
"Hah ... Mas Gavin sama Cantika masih belum ke luar kamar, padahal sekarang udah jam setengah tujuh," gumam Elora yang saat ini tengah menyantap sarapannya.
Setelah keributan yang disebabkan oleh Lisa kemarin, Elora tidak sempat bertegur sapa dengan suaminya. Begitu halnya dengan Cantika, ketika berpapasan Elora selalu mendapatkan tatapan sinis dari adik tirinya yang tak tau diri tersebut.
"Ayah sama Bunda juga lagi gak ada di rumah," sambung Elora lesu.
Kondisi Ayah mertuanya sudah membaik, dan untuk menjaga kesehatannya ia memutuskan untuk cuti kerja, dan melimpahkan semua urusan perusahaan kepada Gavin. Sekarang saja, ayah mertuanya itu sudah pergi mengajak sang istri untuk menghirup udara segar di pagi hari.
"Hah ... aku berangkat kerja aja, deh. Semoga ... hari pertama aku kerja berjalan dengan baik," harap Elora .
Elora meraih tasnya yang berwarna hitam, senada dengan jas yang dikenakannya di hari pertama bekerja di perusahaan Kenan. Ini adalah kali pertamanya ia berpakaian seperti itu, dan ia merasa cukup percaya diri dengan penampilannya di hari ini.
"Diky!" pekik Elora saat mendapati Diky tengah menunggu di halaman rumahnya dengan sebuah mobil yang terparkir apik.
"Selamat pagi Nona Elora, saya ditugaskan Presdir Kenan untuk menjemput Nona," ucap Diky sedikit membungkukkan badannya, memberi rasa hormat kepada Elora.
Elora tersenyum kikuk, ia yang hanya seorang karyawan biasa dijemput oleh tangan kanan sang pemimpin perusahaan.
"Mari, Nona," ucap Diky menyadarkan Elora dari lamunannya.
Elora tak mau ambil pusing, ia mengikuti saja apa yang diinginkan oleh Kenan, daripadanya ia harus menerimanya kemarahan bos-nya karena tidak menuruti keinginannya. Toh, Elora juga tidak mempunyai kendaraan yang bisa ia gunakan untuk berangkat bekerja.
Perjalanan yang penuh keheningan itu akhirnya berakhir juga, kini mobil yang ditumpangi Elora telah tiba tepat di depan pintu masuk perusahaan.
Diky bergegas turun dari mobil, ia membukakan pintu untuk Elora.
"Silahkan, Nona!" Diky mempersilahkan Elora untuk turun.
Elora menggaruk pelipisnya, kepercayaan dirinya yang begitu besar itu menciut saat sorot mata karyawan yang berada di sekitar pintu masuk itu tertuju kepadanya. Jelas saja ia menjadi perhatian para karyawan, secara ... Elora datang ke perusahaan dengan menggunakan mobil pribadi Kenan dan disupiri oleh Diky yang menjadi pujaan kedua setelah Kenan.
'Nantinya, aku akan memarahi orang gila itu,' batin Elora.
Diky tersenyum kikuk, ia tahu benar dengan isi hati ataupun pikiran Elora.
'Presdir Kenan pasti akan diteriaki oleh Nona Elora,'
Diky memimpin Elora untuk masuk ke dalam, selama berjalan Elora mendapat tatapan sinis dari karyawan wanita. Namun, ia tetap berusaha mengabaikannya walaupun sebenarnya ia merasa sangat tidak nyaman atas tatapan-tatapan sini tersebut.
"Diky, sepertinya saya tidak akan bisa bekerja dengan tenang," ucap Elora lesu.
"Itu tidak akan terjadi, Nona!" sahut Diky mantap.
'Karena Presdir Kenan akan menyingkirkan siapapun yang menganggu kenyamanan anda, Nona,' lanjut Diky dalam hatinya.
"Diky, apa ruangan Kenan masih jauh?" tanya Elora yang sudah bosan karena tidak kunjung sampai ke ruangan Kenan.
Diky menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, Nona."
"Maaf Nona, saya tidak bisa mengantar anda sampai ke dalam karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan," tutur Diky sopan nan santun.
"Tidak masalah Diky, terimakasih atas bantuannya."
Diky menganggukkan kepalanya, kemudian pergi meninggalkan Elora sendirian.
"Langsung masuk sajalah," putus Elora.
Ceklek!
Pintu ruangan itu dibuka Elora.
Mata Elora melotot melihat pemandangan yang mampu mengacaukan pikirannya. Lisa, gadis yang baru ditemuinya kemarin tengah berbaring terlentang di meja kerja Kenan, sementara Kenan duduk di kursi kebesarannya yang posisinya sambil memainkan handphone. Keadaan ruangan itu juga kacau, banyak kertas bertebaran, peralatan kerja Kenan juga berceceran di mana-mana.
"Kenan, Lisa!" panggil Elora lantang.
Kenan menghentikan aktivitasnya, begitu juga dengan Lisa yang langsung menuruni meja.
"Elora!"
"Kak Elora!"
Mereka berdua memekik secara bersamaan.
"Ja--jangan pergi, Kak! Aku bisa jelasin semuanya," larang Lisa menggenggam erat tangan Elora, mencegah sosok wanita yang ia sukai itu pergi membawa kesalahpahaman besar.
"Najis!" jerit Kenan dan Lisa berbarengan.
"Terus, kenapa kamu bisa bareng-bareng sama Kenan? Jangan bilang kalau Kenan yang maksa kamu nemenin dia?" kata Elora yang memantik tawa Lisa.
"Kak Ken! Ternyata Kakak se-berengs*k itu di mata Kak Elora!?"
Kenan mendengus kesal, sedangkan Elora mengernyitkan Keningnya. Kakak Kenan? Padahal kemarin Lisa memanggil Kenan dengan embel-embel Om, tapi sekarang Lisa memanggilnya Kakak? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Ini maksudnya gimana?" teriak Elora frustasi.
"Dia Lisa Kalila Anderson, adik aku." Kenan menjawab pertanyaan yang membuat Elora penasaran.
"Kok bisa? Dia adik kandung atau tiri? Kenapa kamu gak cerita dari awal? Terus, kenapa kalian bisa nyembuyiin hubungan kalian se-rapat ini?" Elora mencecar Lisa dan Kenan dengan berbagai macam pertanyaan.
"Lebih baik kita duduk dulu," saran Lisa, menarik Elora untuk duduk di sofa yang tersedia.
Kenan pun beranjak dari tempat duduknya, dan beralih ke sofa yang sudah di duduki Lisa dan Elora.
"Geser sedikit, El!" perintah Kenan yang langsung dilaksanakan Elora.
__ADS_1
Saat ini Elora duduk di antara kedua saudara yang sempat membuat tensinya naik di hari sebelumnya.
***
"Jadi, kalian ini saudara se-Ayah tapi lain Ibu?"
"Iya," jawab Lisa singkat.
"Karena semuanya udah ke jawab, mendingan Kakak Elora cepetan cerai sama suami Kakak," ujar Lisa bersemangat.
Elora mengerjap-ngerjapkan matanya, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut Lisa.
"Kenapa harus disambungkan dengan pernikahan Kakak?" tanya Elora heran.
"Ya karena aku mau Kakak nikah sama Kak Kenan!" tegas Lisa.
Elora terhenyak, semudah itu Lisa mengungkapkan keinginannya.
"Kakak bakalan bahagia kalau nikah sama Kak Kenan ...."
"Kakak lihat muka Kak Kenan baik-baik!" Lisa memaksa Elora untuk menengok ke arah Kenan.
"Matanya indah, tatapannya tajem, bibirnya seksi, hidungnya mancung. Terus ...."
Lisa mengarahkan telapak tangan Lisa pada bagian dada Kenan.
"Kak Kenan itu berotot, badannya sehat banget, beuh! Sekali tanem aja Kakak auto hamil!"
"Lisa, jaga ucapan kamu!" peringat Elora.
"Iya, maaf ... aku 'kan cuman bercanda," alibi Lisa.
"Walaupun bercanda, tapi semua perkataan Lisa itu benar." Kenan membela adiknya.
"Terutama ... yang sekali tanam langsung hamil itu sangat-sangat lah tepat," lanjut Kenan yang memancing kekesalan Elora.
"Sudah! Kita harus mengganti topik obrolan yang lain," saran Elora.
"Ah, ya ... Lisa, kenapa kamu tidak sekolah?"
S!al, pertanyaan yang paling ia takuti itu pada akhirnya tetap keluar dari mulut Kenan. Namun, itu tidak menjadi masalah, karena ia sudah mempunyai Elora sebagai tameng yang kuat.
"Aku ---"
"Aku ---"
Mulut Lisa mendadak kelu.
__ADS_1
"Lisa!" ujar Kenan penuh penekanan.
"Aku dikeluarin dari sekolah!"