Elora

Elora
Bab_37 (Penculikan?)


__ADS_3

"Minum ini, Dania," ujar Ciko memberikan segelas air minum.


Dania menerima air minum tersebut dan langsung meneguknya dengan tergesa-gesa. Meskipun demikian, Dania tidak meneguk habis air yang ada di gelas tersebut, melainkan menyisakan seperempatnya lagi.


"Ciko ...," lirih Dania.


"Aku masih berusaha untuk ikhlas," ujar Ciko menampilkan senyuman getir.


"Sekali lagi, aku minta maaf," ucap Dania seraya menundukkan pandangannya, ia tak kuasa melihat wajah mantan kekasihnya yang sampai sekarang masih mengisi relung hatinya.


Ciko mengalihkan pandangannya dari Dania, diam-diam ia menyeka air matanya yang hampir menetes.


Sementara itu di toilet wanita ....


"Diky, maaf ... gara-gara saya kamu harus menunggu lama," ucap Elora tatkala dirinya keluar dari toilet.


"Tidak masalah, Nona," seru Diky tersenyum lebar.


"Jangan pergi dulu, Nona," larang Diky.


Ketika Elora akan berbalik, Diky merengkuh pinggang Elora dari belakang. Orang kepercayaan Kenan itu mendekatkan mulutnya ke dekat telinga Elora.


"Diky, kamu ...," pekik Elora tertahan lantaran Diky membekap mulutnya.


"Ada orang yang ingin berbuat jahat kepada Nona, dan jumlah orang itu sekitar 6 orang," bisik Diky.


"Nona lari secepatnya dari sini, cari tempat yang ramai," lanjutnya lagi masih berbisik.


Elora mengangguk-anggukkan kepalanya.


Perlahan Diky melepaskan rengkuhannya dari pinggang Elora.


"Lari, sekarang!" perintah Diky dengan suara yang nyaring.


Elora langsung berlari begitu mendengar perintah dari Diky, ekspresi ketakutan tampak jelas di wajah Elora, ia berlari dengan menggunakan high heels yang terbilang cukup tinggi.


Kala Elora telah menjauh, Diky diserang oleh 6 orang pria yang memiliki tubuh besar nan kekar. Karena kalah jumlah, Diky berhasil ditumbangkan dengan pelipis yang bercucuran darah juga luka-luka lebam pada bagian wajahnya. Melihat Diky terkapar tak sadarkan diri, 6 orang itu bergegas pergi mengejar Elora.


"Hah ...," hela Diky sambil membuka matanya, rupanya ia hanya berpura-pura pingsan.


Diky merogoh handphonenya dari dalam saku celananya, lalu ia segera menghubungi Kenan yang kemungkinan besar dalam perjalanan menuju tempatnya untuk menjemput Elora.


Tak butuh waktu lama, telepon Diky tersambung dengan Kenan.


"Nona Elora diculik, dan saya tidak bisa mengejarnya karena saya terluka cukup parah." Pasca memberitahukan itu, Kenan langsung memutuskan teleponnya secara sepihak.


'Presdir Kenan akan membunuhku,' batin Diky pasrah.


***


"Semua ini telah direncanakan oleh seseorang," gumam Elora saat ia tidak menjumpai seorang pun di sepanjang larinya.


Telinga Elora menangkap suara derap langkah kaki yang tak jauh dari belakangnya, rasa takut dan panik mulai menghinggapinya. Di saat ia tengah berlari, handphone yang ada di genggamannya berdering. Sejenak ia menghentikan langkahnya untuk mengangkat telepon masuk yang berasal dari Kenan.

__ADS_1


"Tolong aku Kenan ... a--aku sangat takut," pinta Elora kepada Kenan yang berada di sambungan teleponnya.


Air mata Elora tumpah tatkala Vito yang tak lain adalah pengantin pria Dania, sekaligus musuh Ciko berdiri di depannya.


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia," kata Vito seraya memberikan isyarat kepada orang suruhannya yang telah berada di belakang Elora.


Bug!


Tengkuk Elora dipukul dari belakang, Elora kehilangan kesadarannya detik itu juga.


Sedangkan, di tempat lain ....


"El--Elora---!"


"Jawab aku, El!"


Tut!


Panggilan telepon antara ia dan Elora berakhir.


Kenan menghentikan laju mobilnya, ia terlihat sangat frustasi.


"Sia!an!" Kenan memukul stir mobilnya.


"Akan ku pastikan orang yang telah menculik Elora mendekam selamanya di dalam penjara," teriak Kenan murka.


Tiba-tiba saja Kenan teringat akan kalung yang terdapat alat pelacak yang sebelumnya ia berikan kepada Elora.


'Syukurlah Elora menggunakan kalung itu, dan sepertinya ... orang yang menculik Elora sedang menuju ke arah sini,' batin Kenan memerhatikan handphonenya dengan seksama.


Kenan langsung tancap gas untuk mencegat mobil yang membawa Elora, karena tidak mungkin ia hanya menunggu kedatangan mobil itu di sana.


"Tuhan ... tolong jangan biarkan Elora terluka ...."


***


"Ci--Ciko---" Dania meremas lengan Ciko sehingga membuat atensi Ciko terarah kepadanya.


"Dania!" pekik Ciko tatkala melihat Dania yang sudah pucat pasi.


Dania meringis kesakitan, Ciko pun dengan sigapnya mendudukkan Dania di kursi pelaminan.


Ciko dengan cekatan memeriksa kondisi Dania, di keadaaan seperti ini Vito datang ditemani oleh orang tuanya serta orang tua Dania.


"Apa yang terjadi dengan putriku?" pekik Ayah Dania panik.


Ciko mengabaikan pekikan Ayah Dania, saat ini ia tengah berusaha mencari sebab mengapa Dania bisa mendadak kesakitan.


Ciko yang melihat Dania bergumam tanpa suara, segera mendekatkan telinganya ke dekat mulut Dania.


"Ciko... A--aku san--ngat men--cintaimu, ka--kamu har--us baha--gia d-dengan perempuan yang la---" lirihan Dania itu berhenti, begitu juga dengan nafasnya, Dania telah meninggal setelah mengungkapkan harapannya kepada Ciko.


"Dania ...!" Ciko menjerit.

__ADS_1


Ciko mengguncangkan tubuh Dania, berharap Dania-nya bisa bangun kembali. Namun, semua usahanya itu sia-sia ... karena Dania telah tiada.


Ciko menundukkan kepalanya, tangannya terkepal kuat.


Dalam sekali hentakan, Ciko berdiri. Tanpa basa-basi Ciko menonjok Vito yang berdiri di samping Ayah Dania. Vito yang tak siap menerima tonjokan dari Vito pun terjungkal ke belakang, dengan penuh amarah Ciko menonjok bagian wajah Vito.


"Gara-gara lo, Dania meninggal!" teriak Ciko disela-sela tonjokan yang dilayangkan pada Vito.


Tubuh Ciko ditarik dari belakang oleh beberapa orang sehingga membuat Vito terbebas dari siksaan yang menyakitkan.


"Om, dia yang udah bunuh Dania. Dia sakit hati karena Dania lebih milih nikah sama saya," tuduh Vito sambil menunjuk Vito yang ditahan oleh 2 orang.


Bugh!


Satu bogeman didapatkan oleh Ciko dari ayahnya Dania.


"Bajingan!" desis Ayah Dania.


"Aku akan membunuhmu!" ujarnya menarik kerah baju Ciko.


***


"Sia!" dengus Kenan kala mobil yang membawa Elora malah berbelok.


Kenan mempercepat laju mobilnya, bagaimanapun caranya ia harus segera menyusul Elora.


"Sepertinya mobil itu yang membawa Elora," gumam Kenan fokus memperhatikan mobil yang berada beberapa ratus meter di depannya.


Kenan mulai memepet mobil tersebut.


"Aku akan menyelamatkanmu, El ...."


Ckit...!


Mobil Kenan berhasil mendahului mobil si penculik, Kenan yang masih berada di dalam mobil menatap nyalang ke pada seorang pria yang keluar dari mobil yang dihadang olehnya.


Kaca mobil Kenan diketuk-ketuk oleh pria yang Kenan duga sebagai penculik Elora.


Click!


Brak!


Kenan membuka pintu mobilnya dengan dorongan yang kuat, pria yang berada tepat di depan pintu mobil Kenan itu terhuyung ke belakang.


Selepas kejadian itu, 4 orang yang lainnya segera keluar dari mobil, di susul juga oleh Kenan yang wajahnya telah merah padam menahan amarah.


Pertarungan antara kenan melawan 5 orang penculik itu tak terelakkan. Akan tetap, kemampuan bertarung yang mumpuni, Kenan berhasil membuat lawannya babak belur kurang dari 5 menit.


"Kenan ...," panggil Elora dengan suara yang bergetar.


Kenan mengalihkan pandangannya.


"Elora ...!"

__ADS_1


__ADS_2