
"Hey, kenapa melamun?" Elora melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Lisa.
"Lisa, panggil aku Lisa, Kak!" seru Lisa.
"Lisa, kamu ikut Kakak pulang, ya?" Elora mengajukan pertanyaan yang sama kepada Lisa.
Lisa menyunggingkan senyumannya, sebuah senyuman tulus yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang terdekatnya. Tanpa permisi Lisa memeluk Elora yang terdiam di tengah keanehannya terhadap Lisa yang baru ia temui hari ini.
Elora menepis jauh-jauh semua rasa bingung dan aneh yang berputar di kepalanya. Saat ini yang paling penting baginya adalah bisa sesegera mungkin membawa Lisa ke rumahnya untuk mengobati luka yang disebabkan oleh adik tirinya, Cantika.
"Lisa, ayo kita ke rumah Kakak!" ajak Elora melepas pelukan Lisa.
Lisa menatap wajah Elora dengan tatapan sendunya, Elora yang tak faham akan sikap Lisa hanya bisa menggaruk tengkuknya.
Tak kunjung mendapat jawaban dari Lisa, akhirnya Elora menggenggam tangan Lisa, menuntunnya untuk mengikuti setiap langkah kakinya.
'Tangannya hangat.' lisa membatin.
Tanpa sepengetahuan Elora, Kenan menepuk pelan kepala Lisa ketika tubuhnya dan Lisa berada dalam posisi sejajar.
'Kebahagiaan kita berdua adalah Elora.'
***
"Kenan, bisa tolong bawain belanjaannya ke dalem!?" pinta Elora sesaat setelah ia menuruni mobil
Kenan mengacungkan jari jempolnya sebagai tanda persetujuan dari permintaan Elora.
"Ini rumah Kakak?" Lisa mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah yang terbilang cukup luas.
"Bukan," jawab Elora cepat.
Sebelah alis Lisa terangkat, jawaban Elora membuat otaknya nge-lag.
"Ini rumah mertua Kakak," jawab Elora membuat pupil mata Lisa membesar.
"Kakak udah nikah? Kapan? Sama siapa? Suami Kakak ganteng? Kakak bahagia? Gimana kalau cerai aja?" cecar Lisa dalam satu tarikan nafas.
Elora terhuyung mendengar cecaran Lisa yang tak bisa diterima akal sehatnya, sedangkan Kenan berusaha keras menahan tawanya yang hampir meledak.
"Nanyanya satu-satu, bisa gak Lisa?" kata Elora kikuk.
"Intinya, Kakak harus cerai sama suami Kakak!" teriak Lisa lantang.
Kali ini Elora sampai berjongkok mendengar perkataan Lisa yang absurd, hampir sama dengan Kenan yang sering mengatakan hal-hal yang tidak bisa ia cerna dengan mudah.
"Lisa, apa hubunganmu dengan pria itu?" Elora menunjuk Kenan yang tak membuka suara semenjak perjalanan pulang menuju rumah mertua Elora.
__ADS_1
Lisa dan Kenan tercekat dalam waktu yang bersamaan, kemudian mereka bertukar pandangan. Lisa menganggukkan kepalanya saat Kenan memberikannya kode lewat kedipan mata.
"Maksud Kakak?" tanya Lisa dengan kedua alis yang hampir menyatu.
"Itu ... gaya bicara dan kata-kata yang kalian ucapin itu hampir sama. Selalu bikin aku kaget plus kesel," ujar Elora melirik sinis Kenan.
Kenan dan Lisa kembali bertukar pandang, tadinya ia ingin mengatakan hubungan yang ada di antara mereka kepada Elora. Namun, mereka tidak mau Elora yang bermental lemah itu jatuh sakit karena terkejut.
"El, sebaiknya kamu segera ajak kami masuk. Karena aku sudah sangat kelaparan," kata Kenan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Yaudah, ayo!"
Elora melanjutkan langkah kakinya, Lisa dan Kenan berjalan berdampingan mengikuti setiap langkah kaki Elora.
"Perhatikan kata-katamu ketika berbicara dengan Elora," bisik Kenan tanpa sepengetahuan Elora.
Lisa manggut-manggut, mengiyakan peringatan dari Kenan. Sesampainya di dalam rumah, Elora pergi ke dapur untuk memasak makan siang untuk ia, Kenan, dan juga Lisa.
"Ini konteksnya begimana, sih? Cius, aku nanya," ucap Lisa seraya menyenderkan kepalanya ke bahu Kenan.
"Bocah gak perlu tahu," ketus Kenan.
Lisa menjauhkan kepalanya dari bahu Kenan, lalu ia mendongak menatap wajah pria yang memiliki hidung mancung tersebut.
"Matanya bisa biasa aja, gak?" Kenan menoyor kepala Lisa.
"Gak sopan, kamu!" sinis Kenan menunjuk wajah Lisa menggunakan jari telunjuknya.
"Biarin!" acuh Lisa.
"Buruan cerita, ih!" lanjut Lisa gemas.
"Kapan-kapan aja, mendingan kamu tidur atau main HP aja!"
Lisa menghembuskan nafasnya secara kasar, seberapa kuatnya pun ia membujuk Kenan. Tetap saja Kenan tidak akan menjawab pertanyaannya kalau ia memang tidak bersedia, susah memang berbicara bersama Presdir Kenan Anderson.
***
Saat ini Elora tengah mengiris bawang merah, wajahnya menampakkan ekspresi kesal lantaran ikat rambutnya terlepas sehingga mengakibatkan rambut panjangnya yang semula terikat kini tergerai bebas sampai punggungnya.
"Akh, Kenan!" pekik Elora kala melihat kedatangan Kenan.
"Kamu kenapa, El?" tanya Kenan dengan tatapan menyelidik.
"Ikat rambutku lepas," adu Elora menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Boleh aku bantu untuk mengikatnya?" tawar Kenan menunggu persetujuan dari Elora.
__ADS_1
Elora langsung menyetujui tawaran Kenan, walaupun ia tidak yakin kalau Kenan mampu mengikat rambutnya dengan benar. Namun, tak apalah ... yang penting rasa risihnya bisa segera teratasi sehingga ia bisa memasaknya dengan tenang.
"Kamu lanjut memotong saja, El!" ucap Kenan sembari mencari ikat rambut milik Elora.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, Kenan berdiri di belakang tubuh Elora yang sebatas bahunya. Ia merapikan rambut Elora menggunakan kedua tangannya, dan mencekal rambut itu menggunakan tangan kanannya sehingga tengkuk Elora terekspos bebas.
Kenan tak berkedip melihat pemandangan yang tersuguh indah di hadapan matanya, ia menelan ludahnya lantaran nafsu yang mendesak untuk segera diluapkan.
Kenan mendesah tertahan, jika ia tidak peduli akan perasaan Elora. Mungkin, ia akan segera menerkamnya untuk menyalurkan hasratnya yang berusaha ia tahan setiap berdekatan dengan Elora.
Kenang menggelengkan kepalanya, menepis pikiran-pikiran liarnya terhadap Elora.
'Tahan, Ken. Jangan sakiti Elora.'
"Kenan, kamu bisa, gak?" tanya Elora yanga heran lantaran Kenan tak kunjung membuka suara.
"Sebentar lagi," sahut Kenan.
Kenan mengangkat rambut Elora dan mengikatnya dengan pelan-pelan.
"Sudah," ujar Kenan kala telah berhasil mengikat rambut Elora.
"Ah, aku harus mengambil sendok," gumam Elora.
Elora berbalik badan dan tanpa sengaja ia menabrak Kenan yang masih belum beranjak dari posisinya. Refleks, Kenan merengkuh pinggang Elora untuk menjaga agar Elora tidak jatuh.
"Kenan, lepasin tangan kamu!" seru Elora berusaha lepas dari rengkuhan Kenan.
"El, tolong aku ...!" bisik Kenan serak.
Sontak, Elora mendongakkan kepalanya. Kenan tengah sengsara hanya dengan melihat sekilas ekspresi wajahnya.
"Kumohon, El ...," lanjutnya memelas.
Elora yang tak tega melihat kesengsaraan Kenan pun menyetujui permintaan yang diajukan Kenan.
Wajah Elora memucat seketika tatkala Kenan menatapnya tajam dengan seringan yang membuat bulu kuduk Elora berdiri.
Kenan mendorong Elora sampai punggung Elora membentur tembok, Elora yang tahu arah perbuatan yang akan dilakukan Kenan berupaya melepaskan diri dari kukungan Kenan.
"Kenan, apa yang kamu lakukan, hah?" Elora membentak Kenan.
"Aku ...." Kenan semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Elora.
"Tidak!" Elora menahan dada Kenan supaya tubuhnya tidak terlalu berdempetan.
"El, tolong jangan memberontak. Karena ... aku malah semakin bersemangat bila kamu menolak dam terus memberontak," bisik Kenan lalu menggigit pelan daun telinga Elora.
__ADS_1