
Elora terbaring lemah di tanah, sebelum mobil meledak dirinya terlempar dari dalam mobil dikarenakan dirinya tidak menggunakan sabuk pengaman. Air mata menggenang di pelupuk matanya, rasa sakit pun menjalari sekujur tubuhnya.
"Aaa ...." Elora menjerit sekencang-kencangnya kala berusaha menggerakkan lengan kanannya yang terbentur keras dengan batu.
"Aku harus pergi." Elora berusaha untuk bangun.
Dengan tekad serta usaha yang keras, Elora berhasil berdiri. Lengan kirinya ia gunakan untuk memegang lengan kanannya, bisa dipastikan bahwa tulang lengan kanannya itu patah dan mengalami keretakan.
"Seingatku tidak jauh dari sini ada sungai," gumam Elora melangkahkan kakinya perlahan.
Beberapa saat berjalan, Elora baru menyadari bahwa ia hanya mengenakan sebelah sepatu, sepatu yang satunya lagi mungkin terjatuh ketika dirinya terlempar. Di sela-sela langkahnya Elora melepaskan sepatu slip on berwarna pink yang sebelumnya ia terima dari Kenan.
"Aku harus mengakhiri semuanya hari ini," lirih Elora.
***
"Aish, gara-gara perkataan wanita gila itu aku jadi muntah," gumam Kenan berjalan keluar dari toilet.
Tatapan aneh ditujukan pada Kenan oleh beberapa orang yang berpapasan dengannya, tapi bukan Kenan namanya kalau menanggapi hal tak penting seperti itu.
Belum sampai ke tempat duduknya Kenan dikagetkan dengan seorang pelayan yang berlari menghampirinya.
"Tuan, ini handphone anda. Maaf, saya harus segera pulang karena istri saya akan segera melahirkan," ucap pelayan itu tergesa-gesa.
Ya, pelayan itu adalah pelayan yang disuruh Kenan untuk merekam video selagi ia pergi.
"Kalau begitu saya permisi."
"Tunggu sebentar!"
Kenan mengeluarkan dompetnya yang sangat tebal, tanpa ragu-ragu Kenan mengeluarkan uang yang banyak dari dompetnya itu.
"Ambil ini! Lalu gunakanlah untuk biaya persalinan." Kenan memberikan uang itu kepada si pelayan.
"I--ni---" Pelayan itu tergagap lantaran syok mendapatkan uang yang banyak dari orang yang sama sekali tak dikenalnya.
"Cepat temui istrimu, dia sangat membutuhkanmu," ujar Kenan.
"Terimakasih banyak tuan, semoga semua keinginan tuan segera tercapai," ungkap si pelayan kemudian berlari pergi.
"Ya, semoga saja," gumam Kenan langsung teringat akan keinginannya untuk segera mendapatkan Elora.
Kenan bersandar di dinding, ia memutar video yang telah direkam.
Tatapan Kenan menajam kala melihat Elora pergi meninggalkan pelaminan.
Deg!
Kenan terhenyak, tiba-tiba ia merasakan sesuatu hal buruk akan segera terjadi.
"Tidak, Elora pasti baik-baik saja." Kenan membuang jauh-jauh perasaan itu.
Kenan memicingkan matanya, ia tidak melihat keberadaan Elora. Itu berarti apa yang dilihatnya di video itu benar adanya.
Kenan mendengus kesal, Diky yang ia percayai untuk membantu Elora malah tidak menyadari kepergian Elora dan malah terus mengatakan omong kosong.
Kenan mengangkat jari tengahnya, Diky yang kebetulan menengok Kenan pun mendadak panas dingin. Saking takutnya, Diky sampai menjatuhkan mikrofon yang dipegangnya yang sontak membuat semua orang memekik karena efek suara yang ditimbulkan.
__ADS_1
Diky membalikkan tubuhnya, ia tidak menemukan Elora.
"Anda kenapa?" tanya Ayah Gavin ikut panik.
"Saya akan mati."
Setelah mengatakan itu, Diky pergi menyusul Kenan yang sudah ke luar.
"Tuan Diky!" Orang-orang bersorak menyebut namanya.
Diky mengabaikan teriakan-teriakan yang memekakkan telinganya, ia memang suka diperlakukan seperti itu, tapi ia lebih menyukai nyawanya.
Keringat dingin membasahi tubuh Diky, terutama wajahnya. Orang yang sangat ia takuti sudah bersandar di mobil menunggu kedatangannya.
"Kenapa kamu bisa kecolongan, hah!?" bentak Kenan melepaskan topi yang dia kenakan.
"Sa---"
"Jangan membuat alasan!" potong Kenan.
"Tap---"
"Masuk ke mobil dan cari keberadaan Elora!" Kenan kembali memotong.
Diky bergerak sesuai apa yang diperintahkan Kenan. Lalu, Kenan pun ikut memasuki mobil.
"Kita cari ke mana Presdir?" tanya Diky.
"Bodoh!" Bukannya menjawab dengan benar, Kenan malah menghina Diky.
"Gaji kamu saya potong 70%," lanjut Kenan yang membuat detak jantung Diky berhenti sejenak.
Di saat mobil itu melaju membelah jalanan, suasana di dalam mobil itu hening, tak ada percakapan apapun yang terjadi.
'Itu bukannya supir Non Elora,' batin Diky kala melihat seorang pria paruh baya uang terlihat kebingungan dengan jinjingan makanan di kedua tangannya.
"Kenapa berhenti?" tanya Kenan dingin.
"Maaf Presdir, saya melihat supirnya Non Elora," jawab Diky pelan.
Tanpa banyak bicara, Kenan menuruni mobil.
"Di mana Elora?" tanya Kenan kepada supir Elora.
"Saya tidak tahu, tadi Non Elora meminta saya untuk membeli makanan. Tetapi ketika saya sudah membeli makanan, mobil dan Non Elora sudah tidak ada," jelasnya.
Perasaan Kenan semakin tak karuan setelah mendengar penjelasan dari supir Elora.
***
"Elora ... di mana kamu?" gumam Kenan gelisah.
"Pre--presdir, di depan ada mobil yang terbakar!" seru Diky menghentikan laju mobilnya.
"A--apa?" Rasa takut itu semakin menguasai Kenan.
Secara bersamaan Kenan dan Diky mendekati mobil yang terbakar hebat tersebut.
__ADS_1
"Itu ... mobil milik Elora," lirih Kenan.
Kenan terduduk di tanah, lututnya terasa lemas sampai-sampai tidak kuat menyangga berat badannya.
"Elora ...!" Kenan menjerit disertai air matanya yang luruh begitu saja.
"Kenapa kamu meninggalkanku secepat ini?"
Sementara itu, Diky ikut menitikkan air mata. Ini merupakan kali pertamanya melihat Kenan menangis se-histeris itu. Presdir gila kerja yang jarang berekspresi kini menangis, menangis karena seorang wanita yang baru ditemuinya.
Apakah ini yang dinamakan cinta?
Mata Diky tidak sengaja menangkap sebuah jas di sekitaran mobil yang terbakar.
Ia pun segera mengambilnya, selain jas ia juga menemukan sebelah sepatu.
"Presdir, Nona Elora masih hidup!" seru Diky menunjukkan barang yang ia temukan.
"Sepertinya Nona Elora terpental keluar sebelum mobil itu terbakar."
Secerah harapan muncul pada diri Kenan, Elora-nya masih hidup.
"Jas ini adalah jas milik saya, lalu sepatu ini ...."
Kenan merebut sepatu itu dari tangan Diky, ia memeluk sepatu itu kemudian pergi mencari keberadaan Elora.
"Elora, kamu di mana sayang?"
"Ini aku ... ku mohon jawab aku ...!"
"Elora ...!"
Sebelah sepatu yang ditinggalkan Elora diambil oleh Kenan. Harapan Kenan akan keselamatan Elora semakin besar.
"Aku tau kamu tidak akan meninggalkanku secepat ini." Kenan mempercepat langkahnya.
Kenan tidak sadar bahwa jalan yang ditempuhnya itu menuju jembatan tinggi yang dibawahnya mengalir sebuah sungai.
"Ada orang yang bilang kalau mati tenggelam adalah cara mati yang paling menyakitkan," monolog Elora.
"Rupanya tuhan menginginkan aku untuk mati dengan cara se-menyakitkan ini," sambungnya.
"Apakah kalau aku mati aku akan menjadi hantu, kalau itu sungguhan ... aku pasti akan menghantui orang-orang jahat itu sampai membuat mereka menjadi gila." Elora mengatakannya dengan tatapan mata yang kosong.
Elora memaksakan tubuhnya yang sakit itu menaiki pagar jembatan yang tak terlalu tinggi.
Senyuman Kenan yang merekah karena senang kalau Elora masih hidup itu sirna saat pandangannya menangkap sosok Elora yang duduk di pagar jembatan.
"Elora!" teriak Kenan.
Elora menengok ke arahnya.
"Jangan, El!"
Elora tersenyum manis, mungkin senyuman itu akan menjadi senyuman terakhirnya.
Byuuur!
__ADS_1
"Elora ...!"