
"Kalau kamu menangis terus nanti kamu jadi tevos, El," gurau Kenan.
Gurauan Kenan sukses menghentikan tangisan Elora, mood menangis Elora langsung sirna begitu mendengar kata 'tevos' yang digunakan Kenan sebagai bahan gurauan.
"Pergi sana! Saya mau tidur," usir Elora.
Tangan nakal Kenan bergerak menyentuh hidung Elora, pria itu mencubit hidung Elora hingga membuat Elora kesulitan bernapas.
"Hidung kamu mancungnya ke belakang," celetuk Kenan setelah melepaskan cubitannya pada hidung Elora.
Elora merengut, ini bukan kali pertamanya dia disebut pesek oleh seseorang.
"Yang penting masih bisa digunakan untuk bernapas."
Elora memejamkan matanya, ia sudah terlalu kelelahan dengan masalah-masalah baru yang menyerangnya. Ia juga terus terpikir mengenai kehidupan kedepannya, di mana dirinya harus tinggal satu atap dengan kedua orang yang sangat ia benci.
"Jangan tidur dulu, El!" Kenan menusuk-nusuk pipi Elora menggunakan jari telunjuknya.
"Elora!" Kali ini Kenan memainkan rambut Elora.
Elora yang risih pun menepis jemari nakal Kenan, dirinya hanya ingin istirahat. Namun, Kenan enggan memberikannya waktu untuk beristirahat.
"Kenan, saya lelah ...," lirih Elora.
"Saya tahu kamu lelah, tapi istirahatnya nanti saja. Kita harus membahas planning setelah kamu keluar dari rumah sakit," ujar Kenan menyentuh bagian terdekat mata Elora, tujuannya tak lain adalah untuk membuat Elora membuka matanya.
"Kapan-kapan saja," sahut Elora malas.
"Kita juga bukan siapa-siapa, jadi tolong jangan terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadi saya!"
Ekspresi wajah Kenan berubah dalam waktu sekejap, ia tak suka kata-kata yang dilontarkan Elora barusan.
Kenan menekan kedua bahu Elora, yang sontak membuat Elora membuka matanya.
"Kenan ...," lirih Elora dengan ekspresi keterkejutannya.
"Sakit ...," lanjutnya.
Kenan mengabaikan Elora yang meringis kesakitan, dia sudah dibutakan oleh amarah.
"Elora, jangan sekali-kali kamu mengatakan hal seperti itu kepada saya. Karena saya tidak menyukainya," kata Kenan penuh penekanan.
Elora mengernyitkan keningnya, kenapa Kenan tak suka? Bukankah mereka benar-benar tidak ada ikatan keluarga?
"Lepaskan saya, Kenan!"
"Apa salah saya?" tanya Elora ketika Kenan terus menekan bahunya, dengan sorot mata yang tajam.
Kenan tersenyum miring, hasratnya kembali bangkit. Dan ia perlu melampiaskan hasratnya yang sudah membuncah itu.
"Ke--kenan."
Tidak bisa dipungkiri, Elora takut melihat Kenan yang sekarang.
"Maaf ...," ucap Kenan pelan.
Tekanan kedua tangannya pada bahu Elora, ia lepaskan. Ia tersadar akan perbuatannya yang bisa menjauhkan Elora yang sudah mulai dekat dengannya. Kenan berhasil menahan hasratnya demi untuk memuluskan jalannya dalam mendapatkan Elora.
"Saya tiba-tiba teringat perbuatan bejad Ayah dan Ibu tiri saya," alibi Kenan.
__ADS_1
Elora yang lugu itu langsung termakan omongan Kenan.
"Kenan, saya---"
"Istirahatlah, El!" Kenan mengusap pelan pipi Elora.
Setelah Elora tidur, Kenan berjalan dengan tergesa-gesa menuju toilet. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu toilet bagian dalam.
"Aku tidak yakin bisa terus bertahan, Elora ... wanita itu sangat menggairahkan. Aku sangat ingin menyentuhnya," gumam Kenan dengan nafas yang memburu disertai keringat yang mulai membasahi tubuhnya.
"Aku menginginkanmu, Elora ...."
***
"Kamu ng-prank aku 'kan, sayang?" ujar Ciko menatap sendu kekasihnya.
"Maaf, Ciko. Tapi aku gak bisa nolak, karena ini amanat dari almarhumah Ibu aku," ungkap kekasih Ciko berderai air mata.
"Aku harap kamu bisa datang," lirihnya memberikan Ciko sebuah undangan.
Ciko memeluk erat kekasihnya, pelukan terakhirnya bersama sang kekasih yang telah merajut kasih bersamanya selama setengah tahun.
Dengan tidak rela Ciko melepas pelukannya dari kekasih yang sebentar lagi akan menikah dengan pria lain.
"Semoga kamu bahagia," ungkap Ciko meraih undangan dari tangan kekasihnya.
Ciko mengusap air matanya yang hampir menetes.
"Ciko ...."
Meskipun hatinya sangat sakit, Ciko tetap berusaha untuk tersenyum. Ia ingin sekali bertindak egois dengan membawa kabur kekasihnya, tetapi ia sadar kalau semua itu salah dan kemungkinan besar akan berakhir dengan kemalangan.
"Aku pasti datang," ucap Ciko mengangkat undangan pernikahan kekasihnya bersama pria lain.
"Sudah, tidak perlu meminta maaf. Ini bukan kesalahan kamu, dan bukan juga kesalahan siapa-siapa. Pulanglah, dan bersiaplah untuk pernikahanmu," tutur Ciko dengan suara yang bergetar.
Kekasih, ralat maksudnya mantan kekasih Ciko itu pergi meninggalkan Ciko yang terdiam dengan tatapan yang kosong. Melepaskan seseorang yang sangat dicintai kepada orang lain bukanlah perkara yang mudah. Namun, pria itu berhasil melepasnya dengan senyuman, itu adalah hal yang luar biasa.
***
"Hm ... jadi, kamu mau meneruskan perusahaan Ayah kamu?"
Elora menganggukkan kepalanya cepat.
"Saya tidak yakin kamu bisa melakukannya," ucap Kenan meremehkan.
Plak!
Elora menepuk wajah Kenan.
"Jangan meremehkan saya, asal kamu tahu, saya ini lulusan terbaik dari fakultas saya," sewot Elora.
"Fakultas apa?"
"Kepo kamu!" sungut Elora menggembungkan kedua pipinya.
"Kamu menggemaskan sekali, El ...." Kenan mencubit gemas kedua pipi Elora.
"Kenan!" pekik Elora tatkala Kenan melepaskan cubitannya yang membuat pipinya memerah.
__ADS_1
"Jangan sentuh-sentuh saya!" peringat Elora.
"Kalau kamu menyentuh saya, kamu harus membayar denda," gurau Elora.
Gurauan Elora mampu membuat Kenan tertawa, asal ada uang berarti Elora mau disentuh olehnya? Ini adalah kesempatan emas baginya yang memiliki banyak uang.
"Berapa?" Kenan mengeluarkan dompetnya.
"Tergantung posisi sentuhan," jawab Elora santai.
"Kalau di pipi berapa?"
"6 juta."
"Hidung?"
"Karena hidung saya pesek, dendanya dikurangi menjadi 7 juta."
Kenan tersenyum nakal, jika dengan uang ia bisa menyentuh seluruh tubuh Elora. Maka ia bersedia menghabiskan semua uangnya.
"Kalau itu?" Kenan menunjuk bagian dada Elora.
"Otak mes*m kamu!" ketus Elora.
"Saya hanya bertanya, El," kilah Kenan.
Kedua orang itu saling melemparkan tatapan tajam.
"Saya jadi takut kalau harus tinggal se-rumah dengan kamu," ucap Elora lantang.
"Kenapa takut?" tanya Kenan penasaran.
"Ya, saya takut kalau kamu berbuat mes*m. Asal kamu tahu, ya, tubuh saya ini sangat mahal. Dan saya hanya ikhlas kalau tubuh mahal saya ini disentuh oleh suami saya," tutur Elora menggebu-gebu.
"Kamu ikhlas kalau Gavin yang menyentuh kamu?" tanya Kenan tersenyum miring.
"Amit-amit saya disentuh laki-laki kotor seperti dia."
"Laki-laki kotor itu suami kamu, El."
Elora cemberut, ia merasa tersudutkan oleh Kenan.
"Nantinya kamu tinggal di rumah Ciko, biar sekalian Ciko melakukan terapi pada lengan kamu yang patah," ucap Kenan.
Elora mengedipkan matanya berkali-kali.
"Lengan saya patah?" tanya Elora cengo.
Rupanya, Elora belum tahu tulang lengannya patah. Sebelumnya ia hanya mengira bahwa tulang lengannya itu bergeser.
"Iya, memangnya tidak berasa?"
"Tidak tahu, saya be---"
Brak!
Perkataan Elora terpotong oleh suara pintu ruangan yang dibanting dengan keras oleh seseorang.
"Kak Ciko!"
__ADS_1
"Ciko!"
Seru Kenan dan Elora bersamaan.