Elora

Elora
Bab_18 (Keluarga Baru?)


__ADS_3

"Mah ...," panggil Ciko menyentuh pelan pundak sang Mamah.


"Ciko, liat! Kita sudah berhasil menemukan Liora, adik kamu," sahut sang Mamah penuh haru.


Ciko mengepalkan tangannya, bagaimana pun ia harus memberitahu mamahnya mengenai kebenaran tentang Elora tanpa membuat gangguan kejiwaan mamahnya kambuh. Karena tak mungkin baginya untuk mengiyakan pernyataan mamahnya yang mengakui Elora sebagai Liora, sebab hal itu hanya akan berakhir dengan rasa sakit bagi Elora dan mamahnya.


"Mah, dia itu Elora bukan Liora," kata Ciko tegas.


Mamahnya menggelengkan kepala.


"Nggak! Dia Liora putri kesayangan Mamah!" bantahnya.


"Mah! Liora itu udah meninggal!" teriak Ciko.


Plak!


Sang Mamah melayangkan tamparan keras ke pipi Ciko.


"Dasar gila! Kamu mengatakan adik kamu sudah meninggal, apa kamu tidak menyayangi adikmu, hah?" bentak sang Mamah.


Ciko menyentuh pipinya yang perih.


"Mah, dengerin Ciko! Dia adalah Elora, dia mempunyai keluarga sendiri. Tapi kalau Mamah mau Ciko bisa minta Elora buat jadi anak angkat Mamah, menggantikan keberadaan Liora yang sudah tidak ada," tutur Ciko emosional.


Bruk!


Tubuh sang Mamah ambruk seketika itu pula, ia menangis histeris dengan rasa yang begitu sesak di dadanya.


"Akh! Liora ...!" jeritnya.


Ciko memeluk sang Mamah, air mata mereka berdua tumpah. Suara tangisan mereka beradu di ruangan pasien itu, pemandangan itu semakin menambah rasa sakit papahnya.


Ia sebagai kepala keluarga merasa tidak berdaya dengan kondisi yang saat ini mereka alami.


"Liora, putriku ...," teriaknya histeris.


"Maaf ...."


Hanya kata maaf-lah yang terus-menerus keluar dari mulut Ciko, karena ... tak ada kata lain yang terpikir oleh Ciko selain kata maaf.


"Em, Kak Ciko ...," panggil Elora pelan.


Ketiga orang itu terperanjat mendengar suara Elora, terutama sang Mamah yang langsung berdiri dan diikuti oleh Ciko.


"Dia Elora," bisik Ciko ke telinga mamahnya.


Mamahnya terperangah.


"Elora ...."


"Mamah gue!" timpal Ciko.


Elora memejamkan matanya, ia memikirkan mengenai apa yang harus ia lakukan supaya memperbaik keadaan Mamah dari Dokter Arvi, alias Ciko.

__ADS_1


"Mamah," celetuk Elora.


Mata sang Mamah membulat sempurna.


"Tolong bilang sekali lagi," pintanya penuh harap.


"Mamah ...."


Tangis sang Mamah kembali pecah, kali ini tangisnya adalah tangis bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa mendengar suara seorang Putri yang memanggilnya Mamah. Sungguh, perasaan yang sangat luar biasa bagi wanita paruh baya itu.


Sang Papah yang sedari tadi terdiam, kini mulai mendekati istri dan putranya. Ia merengkuh tubuh mereka, dengan maksud untuk saling menguatkan satu sama lainnya


"Sekarang kita punya keluarga baru," lirih mamahnya kemudian kehilangan kesadaran.


"Mamah!" pekik mereka bersamaan.


"Kamu temani saja Elora, biar Papah yang ngurus Mamah," ujar sang Papah mengangkat tubuh istrinya.


"Ok, Pah!" sahut Ciko.


Setelah mendapat persetujuan dari Ciko, ia berjalan perlahan meninggalkan ruangan yang menjadi saksi bertambahnya keluarga mereka.


"Thank you, El," ucap Ciko tulus.


"Iya, sama-sama." balas Elora tak kalah tulus.


Ciko duduk di kursi yang ada di samping ranjang Elora, ia mempunyai sesuatu untuk ditanyakan kepada Elora.


"El, gue harap lo jawab semua pertanyaan gue dengan jujur," ujar Ciko serius.


"Lo santai aja, njir!" seru Ciko yang tahu bahwa Elora tengah tegang.


"Mana bisa saya santai, sedangkan muka Kak Ciko aja begitu," sahut Elora ketus.


"Emang muka gue kenapa, El? Terlalu ganteng, yah?" ucap Ciko percaya diri.


"Terlalu ganteng, sih, nggak. Yang ada malah kurang ganteng," canda Elora.


Ciko merengut, tingkat kepedeannya yang setinggi langit dijatuhkan dengan mudahnya oleh Elora.


"Ck, rese lo, El!" sungut Ciko.


"Ih, baperan," ledek Elora diakhiri dengan kekehan.


"Iya, serah lu aja, El. Betina mah selalu bener," sinis Ciko.


"Tuh, kan. Baperan."


"Nggak, Elora sayang." Ciko tersenyum palsu.


"Yaudah, cepetan mau tanya apa? Saya mau istirahat," ketus Elora.


Ciko mencebikkan bibirnya, tadi saja Elora begitu tegang. Eh, sekarang Elora malah berubah menjadi santai sekaligus menjengkelkan.

__ADS_1


"Itu, cerita hidup lo." Ciko terlihat ragu-ragu.


Ekspresi kesedihan terlukis di wajah Elora.


"Eh, jangan nangis lo!" panik Ciko.


"Gue gak jadi nanya, deh," sambungnya.


Elora memalingkan wajahnya, ia tak mau menunjukkan kesedihannya kepada Ciko.


"Saya akan menjawabnya, tunggu sebentar!" Elora mengusap air matanya.


Ciko menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dengan bodohnya ia malah menanyakan pertanyaan yang sangat sensitif bagi Elora.


"Beberapa hari yang lalu saya menikah dengan pria yang tadi menampar saya, tapi ... di malam pernikahan tiba-tiba saja suami saya mengatakan ingin menikahi adik tiri saya," ungkap Elora.


"Lah, kok iso?" celetuk Ciko dengan tampang watadosnya.


"Dulu ... saya pernah menolong seorang pria, dan pria yang saya tolong itu meminta untuk di antar ke hotel. Tapi, ada seseorang yang memotret saya ketika mengantar pria yang setengah sadar itu ke hotel. Suami saya pun mendapat foto itu disertai dengan kata-kata yang buruk mengenai diri saya," jelas Elora.


"Dan ... hubungan yang kami rajut selama 2 tahun hancur begitu saja hanya karena secarik foto. Malam pertama pernikahan yang harusnya membahagiakan berubah menjadi begitu memilukan," lanjut Elora sendu.


"Andai, saya tidak menolong pria asing itu ...." gumam Elora yang masih bisa didengar oleh telinga Ciko.


'Wait! Jangan bilang kalau orang yang dimaksud Elora itu si Kenan,' batin Ciko panik.


"Lo kenal gak siapa orang yang lo tolong itu?"


Elora menggeleng pelan, ia sama sekali tidak mengenal pria itu. Sampai sekarang pun ia tidak pernah bertemu dengan orang yang ditolongnya.


"Ciri-cirinya?" Ciko bertanya lagi demi memastikan apakah orang itu adalah Kenan atau bukan.


"Saya tidak melihat jelas wajah pria itu karena dia menggunakan tudung kepala, di wajahnya juga terdapat darah yang cukup banyak, dia juga mengenakan pakaian serba hitam," jawab Elora sembari mengingat-ingat kejadian tempo dulu.


Ciko menutup mulutnya.


'Kenan, ini beneran si Kenan.'


Saat itu dirinya yang mengobati luka-luka Kenan. Lalu, berdasar atas deskripsi yang dikatakan Elora, semuanya sama persis dengan kondisi Kenan ketika terluka dulu.


"Hahahaha ... El, gue ada urusan sebentar. Lo istirahat baik-baik," kata Ciko kikuk.


"Hm ...." Elora menatap heran Ciko.


"Bye, sayang!" Ciko berlari meninggalkan ruangan.


***


"Gilaaaa ...!" teriak Ciko yang kini sudah berada di ruangan pribadinya.


"Kalau sampai si Elora tau kalau yang dia tolong itu si Kenan ...."


"Pasti si Elora benci banget sama si Kenan, terus si Kenan yang bucin ke si Elora itu pasti bakalan ngamok karena dibenci sama calon doi-nya. Kalau si Kenan ngamok ... keluarga gue pasti bakalan kena imbas."

__ADS_1


"Gak!"


"Gue harus bisa cegah semua kemungkinan buruk itu, pas si Kenan balik gue bakalan diskusiin semuanya sama si Kenan," ujar Ciko dengan tekad serta semangat yang membara demi masa depan dirinya yang cerah.


__ADS_2