
Tak terasa dua hari telah dilalui Elora di rumah sakit, selama 2 hari itu pula tidak ada yang menjenguknya kecuali keluarga Ciko yang senantiasa hadir menemani Elora. Di sisi lain, Elora masih belum mengetahui fakta mengenai ayahnya yang mungkin akan mengalami stroke.
"El, lo gak pegel apa rebahan mulu?" tanya Ciko seraya mengerlingkan matanya.
"Kak Ciko yang baik, bisa gak nanyain sesuatu yang berfaedah?" sahut Elora geram.
"Maksud lo pertanyaan gue gak berfaedah gitu?" Ciko mengangkat sebelah alisnya.
"Ya, pertanyaan Kak Ciko gak ada satu pun yang berfaedah," sinis Elora.
Ciko mencebikkan bibirnya.
"Serah lo, deh, El. Gue gak peduli!" acuh Ciko.
"Mendingan gue beli mie ayam, lo mau nitip,gak?" Ciko menawari mie ayam kepada Elora yang masih dalam kondisi sakit.
"Nggak, Kak! Aku gak ada nafsu makan mie ayam," tolak Elora halus.
Ciko hanya ber-oh ria.
"Yakin gak nyesel?"
"Masa aku nyesel, Kak. Ketimbang mie ayam doang."
"Oh yaudah, bye!" Ciko melambaikan tangannya.
"Yakin gak nyesel?" tanya Ciko begitu akan keluar dari ruangan.
"Nggak, Kak!" jawab Elora agak emosi.
Pintu ruangan itu sudah ditutup rapat oleh Ciko dari luar.
"Akhir-akhir ini Kak Ciko makin nyebelin," gumam Elora.
Krieet ...!
Pintu ruangan itu dibuka dari luar, menampakkan sesosok pria berpakaian khas Dokter.
"Yakin gak nyesel?"
"Aku gak akan nyesel Kak Ciko!" ucap Elora penuh penekanan.
Semenjak hubungan mereka semakin dekat, Elora mengganti kata 'saya' menjadi 'aku' ketika berbicara dengan Ciko.
"Ok!" Ciko kembali menutup pintu.
"Tuh, kan! Makin nyebelin ...," keluh Elora.
Elora menyampingkan tubuhnya menjadi membelakangi pintu keluar.
Krieeet ...!
"Aku gak mau mie ayam ...!" teriak Elora tanpa melihat siapa orang yang membuka pintu.
__ADS_1
"Perasaan, saya tidak menawari kamu mie ayam," ujar seorang pria seraya tersenyum.
Elora mengernyitkan keningnya, itu bukan suara Ciko. Tapi ....
Dengan sigap Elora membalikkan tubuhnya.
"Kenan!" pekik Elora kaget.
"Ya, kenapa kamu kaget seperti itu, El? Apa wajah saya menyeramkan?" tanya Kenan masih dengan senyumannya.
"Ti--tidak!" sangkal Elora.
Jantung Elora berdegup kencang, rasa gugup mulai menyerang dirinya tatkala Kenan mendekati dirinya.
"El, bagaimana kondisi kamu sekarang?" tanya Kenan menatap intens wajah Elora.
Sontak saja Elora memalingkan wajahnya lantaran tak tahan beradu tatap dengan Kenan.
"Kondisi saya baik, tapi saya masih belum bisa berjalan normal. Soalnya kata Kak Ciko sebelumnya tulang kaki saya geser sedikit," ucap Elora tanpa melihat lawan bicaranya.
Kenan yang peka kalau Elora merasa tak nyaman pun memilih untuk duduk di sofa yang berjarak beberapa langkah dari ranjang Elora.
"Sepertinya hari ini kamu bisa keluar dari rumah sakit."
Elora terperanjat.
"Akhirnya ... aku bisa keluar dari rumah sakit," teriak Elora kegirangan.
Sementara itu di tempat lain Ciko tengah memandangi sebuah mobil yang terparkir apik di depan rumah sakit.
"Anj*r ni mobil keren banget." Ciko berdecak kagum melihat sebuah mobil Ferrari mewah berwarna hitam.
"Btw ini mobil punya siapa, ya? Secara, ni mobil mahal banget ... gue aja gak sanggup beli ni mobil," gumam Ciko.
"Bodo amat-lah! Mendingan gue beli mie ayam aja," acuh Ciko yang tak kunjung terpikirkan pemilik mobil Ferrari tersebut.
Sambil berjalan Ciko mengambil handphone miliknya dari saku celana, pasalnya dari semalam ia belum sempat membuka handphonenya.
Entah mengapa detak jantung Ciko berpacu lebih cepat saat akan melihat aplikasi chatting yang terdapat banyak sekali pesan masuk.
Ciko menghentikan langkahnya kakinya begitu melihat 99+ pesan masuk dari kekasihnya.
"Haduh! Punya ayang, kok, gini banget," keluh Ciko yang pusing dengan kekasihnya yang selalu mengirimkan ratusan pesan bila ia tak kunjung membalas chat kekasihnya itu.
"Apa gunanya coba ngirim pesan sebanyak ini? Gue gak ngerti lagi dah sama kelakuan betina," ujar Ciko cemberut.
Kedua mata Ciko melotot saat mendapati sebuah pesan masuk ke aplikasi chattingnya. Pesan yang dikirim sekitar pukul 2 dini hari itu baru saja datang lantaran dirinya baru mengaktifkan handphonenya.
"Bangs*t!" umpat Ciko.
Ciko berbalik arah, ia berlari kembali menuju ruangan Elora.
"Gila! Semoga aja si Kenan belum ngasih tau ke si Elora," gumam Ciko mempercepat larinya.
__ADS_1
Rupanya, pesan yang masuk itu berasal dari Kenan yang memberitahukan kepulangannya. Dan sialnya, Ciko belum sempat mengatakan fakta bahwa Elora membenci orang yang dulu diselamatkannya, yaitu Kenan.
Mata Ciko melirik sekilas mobil Ferrari yang masih terparkir apik di tempat tadi.
"Blok ...! Bisa-bisanya gue lupa kalau orang yang mampu beli mobil itu si konglomerat Kenan ...." Ciko berteriak lantang tanpa mempedulikan orang-orang yang memandang aneh dirinya.
Sementara itu Kenan dan Elora saling mengabaikan dengan menyibukkan diri dengan handphone. Kenan yang sedang menggunakan handphone untuk membahas pekerjaan, dan Elora yang hanya menggeser-geser beranda handphone demi untuk terlihat sibuk karena dirinya merasa salah tingkah ketika dilihat maupun berbicara bersama Kenan.
Selesai dengan pekerjaannya, Kenan menaruh handphonenya. Ia tampak mengatur nafasnya, sepertinya ia akan mengatakan sesuatu pada Elora.
"El!" panggil Kenan pelan.
Prang!
Handphone yang Elora pegang terjatuh ke lantai.
"Elora bodoh!" umpatnya pelan.
Ternyata, Elora terkejut saat dipanggil oleh Kenan. Saking terkejutnya ia sampai membuat handphonenya lepas dari genggaman tangannya.
Kenan bergegas mengambil handphone Elora yang terjatuh itu. Tatapan Kenan dan Elora beradu dan terkunci kala Kenan menyodorkan handphone itu dalam posisi berlutut.
'Suatu hari nanti aku akan berada di posisi ini, tapi bukan handphone yang akan aku sodorkan, melainkan sebuah cincin yang akan kamu kenakan sampai akhir hayat,' batin Kenan gembira.
Elora tak kunjung meraih handphone yang telah berada di dalam jangkauannya, ia malah terbuai akan tatapan mata indah Kenan.
'Ha ... sepertinya tidak akan sulit untuk mendapatkanmu, El.' Kenan kembali membatin.
Fuuuh ....
Kenan meniup wajah Elora yang reflek membuat Elora memalingkan wajahnya sekaligus.
Elora menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
'Aaaa malu ....'
Kenan terkekeh geli, sangat menyenangkan melihat Elora bersikap malu-malu. Mungkin kedepannya menggoda Elora akan menjadi hobi yang paling mengasyikkan bagi Kenan.
'Sudahlah, aku harus memberi ruang untuk Elora melupakan kejadian barusan.' Kenan membatin.
Kenan menaruh handphone yang tadi belum sempat di ambil Elora di samping tubuh Elora.
"El, saya keluar sebentar," pamit Kenan yang tak mendapat sahutan dari Elora yang masih berselimutkan rasa malu.
Sebelum keluar dari ruangan, Kenan menyempatkan diri untuk membuka jasnya yang membuat dirinya kegerahan.
Kenan berjalan menuju pintu, dan dari luar sana juga ada Ciko yang berlari menuju pintu. Pada saat yang bersamaan Ciko dan Kenan meraih gagang pintu, Kenan dari dalam dan Ciko dari luar.
Ciko yang kelelahan pun diam terlebih dahulu untuk mengatur nafasnya. Kenan menarik pintu itu dari dalam dengan tenaga yang kuat. Ciko yang tengah memegang gagang pintu itu pun otomatis ikut tertarik.
Bugh!
"Anj*ng!" pekik Ciko waktu tubuhnya berbenturan dengan lantai.
__ADS_1