
"Ini pasti hanya akal-akalan kalian, mana mungkin Presdir Kenan mempunyai sepupu seorang jala*g seperti Kak Elora," hina Cantika lantang.
Cantika yang selalu menampilkan tampang lugu itu mulai mengeluarkan sifat aslinya, ia sudah tidak memerlukan lagi kebaikan juga uang dari Elora. Karena dia sudah memiliki Gavin, laki-laki kaya raya yang bisa memberikan apapun yang dia inginkan.
Diam-diam, Diky mengambil dua gelas yang berisi jus. Calon nyonya Anderson dihina di depan matanya, tentu saja ia harus bertindak, bukan?
Dengan sangat tenang, Diky menumpahkan dua gelas jus itu di atas kepala Cantika.
"Berani sekali anda menghina Nona Anderson dengan mulut kotor itu, jangankan menghina ... mulut anda itu bahkan tidak layak untuk menyebutkan nama Nona Elora," ucap Diky emosional.
Cantika mendongak, ia terlihat seperti tengah menantang Diky.
"Elora, dia ...." Cantika menunjuk Elora.
"Saya bilang jangan menyebut nama Nona Elora!" bentak Diky.
"Apa anda tuli, hah!?"
"Ciko!" panggil Diky.
Ciko yang faham, langsung mengambil sebuah piring yang diatasnya terdapat sepotong cake, kemudian memberikannya kepada Diky.
Plak!
Diky mendaratkan cake itu di wajah Cantika.
Cantika diam mematung dengan wajah yang dipenuhi cake, ini adalah penghinaan terbesar sepanjang hidupnya. Gavin segera menarik Cantika, membawanya pergi menjauh dari acara.
"Kamu hebat, Diky," puji Elora.
"Ah, terimakasih Nona ...," sahut Diky tersenyum tipis.
"Elora, tadi lo ngapain tepuk tangan, hah!?" ucap Ciko dengan nada yang tinggi.
"Emangnya gak boleh?"
"Ya, gak boleh-lah! Tangan lo itu patah, El!" tekan Ciko.
"Terapi yang gue lakuin bakalan---"
"Mari kita sambut mempelai pria dan mempelai wanita," sela pembawa acara.
Suara tepukkan tangan menggema di tempat tersebut, menyambut kedatangan raja dan ratu sehari itu.
"Dania ...," lirih Ciko begitu melihat Dania berjalan menggandeng tangan Vito, musuh terbesarnya.
Mereka berdua telah resmi menjadi suami istri, dan acara ini adalah acara perayaan pernikahan mereka.
Ciko tak melepaskan pandangannya dari Dania dan Vito yang berjalan menuju pelaminan. Matanya berkaca-kaca melihat pemandangan yang begitu menyayat hatinya.
"Kakak!" Elora mengguncangkan lengan kanan Ciko.
__ADS_1
Reflek, Ciko mengusap air matanya yang hampir menetes. Ia tak mau terlihat lemah di hadapan Elora.
"Gue gak papa, El!" sanggah Ciko dengan senyuman yang dipaksakan.
"Kita makan yuk, Kak!" ajak Elora bertujuan untuk mengalihkan perhatian Ciko.
"Hm ...." pandangan Ciko terpaku pada Dania serta Vito yang sudah duduk di pelaminan.
"Kak ...!"
"Iya!"
Setalah termenung beberapa saat, Ciko memutus penglihatannya dari Dania. Ia menyusul Elora dan Diky yang sudah memilah-milah makanan yang akan mereka santap.
***
"Akhirnya selesai juga ... aku sangat ingin menemui-mu Elora," batin Kenan gembira.
Kenan menampilkan senyumannya yang sangat-sangat jarang ia perlihatkan. Senyumannya yang manis itu, menarik perhatian seorang wanita yang merupakan seorang sekretaris dari klayen yang baru saja selesai melakukan pertemuan dengannya.
Wanita anggun nan cantik itu berjalan ke arah Kenan dengan membusungkan dadanya yang besar. Ia tidak tahu bahwa dirinya tengah mencari perhatian kepada orang yang bisa menghilangkan nyawanya dengan mudah.
Ketika dirinya berhadapan dengan Kenan, wanita itu pura-pura tersandung. Dalam hatinya wanita itu bersorak ria karena akan jatuh ke dekapan Kenan. Namun, ekspektasi tidak selalu sesuai dengan realita, ia bukan jatuh ke dekapan Kenan melainkan jatuh tersungkur ke lantai yang keras.
Kenan menggeram marah, lamunannya mengenai kehidupan indahnya bersama Elora buyar begitu saja.
"Wanita gila dari mana ini!?" teriak Kenan keras.
Wanita yang tak tau diri itu berdiri lalu meraih lengan kenan, merekatkan lengan Kenan itu pada bagian dadanya.
Bruk!
"Akh ...!"
Tubuh wanita itu terhempas, punggungnya pun terbentur keras ke dinding.
"Sangat menjijikan!" Kenan melepaskan jas yang dikenakannya, lalu menjatuhkannya ke lantai.
"Bau parfum nya sangat busuk!" dengus Kenan.
"Nasya!" panggil seorang laki-laki paruh baya.
"Pak Andre ...," rengek Nasya, wanita yang menggoda Kenan.
Laki-laki paruh baya tersebut menghampiri Nasya yang tak lain adalah sekretaris, sekaligus selingkuhannya.
"Katakan, siapa yang telah melakukan ini kepada kamu? Biar saya yang akan membalas orang itu," ucap Pak Andre menggebu-gebu.
"Dia, Pak!" Nasya menunjuk Kenan.
"Usir mereka berdua dari sini!" perintah Kenan kepada bagian keamanan yang sudah berada di lokasi.
__ADS_1
"Apa-apaan ini!?" seru Pak Andre ketika dirinya ditarik oleh orang yang bertugas menjaga keamanan perusahaan Kenan.
"Presdir Kenan! Berani sekali anda memperlakukan saya seperti ini," teriak Pak Andre tak terima.
"Apa anda lupa kalau posisi saya dan anda itu setara," lanjutnya.
Kenan tertawa hambar.
"Posisi kita tidak setara, saya mendapatkan semua kekayaan ini berkat usaha saya sendiri. Sedangkan anda mendapatkan kekayaan itu dari seorang wanita," tutur Kenan dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Anda---"
"Ya, kabar saya baik Nyonya Dahlia," ucap Kenan kepada lawan bicaranya di telepon.
"Nyonya Dahlia, suami anda selingkuh dengan sekretarisnya. Bila anda ingin bertemu dengan mereka, anda bisa datang ke perusahaan saya," ujar Kenan santai.
"Baik, sama-sama Nyonya," kata Kenan yang menjadi penutup obrolannya dengan Nyonya Dahlia, yang merupakan istri sah dari Pak Andre.
"Selamat menempuh hidup baru," ujar Kenan seraya berlalu pergi.
'Mati aku,' batin Pak Andre.
***
Tatapan Ciko terus tertuju pada Dania yang berada di pelaminan, ia tersenyum miris ketika melihat Vito menyuapi Dania.
Sebuah tepukan pada punggungnya akhirnya membuat dirinya memutus pandangan dari Dania dan Vito.
"Aku ke toilet dulu, yah," pamit Elora.
"Kakak temenin ya, El," usul Vito.
"Gak usah, Kak. Aku ditemenin Diky," tolak Elora halus.
"Ya udah, kamu hati-hati, El."
Elora tersenyum simpul.
"Eh, Diky! Lo jagain Elora baik-baik, kalau sampe Elora luka ... abis lo sama gue!" ancam Vito yang hanya dianggap angin lalu oleh Diky.
Entahlah, Ciko merasa akan ada sesuatu hal buruk yang akan menimpa dirinya dan juga Elora. Namun, ia buru-buru menepis semua perasaan buruknya itu.
Begitu menengok ke arah pelaminan, Ciko dikejutkan oleh Dania yang tengah tersedak. Dan sia!nya lagi suami Dania tidak ada di sana, Vito yang masih menyimpan perasaan sayang kepada Dania pun berinisiatif untuk memberikan minum kepadanya.
Kala ia akan mengambil air, tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang menawarkan air minum kepada Ciko. Karena keadaan yang mendesak, tanpa rasa curiga Ciko mengambil air minum itu dan bergegas memberikannya kepada Dania.
"Rencanaku sudah mulai berjalan dengan baik," gumam seorang pria seraya tersenyum miring.
"Segera lakukan rencana selanjutnya," perintahnya kepada 4 orang pria berbadan kekar.
"Aku sangat penasaran dengan ekspresi Ciko ketika dirinya ditinggal mati oleh dua orang yang paling ia sayangi di waktu yang berdekatan."
__ADS_1