
"El, bangun!" teriak Kenan seraya mengguncangkan tubuh Elora.
"Kamu berisik sekali, Kenan!" dengus Elora dengan mata yang masih tertutup.
Kenan tak habis akal, ia menekan hidung Elora menggunakan dua jarinya sampai-sampai membuat Elora yang enggan membuka mata itu menjadi melotot seketika.
"Kamu ingin membunuhku?" ujar Elora ketus.
"Tidak, aku hanya ingin membangunkanmu," balas Kenan santai.
"Kenapa harus se-sadis ini?"
Kenan tersenyum tipis, ia hanya menekan hidungnya dan Elora sudah menyebutnya sadis? Ah, padahal bagi Kenan membangunkan orang dengan menekan hidungnya itu adalah cara yang normal, dan sangat jauh dari kata sadis. Di sini sudah terlihat jelas perbedaan tingkatan sadis antara Kenan dan Elora.
"Aku harus meeting, El!" jawab Kenan mulai serius.
"Terus, kenapa kamu masih diam di sini?" sungut Elora.
"Memangnya kamu mau menungguku di mobil?" tanya Kenan memastikan.
"Memangnya ini di mana?" Elora celingak-celinguk melihat ke luar mobil.
"Perusahaanku," jawab Kenan singkat.
Elora tercekat, padahal tadinya ia ingin pulang untuk membereskan barang-barangnya. Akan tetapi ... gara-gara ia tertidur sekarang ia malah dibawa Kenan ke perusahaannya.
"Aku boleh ikut denganmu, Ken?"
"Tentu saja boleh," jawab Kenan cepat nan bersemangat.
***
'Gila ...!' Dalam batinnya Elora berteriak.
'Aku kira dia akan menyuruhku menunggu di ruangannya, tapi ternyata ... aku malah ikut meeting dengannya ....'
"Makan camilannya, Elora!" perintah Kenan.
Elora tak menggubrisnya, ia tampak begitu gugup karena duduk berdampingan dengan orang yang memimpin meeting. Apalagi, sedari masuk ke ruangan sampai sekarang pandangan orang-orang selalu tertuju kepada dirinya.
Kesal karena diabaikan, Kenan mengapit dagu Elora, memaksa Elora untuk melihat ke arahannya.
"Biasanya kamu sangat berisik? Tapi kenapa kali ini kamu hanya diam saj---?"
Elora membekap mulut Kenan, ayolah ... saat ini ada orang yang sedang memaparkan laporannya.
"Pelankan suaramu!"
Kenan menganggukkan kepalanya, kemudian ia melepaskan tangan Elora yang membekap mulutnya.
"Makan!" Kenan menyuapi Elora sepotong kue.
__ADS_1
Elora menggelengkan kepalanya dengan ragu-ragu, di satu sisi ia ingin merasakan kue yang terlihat sangat menggiurkan itu, di sisi lain ... ia merasa malu dan gugup karena orang-orang semakin intens memperhatikannya.
"Aish ...."
Brak!
Kenan menggebrak meja dengan sangat keras, orang-orang yang berada di sana pun tersentak kaget.
"Jaga mata kalian! Kalau sampai kekasih saya tidak mau makan, kalian semua akan saya pecat," ancam Kenan dengan kilatan amarah yang terpancar dari matanya.
Diky yang berada di ruangan itu memperlihatkan layar laptopnya ke arah Elora.
Elora manggut-manggut, ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Kenan ...," panggil Elora lembut.
"Lanjutkan meeting nya," lanjutnya.
"Baiklah, sementara aku meeting... kamu bisa menonton sambil memakan camilan yang sudah aku siapkan khusus untukmu." Kenan memberikan laptop dan earphone kepada Elora.
Elora melirik Diky sejenak, kemudian ia mengiyakan apa yang diinginkan oleh Kenan.
Satu setengah jam telah berlalu, meeting pun telah usai dengan ditandai keluarnya orang-orang yang mengikuti jalannya meeting. Kini, di ruangan meeting itu tersisa Elora dan Kenan yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Kenan, aku harus pulang. Ayah mertuaku sakit," ujar Elora memecah keheningan.
"Kamu serius ingin pulang ke rumah terkutuk itu?"
"Mau bagaimana lagi ... Ayah mertua yang selalu baik kepada sekarang membutuhkanku. Selain itu Ibu mertuaku juga masih belum sembuh, juga ... Cantika mana mungkin mau merawat mereka," papar Elora lesu.
Tangan Kenan menyentuh kedua bahu Elora.
"Jaga dirimu dengan baik, kalau ada apa-apa segera hubungi aku."
Elora tersenyum getir, selama ia berada dalam kondisi terpuruk pria asing yang ada di depannya inilah yang senantiasa ada membantu dan menghiburnya. Sementara itu ... suaminya malah memberi rasa sakit secara terus-menerus kepadanya.
Elora tidak tahu skenario yang dirancang oleh tuhan, tapi... ia berharap kalau ia bisa terus bahagia bersama Kenan, entah sebagai teman ataupun sebagai pasangan.
"El ---"
Ucapan Kenan terpotong oleh Elora yang memeluknya secara tiba-tiba.
"Kamu itu nyebelin, suka semena-mena sama orang, hobi nya ngancem aku, ngomongnya suka ngelantur, terus mesum banget lagi ...."
Kenan nyaris tersedak mendengar ungkapan tulus seorang Elora, seburuk itukah ia di mata seorang Nona Elora Fazia?
"Walaupun begitu... aku mau bilang terimakasih karena kamu selalu ada untuk aku," lanjut Elora tulus.
Kenan terenyuh, dibalik sisi buruknya rupanya ada juga secuil kebaikan yang dirasakan oleh pujaan hatinya tersebut.
"Aku tidak butuh ucapan, El ...."
__ADS_1
Sontak saja Elora mendongakkan kepalanya.
"Mak---"
Kenan menc!um bibir Elora, tangan kanannya menahan tengkuk Elora sedangkan tangan kirinya mengusap-usap punggung Elora. Elora tak memberontak, dan tak juga membalas c!uman Kenan yang semakin dalam.
Lama kelamaan, Elora mulai terhanyut hingga akhirnya ia membalas cium4n Kenan. Tak ada rasa segan diantara keduanya, Elora pun seolah-olah lupa bahwa ia wanita yang telah bersuami.
Cium4n mereka terhenti tatkala Kenan tidak sengaja menggigit bibir bawah Elora. Kenan bergerak menuju leher Elora, memberikan beberapa tanda kepemilikannya. Anggap saja, ia memberikan tameng untuk Elora yang akan segera menghadapi suami serta adik tirinya yang bia&ab.
"Cukup Kenan!" Elora mendorong Kenan, mencegah Kenan berbuat semakin jauh.
Elora memalingkan wajahnya dari Kenan, sementara itu Kenan mengusap bibirnya sen$ual.
"Kamu menikmatinya, El," goda Kenan seraya memainkan rambut Elora.
Wajah Elora bersemu merah, bagaimana cara ia menghadapi Kenan ke depannya?
"Aku mau pulang," ucap Elora tanpa menatap lawan bicaranya.
"Minta Diky untuk mengantarmu!"
Elora melenggang pergi, ia tak mengindahkan perkataan Kenan. Namun, Kenan yakin kalau Elora mendengar perkataannya walaupun tak menyahut.
Kenan menyandarkan punggungnya ke kursi yang empuk itu, matanya terpejam dengan senyuman yang merekah.
"Aku sangat bahagia ...." Kenan berteriak dengan kencangnya, Elora yang baru keluar pun bisa mendengar teriakan Kenan.
"Sepertinya aku harus memberi Elora hadiah," gumamnya sambil senyam-senyum sendiri.
Senyuman Kenan mendadak sirna, ia lupa satu hal.
'Bagaimana kalau Elora membuat anak dengan suaminya?'
***
"Nona, apa Nona sakit?" tanya Diky yang khawatir melihat ekspresi Elora yang mudah berubah-ubah.
"Tidak!" jawab Elora tegas.
"Ya, seperti itu. Anggap saja kalau itu adalah bayaran atas semua perbuatan baiknya kepadaku, ya ... bayaran," gumam Elora yang membuat Diky bingung sendiri.
Perjalanan menuju rumah Gavin menghabiskan waktu yang lama, itu dikarenakan jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan.
Setibanya di rumah Gavin, Diky mengantar Nona-nya sampai ke dalam rumah. Karena bagaimanapun juga selain ditugaskan untuk mengantar Elora, ia juga ditugaskan untuk memperingati orang-orang rumah supaya tidak mengganggu Elora.
Begitu masuk ke dalam rumah, Elora disuguhkan dengan pemandangan yang membuat tensi darahnya naik. Bagaimana tidak, saat ini suaminya tengah bercum6u mesra di ruang keluarga bersama istri keduanya.
"Nona!" panggil Diky pelan.
"Abaikan saja," seru Elora sengaja mengeraskan suaranya.
__ADS_1
Gavin dan Cantika langsung menghentikan aktivitasnya begitu mendengar seruan Elora.
"Menjijikkan!"