Elora

Elora
Bab_6 (Perubahan Ciko)


__ADS_3

"Non Elora!" Lagi-lagi perkataan Kenan kembali terpotong, kali ini seorang pria paruh baya-lah yang memotong perkataannya.


Pria paruh baya itu tampak ngos-ngosan seperti baru menyelesaikan lari maraton.


"Pak Idan," gumam Elora.


"Ayah gimana, Pak? Ayah baik-baik aja 'kan?" cecar Elora.


Pria yang dipanggil Pak Idan itu tak langsung menjawab pertanyaan Elora, ia terlebih dulu mengatur nafasnya yang terasa sesak.


"Non, sekarang tuan ada di ruang UGD. Kata dokter tuan harus segera di operasi, tapi sedari tadi saya tidak menemukan nona," jelas Pak Idan.


Elora tertohok mendengar penjelasan Pak Idan, ia bersyukur karena ayahnya masih ada meskipun keadaannya tidak baik.


"Terus, Ayah udah di operasi 'kan?"tanya Elora memastikan.


"Belum, Non. Katanya Tuan bisa di operasi setelah selesai menyelesaikan biaya administrasi. Makanya saya cari-cari Non Elora," jawab Pak Idan lesu.


Elora menjadi gelisah, apalagi ia tidak membawa uang sepeser pun, mau tidak mau ia harus pulang untuk mengambil uang.


"Apa-apaan!?" ucap Ciko emosi.


Ciko yang senantiasa santai dan terbilang cukup jarang terpancing emosi menjadi begitu emosional setelah tahu ada pasien dalam kondisi darurat tidak langsung ditangani dengan alasan belum menyelesaikan biaya administrasi. Sungguh, ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi sekarang.


Bisa Ciko tebak kalau kejadian ini bukan yang pertama kalinya, ia tidak bisa membayangkan berapa banyak manusia yang meregang nyawa karena telat dalam penanganan.


Ciko tidak menyalahkan para dokter, ia tahu para dokter juga ingin segera melakukan penanganan serius pada pasien. Namun, mereka tidak bisa berbuat banyak, sebab ... tidak mungkin juga mereka melanggar prosedur rumah sakit.


Ingin rasanya Ciko mendatangi orang yang bertanggung jawab atas rumah sakit, sayangnya tidak mungkin ia melakukan hal itu sekarang, karena kini nyawa seseorang tengah dipertaruhkan.


"Ken, kita ke ruang UGD sekarang," ajak Ciko berjalan memimpin di depan Kenan yang mendorong kursi roda Elora, serta Pak Idan yang mengikuti di belakang Kenan.


Hanya dalam waktu semenit, mereka sudah berada di depan ruang UGD. Di ambang pintu ada seorang perawat wanita yang tampaknya tengah menunggu kedatangan dari keluarga pasien yang tidak lain adalah Elora.


"Dengan keluarga pasien?" tanya si perawat itu ramah.


Sayangnya keramahan itu tak mengurangi kemarahan Ciko, yang ada malah menambah kemarahan Ciko.


Ketika Ciko hendak memasuki ruang UGD, si perawat itu menghalanginya.


"Maaf, Pak. Anda tidak boleh masuk!" larang si perawat.

__ADS_1


Bukan Ciko namanya jika tidak melanggar larangan, ia mendorong pelan si perawat lalu menerobos masuk ke dalam ruang UGD. Si perawat yang gagal menghentikan Ciko pun sesegera mungkin menyusul Ciko.


"Tidak apa-apa, saya dan keluarga Ciko mempunyai saham di rumah sakit ini. Jadi, kamu tidak usah khawatir," ujar Kenan sedikit menghilangkan rasa khawatir pada diri Elora.


Selang beberapa menit, Ayah Elora keluar dari ruang UGD. Ayah Elora berbaring tak berdaya di atas brankar dengan perawat yang dengan sigap nan cepat mendorong brankar menuju ruang operasi.


Ciko keluar terkahir dari ruangan UGD, bahkan Ciko sudah lengkap mengenakan pakaian medisnya. Ciko yang saat ini berbanding drastis dengan Ciko yang tadi.


"Perbanyak berdoa, saya akan berusaha semaksimal mungkin," pinta Ciko pada Elora.


Ciko setengah berlari menuju ruang operasi, setiap langkahnya ia isi dengan berdoa untuk kelancaran operasi yang akan dilakukannya.


Handphone Kenan berdering nyaring, ia menjauhkan diri dari Elora, lalu mengangkat panggilan telepon yang masuk ke handphonenya.


Saat Kenan tengah menelepon, Pak Idan mendorong kursi roda Elora menuju ruangan operasi. Elora juga mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat pada Kenan.


***


"Mas, bawa mobilnya bisa agak cepetan, gak?" tanya Cantika.


"Ini sudah cepat Cantika, lagian sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," jawab Gavin agak ketus.


Cantika berusaha tersenyum, meskipun ia sebal kepada Gavin yang tiba-tiba berubah menjadi ketus. Padahal, sebelumnya Gavin selalu berkata manis padanya.


Sementara itu ....


"Elora, maaf saya tidak bisa menemani kamu. Soalnya saya ada pekerjaan yang sangat penting," ucap Kenan pada Elora.


Sebenarnya, Kenan sangat ingin menemani Elora sampai operasi ayahnya selesai. Namun, ia juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya.


"Iya, tidak apa-apa," sahut elora singkat.


"Oh, iya. Kamu tidak usah memikirkan masalah administrasi, selesai melakukan operasi Ciko yang akan menyelesaikan semuanya," jelas Kenan.


"Em ... tidak us ---"


"Saya tidak suka ditolak," potong Kenan dengan penekanan pada setiap kata.


"Kalau begitu saya pergi sekarang, jaga kesehatan kamu. Setelah pekerjaan saya selesai, saya pasti akan kembali ke sini," pamit Kenan ramah.


"Jangan menyahut!" larang Kenan pada saat Elora akan menyahuti perkataannya.

__ADS_1


Kenan melangkahkan kakinya meninggalkan Elora yang masih diam tak bergeming di kursi rodanya. Ada rasa tak rela di hati Elora kala Kenan pergi meninggalkannya. Ah! Apa yang terjadi dengannya? Tidak mungkin ia langsung jatuh hati kepada pria yang baru pertama kali ia temui, ditambah lagi ia sudah menyandang status istri Gavin.


Bugh!


Tubuh kekar Kenan secara tidak sengaja tertabrak oleh seorang wanita.


Dengan tidak berperasaan Kenan mendorong wanita yang menabraknya itu hingga membuat si wanita terjatuh ke lantai.


'Menjijikan'


"Hey! Anda jangan kasar pada wanita," seru seorang pria.


Kenan berdecak sebal, ia telah membuang banyak waktu bersama Elora. Ya, walaupun waktu yang ia habiskan bersama Elora terasa menyenangkan, tetap saja itu membuang waktu berharganya.


Lalu, sekarang ia harus berhadapan dengan seorang wanita kurang ajar yang sengaja menabrakkan diri padanya, serta seorang pria yang ber-cosplay menjadi pahlawan.


"Mas Gavin ...," lirih si wanita yang tak lain adalah Cantika.


Gavin memegang kedua bahu Cantika, lalu membantu Cantika bangun.


"Kenapa anda mendorong calon istri saya?" tanya Gavin membuat Cantika senyum-senyum sendiri karena ia diakui calon istri oleh Gavin.


"Pertanyaan yang tidak berguna," sinis Kenan berlalu pergi.


"Ada yang sakit?" tanya Gavin khawatir.


"Nggak, Mas," jawab Cantika tersenyum manis.


***


Kenan memasuki sebuah mobil yang terparkir apik di parkiran rumah sakit. Rupanya Kenan menyuruh sopir pribadinya untuk menjemput ia, sebab mobil Lamborghini yang tadi ia tumpangi tadi kuncinya dipegang oleh Ciko.


'Siapa yang sudah membuat tuan marah?' batin si sopir.


Si sopir mengerutkan keningnya ketika melihat Kenan melepaskan jas serta kemejanya, hingga menyisakan sebuah kaos putih polos di badannya.


Kenan melemparkan pakaian itu ke bagian belakang mobil, bahkan ia sampai menyemprotkan parfum hampir ke sekujur tubuhnya.


Kenan menyandarkan kepalanya, ia menutup matanya, kembali mengingat waktu ia bersama dengan Elora tadi.


'Ku kira rasa jijik ku kepada wanita akan benar-benar sembuh berkat Elora. Rupanya rasa jijik itu masih ada, tapi ... wanita tadi benar-benar sangat menjijikan. Wajah sok polosnya itu ... ah! Membayangkannya saja membuatku mual,' batin Kenan.

__ADS_1


"Pak Yana, saat saya menaiki mobil nanti. Saya harap pakaian yang saya lempar ke belakang tadi sudah menghilang dari mobil ini," tutur Kenan serius.


__ADS_2