Elora

Elora
Bab_38 (Kenan Murka)


__ADS_3

"Menyerah atau aku bunuh wanita ini," ancam pria yang menodong Elora menggunakan sebilah pisau.


Kenan enggan untuk menyahut.


Sret!


"Akh!"


Pria itu menggoreskan pisaunya kepada leher Elora sampai membuat darah segar mengalir dari leher Elora.


Kenan masih menahan dirinya, sekali saja ia melakukan sedikit kesalahan, ia akan kehilangan orang terkasihnya.


"Tutup matamu, El!" perintah Kenan.


Elora menuruti perintah Kenan, ia menutup matanya. Baru saja menutup matanya, sebuah goresan kembali ia dapatkan, kali ini goresannya lebih dalam dari sebelumnya.


"Aku menyerah, bunuh saja wanita itu!" ucap Kenan membalikkan badannya.


Elora yang mendengar ucapan Kenan, sontak membuka matanya. Orang yang sangat ia percaya membuangnya dengan begitu mudah.


Tiba-tiba saja Kenan berbalik, ia mengambil sesuatu dari balik jasanya.


Dor!


Suara tembakan itu memekakkan telinga mereka yang ada di sana, tak terkecuali Elora yang diam mematung.


"Argh ...!" raung si pria yang menyandra Elora, bahu kanannya terkena tembakan dari pistol milik Kenan.


Elora benar-benar syok, ia tetap tak bergeming di tempatnya meskipun Kenan terus memanggil namanya.


Dia pria yang berbahaya, 4 kata itu terlintas begitu saja di benak Elora.


"Jangan mendekat!" larang Elora kepada Kenan yang hendak menghampirinya.


Setiap Kenan maju satu langkah, Elora juga mundur satu langkah. Kenan yang merasa geram akan tingkah Elora, segera mengarahkan pistolnya kepada Elora.


"Mundur selangkah lagi, maka sebuah peluru akan menembus kakimu," ancam Kenan dingin.


Elora menelan ludahnya dengan susah payah, ia tidak berani lagi untuk mundur, jangankan mundur ... bernafas saja terasa sangat berat untuknya yang saat ini berada di bawah ancaman Kenan.


Melihat Elora yang tak lagi menghindar, Kenan segera mengamankan pistolnya.


"Aku yang ke sana, atau kamu yang ke sini?" tanya Kenan pada Elora.


'Tidak dua-duanya'


Ingin sekali Elora memberikan jawaban itu kepada Kenan, tapi ia tak punya nyali untuk mengatakannya kepada Kenan.


Tak kunjung mendapat jawaban dari Elora, Kenan berjalan cepat menghampiri Elora. Di saat berhadapan dengan Elora, ia menggendong Elora tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu jauh, mereka berdua tiba di sebuah rumah sakit.


"Bagaimana? Apa lukanya serius? Apa Elora perlu dirawat?" cecar Kenan kepada Dokter wanita yang sedang mengobati luka pada leher Elora.

__ADS_1


"Lukanya tidak terlalu serius, jadi ... nona ini tidak perlu di rawat," jawab sang Dokter.


Dokter itu berjalan ke mejanya, lalu menuliskan resep obat pada selembar kertas.


"Silahkan tebus obatnya di apotek," ujar sang Dokter memberikan resep itu kepada Kenan.


Kenan menerima resep obat tersebut, kemudian ia menggendong Elora yang masih enggan untuk berbicara. Mungkin ia masih syok dengan kejadian waktu Kenan menembak seorang manusia tanpa ada sedikitpun keraguan.


"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu, El?" tanya Kenan.


Elora yang berada dalam pangkuan Kenan itu menggeleng pelan.


"Kamu takut aku bunuh?" tanya Kenan mengangkat kedua alisnya.


"Aku tidak suka diabaikan," seru Kenan yang jengah kepada Elora yang tak kunjung berbicara.


"A--aku---"


Entah dorongan dari mana, Elora mendadak menguap.


"Setelah aku menebus obat, kamu bisa tidur di mobil," ujar Kenan lembut.


Mata Elora membelalak, ia melupakan sesuatu yang sangat penting.


"Diky!"


"Ke--kenan... tolong Diky, tadi dia dikeroyok ol---," pinta Elora.


"Dia tidak akan mati," potong Kenan dengan ketusnya.


"Baiklah, setelah menebus obat kita langsung menemui Diky dan Ciko," cetus Kenan yang memunculkan rasa bahagia pada diri Elora.


***


"Tidur saja, El!" perintah Kenan.


Elora yang tengah menahan kantuknya itu, menengok sejenak ke arah Kenan. Dengan segala daya, ia memelototkan matanya, supaya tidak di cap mengantuk oleh Kenan.


"Tidur atau aku ---" Kenan memasukkan tangannya ke balik jas.


Elora terhenyak, ia buru-buru memejamkan matanya, takut jika Kenan mengancamnya menggunakan pistol sia!an yang entah dibeli dari mana oleh Kenan.


"Sebulan saja aku hidup dengan iblis ini, aku yakin tubuhku akan menjadi kurus kering," gerutu Elora pelan.


Kenan yang mendengar gerutuan Elora hanya tersenyum simpul.


'Aku akan membuktikan kepadamu kalau apa yang diucapkanmu itu adalah suatu kesalahan besar,' ucap Kenan dalam hatinya.


16 menit telah berlalu, kini mobil Kenan sudah terparkir apik di area parkiran hotel tempat berlangsungnya resepsi pernikahan Vito dan Dania.


"Ah ... Elora!"


Hasrat seksual Kenan mulai naik saat melihat Elora yang terlelap, dengan nakalnya tangan Kenan membelai pipi Elora.

__ADS_1


Kenan mengecup kening Elora lama, tangan kirinya menyingkap gaun Elora hingga menampakkan bagian pahanya.


"Kau membuatku gila!"


"Aku tidak boleh melakukannya di mobil, karena terlalu sempit. Aku butuh sebuah kasur yang besar," gumam Kenan sambil melihat lengan Elora yang masih terbalut ARM SLING (Alat gendongan lengan patah).


"Lebih baik aku menyewa sebuah kamar," lanjutnya seraya tersenyum miring.


Tanpa membuang waktu lagi, Kenan buru-buru membawa Elora ke dalam hotel. Ia menggeram tertahan kala memikirkan apa yang akan ia lakukan kepada Elora di kamar hotel nanti.


"Kenan!" seru seorang pria paruh baya.


Kenan mengedarkan pandangannya, mencari arah dari sumber suara.


"Om Ferry!"


Ya, pria paruh baya itu adalah Ferry, kerabat Kenan dari pihak mendiang ibu kandungnya. Sampai saat ini, Ferry adalah salah satu orang yang memiliki hubungan cukup baik dengan Kenan.


Pria paruh baya yang bernama Ferry itu berjalan mendekati Kenan yang tengah menggendong Elora yang tidak sadarkan diri akibat dari efek obat tidur yang tadi di minumnya. Ya, demi melancarkan aksi bejatnya, Kenan kembali menipu Elora dengan memberikan obat tidur kepada Elora.


"Kenan, apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya keheranan.


"Maaf, om. Saya tidak bisa menceritakannya, akan tetapi ... saya membutuhkan sebuah kamar," jawab Kenan cepat.


"Ah, om mengerti. Kamu pas---"


"Ayah!" lengkingan suara dari seorang wanita memotong ucapan dari pria bernama Ferry tersebut.


Bruk!


Tubuh Kenan dihantam dari belakang oleh wanita yang tadi berteriak memanggil ayahnya.


"Sia!an!" teriak Kenan yang tubuhnya tergoncang hebat akibat hantaman seorang wanita.


Karena suara yang bising, Elora mulai terusik, ia tampak bergerak gelisah di gendongan Kenan.


'Tidak, jangan bangun dulu, El!' batin Kenan penuh harap.


Namun, harapan Kenan harus pupus karena Elora perlahan-lahan membuka matanya.


"Em ... Kenan ...," lirih Elora dengan mata yang menyipit.


"Tolong turunkan aku ...," pintanya seraya mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat untuk dibuka.


Mau tak mau, Kenan menurunkan tubuh Elora dari gendongannya. Elora tidak langsung berdiri sempurna, melainkan menyenderkan tubuhnya yang belum seimbang itu di tubuh kokoh Kenan.


"Kamu duduk dulu, El!" perintah Kenan dengan ekspresi muram.


"Tolong bantu aku, Kenan!" pinta Elora yang merasakan sedikit pusing di kepalanya.


"Tentu saja, El!"


Kenan mendekap pinggang Elora, mengarahkannya pada sebuah kursi panjang.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini sebentar, ada sedikit urusan yang harus ku selesaikan," ucap Kenan yang langsung diangguki oleh Elora.


__ADS_2