
"Kenapa kalian selalu bertengkar?" tanya seorang guru wanita dengan tatapan yang mengintimidasi.
Arvin dan Lisa diam menunduk, mereka bingung harus memberikan jawaban logis kepada Ibu Ayu, guru BK di sekolah mereka.
"Tidak mau menjawab, hah?"
"Si Arpin ngelempar bola kasti ke jidat saya." Akhirnya Lisa buka suara.
"Nama gue Arvin, bukan Arpin!"
"Benar itu Arvin?" tanya Bu Ayu memastikan.
Arvin menganggukkan kepalanya, toh memang itu kenyataannya, tak ada gunanya juga ia menyangkal.
"Tapi saya tidak sengaja, Bu."
"Boong lo, Pin!" sungut Lisa.
"Gue gak boong, emang kenyataannya gue gak sengaja," balas Arvin dengan ekspresi kekesalan yang tercetak jelas di wajahnya.
Brak!
Bu Ayu yang kesal dengan perdebatan Arvin dan Lisa itu menggebrak meja, menghentikan perdebatan tak bermanfaat yang membuat kepalanya berdenyut-denyut.
"Ibu sudah tidak tahan dengan kalian berdua, hari ini Ibu akan memanggil orang tua kalian," tegas Bu Ayu.
Ucapan Bu Ayu memunculkan raut kesedihan di wajah Lisa, begitu halnya dengan Arvin yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Orang tua saya sudah meninggal, Bu," ungkap Lisa yang membuat Bu Ayu terhenyak.
Arvin melirik sejenak ke arah Lisa yang seperti tengah menahan air matanya.
"Orang tua angkat saya telah meninggal ketika saya masih sekolah SMP. Saya dibuang oleh orang tua kandung saya ketika masih bayi," papar Arvin yang memantik kesedihan Lisa dan Ibu Ayu.
Suasana di ruang BK menjadi sunyi sepi, ketiga orang itu terlalut dalam kesedihan. Pandangan Bu Ayu terhadap kedua murid nakalnya mulai berubah, Bu ayu pun mengurungkan niatnya untuk memberikan kabar buruk kepada keduanya, dikarenakan situasi yang tak memungkinkan.
'Menjadi nakal demi untuk menutupi kesedihan yang mendalam.'
***
"Ayah sakit apa?" tanya Elora kepada Ayah mertuanya yang terbaring di ranjang.
"Ayah hanya kelelahan," jawab sang Ayah.
"Memangnya Ayah sudah diperiksa?"Elora lanjut bertanya.
"Tadi pagi Ayah sudah diperiksa."
"Sudah minum obat?"
__ADS_1
Elora terus mencecar mertuanya dengan berbagai pertanyaan, tak bisa dipungkiri lagi kalau Elora sangat khawatir mengenai kesehatan Ayah mertuanya.
"Sudah."
"Kamu istirahat saja, El. Ayah juga mengantuk, mungkin efek dari obat yang sudah Ayah minum," ucap ayahnya yang langsung diangguki Elora.
Waktu terasa sangat lamban bagi Elora, rasa bosan mendera Elora. Jujur, di tengah rasa sepinya ini ia merindukan celotehan Ciko, serta merindukan ucapan-ucapan ngawur Kenan.
Elora meraih dompetnya, dibukanya dompet berwarna hitam yang sudah sangat tipis karena hampir satu bulan ia tidak mendapatkan pemasukan sedikit pun. Tabungannya yang dulu berlimpah pun sudah terkuras habis untuk membayar biaya pengobatan ayahnya yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari komanya.
"Uangku tinggal tersisa 300.000, Mas Gavin mana mungkin mau menafkahi aku. Semua harta di rebut si Ibu tiri jahat, hah ... sepertinya aku harus mencari pekerjaan," monolog Elora sambil memejamkan matanya, mengingat kejadian-kejadian sulit yang menghantamnya setelah ia resmi menikah dengan Gavin.
Perut Elora berbunyi, mungkin karena ia belum makan malam sementara jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Mie instan dan telur setengah matang ...."
"Aku butuh itu."
Elora yang sedang bermalas-malasan itu menggulingkan tubuhnya dari temat tidur, kakinya yang jenjang itu melangkah pasti menuju dapur yang berada di lantai bawah.
Gavin keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum, saat keluar dari kamar ia mendapati Elora yang bersiap untuk menuruni tangga. Entah dorongan dari mana, Gavin mengikuti Elora.
Setelah menghabiskan beberapa menit, akhirnya mie instan yang dimasak Elora matang juga. Di atas mie instan rebus itu nampak 4 bulatan telur ayam rebus, rupanya Elora memasak sebungkus mie instan dengan tambahan 4 telur ayam.
Elora tidak sadar bahwa dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikannya memasak, Elora yang kelaparan itu menyantap mie instan nya sambil berdiri.
"Mie instan pelipur lapar."
"Ah, kok aku malah keinget Mas Gavin, yah?"
Gavin menahan nafasnya sejenak, Elora masih mengingatnya?
"Kalau pernikahan aku sama Mas Gavin mulus-mulus aja, mungkin---"
Elora tak melanjutkan ucapannya, tidak baik baginya untuk terus memikirkan hubungan pernikahannya yang hancur lebur.
Elora meletakkan sendok yang dipegangnya di mangkok mie.
"Gara-gara mikirin Mas Gavin mie instan ini jadi gak enak."
"Gavin s!alan! Suami gak guna! Tukang selingkuh!" Elora mengoceh dan menyumpah serapahi Gavin.
"Balik tidur lagi aja, ah!" kata Elora beranjak pergi dengan segelas air minum yang berada di tangannya.
Setelah yakin Elora masuk ke dalam kamarnya, Gavin keluar dari tempat persembunyian. Wajahnya muram karena tadi telinganya menangkap semua perkataan buruk dari wanita yang pernah memenuhi relung hatinya.
"Sebegitu buruknya aku di matamu, El ...."
***
__ADS_1
"Mas, kamu udah bangun?" seru Cantika yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi, Gavin sudah siap dengan kemeja berwarna putih yang membalut tubuhnya. Hari ini ia akan pergi ke luar kota untuk sebuah pekerjaan besar yang dia emban sebagai pemimpin sementara perusahaan Aryasatya yang sebelumnya dipimpin oleh sang Ayah.
"Ya, hari ini aku harus ke luar kota," jawab Gavin sambil memasangkan sebuah jam tangan bermerk.
Cantika yang masih mengantuk itu tidak bergerak dari tempat tidur, Gavin sebagai suami pun menghampiri Cantika untuk sekadar berpamitan.
Sebelum pergi, Gavin memberikan uang bulanan untuk Cantika. Selain untuk Cantika, Gavin juga menitipkan uang bulanan Elora kepada Cantika. Sekeras apapun ia terhadap Elora, ia tidak mungkin tidak memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami untuk memberikan nafkah kepada istrinya.
Untuk nafkah batin Elora ... Gavin belum bisa memenuhi itu dalam waktu yang dekat.
Di meja makan sudah terhidang nasi goreng beserta lauk pauk pelengkapnya. Elora, wanita itu memasak di pagi buta lantaran perutnya sudah meminta di isi ulang, semalam pun ia tidak bisa tidur nyenyak.
"Kamu mau ke mana, Mas. Ini masih pagi." Elora bertanya pada Gavin yang berdiri tak jauh darinya.
"Ke luar kota," jawab Gavin singkat.
Elora berdecak sebal, jawaban Gavin terlalu singkat.
"Duduk, sarapan dulu!" perintah Elora tak terbantahkan.
"Kamu masih peduli sama aku, El?" Gavin mengernyitkan keningnya.
"Mau seba7ingan apapun, kamu masih suami aku," jawab Elora agak ngegas.
Elora memutar bola matanya malas.
"Ambil sendiri nasi sama lauknya."
Hanya suara dentingan sendok yang terdengar sepanjang sarapan di pagi hari itu, tak ada obrolan antara sepasang suami istri tersebut.
"Terimakasih atas sarapannya, El," ucap Gavin tulus.
"Tunggu!" cegah Elora begitu Gavin akan beranjak dari tempat duduknya.
Elora berjalan mendekati Gavin, jemari lentiknya meraih dasi yang terpasang di leher Gavin.
"Bentuk dasinya jelek!"
"Berantakan, risih banget liatnya."
"Gak bisa pasang dasi, ya?"
"Istri kedua kamu ke mana?"
"Dia gak bantu kamu pasang dasi?"
Sambil menggerutu, jemari Elora dengan lihainya memasangkan dasi Gavin, merapihkan pakaiannya, layaknya seorang istri yang teramat mencintai suaminya. Tatapan Gavin kosong, bayangan kenangan manis semasa pacaran berputar di kepalanya bak kaset yang kusut.
__ADS_1
Elora menepuk pundak Gavin, menyadarkan Gavin dari lamunannya.
"Udah, pergi sana!"