aslinya mereka tidak lebih dari wanita licik yang menginginkan uangku," monolog Kenan.


"Sedangkan kamu ... ah! Entahlah ... aku tidak tahu harus mendeskripsikanmu. Yang jelas, saat bersamamu aku merasa nyaman dan bahagia. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, Elora ...," sambung Kenan sembari senyam-senyum tidak jelas.


'Kamu telah membuatku gila, Elora ...,' batin Kenan berteriak.


Kenan merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan sebuah handphone. Ia mengarahkan kamera ponselnya itu tepat ke wajah Elora, pria itu mencuri beberapa foto Elora.


'Sepertinya akan bagus kalau foto-foto ini aku pajang di kamar,' batin Kenan menyeringai.


Sebuah panggilan telepon masuk ke handphone Kenan, di layar handphonenya itu tertera nama Diky. Dengan malas Kenan mengangkat telepon dari orang kepercayaannya itu, takutnya Diky meneleponnya untuk memberikan informasi mengenai pelaku peracunan terhadap Elora.


"Ada apa, Diky?" tanya Kenan dingin.


"Aish, baiklah ...," sahut Kenan setelah mendengar penjelasan Diky dari telepon.

__ADS_1


Kenan mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, moodnya yang bagus langsung memburuk begitu Diky memberitahunya untuk segera bergegas pergi ke Amerika untuk menyelesaikan pekerjaan yang molor dari jadwal.


Kenan mencebikkan bibirnya, sungguh ia tidak tega meninggalkan Elora, tapi ... ia juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang sudah ia upayakan sejak lama. Alhasil, mau tak mau Kenan harus memprioritaskan pekerjaannya demi dirinya, perusahaan, serta calon istrinya.


Satu tangan Kenan kembali merogoh saku jas yang lainnya, ia mengeluarkan handphone cadangan yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia mengetikkan sesuatu di handphone itu, dan menaruh handphone itu di samping Elora.


"Aku pamit kerja dulu, sayang ...," pamit Kenan setelah mengecup sekilas bibir Elora.


Sebelum pergi dari ruangan itu, Kenan terlebih dahulu mengambil handphone Elora yang rusak akibat dilemparkan oleh si empunya. Rencananya, Kenan akan memperbaiki handphone itu untuk mencari tahu apa yang menyebabkan Elora menangis histeris.


***


"Akh!" ringis Gavin sembari memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.


"Mas Gavin ...!" panggil Cantika manja.


Gavin membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan yang asing baginya. Ekspresi keterkejutan Gavin terlihat jelas di saat pandangannya menangkap sosok Cantika yang berada di bawah selimut yang sama dengan dirinya, dalam kondisi telanj*ng.


Seingat Gavin, semalam ia melakukan hal itu bersama Elora. Tapi kenapa malah Cantika yang berada di sampingnya, ke mana Elora?


"Cantika, kamu ---"


"Kamu harus tanggung jawab, Mas. Aku mau pernikahan kita dipercepat," sela Cantika.


"Kalau begitu pernikahan kita dilaksanakan 3 hari lagi," putus Gavin memalingkan wajahnya dari Cantika.


'Mas Gavin ... jangan berharap untuk bisa kembali bersama kakakku yang menyedihkan itu,' batin Cantika.


***


"Eungh ...," lenguh Elora pelan.


Elora merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan hati-hati dikarenakan kondisi tubuhnya yang masih terasa sakit di mana-mana. Perhatian Elora langsung tertuju pada sebuah handphone yang berada di sampingnya.


"Handphone siapa ini?" gumam Elora.


"Apa ini handphone Kenan?" Elora bertanya-tanya.


Elora menghidupkan handphone yang ia duga sebagai handphone kepunyaan Kenan. Anehnya handphone itu tidak menggunakan kata sandi, dan ketika Elora menggeser layar kunci handphone itu langsung menampilkan aplikasi memo yang di sana sudah ada beberapa baris kalimat yang telah diketik sedemikian rupa.


Elora membaca kata per kata yang diketik oleh Kenan, seulas senyuman muncul di wajah pucat Elora.

__ADS_1


"Dia pria yang baik," ucapnya tersenyum tulus.


Waktu terasa berlalu dengan cepat, jam pun telah menunjukkan pukul 14.30. Dan diantara waktu yang terlewat itu kondisi Elora sempat drop sampai-sampai membuat tangannya harus kembali dipasangi jarum infus.


"Eyo! Gimana kondisi lo sekarang?" tanya Ciko tiba-tiba.


"Kondisi saya baik," jawab Elora dengan rasa keterkejutan yang belum lenyap.


"Mau gue ajak ke luar gak?" Ciko memberikan tawaran.


Elora mengerjapkan matanya.


"Memangnya boleh?"


"Iya bolehlah, lagian gak akan ada orang yang berani ngelarang gue buat bawa lo keluar," kata Ciko mantap.


"Bagaimana dengan Kenan? Apa Kenan juga tidak akan bisa melarang Dokter?" tanya Elora bermaksud untuk menjahili Ciko.


Ketika bersama Ciko mood Elora perlahan membaik, itu berkat sikap Ciko yang lucu serta ceplas-ceplos.


"Ish, lo gak asik, El." Ciko mendengus.


"Ternyata benar, kalau Dokter takut sama Kenan," canda Elora.


"Gue gak takut, ya," sangkal Ciko dengan wajah cemberutnya.


"Kalau gak takut terus apa?" Elora tidak mau berhenti menggoda Ciko.


"Gak berani, hehe ...," jawab Ciko tertawa geli.


Elora yang melihat Ciko tertawa pun terbuai dan mulai ikut tertawa bersama Ciko. Merasa sudah cukup, Ciko menghentikan tawanya.


"Jadi ke luar gak?" tanya Ciko yang dengan cepatnya dijawab oleh Elora dengan anggukan kepala.


"Ok, kalau gitu gue lepasin dulu jarum infus lo," sambung Ciko tersenyum jahil.


Firasat Elora menjadi tak baik pasca melihat senyuman Ciko.


"Dokter, anda jangan main-main dengan saya," peringat Elora.


"Kalau anda berani mempermainkan saya menggunakan jarum infusan ini, saya akan mengadukannya kepada tuan Kenan," ancam Elora serius.

__ADS_1


"Anj*ng!" umpat Ciko yang kesal akan ancaman yang diberikan oleh Elora.


__ADS_2