Elora

Elora
Bab_24 (Putus Asa)


__ADS_3

Diky kalang kabut berlari ke pelaminan, sejujurnya ia tidak tahu harus melakukan apa, tetapi karena takut terkena kemarahan Kenan lebih baik ia pergi tanpa menanyakan kepada Kenan mengenai cara yang harus ia pakai dalam upaya menolong Elora.


"Si bangs*t itu harus segera ku singkirkan," umpat Kenan dengan pandangan yang terarah pada Gavin dan Cantika.


Setibanya di pelaminan, Diky melepaskan jasnya yang kemudian memakaikannya kepada Elora. Selain itu, Diky juga memberikan sapu tangan miliknya kepada Elora.


Elora mendongak melihat wajah Diky.


"Maaf Nona, tapi saya tidak bisa menyeka air yang membasahi Nona," ucap Diky formal.


"Kalian semua bisa lihat, Kak Elora dengan tak tahu malunya memamerkan perselingkuhannya di depan Mas Gavin," seru Cantika menggunakan mikrofon.


Orang-orang yang mengenal Diky terperanjat, jika benar Elora berselingkuh dengan Diky maka itu bukan sepenuhnya kesalahan Elora melainkan karena pesona Diky, seperti itulah isi pikiran mereka.


"Ternyata ini laki-laki yang membuatmu menyelingkuhi aku, El," ujar Gavin dengan suara yang keras.


Diky membalikkan tubuhnya, membuat dirinya dan Gavin saling berhadap-hadapan. Diky tersenyum mengejek karena tubuh Gavin lebih pendek darinya. Sementara itu, Gavin menampilkan ekspresi kesalnya karena merasa diremehkan oleh Diky.


'Haha, bukan hanya Presdir Ken yang sensitif dengan tinggi badan,' batin Diky.


Ya, tinggi badan Diky juga melampaui Kenan. Dulu dirinya juga sempat hampir dipecat Kenan lantaran dirinya dianggap memamerkan tinggi badan di hadapan Kenan.


'Ada untungnya juga mempunyai badan yang tinggi, padahal dulu aku menganggap mempunyai tinggi badan di atas rata-rata itu merepotkan.' Diky membatin.


"Ternyata anda yang berselingkuh dengan Elora, ha ... kamu memilih selingkuhan yang salah Elora," ledek Gavin.


Gavin, Pria itu ternyata tidak mengenali Diky.


"Hey, berselingkuh dengan tuan Diky adalah keputusan yang paling tepat," seru salah seorang tamu wanita.


"Aku saja akan dengan senang hati bila dijadikan istri ke-4 tuan Diky," timpal wanita yang lainnya.


Tingkat popularitas Diky di kalangan wanita memang tak usah dipertanyakan lagi. Menjadi orang kepercayaan Kenan, membuat Diky dengan mudahnya menjadi dambaan para wanita juga terkenal dikalangan para pengusaha besar.


Diky yang notabenenya hanyalah orang kepercayaan Kenan bisa setenar itu, entah seperti apa ketenaran dari Kenan? Ya, hal itu juga yang membuat Kenan sering menyembunyikan identitasnya ketika hadir di acara yang diikuti oleh banyak orang.


"Apa!?" Gavin tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh telinganya.


"Sepertinya anda belum mengenal saya," ucap Diky menyunggingkan senyumnya.


"Memangnya siapa---"


"Tuan Diky!" seru Ayah Gavin.

__ADS_1


Ayah Gavin bergegas mengajak Diky bersalaman, Diky juga menyambutnya dengan baik. Ia juga memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua.


"Maaf saya tidak menyambut anda dengan baik," ujar Ayah Gavin.


"Tidak masalah."


"Ah, saya melihat nama Presdir Kenan di buku tamu. Apa Presdir Kenan masih ada di sini?" tanya Ayah Gavin antusias.


"Apa? Presdir Kenan hadir di sini?" teriak seseorang yang mendengar ucapan Ayah Gavin.


Keriuhan kembali terjadi, mereka celingak-celinguk mencari keberadaan Kenan.


'Haduh, kenapa Presdir Ken mengisi buku tamu menggunakan identitas aslinya?' batin Diky kesal.


"Tunggu ini maksudnya apa?" Gavin yang tak mengerti meminta pemahaman pada ayahnya.


"Gavin, tuan Diky ini adalah orang kepercayaan Presdir Kenan Anderson," jelas ayahnya.


"Maksud Ayah Kenan Anderson yang terkenal itu?" tanya Gavin memastikan.


"Iya, Ayah sangat tidak menyangka kalau Presdir Kenan menghadiri acara pernikahan kalian."


"Mungkin Presdir Kenan merasa kalau kami adalah pasangan istimewa." Dengan kepercayaan yang tinggi Cantika berkata menggunakan mikrofon.


'Percaya diri sekali wanita ini,' batin Diky.


Diky merebut mikrofon yang ada di tangan Cantika dengan cara yang kasar.


"Mohon perhatian!" kata Diky melalui mikrofon.


Sontak, perhatian semuanya tertuju pada Diky.


"Presdir Kenan memang datang ke sini, tapi kedatangan Presdir Kenan ke sini hanya untuk mengantar sepupunya, dan Presdir Kenan sudah pulang dari tadi," tutur Ciko seraya tersenyum.


"Hahaha, mempelai wanita itu tidak tahu malu sekali mengatakan Presdir Kenan datang ke sini karena dirinya," seru seseorang.


Ibunya Cantika menyentuh tangan putrinya untuk menguatkan Cantika.


Sepupu Presdir Kenan? Orang-orang bertanya-tanya siapa sebenarnya sepupu Presdir Kenan. Sebab, sepengatahuan mereka Presdir Kenan tidak mempunyai kerabat.


"Dan dengan bodohnya kalian malah memperlakukan sepupunya dengan buruk, entah apa yang akan dilakukan Presdir Kenan pada kalian?" sambung Diky.


Para tamu itu saling melempar pandangan.

__ADS_1


Kala perhatian orang-orang tak terfokus padanya, Elora berjalan meninggalkan pelaminan yang menjadi saksi penghinaan yang ditujukan padanya. Diky yang posisinya membelakangi Elora juga ikut tidak menyadari kepergian Elora.


"Nona Elora, orang yang kalian sakiti ini adalah sepupu dari Presdir Kenan," ungkap Diky yang membuat mereka diam mematung.


Elora yang sudah tak memiliki semangat dan harapan itu sama sekali tak menghiraukan perkataan Diky. Ia terus melangkahkan kakinya yang masih agak susah untuk digerakkan.


***


"Non, El!" seru Pak Idan ketika melihat Elora memasuki mobil.


Elora tak menyahut, ia menundukkan kepalanya dengan rambut yang menutupi wajahnya.


Pak Idan faham, ia melajukan mobilnya menuju kediaman Elora.


Beberapa menit telah berlalu, mobil yang ditumpangi Elora sudah menjauh dari hotel.


"Berhenti!" perintah Elora yang langsung dituruti Pak Idan.


"Ada apa Non El?" tanya Pak Idan bingung.


"Tolong belikan saya makanan di restoran itu, pakai uang Pak Idan dulu," pinta Elora.


"Baik, Non." Pak Idan keluar dari mobil.


Setelah Pak Idan masuk ke dalam restoran, Elora berpindah tempat duduk dari kursi belakang ke kursi yang berada di belakang kemudi.


Elora langsung tancap gas, mobilnya melesat meninggalkan Pak Idan yang sedang memesan makanan untuknya.


"Hahahaha ... Awalnya aku ingin menerima takdir darimu tuhan, tapi itu terlalu sulit untukku," teriak Elora histeris.


Elora terus mempercepat laju mobilnya layaknya orang kesetanan, dan beruntungnya kondisi jalan lumayan lengang. Laju mobil Elora semakin tinggi kala berada di jalanan yang sepi dari lalu lalang kendaraan, baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.


"Hari ini aku memilih untuk bertemu denganmu, tuhan!" jerit Elora.


Sungguh, Elora sungguh berada dalam fase terhancur dirinya. Saking hancurnya, ia sampai tidak teringat ayahnya yang masih di rawat intensif di rumah sakit.


Elora menginjak pedal gas mobil itu sampai mentok, lalu ia membanting stir ke arah kiri.


Brukkkk


Mobil Elora menabrak sebuah pohon besar, bagian depan mobil itu ringsek.


Duarrr

__ADS_1


__ADS_2