Elora

Elora
Bab_50 (Saingan Cinta Baru?)


__ADS_3

"Lisa, akhirnya aku bisa mendapatkan kamu," bisik si ketua geng.


Lisa masih dalam kondisi sadar, akan tetapi ia tidak bisa banyak bergerak lantaran rasa sakit yang menjalar di bagian punggung sampai kepala, belum lagi luka bekas lemparan kaleng di keningnya yang terasa semakin berdenyut nyeri.


Kenan sudah siap menghajar para siswa SMA yang tergabung dalam sebuah geng motor bernama Red Moon. Tanpa basa-basi Kenan menghajar setiap orang yang menghalangi langkahnya untuk menolong Lisa yang tak berdaya.


"Kalian memilih lawan yang salah," kata Kenan meremehkan.


Lima dari tujuh orang anggota geng motor itu sudah terkapar, yang tersisa hanyalah orang yang memukul Lisa, serta pria yang tengah mendekap Lisa.


"Sen, buruan serang!" perintah sang ketua.


Mendapat perintah dari ketua, pria itu berlari ke arah Kenan dengan meninjing sebuah balok kayu. Pria itu mengarahkan balok kayu itu ke kepala Kenan, dan itu bisa dengan mudahnya pukulan balok itu di tahan oleh Kenan.


Buk!


Kenan menendang perut pria tersebut, balok kayu yang ada ditangannya pun beralih tangan.


"Lepaskan dia, atau ... balok ini akan menghantam kepalamu?" ancam Kenan mengacungkan balok kayu yang dipegangnya.


Pria itu perlahan melepaskan dekapannya pada tubuh Lisa, terlihat begitu jelas bahwa dia sedang ketakutan, karena semua temannya sudah berhasil dikalahkan oleh Kenan.


"Gays, pergi!" seru si ketua, lalu bergegas menaiki motor sportnya yang berwarna hitam.


Anggota yang lainnya pun mengikuti jejak sang ketua, seolah lupa akan rasa sakit di tubuhnya, mereka berlarian menuju motor masing-masing.


"Hey, masih sakit?" tanya Kenan khawatir.


"Gak! Cuman agak puyeng aja sedikit," jawab Lisa yang kini duduk di trotoar.


"Perlu ke rumah sakit?" Kenan kembali bertanya.


Tidak masalah bukan apabila Kenan memberikan perhatiannya seorang gadis yang diserang oleh laki-laki?


"Gak usah! Nanti juga sembuh," jawab Lisa sambil mengusap-usap tengkuknya.


Kenan ikut duduk di trotoar, ia memperhatikan dengan seksama luka yang terdapat di kening Lisa.


Lalu, Kenan merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan.


"Kenapa kamu sangat suka bertengkar, hm ...?" Kenan menyeka darah yang mengalir dari kening Lisa.


Lisa terkekeh geli, kata-kata Kenan benar-benar menggelitik hatinya.


"Kenapa tertawa, hah!?" Kenan menekan luka di kening Lisa.


"Weh ... sakit, an7ir!" jerit Lisa menjauhkan kepalanya dari jangkauan Kenan.


"Mulutmu sangat pedas," ujar Kenan sinis.

__ADS_1


"Mau mencobanya?" goda Lisa mengedipkan sebelah matanya.


"Selain pintar bertengkar, rupanya kamu


sudah mulai pandai menggoda."


Kenan yang sebelumnya sangat khawatir sudah tenang, dan kini terhanyut dalam obrolan serunya dengan Lisa, sampai ia pun terlupa akan Elora yang memperhatikan interaksinya dan Lisa dari dalam mobil.


"Aku mempelajarinya dari seseorang," ungkap Lisa merebut sapu tangan Kenan.


Kenan mengernyitkan dahinya, siapa orang yang bisa mengajari ilmu menggoda kepada gadis se-nakal Lisa?


"Jangan bilang ---"


"Ya," potong Lisa dengan kedua alis terangkat.


"Ah, ya ... gadis itu sangat cantik, dan sepertinya ... dia adalah gadis yang sangat baik," tutur Lisa.


Kenan tersenyum malu, sudut pandang Lisa terhadap Elora sama seperti sudut pandangnya. Sementara itu Lisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, seorang keturunan Anderson tersipu malu, momen yang jarang ia temui.


"Untuk sementara ini, dia berada di peringkat ketiga bagiku."


Lisa mendelik, wanita secantik Elora berada di peringkat ketiga? Lantas, wanita secantik apa yang menempati posisi wanita tercantik ke-dua dan pertama di hati Kenan?


"Lalu, siapa yang berada di peringkat pertama dan kedua?" tanya Lisa penasaran.


Kenan mengusap lembut wajah Lisa, kemudian meraih satu tangan Lisa.


Mata Lisa membulat sempurna, bukan karena jawaban menyejukkan dari Kenan, tetapi karena melihat Elora yang tengah mengobrol bersama pria yang masuk dalam kategori tampan.


Lisa melepaskan genggaman tangan Kenan, lalu ia menangkup wajah Kenan menggunakan kedua tangannya.


"Lihat itu!" Lisa menengokkan wajah Kenan ke samping kiri.


"Kekasihmu akan dicuri!" seru Lisa.


"Pergi dan pukul dia, jangan sampai dia berhasil mencuri kekasih tersayangmu itu!" lanjut Lisa, memanas-manasi Kenan yang memang sudah memanas.


Dengan deru nafas yang tak beraturan karena menahan kekesalan, Kenan menghampiri Elora yang tengah asyik mengobrol bersama pria asing yang sama sekali tak dikenalinya.


"El, dia siapa?" tanya Kenan mengarahkan tatapan sinisnya pada lawan bicara Elora.


"Ah, Kenan! Ini temanku sewaktu SMA, namanya Reza Narendra," jawab Elora berseri-seri.


"Lebih tepatnya, mantan kekasih," ralat Reza mengerlingkan matanya.


Elora tersipu malu, meskipun telah menjadi mantan, tetap saja ia merasa malu karena Reza mengungkit masa lalu indah mereka semasa SMA.


Apalagi perpisahan mereka itu dikarenakan Reza yang melanjutkan pendidikannya di luar negeri, bukan akibat hilangnya rasa cinta ataupun perselingkuhan.

__ADS_1


"Iya, Reza. Ini---"


"Presdir Kenan Anderson, aku mengenalnya," potong Reza tatkala Elora akan mengenalkan Kenan.


Reza mengulurkan tangannya, yang kemudian disambut uluran tangan Kenan.


"Saya Reza Narendra, putra tunggal dari keluarga Narendra. Senang bertemu dengan anda, Presdir."


"Iya, senang bertemu denganmu juga," sahut Kenan menunjukkan senyum palsunya.


'Keluarga Narendra itu yang mana, sih? Kenapa aku baru mendengarnya?' Kenan membatin.


Suasana tiba-tiba menjadi canggung, Reza sepertinya gugup berhadapan dengan Kenan. Sedangkan Kenan ... pria itu tidak berhenti menunjukkan tatapan yang mengintimidasi Reza.


"El, sepertinya aku harus segera pergi," ucap Reza melirik jam tangannya.


'Ya bagus, pergilah! Jangan ganggu Elora-ku,' batin Kenan.


"Ah, padahal aku ingin bercerita banyak kepadamu, Za!" balas Elora lesu.


"Kita 'kan sudah bertukar nomor telepon, jadi ... kita bisa membuat janji untuk bertemu," kata Reza tersenyum lebar.


Elora menganggukkan kepalanya pelan, semua rasa rindunya kepada Reza masih belum terluapkan. Maklum, Elora terkahir bertemu dengan Reza adalah ketika pembagian ijazah SMA, bertahun-tahun yang lalu.


"Baik, jangan lupa kabari aku!" ujar Elora ceria.


"Presdir Kenan, saya pamit pergi. El, jaga dirimu!"


Reza mencium pipi Elora tanpa permisi yang membuat Kenan menggertakkan giginya gemas akan perbuatan Reza yang ia anggap telah melampaui batas wajar. Elora meletakkan telapak tangannya dibekas ciuman Reza, sampai mobil Reza tak nampak di pandangan pun telapak tangan Elora masih berada di pipinya.


"El!" panggil Kenan.


Elora tak menyahut, pikirannya tengah terbang ke angkasa lepas.


"Elora!" panggilnya lagi dengan nada meninggi.


"Apa!" sahut Elora ketus.


"Kamu sedang memikirkan apa sampai-sampai tidak bisa mendengar panggilanku!?" seru Kenan tak kalah ketus dari Elora.


"Kepo!" kata Elora singkat.


"Minggir!" Elora menggeser tubuh Kenan yang dianggapnya menghalangi jalan.


"Akh! Set4n!" umpat Kenan menendang ban mobil bagian depan.


"Hey, kamu ikut Kakak pulang, ya!?" tawar Elora lemah lembut.


"Biar nanti Kakak obati luka kamu," sambungnya penuh perhatian.

__ADS_1


Lisa termenung, baru kali ini ia mendengar ucapan lembut dari seorang wanita.


'Ibuku bahkan tidak pernah selembut ini kepadaku,' batin Lisa sendu.


__ADS_2