Elora

Elora
Bab_30 (Gitu-Gituan?)


__ADS_3

Kedua insan itu belum usai berciuma4n, mata mereka terpejam menikmati cium4n yang manis itu. Saking menikmatinya, mereka sampai tidak sadar bahwa Gavin dan Cantika sudah tidak ada di ruangan.


'Ack! Pekik Elora tertahan.


Entah sengaja atau tidak, Kenan mengigit bibir Elora. Gigitan itu pun menyadarkan Elora akan perbuatan yang tidak selayaknya ia lakukan dengan pria yang tak memiliki hubungan dengannya.


Elora berusaha menghentikan cium4nnya, tetapi Kenan tak mau melepaskan. Pria itu terus menuntut Elora untuk membalas cium4nnya.


Pukulan-pukulan dilayangkan Elora pada bagian dada Kenan, dia membutuhkan oksigen. Tak ada pilihan lain, Elora menggigit bibir bawah Kenan cukup keras.


Refleks, Kenan menghentikan cium4nnya yang tergolong sebagai cium4n yang panas. Nafas keduanya memburu, terutama Elora ia bahkan tidak segera mengusap bekas saliva yang membasahi bagian terdekat bibirnya.


Kenan mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celananya.


"Kenan ...," gumam Elora ketika kenan menyeka saliva yang ada di sekitar bibirnya.


"Maaf ...," lirih Kenan menyentuh bibir Elora yang memerah akibat gigitannya.


Pandangan mereka beradu, detak jantung mereka berpacu lebih cepat dari biasanya. Hingga, Elora memutus pandangan itu lantaran rasa panas yang menjalar di wajahnya.


"Saya harus pergi sekarang," pamit Kenan memecah kesunyian.


"Ah sa---"


Belum selesai Elora berucap Kenan sudah melengos pergi. Kegelisahan merundung dirinya, Kenan pergi dengan wajah muram.


'Ah, mana mungkin Kenan marah, tadi saja dia yang paling menikmati. Tapi ... tidak menutup kemungkinan juga kalau dia marah, dia pasti merasa dimanfaatkan olehku,' batin Elora.


"Aku harus melakukan apa!?" ujar Elora dengan kebimbangan yang meliputnya.


***


"Mau ke mana lo, Ken?" tanya Ciko yang kebetulan berpapasan.


Kenan tak mengindahkan pertanyaan Ciko, ia terus saja melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang menjadi tujuannya.


"Ih, si Kenan kenapa lagi, dah?" Ciko mengerlingkan matanya.


"Bodo amat-lah!"


Setelah beberapa saat, Ciko tiba di ruangan rawat Elora. Ia mengernyitkan keningnya, heran akan tingkah Elora yang menurutnya aneh.


"Woy! Kenapa lo?" Ciko bertanya dengan suara yang lantang.


Elora yang tengah melamun itu terperanjat.


"Kak Ciko hobi banget ngagetin aku," sungut Elora.


"Lebay lo!"


Ciko mendekati Elora, ia mengambil piring yang masih terisi makanan. Waktu sarapan sudah terlewat, tetapi adik angkatnya belum sarapan? Ciko tak bisa menerima itu.

__ADS_1


"Lo, kok, belum sarapan, El? Si Kenan gak nyuruh lo sarapan apa?" cecar Ciko.


Elora tak menjawab, dirinya masih memikirkan Kenan yang telah pergi.


"Gue suapin, cepetan buka mulut lo!" perintah Ciko.


Elora menurut, ia membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Ciko. Ciko menatap lekat-lekat bibir Elora yang bergerak lantaran tengah mengunyah makanan.


'Tunggu! Si Kenan pergi sambil nekuk muka, bibir si Elora luka. Wah ...!'


Ciko tersenyum miring dengan kedua alis yang sengaja ia gerakkan.


"Kak Ciko kenapa?" tanya Elora heran.


"Lo jujur sama gue, El! Lo abis ngapain sama si Kenan?" Ciko balik bertanya dengan kedua alis yang terangkat.


Blush!


Wajah Elora memerah, ia merasakan malu yang luar biasa.


"Kalian abis begituan, ya?" ujar Ciko menggerak-gerakkan kembali alisnya.


"Hah!? Kok, Kak Ciko tau?" ceplos Elora.


"Tuh 'kan bener ...," ucap Ciko dengan nada meledek yang kental.


Elora menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, ia keceplosan.


"Begimana rasanya gituan sama si Kenan?" tanya Ciko antusias.


Ciko tertawa terbahak-bahak, ia berhasil memancing Elora yang lugu itu untuk mengatakan kejadian yang membuat Kenan cemberut.


"Kak Ciko!" pekik Elora kesal.


"Hahahaha ... napa, El?"


"Jangan ngetawain aku!"


Akhirnya Ciko menghentikan tawanya, tidak baik juga bila ia membuat seorang pasien kesal.


"Coba lo ceritain semuanya, mungkin gue bisa bantu ngurangin beban pikiran lo." Ciko juga tahu bahwa Elora tengah memikirkan sesuatu yang sulit dipecahkan.


Elora menganggukkan kepalanya.


"Tadi suami sama adik tiri aku dateng ke sini, terus suami aku tiba-tiba nuduh aku lagi cium4an sama Kenan, padahal nggak. Ya, suami aku itu terus mancing-mancing emosi aku. Karena terlanjur emosi aku kehilangan kendali sampe aku narik Kenan terus nyium dia," jelas Elora disertai ekspresi yang berubah-ubah.


"Abis itu Kenan tiba-tiba pergi, apa Kenan ngerasa aku manfaatin, ya?" lanjut Elora.


Ciko mencubit gemas pipi Elora yang lumayan tembam.


"Sakit, Kak ...," keluh Elora.

__ADS_1


"Maaf adikku sayang." Ciko melepaskan cubitannya.


"Si Kenan itu nggak marah, dia cuman kesel aja sedikit," gurau Ciko.


"Ih, serius dong, Kak ...." Elora merengek.


"Gini, si Kenan itu cowok normal, dia juga punya hasrat seksu4l. Nah, kelakuan lo tadi itu udah bikin hasrat dia bangkit. Karena takut kelepasan, akhirnya si Kenan milih pergi, deh," tutur Ciko sejelas-jelasnya.


"Mulut Kakak ringan banget ngejelasin begituan, gak malu apa?" sinis Elora.


"Kenapa harus malu coba? Toh, kita berdua udah sama-sama dewasa, bahkan lo udah nikah?" kata Ciko ketus.


"Jangan bilang kalau lo belum pernah gitu-gituan sama suami lo?" ungkap ciko menduga-duga.


"Kok, dugaan Kak Ciko selalu tepat, sih? Kak Ciko belajar ilmu per-dukunan, ya?” tuduh Elora.


"Wait ... gila lo, El! Lo ngapain aja sama suami lo sampe-sampe gak sempet gituan."


"Udah, Kak! Obrolan ini gak boleh dilanjutin, kita ganti topik obrolan aja, Kak," usul Elora.


"Gak bisa! Ini belum selesai, El." Ciko menolak mentah-mentah usulan dari Elora.


Elora memijat keningnya, ia pusing bila harus mengobrolkan sesuatu yang menurutnya sangat memalukan.


"Lo inget ini baik-baik, El! Lo gak boleh terlalu intim sama laki-laki, karena setiap laki-laki itu punya hasrat seksu4l. Dan gak semua laki-laki itu kayak si Kenan yang bisa nahan hasratnya, intinya lo gak boleh terlalu deket sama laki-laki yang bukan keluarga lo," pesan Ciko pada Elora.


"Kak Ciko juga sama 'kah?" tanya Elora was-was.


Ciko mendelik.


"Ya sama, tapi gue gak ada nafsu sama cewek tevos macem lo, apalagi gue udah ada pacar yang montok banget," jawab Ciko dibumbui dengan hinaan yang menyesakkan.


"Aku gak tevos, ya?" sanggah Elora.


"Lah, kok, ngegas!?"


"Jelas aja aku ngegas, mana ada perempuan yang terima disebut tevos," sungut Elora.


"Kalau lo gak percaya, lo tanyain sama si Kenan!" saran Ciko.


"Kak Ciko stress, pergi aja sana!" usir Elora.


"Dengan senang hati."


Ciko menaruh piring yang dipegangnya itu ke pangkuan Elora.


"Makannya pake tangan kiri aja ya, sayang. Kakakmu yang ganteng ini mau ketemu sama calon Kakak iparmu yang montok," kata Ciko sebelum meninggalkan ruangan.


Sepeninggal Ciko Elora diam merenungkan perkataan Ciko barusan.


Elora membuka dua kancing baju bagian atasnya, ia menunduk melihat kepunyaannya.

__ADS_1


"Punyaku aku besar, kok. Ah! Ini mah bukan punyaku yang kecil, tapi punya pacarnya Kak Ciko aja yang kebesaran," gumam Elora dengan eskpresi wajah yang terlihat begitu serius.


'Buat mastiin, kapan-kapan aku tanya Kenan, deh' batinnya.


__ADS_2