Elora

Elora
Bab_40 (Kebejatan Kenan)


__ADS_3

'Untungnya gue punya obat penawar dari racun itu,' batin Vito.


Kenan tersenyum kecut, ia melihat gelagat mencurigakan dari Vito.


"Apa ada sesuatu di saku jas ini?" Kenan merogoh saku jas milik Vito, dan ya ... dia mendapatkan sebuah botol kecil dari saku jas tersebut.


"Kembalikan!"


"Akui kejahatanmu, baru akan ku berikan," perintah Kenan.


Vito menundukkan kepalanya, ia bingung harus memilih yang mana. Di penjara dan menanggung malu selamanya, atau ... mati.


"Baiklah, saya akan mengakui semuanya," pasrah Vito.


Senyuman kemenangan terukir jelas di wajah Kenan, membodohi orang rupanya sangatlah menyenangkan. Hampir semua orang merekam pengakuan dari Vito, tak terkecuali Kenan.


"Sudah, berikan saya obat penawarnya," pinta Vito setelah selesai dengan segala pengakuannya.


"Sebelumnya, terimakasih karena telah mengaku. Tapi ... obat penawar ini tidak akan berguna, karena yang kamu minum itu bukan minuman yang beracun," jelas Kenan.


"Anda menjebak saya," geram Vito.


"Nah, ini baru minuman beracun yang sebenarnya," Kenan mengangkat sebuah gelas.


"Baik, karena semuanya sudah jelas. Pak polisi tolong lepaskan sahabat saya, dan ... segera proses orang ini," tutur Kenan yang diangguki oleh para polisi.


"Gak, lepasin saya! Saya gak salah," teriak Vito memberontak.


Akibat memberontak dengan sangat keras, Vito lepas dari tangan kedua orang polisi yang memeganginya. Mata Elora membola kala Vito menuju ke arahannya, ayolah ... masa ia yang harus jadi korban sandera lagi?


Dor!


Polisi melepaskan sebuah tembakan peringatan, sehingga Vito menghentikan langkahnya.


"Kamu ketakutan?" ledek Kenan kepada Elora yang diam mematung di posisinya.


Heran lantaran tak ada pergerakan dari Elora, Kenan buru-buru menengoknya.


"Aku lelah, Kenan...," keluh Elora duduk di sebuah kursi.


"Aku belum melakukan apa-apa, dan kamu sudah kelelahan seperti ini?" gurau Kenan.


"Apa kamu tidak lelah dengan segala pikiran kotormu itu?" balas Elora sengit.


Kenan mengedikkan bahunya.


"Ayo, kita harus bersiap-siap!" Kenan hendak menarik Elora, akan tetapi Elora menghindar.


Elora sudah terlalu lelah ditarik ke sana-kemari, yang ia butuhkan saat ini adalah ketenangan. Namun, Kenan seolah menolak untuk memberikan ketenangan baginya.


"Elora, kamu hanya tinggal diam berbaring. Apa berbaring begitu melelahkan untukmu?" Kenan mulai melantur.


"Apa maksudmu?" sinis Elora.


"Ya, maksudku. Ketika kita melakukannya, kamu diam berbaring dan aku yang akan bergerak," jawab Kenan tersenyum nakal.


Elora tersentak mendengar jawaban Kenan, tingkat ke-mesuman Kenan telah diambang batas, pikirnya.

__ADS_1


"Dasar gila!"


***


"Nona...." Diky yang berada di kursi samping pengemudi menyodorkan handphone kepada Elora yang berada di kursi belakang.


"Ah, terima kasih Diky," ujar Elora ramah.


Suasana di dalam mobil itu teramat sepi, Ciko yang tengah meradang akibat ditinggal mantan kekasihnya. Diky yang masih sakit, serta Elora yang ogah berbicara karena takut Kenan menyelanya dengan kata-kata kotor yang tak layak diucapkan dihadapan Diky dan Ciko.


"Leher lo kenapa, El?" tanya Ciko khawatir.


"Digigit setan," sahut Kenan yang berada di belakang kemudi.


Tak!


Kepala Kenan dipukul Elora menggunakan sebuah handphone.


Diky dan Vito meringis secara bersamaan, wanita pemberani, pikir mereka.


"Sampai di rumah, aku habisin kamu, El!" ancam Kenan sembari mengusap bekas pukulan di kepalanya.


"Kamu pikir aku bakalan takut sama ancaman kamu? Gak, yah!" ledek Elora.


Seusai mengantar Diky pulang ke rumahnya, kini giliran Ciko-lah yang sampai di rumah dengan disupiri oleh seorang Presdir Kenan Anderson.


"Elora balik sama gue," imbau Kenan.


Ciko mengusap wajahnya secara kasar.


"Ken, tolong biarin Elora istirahat total malem ini. Kalau sekiranya lo gak bisa kendaliin diri lo, mendingan si Elora tidur di rumah gue," tutur Ciko membenarkan jas yang digunakan untuk menyelimuti Elora.


Ciko mendengus kesal, ia tidak bisa meninggalkan Elora sebelum yakin bila Kenan tidak akan melakukan hal-hal yang di luar batas terhadap Elora, adik angkatnya.


"Gak!" tolak Ciko tegas.


"Keluar atau ---"


"Gue bakalan bawa Elora pergi jauh kalau sampe lo macem-macemin dia," potong Ciko.


"Camkan itu!"


Ciko keluar dari mobil Kenan, tak terlewat pintu mobil mahal itu ia banting dengan keras sebagai sarana pengungkapan kekesalannya atas keegoisan Kenan.


***


"Tadinya, aku ingin menahan hasratku. Tapi, melihat Elora yang diam seperti ini ... pertahananku langsung rubuh," gumam Kenan menelisik sekujur tubuh Elora.


Mula-mula, Kenan melepaskan jas yang dikenakannya, dilanjut melepas dasi yang terasa mencekik lehernya, lalu yang terlahir ia melepas kemeja putihnya hingga membuatnya bertelanjang dada.


Kenan memposisikan dirinya di atas tubuh Elora dengan kedua lutut serta kedua tangan yang menjadi tumpuannya. Sebentar lagi, mimpinya untuk merasakan tubuh Elora akan benar-benar terwujud.


Kenan mengikis jarak antara tubuhnya dan tubuh Elora, dengan perasaan senang ia mencium wajah Elora.


"Kamu benar-benar menggoda, Elora," lirihnya di sela-sela kegiatan bejad yang akan menghancurkan hidup Elora.


Elora yang tengah tertidur itu mulai terusik, ia menjerit sekeras-kerasnya kala sadar akan apa yang tengah dilakukan Kenan kepada dirinya.

__ADS_1


"Akhirnya kamu bangun juga, sayang ...."


"Kenan, apa yang kamu lakukan, hah?" teriak Elora panik bukan kepalang.


"Tentu saja, menikmati tubuhmu," jawab Kenan menyeringai.


"Tidak, ku mohon jangan lakukan itu, Kenan ...," seru Elora berderai air mata.


"Sayangnya, aku sangat ingin melakukannya, El."


Tangan Kenan meraih sebuah kain yang sudah diberi obat bius.


"Selamat tidur, sayang ...," ucap Kenan membekap mulut Elora menggunakan kain tersebut.


Belum dua menit bangun, Elora harus kembali tertidur dengan cara yang terbilang mengerikan.


Sebuah perasaan tak nyaman menyerang Kenan, hasratnya yang begitu menggelora sirna begitu saja. Rasa bersalah menyeruak dari dalam dirinya, ia salah langkah.


Pria itu menggulingkan tubuhnya ke samping kiri Elora, menatap lekat wajah wanita yang tak bersalah itu.


'Bagaimana reaksi Elora besok pagi?' batin Kenan gelisah.


"Lebih baik aku melakukan 'itu' saja," putus Kenan menatap Elora dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


***


"Kenan ....!"


"Jangan ...!"


Elora memekik dalam keadaan mata yang masih terpejam.


"Kenan ...!" Elora menjerit sekeras-kerasnya.


Ia membuka matanya, dan dalam sekali hentakan ia bangkit dari tidurnya. Elora duduk dengan nafas yang memburu, matanya menelisik kamar yang tak asing bagi dirinya.


Klek!


Brak!


"Masih pagi udah teriak-teriak, stres lo?" bentak Ciko yang saat ini berada di ambang pintu.


"Kak Ciko, Kenan di mana?" tanya Elora.


"Ya, di rumahnya-lah, El!" jawab Ciko sewot.


Elora termenung, seingatnya semalam ia berada di kamar yang ia yakini adalah kamar Kenan. Lalu, semalam Kenan juga melakukan hal gila kepadanya. Kini ... ia malah berada di rumah Ciko, apa yang sebenarnya terjadi semalam?


"Malah ngelamun, mending lo mandi sana! Nanti gue yang gantiin perban di leher lo itu," perintah Ciko yang langsung diangguki oleh Elora.


"Tunggu, Kak! Semalem, siapa yang bawa aku ke sini?" tanya Elora memastikan.


"Gue," jawab Ciko singkat.


Selepas mengatakan itu, Ciko pergi menyisakan Elora yang masih kebingungan.


"Maaf, El. Gue gak mungkin bilang sama lo kalau semalem kehidupan lo nyaris hancur di tangan Kenan," gumam Ciko ketika sudah keluar dari kamar Elora.

__ADS_1


"Berarti... semalam itu hanya mimpi," gumam Elora pelan.


***


__ADS_2