Elora

Elora
Bab_46 (Kabar Baik)


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, Elora membawa ibunya ke taman yang berada di sekitaran rumahnya. Mungkin dengan membawanya menghirup udara segar, Ibu mertuanya yang mengalami stroke itu bisa segera sembuh seperti sedia kala.


Elora duduk di rerumputan, di samping Ibu mertuanya yang duduk di kursi roda.


"Bunda masih marah gak sama, El?" Elora bertanya kepada sang Bunda yang tidak bisa berbicara.


Elora berpindah posisi, ia berlutut di depan kursi roda sang Ibu mertua.


"Kalau Bunda sudah tidak marah, Bunda harus kedip mata."


Beberapa saat kemudian, sang Bunda mengedipkan matanya, itu berarti sang Bunda sudah tidak marah kepada Elora.


"Bunda, El itu gak pernah selingkuh. Foto Elora bersama pria itu memang asli, tapi Elora murni hanya menolong pria itu."


"Ah, iya. Sekarang Elora deket sama Presdir Kenan Anderson yang baik banget sama, El. Ayah El sekarang koma di rumah sakit, semua harta Ayah juga di pegang sama mamanya Cantika."


Elora mengeluarkan segala keluh kesahnya kepada Ibu mertuanya, cara seperti ini cukup ampuh untuk mengurangi kegundahannya. Elora bersandar ke bagian kursi roda yang diduduki bundanya.


"El sayang banget sama Bunda, bagi El ... Bunda itu Ibunya El, bukan ibunya Mas Gavin."


Ibu mertuanya terharu, ia rasa semua yang dikatakan oleh Elora itu tulus dari dalam lubuk hatinya. Ingin sekali ia menggerakkan tangannya untuk mengelus kepala menantu yang tulus mencintainya.


'Aku harus bisa menggerakkan tanganku,' batin sang Bunda.


Sedikit demi sedikit jemari tangannya yang kaku mulai bergerak.


'Sedikit lagi ....'


"Bunda ...." Elora mendongak menatap wajah sang Bunda.


"Ja--jari Bunda bisa gerak!" pekik Elora kegirangan.


"Wah, hebat Bunda ...!"


"Sebentar lagi Bunda pasti akan segera sembuh!"


"Bunda, bagaimana kalau bunda berobat ke Kakak angkat Elora. Namanya Dokter Arvi, kedipkan mata kalau Bunda setuju."


Elora melompat tatkala sang Bunda mengedipkan matanya, Elora bisa sesenang itu karena selama mengalami stroke bundanya menolak untuk melakukan pengobatan.


"Ayo kita pulang untuk memberikan kabar baik kepada Ayah," ujar Elora bersemangat mendorong kursi roda sang Bunda untuk kembali ke rumah.


Sesampainya di dalam rumah, Elora dikejutkan dengan kehadiran Ciko, Diky, dan Kenan pastinya.


"Ada apa? Kok, kalian kumpul di sini?" tanya Elora keheranan.

__ADS_1


"Ayah kamu sudah sadar, El ...."


Elora diam membeku, matanya terpejam rapat. Dalam hatinya ia memanjangkan puji dan syukur atas kebahagiaan yang diberikan tuhan kepadanya, semua rasa sakit dihatinya sirna begitu mendengar kabar yang telah ia tunggu-tunggu setiap harinya.


"A--ay--ah---"


Mulut Elora terasa kelu, mengucapkan kata ayah saja rasanya sangat sulit. Air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya itu luruh kala ia mengedipkan matanya.


Kenan hendak memeluk Elora, akan tetapi ia kalah cepat oleh Ciko yang sudah mendekap tubuh Elora.


Diky yang melihat Kenan yang tengah menahan kekesalan, buru-buru pergi ke luar rumah, rupanya Diky takut kalau-kalau Kenan melampiaskan amarah kepadanya.


'Semoga kamu selamat, Ciko,' batin Diky ketika tatapannya bertemu dengan tatapan teduh Ciko.


Kening Ciko mengkerut, ada apa dengan Diky? Pikirnya. Ciko tidak sadar bahwa di belakangnya ada seseorang yang menatapnya bak singa yang akan menerkam mangsanya.


"Aku mau ketemu Ayah, Kak," lirih Elora di sela-sela isak tangisnya.


'Seharusnya aku yang berada di sana, bukan si brengs*k Ciko!' batin Kenan geram.


"Ok, sekarang kita ke rumah sakit," sahut Ciko sambil mengusap kepala Elora.


Prang!


Kenan menjatuhkan handphonenya ke lantai tatkala Ciko mengusap kepala Elora.


"El, jangan jauh-jauh dari gue, yah ...," pinta Ciko yang terdengar seperti sedang berbisik.


"Gue mohon ...," lanjutnya memelas.


Elora menganggukkan kepalanya, tak masalah bila Ciko ingin dekat dengannya.


Tameng, ternyata oh ternyata Kenan menjadikan Elora sebagai tameng kuat untuk menghalau segala serangan brutal dari Kenan.


***


"Ayah di ruangan mana, Kak?" tanya Elora kepada Ciko yang enggan untuk melepaskan tangannya yang digenggam selama perjalanan menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat.


Belum sempat menjawab, Ciko ditarik dari belakang oleh Kenan. Diky yang bisa membaca situasi pun menuntun Elora berjalan ke ruangan perawatan ayahnya.


Kenan mendorong Ciko ke tembok, Ciko pun meringis saat punggungnya berbenturan dengan tembok. Tak dapat dielakkan lagi kalau tingkah Kenan itu mencuri atensi orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


"Lo masih belum puas pegang-pegang istri gue?" bentak Kenan.


"Ayolah, Ken ... Elora itu adik angkat gue, mana mungkin gue suka sama dia. Jadi, lo gak usah cemburu buta gini dong sama gue ...," tutur Ciko berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


"Bullshit!" sergah Kenan.


"Kalau mau pukul, ya pukul aja, Ken!" seru Ciko saat melihat kepalan tangan Kenan.


Satu kali Kenan menonjok menggunakan kepalan tangannya, Ciko yakin kalau ia akan langsung pingsan. Meskipun takut, tak tau kenapa Ciko yakin Kenan tidak akan sampai memukulnya. Alasannya, sudah jelas karena Elora akan uring-uringan apabila Ciko terluka, apalagi orang yang membuatnya terluka itu adalah Kenan.


"S!alan, lo! Jauhin istri gue!" peringat Kenan kemudian meninggalkan Ciko yang terduduk lemas di lantai.


"Gila! Belum sah aja udah manggil Elora pake embel-embel istri. Gimana kalau udah nikah, ya?"


"Bodo! Mending gue kerja aja, cari cuan buat beli mobil baru."


Mobil, mobil, dan mobil. Setelah Dania meninggal, Ciko mengalihkan kesedihannya dengan terus bekerja, dan menggunakan penghasilannya untuk membeli mobil. Orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa berharap putra kesayangannya mendapatkan wanita lain yang bisa merubah sifat putra mereka, Ciko.


***


"Segera kembali ke kantor!" perintah Kenan pada Diky yang berdiri di depan pintu ruangan rawat Ayah Elora.


Diky mengangguk hormat, lebih baik kerja di kantor daripada harus menemani Presdir-nya yang labil.


Kenan meraih gagang pintu.


Ceklek!


Krieet!


Pintu ruangan itu terbuka menampakkan Elora yang tengah mengobrol bersama ayahnya.


Elora berjalan menghampirinya dengan wajah yang ditekuk dan kedua pipi menggembung.


"Ayah mau ngomong sama kamu," ucap Elora tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.


Ayolah ... Elora baru saja menceritakan sedikit kejadian yang menimpanya selama sang Ayah dalam keadaan koma. Namun, ayahnya malah memintanya keluar karena ingin berbincang bersama Kenan yang tadi dipuji-pujinya atas pertolongan yang diberikan kepadanya.


"Jangan kasih tahu Ayah soal kelakukan Ibunya Cantika," peringat Elora.


Kenan mengiyakan peringatan dari Elora, kemudian mendekat ke calon Ayah mertuanya yang nampak tak sabar ingin mengobrol dengannya.


"Kenan, bagaimana kabar kamu?" Ayah Elora mulai membuka percakapan.


Kening Kenan mengkerut, ia merasa tak asing dengan Ayah Elora. Apa mungkin sebelumnya mereka pernah bertemu?


"Kabar saya baik, Om."


"Duduk dulu Kenan, karena akan ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Om ajukan kepada kamu."

__ADS_1


Kenan menelan ludahnya dengan sangat susah, selama hidupnya ... ia baru merasakan ketegangan yang luar biasa ketika berhadapan dengan seseorang.


'Salah menjawab sedikit saja, bisa-bisa aku tidak direstui untuk mendekati anaknya,' batin Kenan dengan ekspresi tegang yang tergambar jelas di wajahnya.


__ADS_2